Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Dua Keinginan Yang Terkabul


__ADS_3

[KEDIAMAN ALEXANDER]


Andrean saat ini bersama dengan putri semata wayangnya di ruang tengah. Disana juga ada Caleb, Dzaky dan Aldan. Ketiganya datang mengunjungi Andrean dan Alisha.


"Alisha," panggil Andrean pada putrinya.


"Iya, Pa!'


"Kamu ada hutang sama Papa yang belum kamu lunasi."


Seketika Alisha membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari ayahnya itu. Alisha seketika berpikir 'hutang apa? memangnya aku pernah ngutang sama Papa?'


Andrean seketika tersenyum gemas ketika melihat wajah putrinya yang dia yakini putrinya itu sedang berusaha mengingat tentang ucapannya barusan. Begitu juga dengan Caleb, Dzaky dan Aldan. Mereka juga ikut tersenyum.


Alisha seketika langsung melihat kearah ayahnya setelah mengingat bahwa dirinya tidak memiliki hutang apapun.


"Papa, Alisha tidak punya hutang apapun sama Papa!"


"Kamu memang tidak punya hutang sama Papa."


"Terus kenapa Papa barusan bilang kalau Alisha punya hutang yang belum dilunasi?"


"Hutang yang Papa maksud itu adalah hutang penjelasan. Bukan hutang uang."


"Hutang penjelasan?" Alisha mengulangi kembali ucapan dari ayahnya itu. Dirinya berpikir kembali.


Setelah dia mengingat hutang penjelasan yang dimaksud oleh ayahnya, Alisha langsung menatap wajah ayahnya yang saat ini juga menatap dirinya.


"Sudah ingat sekarang?" tanya Andrean sembari tersenyum.


"Papa!" panggil Caleb.


Andrean langsung melihat ke Caleb.


"Iya, Caleb!"


"Sebenarnya ada apa sih?"


"Nanti kalian akan tahu setelah mendengar cerita dari adik perempuan kalian."


Caleb, Dzaky dan Aldan langsung menatap kearah adiknya itu dengan tatapan intens.


"Ayo, cerita!"


"Jangan terlalu lama berpikir."


"Jangan buat kakak-kakak kamu ini penasaran."


Mendengar ucapan demi ucapan dari ketiga kakaknya disertai dengan tatapan intimidasi membuat Alisha hanya bisa menghela nafas pasrahnya.


"Iya, iya! Kemarin itu aku pergi ke Cafe. Singkat cerita. Aku digangguin oleh teman-teman sekolah aku. Setelah aku selesai membayar pesananku dan hendak menuju tempat duduk, salah satu dari teman sekolah aku itu dengan sengaja menepis nampan yang mana ada pesananku sehingga pesanan aku itu jatuh."


Mendengar cerita dari Alisha membuat Andrean marah. Begitu juga dengan Caleb, Dzaky dan Aldan.


"Apa alasan mereka melakukan itu sama kamu?" tanya Aldan.


"Dia marah karena aku berdekatan dengan kakak Sarga, kakak kelas di sekolah aku."


"Oh masalah hati ternyata," sahut Dzaky.


"Eh, tunggu! Siapa tadi nama kakak kelas kamu itu?" tanya Aldan.


"Kak Sarga. Sarga Ramero!"


"Kenapa Aldan?" tanya Andrean.


"Aku merasa tak asing namanya. Bahkan Marganya. Darel punya tujuh sahabat baru. Salah satu sahabatnya itu Marganya juga Ramero. Dia adalah Samuel Ramero. Bahkan Samuel punya adik yang namanya juga Sarga," jawab Aldan.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Andrean, Caleb dan Dzaky bersamaan.


"Iya," jawab Aldan.


"Apa jangan-jangan Sarga adiknya Samuel dengan kakak kelasnya Alisha orang yang sama?" tanya Dzaky.


Mereka dengan kompak mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban tidak tahu.


"Kakak harap Sarga adiknya Samuel dengan Sarga kakak kelasnya Alisha orang yang sama. Jika itu benar, maka kakak orang pertama yang merestui hubungan mereka berdua." Caleb berucap sembari tersenyum manis menatap Alisha.


Sementara yang ditatap sudah langsung tersipu malu dan salah tingkah.


"Kembali cerita tadi. Bagaimana kelanjutannya?!" seru Dzaky menatap wajah Alisha.


"Dia dorong aku hingga jatuh. Setelah dorong aku sampai jatuh, dia dan teman-temannya tertawa. Tidak sampai disitu saja. Perempuan yang suka sama kak Sarga itu menyirami aku dengan minuman yang dia bawa hingga kepala aku dan sebagian baju aku basah."


"Lalu apa lagi. Kakak yakin tidak sampai disitu saja perempuan sinting itu melakukan hal buruk sama kamu." ucap Caleb.


"Dia berjongkok di depan aku hendak menarik rambut aku karena aku lihat tangannya sudah terangkat ke atas. Lalu tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dianya. Seharusnya kan aku yang berteriak."


"Aku mengangkat kepalaku untuk melihat apa yang terjadi. Dan aku terkejut saat melihat kakak Darel yang menarik kuat rambut perempuan itu sampai membuat kepala perempuan itu mendongak keatas."


Seketika Andrean, Caleb, Dzaky dan Aldan terkejut dan syok ketika mendengar Alisha yang mengatakan bahwa Darel menarik kuat rambut seorang gadis di cafe.


"Wah! Darel melakukan hal itu di depan umum?!" seru Dzaky.


"Iya, kakak Dzaky. Kakak Darel benar-benar ketika menarik rambut teman satu sekolah aku itu. Bahkan kakak Darel mengatakan bahwa aku adalah adiknya di depan semua orang." Alisha seketika tersenyum ketika menceritakan bagian dimana Darel mengklaim dirinya sebagai adiknya.


Melihat Alisha tersenyum membuat Andrean juga ikut tersenyum. Begitu juga dengan Caleb, Dzaky dan Aldan.


"Terus apa yang dilakukan oleh Darel terhadap perempuan itu?" tanya Andrean yang begitu semangat mendengar cerita dari putrinya.


"Kakak Darel menarik rambut perempuan itu menuju kasir, lalu meminta perempuan itu untuk kembali memesan makanan yang sudah dia buang tadi. Selesai dengan pembalasannya, kakak Darel menarik perempuan itu kemudian mendorong perempuan itu dengan kuat sehingga tersungkur di lantai."


"Sebelum meninggalkan perempuan itu, kakak Darel mengancam perempuan itu untuk menjauhi aku. Jika dia berani mengusik aku lagi, maka kakak Darel bukan hanya membalas dia. Kakak Darel juga akan melibatkan anggota keluarganya."


Sementara untuk Caleb, Dzaky dan Aldan. Mereka tidak terkejut sama sekali karena mereka sudah tahu seperti apa sifat, karakter dan kelakuan asli Darel jika sudah berurusan dengan orang-orang yang dia sayangi. Darel akan membalas siapa pun yang sudah menyakiti orang-orang terdekatnya dan orang-orang yang dia sayangi.


"Terima kasih, Rel! Terima kasih karena kamu sudah bela Alisha," batin Caleb, Dzaky dan Aldan.


"Terima kasih, nak Darel! Kamu sudah menolong Alisha. Semoga kamu selalu dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Tuhan. Paman akan membalas setiap perlakuan kamu terhadap Alisha," batin Andrean tersenyum.


***


[KEDIAMAN UTAMA WILSON]


Semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah minus Darel. Darel saat ini berada di dalam kamarnya.


"Bagaimana? Berhasil mendapatkan maaf dari adik kalian?" tanya Adelina menatap satu persatu wajah putra-putranya.


Mendapatkan pertanyaan dari ibunya seketika tersenyum terukir senyuman manis di bibir Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa.


Melihat senyuman manis di bibir para putra-putranya membuat Adelina seketika langsung tahu jawaban dari pertanyaannya barusan.


"Jadi benar kalian sudah berhasil menjinaki anak kelinci itu?" tanya Sandy.


Ketika Davian hendak menjawab pertanyaan dari sang Paman, tiba-tiba terdengar langkah kaki menuruni anak tangga sembari berteriak.


"Aku ini manusia bukan anak kelinci, Paman Sandy!"


Semuanya langsung melihat kearah Darel yang mana Darel yang melangkahkan kakinya menuju ruang tengah.


Kini Darel sudah duduk di sofa di samping ayahnya. Tatapan matanya menatap horor kearah Sandy. Dan jangan lupa bibirnya yang mengerucut kesal.


"Hehehehe. Keponakan Paman yang tampan. Maafkan Pamanmu ini," ucap Sandy sembari memperlihatkan wajah memelasnya.


"Bodo!" Darel memeluk erat tubuh ayahnya.

__ADS_1


Arvind seketika tersenyum ketika putra bungsunya memeluknya begitu erat. Dirinya sudah sangat paham jika putranya yang tiba-tiba memeluknya.


"Pasti ada sesuatu nih," ejek Arvind.


Mendengar ucapan sekaligus ejekan dan ayahnya membuat Darel langsung melepaskan pelukannya. Kemudian Darel melihat kearah wajah tampan ayahnya. Seketika Darel tersenyum bak anak kecil yang berusia 5 tahun.


"Ada apa, hum?" tanya Arvind gemas dengan tangan mengusap lembut pipi putih putranya itu.


"Besok aku sama semua sahabat-sahabat aku mau jalan-jalan seharian penuh," jawab Darel.


"Terus?" tanya Arvind yang pura-pura tidak mengerti.


Darel langsung mengulurkan tangannya di hadapan ayahnya bermaksud untuk meminta uang.


"Mana duitnya?"


Arvind seketika tersenyum ketika melihat putra bungsunya yang meminta duit padanya. Apalagi ketika melihat ekspresi wajah putra bungsunya itu yang begitu menggemaskan. Putra bungsunya itu berubah menjadi sosok anak kecil yang berusia 5 tahun.


Arvind mengeluarkan dompetnya dari saku celananya. Setelah itu, Arvind membuka dompet dan mengambil satu kartu yang berwarna hitam. Arvind kemudian memberikan kartu tersebut kepada putra bungsunya itu.


"Nggak mau kartu. Aku maunya kes. Ribet!"


"Baiklah. Tunggu sebentar Papa ambilkan dulu."


"Hm."


Setelah itu, Arvind berdiri dari duduknya lalu pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya.


Tak butuh waktu lama, ayahnya kembali dengan membawa sesuatu di tangannya.


Arvind menduduki pantatnya di sofa sembari memberikan uang pecahan USD$10 sebanyak 60 lembar (jika dirupiahkan menjadi Rp 8.400.000)


Darel Langsung mengambil uang tersebut dari tangan ayahnya sembari tersenyum penuh kebahagiaan.


"Terima kasih Papa. Papa yang terbaik. Cup!" Darel berucap penuh kebahagiaan sembari memberikan ciuman di pipi ayahnya itu.


Darel melihat kearah kakak sulungnya dengan menampilkan wajah memelasnya.


Davian yang melihat tampang adiknya itu seketika langsung paham.


"Apa uang yang dikasih Papa masih kurang?" tanya Davian.


Darel langsung mengangguk-anggukkan kepalanya secara brutal ketika mendengar pertanyaan dari kakak tertuanya itu.


"Berapa kekurangannya?" tanya Davian.


"Eemmm." Darel seketika berpikir sejenak.


Sementara mereka semua tersenyum gemas melihat Darel yang sedang berpikir.


"Aku butuh USD$500 lagi," jawab Darel sembari tersenyum manis.


"Baiklah. Kakak akan langsung transfer ke rekening kamu USD$1000."


Seketika Darel membelalakkan matanya dengan bibir yang berbentuk huruf O ketika mendengar penuturan kakaknya itu ketika mengatakan akan mentransfer sebesar USD$1000 ke rekeningnya.


Melihat respon dari Darel membuat semua anggota keluarganya seketika tersenyum. Mereka semua bahagia ketika melihat wajah bahagia Darel.


"Benarkah?"


"Hm."


Darel beranjak dari duduknya dan melangkah menghampiri kakaknya itu. Dan detik kemudian, Darel memberikan ciuman di kedua pipi kakaknya itu.


"Kakak Davian super... Super... Super terbaik... Hehehehe."


Setelah mengatakan itu, Darel pun langsung pergi meninggalkan semua anggota keluarganya untuk kembali ke kamarnya. Dirinya hari ini benar-benar bahagia karena keinginannya langsung dikabulkan oleh ayahnya dan kakak tertuanya.

__ADS_1


Sementara untuk anggota keluarganya juga ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Darel. Ini yang mereka inginkan dari Darel. Mereka ingin melihat wajah bahagia Darel.


__ADS_2