
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Semua anggota keluarga Wilson sudah berada di rumah termasuk Darel. Mereka semua saat ini berkumpul di ruang tengah.
"Bagaimana kuliah umum ketiga putra Papa yang tampan ini, hum?" tanya Arvind kepada putra bungsunya sambil tangannya mengusap lembut kepalanya.
Darel saat ini tengah bersandar di bahu ayahnya sembari bermain game di ponselnya.
"Lancar, Papa!"
Arvind tersenyum mendengar jawaban dari putra bungsunya. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lainnya.
Arvind menatap kearah Evan dan Raffa. "Bagaimana untuk kalian berdua sayang?"
"Semuanya berjalan lancar, Papa!" Evan dan Raffa menjawab pertanyaan dari ayahnya itu bersamaan.
Arvind kembali tersenyum. Kali ini tersenyum mendengar jawaban dari kedua putranya.
Ketika Darel tengah asyik bermain game di ponselnya, tiba-tiba permainannya terhenti karena sebuah panggilan masuk dari salah satu sahabatnya. Dan tanpa sadar Darel mengumpat kesal.
"Yak! Devon sialan! Kurus setan!" teriak Darel melengking di ruang tengah.
Mendengar ucapan dan teriakan dari Darel membuat mereka semua menutup telinganya dan juga menggelengkan kepalanya.
Setelah itu, Darel pun menjawab panggilan dari sahabatnya itu dengan nada super kesalnya.
"Mau ngapain lo nelpon gue, hah?!"
Mendengar teriakkan kencang dari Darel membuat Devon seketika menjauhi ponselnya bersamaan dengan tangannya mengusap-usap telinganya.
"Yak, kelinci sialan! Bisa tidak kau menjawab panggilan dariku dengan lembut?"
"Ogah! Ngomong sama orang kayak lo nggak bisa pake suara lembut. Setiap gue dengar suara lo. Bawaan gue mau makan lo hidup-hidup!"
Mendengar jawaban dari Darel membuat Devon seketika membelalakkan matanya.
"Udah kayak canibal aja lo! Apa lo nggak dikasih makan dengan baik sama keluarga lo sehingga lo mau makan daging manusia?"
"Makanan dan minuman gue masih seperti biasa. Gue akan berubah menjadi manusia pemakan daging manusia jika gue udah enek lihat muka lo!"
"Sialan lo!" teriak Devon di seberang telepon.
Sementara Arvind, Adelina dan anggota keluarga lainnya tersenyum sembari geleng-geleng kepala mendengar ucapan sarkas dari Darel. Mereka semua tidak menyangka jika Darel akan berbicara seperti itu.
"Tuh mulut benar-benar tidak bisa dijaga," ucap Gilang geleng-geleng kepala.
"Bukan Darel namanya jika harus ngomong lemah lembut sama lawan bicaranya," sela Tristan.
"Darel itu ngomong lembutnya hanya sama Paman dan Bibi. Dan juga dengan keenam kakak tertuanya. Sementara untuk Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa. Darel masih berani. Bahkan nggak ada takutnya, walau mereka sudah memperlihatkan wajah super seramnya di hadapan Darel," sahut Steven.
"Yak! Kalian kenapa malah bahas aku sih? Ini aku sedang bicara dengan anak kecebong hitam di telpon. Suara kalian itu berisik tahu," ucap Darel seenaknya.
"Hah!" terdengar helaan nafas dari Steven, Tristan dan Gilang ketiga mendengar ucapan pedas dari Darel.
"Lo ngatain gue kecebong hitam. Lo sendiri adalah manusia berwajah kelinci!"
"Mana ada manusia berwajah kelinci?" tanya Darel.
"Ada."
"Nggak usah bohong lo, kadal dekil!"
"Gue nggak bohong, kelinci busuk!"
__ADS_1
"Kalau memang ada manusia berwajah kelinci. Mana coba! Kasih lihat fotonya ke gue."
"Yakin lo mau gue tunjukin gambar manusia yang wajahnya kelinci?"
"Yakin! Sekarang tunjukin ke gue!"
"Baiklah. Tapi lo jangan sampai nyesel ya kalau sampai lo lihat gambar itu?"
"Nggak akan."
"Baiklah. Gue tutup sebentar teleponnya."
"Baik."
Setelah itu, Devon mematikan panggilannya guna untuk mengerjai Darel dengan mengirimkan sebuah gambar yang dia maksud. Devon tidak sabar untuk menunggu reaksi Darel ti telpon ketika melihat gambar tersebut.
Ting...
Terdengar notifikasi masuk ke dalam ponsel milik Darel.
Darel langsung membuka pesan WhatsApp. Terlihat disana ada sebuah pesan gambar. Kemudian Darel membuka pesan tersebut. Dirinya benar-benar penasaran akan gambar yang dikirim oleh Devon.
Dan detik kemudian...
"Yak, Devon sialan! Ini foto gue!" teriak Darel ketika melihat fotonya yang mana wajahnya sudah diedit menjadi wajah kelinci.
Arvind memiringkan kepalanya ke samping. Dirinya penasaran foto yang dimaksud oleh putra bungsunya itu sehingga membuat putra bungsunya itu kesal.
Setelah melihat foto putranya itu yang wajahnya diedit menjadi wajah kelinci membuat Arvind berusaha mati-matian menahan tawanya.
Melihat Arvind yang berusaha menahan tawanya membuat semuanya meyakini bahwa Devon telah melakukan sesuatu terhadap foto Darel.
Ponsel Darel kembali berbunyi. Dan kali ini adalah sebuah panggilan masuk. Yang memanggilnya orang yang sama yaitu Devon.
"Udah lihatkan. Bagaimana? Lo percayakan sama gue kalau ada manusia yang berwajah kelinci?"
"Lo nggak usah memanipulasi otak gue, kampret! Lo pikir gue anak TK yang bisa lo tipu gitu aja!"
"Gue lagi nggak memanipulasi apapun. Yang gue bicarakan ini fakta."
"Ngomong itu lagi, gue buat lo tidur di rumah sakit selama 1 tahun."
"Emangnya lo tega sama gue?"
"Kenapa nggak. Bagi gue dalam sebuah persahabatan. Jika ada sahabat yang menyebalkan, sudah semestinya dibumihanguskan."
"Uhuukk."
Seketika Devon tersendat saat mendengar ucapan kejam dari Darel.
Darel yang mendengar Devon yang terbatuk seketika tersenyum puas. Dia sangat yakin bahwa sahabatnya itu tengah terkejut akan perkataannya barusan.
"Kenapa lo?"
"Sialan lo, Rel!"
"Satu sama! Sekarang jawab gue. Ngapain lo hubungi gue?"
"Ach, iya! Sorry, gue lupa! Begini Rel. Seperti yang gue katakan di kampus bahwa lusa kita akan mengunjungi dua kampus."
"Iya. Terus masalahnya apa?"
__ADS_1
"Dana untuk kita kesana sudah terpakai habis. Gue baru tahunya beberapa menit yang lalu ketika gue mengecek semua untuk keperluan disana."
"Yak, Von! Kenapa lo nggak kasih tahu gue atau yang lainnya dari awal?"
"Yah, sorry! Bukan gue sengaja. Beberapa hari kemarin kita sibuk dengan kegiatan kita. Belum lagi masalah si Luan Malachi itu. Ditambah lagi masalah lo!"
Mendengar jawaban sekaligus penjelasan dari Darel seketika membuat Darel merasa bersalah. Dia membenarkan apa yang dikatakan oleh Devon.
"Gue minta maaf, Von!"
"Kenapa lo minta maaf? Lo nggak salah. kan kita memang sibuk beberapa hari yang lalu, ditambah dengan kita menyelesaikan permasalahan lo."
"Sekarang kasih tahu gue. Berapa sisa uang yang ada sama lo?"
"Kalau dibilang sisa. Nggak ada sisa sama sekali Rel! Justru kemarin pas kegiatan terakhir, itu gue pake uang pribadi gue untuk nombokin kekurangannya."
"Von."
"Iya, Rel!"
"Lo yakin udah hitung semua jumlah uang yang kita kumpulin itu? Ditambah uang dari keluarga kita masing-masing?"
"Udah, Rel. Jumlah uang itu lumayan banyak. Dengan uang segitu kita bisa melakukan sekitar 30 kegiatan. Jadi dengan begitu kita tidak perlu lagi meminta sumbangan lagi. Setidaknya sampai satu tahun ke depan!"
Mendengar ucapan dari Devon membuat Darel curiga. Darel curiga jika diantara anggotanya ada yang menggelapkan dana tersebut.
"Baiklah. Masalah itu akan kita bahas di kampus besok. Kita akan bahas masalah itu sama yang lain. Lo bawa semua catatan dan bukti yang lo pegang. Semua yang berkaitan dengan kegiatan kita yang sudah selesai kita buat beberapa hari yang lalu."
"Baiklah."
"Sekarang katakan sama gue. Berapa biaya untuk mengunjungi dua panti asuhan besok lusa?"
"Sekitar USD$1500, Rel!"
"Gue yang akan bertanggung jawab masalah itu."
"Tapi, Rel! Itu uangnya banyak. Lo nggak mungkin sendirian mengeluarkan uang itu. Kita berkelompok, Rel!"
"Udahlah! Mau kelompok, mau individu. Bagi gue sama aja. Uang itu jatuhnya untuk anak-anak panti juga kan?"
"Iya, tapi nggak lo semua."
"Udahlah. Santai aja."
"Tapi, Rel?"
"Berani lo protes sekali lagi. Gue pecat lo jadi sahabat gue."
"Hah!"
Darel seketika tersenyum ketika mendengar helaan nafas pasrah Devon di seberang telepon.
"Ya, sudah! Gue tutup teleponnya. Lo harus baik-baik saja sampai acara itu tiba, karena lo ketuanya."
"Siap!"
Setelah mengatakan itu, baik Darel maupun Devon sama-sama mematikan teleponnya.
"Gue akan selidiki masalah ini," batin Darel.
Sementara anggota keluarganya yang sejak tadi menjadi pendengar setia merasakan aura-aura tak mengenakkan sejak mendengar pembicaraan Darel dan Devon. Mereka semua meyakini bahwa telah terjadi sesuatu dalam Organisasi yang dipimpin oleh Darel. Apalagi ketika Darel membahas uang.
__ADS_1