
FLASBACK ON
Saat ini Farraz dan keempat adiknya, Arvind, Zayan serta beberapa anak buahnya berada di Apartemen milik Farraz.
"Katakan padaku apa yang terjadi selama aku tidak ada? Lalu bagaimana keadaan putra bungsuku dan Papaku?" tanya Arvind
"Untuk Bos, keadaannya baik-baik saja. Tapi untuk Tuan Besar Antony..." ucapan Zayan terhenti sejenak. Lidah terasa berat untuk mengatakan kebenarannya
"Katakan padaku apa yang terjadi pada Papaku?" Arvind tanpa sadar meninggikan suaranya.
"Tu-tan besar.. tuan besar sudah meninggal."
"Apa?!" teriak Arvind. "K-kau sedang bercandakan, saudara Zayan?" Arvind tidak percaya kalau ayahnya sudah meninggal.
"Tidak, Tuan. Saya tidak bercanda. Saya tidak berani bercanda dengan membawa-bawa nyawa seseorang tuan, apalagi tuan besar Antony. Beliau sangat baik pada saya dan keluarga saya selama ini. Saya dulu bekerja untuknya. Dan sekarang saya bekerja pada putra anda tuan. Seluruh orang kepercayaan dan kaki tangan tuan besar Antony sekarang bekerja pada putra tuan yaitu Bos Darel. Tuan besar Antony meninggal karena dibunuh. Saat kejadian itu, Bos ada disana dan melihat semuanya."
"Brengsek!" Arvind benar-benar marah saat mendengar kabar ayahnya meninggal. "Apa bajingan itu yang melakukannya?" tanya Arvind.
"Saya tidak tahu tuan. Bos tidak mengatakan apapun pada saya. Bos menutupi semuanya dan Bos akan membongkarnya saat bukti-bukti terkumpul."
"Apa yang sudah dilakukan oleh putra bungsuku saat aku tidak ada?"
"Banyak tuan. Bos menyuruhku dan beberapa dari kami untuk menyelidiki tentang kehidupan Mathew Wilson dan Agatha. Dan mencari tahu apa saja yang dikerjakan mereka selama ini. Serta kami juga mencari titik lemah mereka berdua."
"Apa kalian berhasil?"
"Berhasil, tuan. Bahkan semuanya berjalan sangat sempurna. Mungkin ini sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk kami menghancurkan pasangan pasutri itu."
"Apa yang sudah kau dan timmu dapatkan?"
"Pertama, aku mengetahui titik lemah dari Mathew. Titik lemahnya terletak pada ibu dan adik perempuannya. Dan sekarang mereka ada pada kami. Bos menyuruh kami untuk menyekap keduanya. Kedua, Agatha memiliki seorang anak perempuan yang berusia 15 tahun. Anak itu hasil hubungan gelapnya dengan pria lain, sebelum menikah dengan tuan William. Dan lebih parahnya lagi, Mathew suaminya tidak mengetahuinya."
"Dasar perempuan menjijikkan. Aku menyesal telah membiarkannya dan memberikan restu pada William untuk menikahinya," ucap Arvind penuh amarah.
"Dan ketiga," ucapan Zayan terhenti. Tatapan matanya menatap wajah Farraz dan keempat adiknya.
"Kenapa anda menatapku dan adik-adikku seperti itu?" tanya Farraz yang menyadari Zayan menatapnya dan adiknya.
"Ach, maaf." Zayan kembali menatap wajah Arvind. "Rekan saya Arzan sudah berhasil menemukan keberadaan kelima putra-putra dari tuan William, tuan!"
"Apa? Benarkah? Katakan padaku dimana mereka sekarang? Apa mereka baik-baik saja? Lalu mereka tinggal dimana?" tanya Arvind bertubi-tubi.
Zayan yang mendengar pertanyaan dari Arvind hanya bisa tersenyum.
"Tuan, tenanglah. Pertanyaan tuan banyak sekali. Mana dulu yang harus saya jawab?"
Arvind menjadi malu terhadap kelakuannya. Begitu juga dengan Farraz dan adiknya. Mereka tersenyum gemas melihat kelakuan Paman baru mereka.
"Paman, kau lucu sekali!" seru Dylan. Sedangkan Arvind tersipu malu.
"Oke, oke! Sekarang jawab pertanyaanku yang barusan."
"Baiklah, tuan. Kelima putranya tuan William saat ini sedang bersama anda tuan."
Hal itu sukses membuat Arvind terkejut. Lalu Arvind melihat kearah Farraz dan keempat adiknya. "Ja-jadi mereka?"
__ADS_1
"Iya, tuan. Mereka adalah putra kandungnya tuan William. Mereka keponakannya tuan."
Arvind langsung menangis saat mendengar penuturan dari Zayan. Dirinya benar-benar bahagia mengetahui fakta bahwa lima pemuda yang telah menyelamatkan nyawanya ternyata keponakan-keponakan kandungnya sendiri.
Sedangkan Farraz dan keempat adiknya hanya bisa diam. Mereka berusaha mencerna maksud dari perkataan Zayan.
Melihat keterdiaman Farraz dan adiknya. Arvind berdiri, lalu berpindah duduk di samping Farraz selaku saudara tertua diantara mereka berlima. Arvind menggenggam tangan Farraz.
"Farraz. Kau pasti bingungkan saat mendengar penuturan dari Zayan barusan?"
Farraz mengangguk. "Katakan padaku Paman. Apa kami ini benar-benar keponakanmu?"
"Iya. Kalian adalah keponakan Paman. Ayah kalian masih hidup. Dan Ayah kalian itu adalah adik kandung Paman. Namanya adalah Willam Wilson."
DEG!
Farraz dan keempat adiknya terkejut. Tanpa diminta pun air mata mereka lolos membasahi wajah-wajah tampan mereka.
"Hiks.. kalau Ayah kami masih hidup. Kenapa kami dibuang dan dititipkan di Panti Asuhan selama ini?" tanya Tristan.
"Kenapa mereka tidak mau merawat kami?" tanya Deon.
"Anak-anak. Dengarkan Paman. Kalian jangan menghakimi Papa kalian terlebih dahulu sebelum kalian mengetahui masalah yang sebenarnya," ucap Arvind.
"Kalau begitu. Ceritakan pada kami semuanya, Paman. Ceritakan apa yang tidak kami ketahui selama ini." Keenan berbicara sembari memohon kepada Arvind.
"Baiklah. Paman akan ceritakan semuanya. Orang tua kalian itu sangat menyayangi kalian. Mereka tidak pernah membuang kalian atau pun menitipkan kalian di panti asuhan itu. Ini semua perbuatan dari Mathew Wilson dan istrinya Agatha. Mereka menukarkan kelima putra mereka dengan kalian berlima. Mereka yang telah memisahkan kalian dari keluarga kandung kalian. Baik Papa kalian, Paman sendiri dan anggota keluarga besar Wilson tidak mengetahui masalah ini. Hanya satu orang yang mengetahuinya. Orang itu adalah Kakek kalian. Tapi Kakek kalian tidak pernah memberitahu Paman atau pun anggota keluarga lainnya."
"Kenapa Paman? Kenapa Kakek merahasiakan masalah tersebut dari kalian anggota keluarganya?" tanya Tristan.
"Karena Kakek kalian tidak mau menyakiti Papa kalian. Saat itu Papa kalian sangat terpuruk dan terpukul akan kematian Kayana, Mama kalian. Saat itu kalian masih kecil-kecil. Ditambah lagi perempuan yang bernama Agatha selalu ada untuk Papa kalian. Dan berakhirlah Papa kalian menyukainya. Sejak kebersamaan mereka, memang terlihat Agatha begitu perhatian dan sayang pada Papa kalian. Sehingga kami merestui mereka. Dan mereka pun menikah. Tapi semua kebaikan yang ditunjukkan oleh perempuan itu hanya sebuah kepalsuan. Perempuan itu mendekati Papa kalian hanya mengincar kekayaan keluarga Wilson."
Tristan yang kebetulan duduk di samping Dylan, langsung menarik tubuh adiknya kedalam pelukannya.
"Dylan rindu Papa, Kak. Dylan ingin bertemu Papa.. hiks."
"Sebenarnya kalian bertujuh bersaudara."
"Apa?" Farraz, Deon, Keenan dan Tristan, kecuali Dylan yang masih menangis di dalam pelukan Tristan.
"Kalian memiliki dua orang kakak laki-laki. Yang pertama Dirga Wilson dan yang kedua Marcel Wilson. Dan kau Farraz, kau putra ketiga. Dan marga kalian adalah Wilson."
Farraz dan keempat adiknya tampak bahagia. Terlihat jelas dari wajah-wajah mereka. Mereka tak menyangka bahwa mereka masih memiliki keluarga. Masih memiliki seorang Ayah dan dua orang kakak. Mereka pikir selama ini kalau mereka hanya anak yatim piatu di dunia ini. Ternyata mereka salah.
Dylan melepaskan pelukannya dari Tristan, lalu menatap wajah Arvind.
"Paman. Dylan ingin bertemu Papa. Bawa Dylan untuk bertemu dengan Papa."
Arvind tersenyum bahagia melihat wajah memohon Dylan. Arvind mengusap lembut jejak air mata di wajah Dylan, lalu memberikan kecupan sayang di keningnya.
"Paman akan membawa kalian pulang. Sudah saatnya kalian bertemu dan berkumpul kembali dengan Papa dan kedua kakak kalian."
"Sekarang kalian bersiap-siaplah."
"Baik, Paman."
__ADS_1
FLASBACK OFF
***
Di ruang tengah kediaman keluarga Wilson masih terlihat perseteruan Agatha dan Darel.
"Aku akui kau sangat pintar Darel. Tapi jangan kau lupakan satu hal. Kau tidak mengetahui dimana kelima putra-putra kandung dari William saat ini berada. Hanya aku yang mengetahuinya," ujar Agatha dengan wajah bangganya.
"Benarkah? Apakah ini rencana barumu untuk mendapatkan apa yang kau inginkan? Sayangnya aku tidak tertarik ataupun percaya padamu. Justru aku ingin mengatakan padamu Nyonya. Aku sudah mengetahui dimana keberadaan kelima saudara sepupuku itu. Dan aku juga sudah melihat wajah mereka seperti apa. Wajah-wajah mereka sangat tampan sekali." Darel berbicara sambil menatap remeh Agatha.
Mendengar penuturan dari Darel membuat William, Dirga dan Marcel bahagia. Mereka menatap wajah Darel untuk memastikan kebenaran itu. Seketika Darel tersenyum saat William, Dirga dan Marcel menatapnya.
"Aku sudah bertemu dengan mereka, Paman. Dan sebentar lagi Paman akan bertemu dengan mereka juga," sahut Darel.
"Hahahaha." Agatha tertawa keras. "Kau pasti bohongkan Darel. Kau mengatakan hal itu hanya untuk mengelabuiku kan? Mana mungkin kau mengetahui keberadaan mereka. Kau hanya seorang pelajar. Kau setiap hari diantar jemput oleh kakak-kakakmu. Jadi mana ada waktu untukmu untuk bisa keluar rumah. Kau bahkan tidak pernah pergi sendirian." Agatha berbicara dengan lantangnya.
Saat Darel ingin menjawabnya. Terdengar suara seseorang yang memasuki ruang tengah.
"Apa yang dikatakan oleh Darel itu benar?"
DEG!
Semua anggota keluarga terkejut mendengar suara tersebut. Suara yang selama ini mereka rindukan. Lalu mereka semua mengalihkan pandangan mereka untuk melihat keasal suara tersebut.
"Papa!"
"Sayang!"
"Paman Arvind!"
"Kak Arvind!"
Arvind tersenyum bahagia melihat wajah anggota keluarganya, lalu Arvind melangkahkan kakinya menghampiri anggota keluarganya yang berada di ruang tengah.
Sedangkan Farraz dan keempat adiknya beserta Zayan dan beberapa orang-orangnya berada di ruang tamu. Mereka disuruh menunggu di sana.
"Papa!" teriak Darel dan langsung menerjang tubuh Ayahnya dan memeluknya dengan erat.
GREP!
"Hiks... Hiks... Hiks." Darel menangis di dalam pelukan sang Ayah.
Arvind yang mendengar isakan putra bungsunya memeluk erat tubuh putra bungsunya itu.
"Maafkan Papa. Maafkan Papa yang tidak langsung kembali menemui Darel." Arvind mencium pucuk kepala putranya.
"Papa."
Davian dan adik-adiknya yang lain juga ikut memeluk Arvind. Mereka memeluk Arvind secara bergantian.
Mendapatkan pelukan dari semua putra-putranya membuat Arvind tersenyum bahagia. Kemudian Arvind memberikan kecupan-kecupan sayang di masing-masing kening putra-putranya.
Setelah mereka puas memeluk ayahnya. Mereka pun melepaskan pelukan tersebut. Mereka semua bahagia melihat orang yang mereka sayangi telah kembali dalam keadaan baik-baik saja.
Sementara Darel masih memeluk tubuh Ayahnya. Dan isakannya makin kencang.
__ADS_1
"Hiks... Kakek... Kakek.. Hiks."
Arvind yang mendengar isakkan putranya sambil menyebut nama Ayahnya langsung melepaskan pelukannya. Arvind menyentuh dagu putra bungsunya itu, lalu mengangkatnya keatas. Darel pun memberanikan dirinya untuk menatap wajah Ayahnya.