Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Membuka Mata


__ADS_3

Setelah mengingatnya, Ghali melihat kearah Arzan, lalu berbicara.


"Ach, iya! Aku ingat. Saat itu Darel menghubungiku. Katanya aku tidak usah menjemputnya karena akan ada dua kepercayaan Kakek yang akan menjemputnya di sekolah. Jadi kau yang menjemput adikku di sekolah?" tanya Ghali.


"Benar, Tuan muda." Arzan menjawabnya. "Saat di perjalanan menuju Perusahaan CJ GRUP. Saya menceritakan kalau Mathew akan menyuap dua karyawan untuk mendapatkan tanda tangan dan cap jempol Bos. Dan setelah itu, Bos sudah tahu apa yang akan dilakukannya. Seperti yang kalian lihat saat Bos memperlihatkan video itu dimana Bos sedang menandatangani berkas-berkas kerjanya yang ditemani oleh sekretarisnya. Di video itu terlihat sekretarisnya Bos sedang menempel jempolnya di berkas yang sudah ditandatangani oleh Bos sehingga membuat Mathew terkejut." Arzan menjelaskan.


"Iya. Kami melihatnya," jawab mereka bersamaan. Mereka tersenyum ketika membayangkan saat melihat video itu.


"Saat kami semua akan diusir oleh dua iblis itu, tiba-tiba adikku datang. Kenapa adikku bisa datang tepat disaat kami akan diusir?" tanya Vano.


"Saya menghubungi Bos. Tapi Bos tidak menjawab panggilan saya. Kemudian saya menghubungi Arzan dan mengatakan semuanya padanya," jawab Zayan.


"Saat saya mendapatkan telepon dari Zayan dan mengetahui Mathew sudah mulai bertindak. Maka saya juga mulai bertindak sesuai yang diperintahkan oleh Bos. Saya segera membawa pergi jauh Ibu dan adik perempuan Mathew keluar dari negara Jerman," tutur Arzan.


"Setelah saya berbicara dengan Arzan di telepon. Saya kembali menghubungi Bos. Tapi masih sama. Ponsel Bos tidak aktif. Mau tidak mau saya menyuruh dua anak buah saya untuk mendatangi Bos ke sekolah. Dan seperti yang kita lihat. Bos datang dengan membawa beberapa anak buahnya dan juga dua orang penghianat itu." Zayan menjelaskan kronologi kedatangan Darel.


"Seperti yang saya katakan pada Tuan Arvind saat pertama kali kita bertemu. Kalau saya, Arzan dan rekan-rekan saya yang lainnya sudah menyelidiki semua ini. Kami selalu mengawasi gerak-gerik Agatha dan Mathew saat kami masih mengabdi pada Tuan besar Antony sampai Tuan besar Antony menyerahkan wewenang dan tanggung jawabnya pada Bos sehingga kami semua pun mengabdi pada Bos. Setiap ada informasi baik dalam Perusahaan maupun di luar Perusahaan, kami melaporkan langsung pada Bos. Bukan pada Tuan besar, karena itu yang diperintahkan oleh tuan besar." Zayan berucap.


"Jadi kalian orang yang sudah melaporkanku pada kelinci nakal itu soal aku curang di perusahaan saat itu?" tanya Dirga dengan wajah kesalnya.


Sedangkan yang lainnya hanya tersenyum gemas melihat wajah kesal Dirga.


"Kalau masalah itu bukan kami. Tapi Pamannya Arzan yang melakukannya. Maafkan kami. Kami semua hanya menjalankan tugas," jawab Arzan dan Zayan bersamaan.


"Iya. Tidak apa-apa. Aku yang salah. Kalau kalian tidak mengadukan masalah ini pada kelinci nakal itu. Mungkin aku sudah menghancurkan Perusahaan itu. Aku memang bodoh saat itu," sahut Dirga.


Saat mereka tengah membahas masalah Mathew dan Agatha, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara Dylan.


"Da... Darel. Ka... kau menangis." Dylan yang saat ini duduk di samping ranjang Darel terkejut saat melihat Darel yang meneteskan air matanya dari sudut matanya.


Mereka yang mendengar teriakan Dylan langsung menghampiri Dylan dan ranjang Darel.


"Dylan. Ada apa, Nak?" tanya William.


"It... Itu, Pa. Darel menangis," jawab Dylan sembari menunjuk ke arah mata Darel. Mereka semua melihatnya. Dan benar. Darel memang menangis. Terlihat air matanya jatuh dari sudut matanya.


Arvind yang sudah di dekat putranya mengusap lembut air mata putra bungsunya itu, lalu mengecup keningnya.


"Hei, Darel sayang. Ada apa, Nak? Kenapa menangis? Apa ada yang sakit, hum?" Arvind berbicara berbisik di telinga putra bungsunya berharap putra bungsunya itu memberikan respon.


Saat ini Darel berada di alam bawah sadarnya.


"Aku ada dimana? Dan ini tempat apa? Kenapa sepi sekali?" Darel terus berjalan tanpa arah.


"Pa, Ma, Kakak. Kalian dimana?"

__ADS_1


"Hiks... Hiks... Pa... Ma... Hiks... Kakak."


"Darel, sayang."


Darel membalikkan badannya saat ada seseorang yang memanggilnya.


DEG!


"Ka... Kakek... Hiks... Kakek." Darel berlari dan langsung menubruk tubuh sang Kakek.


GREP!


"Kakek... Kakek. Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu... Hiks."


"Kakek juga merindukanmu, sayang. Maafkan kakek yang telah pergi meninggalkanmu."


"Tidak. Kakek tidak salah."


"Darel, cucu Nenek."


Darel yang mendengar suara lembut seorang wanita pun melepaskan pelukannya dari sang Kakek. Dapat Darel lihat Neneknya yang tersenyum hangat padanya. Begitu juga dengan seorang wanita cantik yang berdiri di samping sang Nenek yang Darel yakini adalah Bibinya, Bibi Kayana.


"Ne... Nenek... Apakah ini Nenek?"


"Iya, sayang. Ini Nenek. Apa kau tidak ingin memeluk Nenek, hum?


GREP!


Darel melepaskan pelukannya dari sang Nenek. Kemudiab matanya menatap wajah cantik sang Bibi.


"Bibi Kayana."


Wanita yang dipanggil  Kayana tersenyum gemas. "Bibi rindu, Darel."


"Aku juga rindu Bibi."


GREP!


Darel pun memeluk Kayana. Kayana pun membalas pelukan dari keponakannya itu.


"Sekarang aku sudah bertemu dengan kalian. Pasti Papa, Mama, Paman dan Bibi bahagia bisa melihat kalian. Kita pulang, yukk!"


Kayana, Antony dan Charlotta terdiam. Mereka saling melirik satu sama lain, lalu mereka kembali menatap wajah Darel.


"Sayang. Kami tidak bisa kembali. Tempat kami disini," ucap Charlotta.

__ADS_1


"Iya, sayang. Apa yang dikatakan nenekmu benar? Kami tidak bisa kembali. Tempat kami disini. Ini rumah kami. Kita sudah beda dunia sekarang, sayang." Kayana ikut menjelaskannya.


"Tidak... Tidak! Nenek dan Bibi Kayana bohongkan?" tanya Darel yang sudah menangis.


Darel menatap wajah Kakeknya. Darel berharap kalau Kakek akan mengatakan hal yang berbeda.


"Kakek... Hiks."


PUK!


Antony menepuk pelan kedua bahu Darel. "Dengarkan Kakek, sayang! Kakek tahu kalau kau sangat menyayangi kami. Kami juga sangat menyayangimu. Tapi... Kita sudah beda alam. Dan kita tidak bisa bersama-sama lagi. Jadi kakek mohon... kembalilah... tempatmu bukan disini."


"Coba kau lihat disana," tunjuk Antony.


Darel pun melihat arah tunjuk sang Kakek. Darel dapat melihat kedua orang tuanya, Paman, Bibi dan para Kakaknya tengah menangis sembari menyebut namanya. Darel pun tiba-tiba ikut menangis.


"Darel bisa lihat mereka kan? Mereka sangat menyayangimu. Mereka ingin Darel kembali. Mereka ingin Darel membuka kedua matanya yang sudah tertutup selama tiga hari. Apa Darel tega membuat mereka menangis? Bukankah Darel tidak mau melihat orang-orang yang Darel sayangi menangis. Apalagi mereka menangisi Darel." Antony berbicara lembut kepada cucunya.


"Jadi Kakek mohon. Kembali bersama mereka. Dan sampaikan sayang Kakek dan Nenek untuk mereka semua."


"Dan sampaikan juga sayang Bibi untuk putra-putra Bibi. Bibi sudah tahu dan sudah melihat dari sini kalau kelima putra Bibi sudah kembali. Dan itu berkat dirimu, Nak!"


"Baiklah. Aku akan kembali. Aku akan pulang. Jaga diri kalian."


Kayana, Antony dan Charlotta tersenyum mendengar ucapan Darel.


"Baik, sayang. Ikuti cahaya itu. Cahaya itu akan mengantarmu pulang." Darel pun berlari kearah cahaya itu.


Adelina menggenggam tangan putra bungsunya dan berharap putranya membalasnya. Tapi nihil. Putranya sama sekali tidak memberikan respon apapun.


"Sayang, Mama mohon. Bangunlah dan bukan matamu, Nak! Hiks... Mama benar-benar tidak kuat melihatmu seperti ini."


"Hiks... Darel. Kami mohon. Bangunlah. Jangan siksa kami seperti ini... Hiks." para kakaknya berucap sambil menangis.


Beberapa detik kemudian, Adelina merasakan bahwa tangannya di genggam kuat oleh putra bungsunya itu. Hal itu sukses membuat Adelina tersenyum bahagia.


"Darel. Darel dengar Mama, sayang. Lakukan lagi, Nak!"


Darel kembali menggenggam tangan Adelina. Dan hal itu dilihat oleh anggota keluarganya yang lain, terutama para kakak-kakaknya. Mereka tersenyum bahagia saat melihat respon dari Darel.


"Darel," ucap mereka bersamaan.


Mereka menatap wajah Darel. Arvind yang berdiri di dekat putra bungsunya itu terus memperhatikan wajah tampan putra bungsunya itu.


Berlahan Darel membuka kedua mata bulatnya itu. Dan mengucapkan kata pertamanya.

__ADS_1


"Pa-pa," lirih Darel.


__ADS_2