Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Kilas Balik Kejadian


__ADS_3

Evan mendekatkan wajahnya ke telinga Darel dan membisikkan sesuatu di telinga adiknya.


"Darel. Kakak sudah tahu rahasia apa yang disampaikan Kakek padamu. Salah satunya adalah Kak Dirga dan Kak Marcel bukan putra kandung dari perempuan murahan itu. Dan kelima putra dari perempuan itu bukanlah putra kandungnya Paman William. Jadi, Kakak mohon. Darel harus segera bangun. Kita harus melawan mereka."


Setelah Evan berbisik di telinga adik kesayangannya itu, Evan langsung melangkahkan kakinya menuju sofa dimana ibunya sedang tertidur tanpa menghiraukan para kakaknya yang kini menatapnya.


"Ada apa denganmu, Van?" batin Davian dan saudara-saudaranya yang lain.


Evan duduk di sofa. Sesekali matanya menatap wajah cantik ibunya yang sedang tertidur.


"Mama," lirih Evan dan tanpa sadar Evan menangis. Para kakaknya masih terus menatapnya.


Adelina berlahan membuka kedua matanya dikarenakan dirinya mendengar lirihan dari putranya itu.


"Evan, sayang. Kamu kenapa, nak?" tanya Adelina saat melihat putranya menangis. Adelina langsung menduduki dirinya.


"Ada apa, sayang? Kenapa menangis?" tanya Adelina.


Evan tak menjawab pertanyaan dari ibunya. Justru Evan menjatuhkan kepalanya di bahu ibunya.


"Hiks..." Evan terisak.


"Evan," ucap Davian.


Davian menghampiri Evan dan diikuti oleh yang lainnya. Kini mereka telah duduk di sofa.


"Evan, kamu kenapa?" tanya Raffa.


"Apa mereka berulah lagi?" tanya Ghali.


"Sayang. Jawab, nak! Kamu kenapa?" tanya Adelina lembut sembari mencium pucuk kepalanya.


"Hiks.. kenapa masalahnya menjadi rumit seperti ini, Ma? Kakek meninggal. Papa hilang saat kecelakaan dan sampai sekarang pihak kepolisian belum memberi kabar kita dan Darel koma. Sudah empat hari Darel tidak mau bangun dari tidurnya... Hiks... aku merindukan saat-saat kita bersama Papa." Evan berucap disertai isakannya.


Mereka semua menangis mendengar ucapan Evan.


"Papa," batin Davian dan adik-adiknya.


"Pa-paa... Ka-kakek." tiba-tiba terdengar igauan dari Darel.


Mendengar igauan dari Darel, hal itu sukses membuat mereka semua terkejut dan juga bahagia. Mereka semua pun menghampiri ranjang Darel.


"Darel," panggil mereka secara bersamaan. Mereka menatap wajah Darel dan berharap mata bulat itu terbuka.


"Pa-pa.. Ka-kek." Darel kembali mengigau dengan mata yang masih terpejam.


Adelina menggenggam tangan putra bungsunya dan juga mencium keningnya. "Darel sayang. Ini mama, nak!"


"Darel. Ayo, dong buka matanya." para kakak-kakaknya memohon.


Berlahan Darel membuka kedua mata indahnya. Mereka yang melihat hal itu sungguh sangat-sangat bahagia dan bersyukur. Adelina memberikan bertubi-tubi kecupan pada putra bungsunya itu. Begitu juga dengan para kakaknya. Mereka juga memberikan bertubi-tubi kecupan pada adik kesayangan mereka.


"Ma-mama," lirih Darel.


"Ya, sayang. Ini Mama, nak! Apa ada yang sakit, hum?" ucap Adelina sembari mengelus lembut rambut putra bungsunya itu.


"Pa-pa. Ka-kek. Dimana mereka? Mereka baik-baik sajakan? Aku... aku mau bertemu mereka," lirih Darel.


DEG!


Mereka semua terkejut atas perkataan dan permintaan Darel. Mereka semua bingung harus menjawab apa? Mereka takut terjadi sesuatu pada Darel kalau sampai Darel mengetahui kebenarannya. Secara Darel baru sadar dari komanya.


"Darel. Untuk saat ini Darel belum bisa bertemu dengan Papa dan Kakek karena Papa dan Kakek dibawa ke rumah sakit di Amerika. Saat kecelakaan itu, kondisi Papa dan Kakek sangat parah," sahut Davian berbohong.


Darel menatap wajah ibunya. "Apa itu benar, Ma?"


Adelina tersenyum dan dirinya harus terpaksa membohongi putra bungsunya demi kesembuhan putranya itu. "Ya, sayang. Itu benar."


"Lalu... lalu kenapa Mama ada disini? Kenapa Mama tidak menemani Papa dan juga Kakek? Dan Kakak juga. Kenapa semuanya ada disini?"


DEG!


Bagaikan disambar petir disiang hari. Lagi-lagi mereka terdiam mendengar penuturan Darel. Mereka benar-benar terjebak dengan ucapan mereka sendiri.


"Yang menemani Paman Arvin dan Kakek di Amerika adalah Papanya Kakak, karena hanya satu orang saja yang boleh menemani disana. Dan orang itu harus anak atau adik dari pasien tersebut," jawab Steven bohong.


"Baiklah," ucap Darel pelan.


Mendengar jawaban dari Darel, mereka semua bernafas lega. Paling tidak untuk saat ini mereka berhasil meyakinkan kesayangan mereka.


Diam-diam Erick pergi meninggalkan ruang rawat Darel. Dirinya hendak menghubungi ayahnya.


"Hallo, Papa."


"Hallo, sayang. Ada apa, hum?"

__ADS_1


"Apa Papa masih di kantor?"


"Iya. Papa masih di kantor. Ada apa? Kenapa dengan suaramu, Erick?"


"Pa."


"Iya, sayang."


"Darel sudah sadar dari koma."


"Apa? Benarkah?"


"Iya, Pa."


"Ach, syukurlah. Papa ikut bahagia mendengarnya."


"Tapi ada masalah sedikit, Pa."


"Masalah apa, sayang?"


"Saat Darel sadar dari komanya. Darel langsung menanyakan keberadaan Paman Arvind dan Kakek. Dan ditambah lagi, Darel ingin bertemu dengan mereka."


"Lalu apa yang terjadi? Kalian bilang apa pada Darel?"


"Kami... kami terpaksa mengarang cerita dan mengatakan bahwa Paman Arvind dan Kakek di bawa ke Amerika. Dan Papa sebagai anak kedua yang harus menemani Paman Arvind dan Kakek disana. Darel pun percaya."


"Ya, sudah. Kau tidak perlu khawatir. Untuk sementara ini, Papa tidak akan pulang ke rumah utama. Papa akan pulang ke rumah kita. Dan Papa akan bicarakan masalah ini pada Mamamu."


"Baik, Pa. Kalau begitu aku tutup teleponnya, Pa!"


"Ya, sayang."


PIP!


***


LIMA HARI KEMUDIAN..


Setelah dinyatakan sembuh oleh Dokter. Darel pun diizinkan pulang ke rumah. Anggota keluarganya yang mendengar berita itu sangat-sangat bahagia.


"Nah, sekarang kita ke kamar ya. Kamu harus istirahat," ucap Nevan lembut.


"Tapi aku mau duduk disini Kak Nevan. Aku bosan harus disuruh tidur terus," sahut Darel sembari memohon agar keinginannya dikabuli.


Melihat wajah sedih dan wajah memohon Darel membuat mereka semua menjadi tidak tega. Ghali duduk di samping adik bungsunya dan mengelus lembut rambut adiknya penuh sayang.


"Baiklah," jawab Darel.


Ghali tersenyum mendengarnya. Begitu dengan yang lainnya. Mereka juga ikut tersenyum mendengar jawaban dari Darel.


"Papa. Kakek," batin Darel. Seketika air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Darel. Hei, kenapa? Apa ada yang sakit? Kenapa menangis sayang?" tanya Adelina saat melihat putra bungsunya yang tiba-tiba menangis. Tangannya mengusap lembut air mata putranya itu, lalu mengecup keningnya.


Darel tidak memberikan respon apapun. Darel saat ini sedang mengingat tentang pembicaraannya bersama Papa dan Kakeknya dimana sang Kakek menceritakan sebuah kebenaran tentang Agatha. Saat Darel mendengar semua cerita dari kakeknya itu, baik dirinya maupun ayahnya sama-sama terkejut.


"Darel," panggil Nevan. Tangannya mengelus lembut rambut adiknya. Tapi tetap saja, adiknya tak merespon apapun.


Melihat Darel yang tidak memberikan respon apapun membuat mereka semua benar-benar khawatir.


Air mata Darel makin deras mengalir membasahi pipinya. Kecelakaan itu berputar-putar di otaknya.


FLASBACK ON


"Papa. Sepertinya ada yang mengikuti kita di belakang."


Antony melihat kearah belakang dan Arvind melihat dari kaca spionnya. Dan benar saja. Ada dua mobil yang mengikuti mereka di belakang.


"Arvind."


"Papa tidak usah khawatir. Semuanya akan baik-baik saja."


Arvind duduk di depan alias mengemudi. Sedangkan Antony dan Darel duduk di belakang.


"Papa, Darel. Berpegangan." Arvind menambahkan kecepatan laju mobilnya agar bisa menghindari kejaran dua mobil di belakang.


DOR!


DOR!


Orang-orang yang ada di mobil belakang memberikan dua tembakan. Dan tembakan itu mengenai dua ban mobil yang di kendarai oleh Arvind, Antony dan Darel sehingga mobil tersebut oleng.


"Papa. Darel! Sekarang kalian melompatlah keluar!"


"Tidak. Aku tidak mau. Kalau aku melompat keluar, lalu Papa bagaimana?" Darel sudah menangis.

__ADS_1


"Iya, sayang. Apa yang dikatakan Darel benar. Kalau kami melompat keluar, lalu bagaimana denganmu?"


"Aku akan baik-baik saja, Pa!" jawab Arvind. "Darel, sayang. Dengarkan Papa. Melompatlah keluar, nak! Darel dan Kakek harus tetap hidup. Apa Darel akan membiarkan mereka menyakiti keluarga kita? Apa Darel akan membiarkan mereka menang? Buktinya sekarang ini mereka sudah berani menyakiti kita dengan membayar orang untuk membunuh kita bertiga," ucap Arvind yang berusaha meyakinkan putra bungsunya.


"Baiklah... Hiks... aku akan melompat keluar. Tapi... tapi Papa harus janji padaku. Papa tidak boleh pergi meninggalkanku. Papa harus selamat dan kembali padaku."


"Papa janji! Sekarang kalian berdua melompatlah."


Dan akhirnya dengan keberanian yang dimiliki oleh Antony dan Darel, mereka pun melompat keluar dari dalam mobil.


GEDEBUM!


GEDEBUM!


BRUUKK!


BRUUKK!


Tubuh Antony dan Darel terlempar keluar dari dalam mobil. Mereka jatuh di tempat yang berbeda. Sedang mobil yang masih di kendarai oleh Arvind sudah pergi jauh. Dan tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.


"Ka-kakek," lirih Darel saat melihat kondisi sang kakek.


Darel berusaha untuk bangkit dan ingin menghampiri Kakeknya. Tapi saat Darel ingin berdiri, Darel melihat seorang pria paruh baya datang menghampiri kakeknya.


"Hallo, Paman Antony. Akhirnya kita bertemu lagi."


"Ka-kau," ucap Antony terbata.


"Kenapa? Kau kaget melihatku Paman?"


"Kenapa kau lakukan ini padaku, Mathew? Apa salahku padamu?"


"Mathew! Jadi, dia orangnya. Suami dari perempuan murahan itu." Darel menatap tajam kearah Mathew.


"Kau masih berani bertanya apa kesalahanmu? CUIH! Kau itu sudah membunuh Papaku, tua bangka!" teriak Mathew.


"Aku tidak pernah membunuhnya. Papamu meninggal karena kesalahannya sendiri. Manusia yang terlalu tamak dengan kekayaan sampai merebut hak orang lain."


DUAGH!


"Aaakkkhhh."


Mathew menendang perut Antony dengan kuatnya.


"Ka-kek.. hiks." Darel menangis sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Berani sekali kau menghina Papaku tua bangka sialan," amuk Mathew.


"Kenapa? Kau tidak terima? Tapi kenyataannya memang seperti itu. Papamu itu laki-laki brengsek. Bahkan nenekmu juga seorang perempuan murahan yang tidak tahu diri dan serakah."


"Brengsek!" Mathew menginjak leher Antony dengan sangat kuat. "Pergilah kau ke neraka tua bangka sialan."


Setelah melihat Antony tak bergerak. Mathew tersenyum bahagia melihatnya, lalu Mathew pun pergi meninggalkan Antony yang tergeletak di pinggir jalan.


Setelah setengah jam memastikan kepergian Mathew, Darel pun berlari sambil berteriak memanggil nama Kakeknya.


"Kakeeeekkkk!"


BRUUKK!


Darel jatuh terduduk di hadapan Antony, lalu tangannya mengangkat kepala kakeknya dan meletakkannya di pahanya.


"Kakek... kakek... Hiks... kakek... Hiks... Hiks... bangun kek.."


PUK!


PUK!


Darel menepuk-nepuk pelan pipi kakeknya berharap kakeknya bangun.


"Ka-kek... Hiks... a... ku... mohon... Hiks... bangun."


"Da-darel."


"Ka-kek." Darel tersenyum lebar saat melihat mata kakeknya terbuka.


"De.. dengar.. kan.. ka.. kek.. sa.. yang. Kau ha.. rus kuat dan te.. tap hidup. Kau adalah.. sak.. si keja-hatan Mat-hew dan ju.. ga istrinya. Berjanji.. lah.. pada kakek untuk membalaskan se.. mua.. perbuatan me.. reka.." Antony menggenggam kuat tangan Darel.


"Hiks... baiklah. Aku berjanji pada kakek untuk membalas perbuatan mereka pada kita... Hiks."


"Terima kasih, sa.. yang." Antony kembali menutup matanya. Dan kali ini untuk selamanya.


"Kakeeekkkk... kakek... kakek... Hiks.. buka matamu.. kek... kakek... aku mohon... hiks."


"Aaakkkhhhh." Darel merasakan sakit di bagian kepalanya. Detik kemudian kegelapan menghampirinya.

__ADS_1


BRUUKK!


FLASHBACK OFF


__ADS_2