Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Ucapan Terima Kasih Tora


__ADS_3

Di kediaman Wilson tampak ramai dimana semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah. Bukan anggota keluarga Wilson saja, melainkan ada dua orang yang bergabung disana. Mereka adalah Neylan dan ayahnya Tora.


Neylan sudah bertemu dan berkumpul lagi bersama ayahnya. Setelah Tora menyelesaikan urusannya dengan Rania istri keduanya. Begitu juga dengan seluruh anggota keluarga Rania. Tora memutuskan untuk mencari keberadaan putrinya.


Ketika Tora hendak bersiap-siap untuk mencari putria kesayangannya, tiba-tiba Kenzie dan tangan kanannya datang menemuinya. Kenzie menceritakan semuanya tentang Darel.


Mendengar cerita tersebut membuat hati Tora benar-benar bahagia. Putrinya dilindungi oleh pemuda yang dulu pernah dituduh oleh putrinya karena kucingnya nyasar sampai ke kamar pemuda itu.


"Nak Darel. Paman berutang budi padamu. Kalau bukan berkat kamu, Paman tidak tahu apa yang terjadi terhadap Neylan."


Darel tersenyum sekilas ketika mendengar ucapan dari ayahnya Neylan. Tatapan matanya menatap teduh wajah ayahnya Neylan. Begitu juga dengan Neylan.


Darel menatap Neylan dengan tatapan bahagia karena Darel dapat melihat dari manik mata Neylan terlihat kebahagiaan disana. Beda ketika pertama kalinya dia bertemu dengan Neylan setelah lama tidak bertemu.


Yah! Walau kenyataannya mereka memang tidak saling mengenal satu sama lain. Mereka hanya bertemu karena insiden kucing itu. Itu pun untuk pertama kalinya.


"Aku ikhlas bantuin putri Paman yang jelek ini. Jadi, Paman tidak perlu merasa punya utang budi atau apapun itu kepada saya. Jika Paman merasa punya utang budi, lalu aku minta Paman membayarnya. Aku yakin Paman tidak akan sanggup untuk melunasinya!" Darel berseru.


Tora tersenyum. "Demi putri kesayangan Paman. Apapun akan Paman lakukan."


"Sekali pun Paman harus kehilangan segalanyanya?"


"Iya. Paman rela kehilangan segalanya. Asal putri Paman baik-baik saja. Uang dan kekayaan bisa dicari. Tapi jika kita sudah kehilangan orang yang kita sayangi untuk selamanya, maka kita tidak akan bisa mencari penggantinya. Seperti ibunya Neylan. Berapa kali pun Paman menikah. Yang seperti ibunya Neylan tidak akan pernah ada di dunia ini."


"Apa Paman mencintai ibunya Neylan?"


"Iya, Nak! Paman sangat mencintainya. Dia wanita pertama yang sudah mencuri hati Paman dan dia juga sudah memberikan seorang anak yang baik dan penurut seperti Neylan."


"Lalu kenapa Paman menikah lagi setelah istri pertama Paman meninggal? Kalau Paman mencintai istri Paman, maka Paman tidak akan pernah menikah lagi."


Mendengar perkataan sekaligus pertanyaan dari Darel membuat Tora tersenyum. Dia tidak marah akan perkataan dari Darel. Dan dia juga membenarkan apa yang dikatakan oleh Darel itu.


"Paman menikah lagi bukan Paman tidak mencintai istri pertama Paman. Paman menikah lagi demi Neylan. Paman ingin putri Paman mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari seorang ibu setelah kepergian ibu kandungnya. Saat itu Neylan masih sekolah. Paman tahu bagaimana hari Neylan saat itu ketika dia harus kehilangan ibunya untuk selamanya. Ditambah lagi ketika dia harus melihat teman-temannya yang memiliki seorang ibu, sementara dia tidak memiliki ibu. Demi putri Paman, Zehra Neylan Lunara! Paman rela menikah lagi."


Tora seketika menangis ketika menceritakan alasan dirinya menikah lagi. Itu semata-mata demi untuk membahagiakan putrinya. Dia sudah kehilangan istrinya. Dan dia hanya memiliki putri satu-satunya. Dan dia tidak ingin kehilangan putrinya itu.


Neylan yang melihat ayahnya sudah menangis langsung memeluk tubuh ayahnya itu.


"Papi... Hiks," isak Neylan.


"Maafkan Papi yang sudah membuat hidupmu menderita, nak! Seharusnya Papi tidak menikah lagi kalau nyatanya kamu disakiti," ucap Tora.


"Papi nggak salah. Justru aku bangga punya Papi. Papi rela menikah lagi demi aku. Padahal di hati kecil Papi. Papi tidak ingin nikah lagi. Papi ingin setia sama Mami karena itu janji Papi. Begitu juga dengan Mami. Misalkan Papi yang dulu pergi, maka Mami juga tidak akan menikah lagi."


Sementara Darel dan anggota keluarga Wilson lainnya seketika menangis ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Tora dan Neylan.


Setelah puas memeluk ayahnya. Neylan kemudian melepaskan pelukannya itu.

__ADS_1


"Apa Paman dan mendiang Bibi tidak memiliki saudara?" tanya Darel.


"Ada, nak! Paman dan mendiang istri Paman memiliki kakak dan juga adik," jawab Tora.


"Terus kenapa mereka tidak mencari Neylan ketika Neylan disakiti oleh nenek lampir itu?" tanya Darel.


Plak..


"Aww!" Darel mengusap-usap bibirnya. "Ih, Mama! Kenapa Mama mukul mulutku?" tanya Darel kesal.


"Karena kamu ngomongnya nggak dipake saring dulu. Asal keluar aja tuh ucapan," jawab Adelina.


"Yeeyy! Memang omongan itu sama seperti kelapa yang mana airnya pake disaring dulu baru mendapatkan santan yang bagus. Itu santan dan ini mulutku. Jadi suka-suka aku dong mau ngomong apa. Kalau aku suka, aku bakalan bilang suka. Jika aku nggak suka, maka aku akan langsung bilang nggak suka. Termasuk aku yang memberikan penilaian terhadap orang-orang jahat yang berkeliaran diluar sana."


Mendengar ucapan panjang sekaligus penjelasan dari Darel membuat Adelina melongo tak percaya. Dia hanya mengatakan beberapa kata saja. Sedangkan putra bungsunya sudah melebihi dari kata-katanya.


Sementara Arvind, putra-putranya dan anggota keluarga Wilson lainnya tersenyum melihat wajah syok Adelina. Begitu juga dengan Tora dan Neylan. Mereka juga ikut tersenyum melihat wajah syok Adelina akan kelakuan Darel.


"Dimana mereka Paman? Kenapa mereka tidak menolong Neylan?"


"Mereka tidak tahu kalau Neylan punya ibu tiri," jawab Tora.


Mendengar penuturan dari Tora membuat Darel dan anggota keluarganya terkejut.


"Maksud Paman?" tanya Daffa.


"Dan ternyata benarkan apa yang ditakutkan oleh keluarga besar Paman dan keluarga besarnya Bibi? Terbukti Neylan menderita selama ini memiliki ibu iblis yang menyerupai manusia."


"Iya. Kamu benar, nak! Perempuan itu seorang iblis yang menjelma menjadi manusia," ucap Tora.


"Kalau aku boleh tahu. Dimana mereka tinggal?" tanya Darel.


"Kakak laki-laki Paman yang pertama, dia dan keluarganya ada di kota Berlin. Butuh 4 jam kalau mau kesana. Begitu juga dengan mereka jika ingin datang berkunjung. Kakak laki-laki Paman yang kedua ada di kota Cologne. Dan untuk adik perempuan Paman tinggal di kota Munich."


"Hah!"


Baik Darel maupun semua kakak-kakaknya terkejut ketika mendengar ketiga saudara dan saudari dari Tora yang semua tinggal di kota-kota besar di negara Jerman.


"Lalu bagaimana dengan saudara atau saudari dari ibunya Neylan? Dimana mereka?" tanya Axel.


"Untuk kakak dan adik dari istri Paman. Mereka tinggal di kota Leipzig, kota Frankfurt dan kota Dortmund."


"Papi," panggil Neylan.


Tora langsung melihat kearah putrinya. "Iya, sayang!"


"Aku mau pulang ke rumah yang lama. Boleh?"

__ADS_1


Tora tersenyum. "Baiklah! Kita akan tinggal lagi di rumah lama."


"Benarkah, Pi?"


"Iya, sayang. Kita berdua akan memulai dari nol lagi disana. Kamu mau kan?"


"Mau, Pi. Asal sama Papi. Neylan janji akan selalu jadi anak yang baik untuk Papi. Neylan akan buat Papi bangga sama Neylan. Dan Neylan juga janji akan jagain Papi, walau nanti Neylan sudah punya kekasih atau suami. Neylan nggak akan ninggalin Papi."


Tora tersenyum bahagia ketika mendengar ucapan dan janji putrinya.


Tora menatap wajah tampan Darel. Dirinya tersenyum ketika menatap wajah Darel. Di dalam hatinya, Tora berharap jika putri satu-satunya berjodoh dengan pemuda yang saat ini menjadi pusat perhatiannya.


"Sekali lagi Paman ucapkan terima kasih kepada nak Darel karena sudah menyelamatkan Neylan. Jika tidak ada nak Darel. Paman tidak tahu apa yang akan terjadi terhadap Neylan."


"Sama-sama, Paman! Saya hanya sebagai perantara saja disini. Saya tidak sendirian, melainkan ada orang-orang di belakang saya. Dan semua ini juga tak lepas dari pertolongan yang Maha Kuasa," jawab Darel.


Mendengar perkataan dari Darel membuat Tora tersenyum bangga. Begitu juga dengan anggota keluarganya.


"Darel, gue juga mau ngucapin terima kasih sama lo. Terima kasih ya karena lo udah buat gue terlepas dari perempuan itu. Gue nggak tahu apa yang terjadi sama hidup gue kalau perempuan itu benar-benar ngirim gue keluar negeri," ucap Neylan.


"Sama-sama. Bukannya sesama manusia harus saling tolong menolong, walau gue masih ingat kata-kata lo dulu yang nuduh nyulik kucing lo itu."


Neylan seketika tersenyum malu ketika harus kembali mengingat kejadian itu.


"Malu gue kalau ingat masalah itu. Udah dong. Lupain ya," ucap dan mohon Neylan.


"Lo mau gue lupain masalah itu?" tanya Darel.


"Iya, mau!"


"Lo harus lakuin sesuatu untuk gue."


"Apa?"


"Mau nggak?"


"Apa dulu?"


"Jawab dulu. Kan gue duluan."


"Lo kan cowok seharusnya ngalah sama cewek."


"Kalau ceweknya egois kayak lo. Bodo amat gue ngalah. Justru gue akan makin keras kepala."


Ketika Neylan hendak melayangkan aksi protesnya, Darel sudah terlebih dahulu bertindak.


"Final! Gue akan terus ungkit-ungkit masalah lo yang nuduh gue nyulik kucing lo. Bahkan gue bakal ngomong setiap orang."

__ADS_1


Seketika kedua mata Neylan melotot ketika mendengar ucapan sekaligus ancaman dari Darel. Dirinya benar-benar tidak menyangka jika Darel akan berubah menjadi kekanak-kanakan dan juga keras kepala.


__ADS_2