Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Membahas Kondisi Darel


__ADS_3

Davian dan adik-adiknya saat ini sedang menemani adik kesayangannya yang tengah tertidur lelap setelah berjuang menahan sakit akibat obat yang di suntikan ke tubuhnya beberapa menit yang lalu.


Baik Davian, Nevan, Ghali maupun adik-adiknya yang lainnya menatap wajah adik kesayangan dengan tatapan sedih. Mereka menangis melihat adik kesayangannya kembali merasakan kesakitan. Bahkan rasa sakit yang dirasakan oleh adik kesayangannya itu berbeda dari rasa sakit yang sudah dirasakan sebelumnya. Rasa sakit yang dirasakan adik kesayangannya kali ini lebih parah.


"Hiks... Kakak." Raffa tiba-tiba terisak kala menatap wajah lelap adik manisnya.


Mendengar isakan dari Raffa membuat mereka semua menatap kearah Raffa.


Elvan yang kebetulan berada di samping Raffa langsung memeluk tubuh Raffa. Dan seketika tangis Raffa pun pecah.


"Hiks... Kakak."


"Ada apa, hum?" tanya Elvan.


"Aku takut, kak Elvan. Aku takut Darel kenapa-kenapa?"


"Kita berdoa saja semoga Darel baik-baik saja," hibur Elvan.


"Aku benar-benar kasihan melihat Darel, kak! Apa salah Darel, kak? Kenapa Darel selalu saja merasakan kesakitan? Sementara kita sama sekali tidak merasakan apa yang dirasakan oleh Darel."


Mendengar perkataan Raffa membuat Elvan dan saudara-saudaranya yang lain terdiam. Di dalam hati mereka masing-masing juga memikirkan apa yang dipikirkan oleh Raffa. Dan mereka juga membenarkan apa yang dikatakan oleh Raffa.


Davian menatap wajah lelap adik kesayangannya. Tangannya mengusap lembut kepala adiknya sehingga memperlihatkan kening putih adiknya itu.


"Rel, maafkan kakak yang sudah gagal menjagamu sehingga kamu kembali meraskaan kesakitan untuk yang kesekian kalinya."


TES!


Setetes air mata jatuh membasahi wajah tampan Davian. Davian menangis kala menatap wajah lelap adik kesayangannya.


"Kakak Davian," lirih semua adik-adiknya, kecuali Darel.


"Darel adalah adik kesayangan kita yang paling kuat. Selama kita berada di sampingnya, selama kita selalu memberikan support untuknya. Kakak yakin Darel bisa melewati semuanya. Seperti yang Darel katakan kemarin kepada kita semua bahwa kita adalah kebahagiaannya dan juga semangat hidup," ucap Davian.


Mereka semua menatap wajah lelap dan damai Darel dengan senyuman manis di bibir mereka masing-masing. Mereka secara bergantian memberikan kecupan sayang di kening adik kesayangannya.


"Kami menyayangimu, Rel! Selamanya!" batin mereka.


Ketika mereka tengah menatap wajah adik kesayangannya sembari memikirkan kesehatan sang adik dan juga memikirkan untuk mendapatkan penawar dari orang yang sudah melukai adik kesayangannya, mereka semua dikejutkan dengan suara ponsel milik Davian.


Davian yang mendengar suara ponselnya langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


Setelah ponselnya berada di tangannya. Davian melihat nama 'Arjuna' di layar ponselnya.

__ADS_1


Tanpa membuang waktu lagi, Davian langsung menjawab panggilan dari sahabatnya itu.


"Hallo, Juna. Ada apa?"


"Hallo, Vian. Apa kau masih ingat saat adik bungsumu pergi meninggalkan Kampus dan pergi ke hotel?"


"Iya, aku masih ingat. Kenapa?"


"Dan kau pasti sudah mengetahui apa yang terjadi terhadap adik bungsumu itu kan?"


"Iya. Aku sudah tahu. Bahkan seluruh anggota keluargaku juga sudah tahu."


"Apa kau tahu efek dari obat yang di suntikkan ke leher adik bungsumu itu?"


"Aku tidak tahu secara detail efek dari obat itu. Tapi yang aku tahu obat itu bisa membuat adik bungsuku kehilangan nyawanya jika tidak segera mendapatkan penawarnya."


"Itu salah satu dari efek obat itu, Vian. Dan kau pasti terkejut jika aku katakan padamu efek lain dari obat itu."


"Katakan Juna. Katakan padaku apa saja efek dari obat itu?"


"Efek obat itu adalah membuat sipenderita gampang tersulut emosi dan berkata kasar. Lebih tepatnya obat itu akan membuat sipenderita gampang ngamuk dengan orang-orang di sekitarnya sehingga berakhir sipenderita nekat melukai dirinya sendiri."


"Apa?!" Davian berteriak.


Davian menyadari satu hal. Selama ini adik bungsunya itu tidak pernah bersikap kasar padanya, pada kedua orang tuanya, kepada adik-adiknya yang lain dan juga kepada anggota keluarga lainnya.


Namun setelah kejadian di hotel dan kembalinya adik bungsunya ke rumah. Sikap adik bungsunya berubah seketika. Adik bungsunya itu akan langsung marah dan juga mengamuk jika ada yang mengganggunya. Dan adik bungsunya itu juga tak segan-segan memberikan pukulan kepada para kakaknya jika hatinya tak senang. Bahkan adik bungsunya itu juga nekat melukai dirinya sendiri.


Sementara Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa terkejut ketika mendengar teriakan dari Davian.


"Apa kau sudah tahu siapa mereka? Dan dari kelompok mana?"


"Aku belum tahu mereka dari kelompok mana. Tapi para mafioso kita berhasil menangkap dua orang itu. Sekarang mereka ada di penjara sedang disiksa agar mau mengaku."


"Baiklah Arjuna. Aku akan segera kesana. Aku harus memberikan pelajaran kepada mereka karena sudah berani menyakiti adik bungsuku."


"Oke, aku tunggu!"


PIP!


Davian kembali menduduki pantatnya di samping ranjang adiknya. Matanya menatap lembut wajah adik bungsunya yang kini masih terlelap. Tangannya mengusap rambutnya dan mengecup keningnya.


Seketika air mata Davian kembali meluncur membasahi wajahnya ketika matanya menatap wajah damai adik bungsunya.

__ADS_1


"Kakak Davian," lirih Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa


"Maafkan kakak yang telah menamparmu ketika di hotel kemarin. Maafkan kakak yang gagal memahami perasaanmu dan juga kesedihanmu. Kalau kakak tahu telah terjadi sesuatu padamu. Kalau kakak tahu kamu sedang tak baik-baik saja, maka kakak tidak akan membentak kamu dan kakak tidak akan menamparmu. Kakak justru akan membiarkanmu mengeluarkan semua amarahmu di depan kakak." Davian berbicara sambil tangannya mengusap lembut pipi putih adiknya. Dan disertai air matanya yang mengalir.


"Kakak Davian. Ada apa? Katakan pada kami. Apa yang terjadi? Barusan Kakak menyebut nama Darel ketika berbicara dengan kak Arjuna." ucap dan tanya Nevan.


Davian menatap satu persatu wajah adik-adiknya yang kini juga menatapnya.


"Nevan, Ghali. Kalian masih ingatkan ketika Darel menginap di hotel?"


"Iya, kami ingat!" jawab Nevan dan Ghali bersamaan.


"Kalian juga ingatkan bagaimana marahnya Darel ke kita bertiga saat itu sehingga berakhir kakak menamparnya?"


"Iya, kak. Kami ingat," jawab Nevan dan Ghali lagi.


"Sebenarnya... Sebenarnya."


"Apa, kak? Katakan," ucap dan tanya Andre.


"Kemarahan Darel dan sikap kasar Darel beberapa hari yang lalu itu adalah efek dari obat yang ada di dalam tubuh Darel.


"Apa?!"


Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa terkejut ketika mendengar perkataan dari Davian.


"Termasuk saat Darel yang bersikap kasar, acuh dan cuek terhadap Papa dan Mama. Bahkan perlakuan kasar Darel terhadap Raffa dan juga aksi nekat Darel yang ingin melukai dirinya sendiri. Itu semua efek dari obat itu."


Mendengar penjelasan dari Davian tentang perubahan sikap dan kondisi adik kesayangannya membuat Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa menggeram marah. Mereka benar-benar marah terhadap orang yang sudah menyakiti adik kesayangannya.


"Apa kak Arjuna berhasil menangkap orang-orang yang sudah melukai Darel, kak Davian?" tanya Evan.


"Iya. Anggota mafia kakak berhasil menangkap kedua orang yang sudah melukai Darel. Dan sekarang keduanya ada di markas tengah disiksa. Dan kakak akan kesana."


"Aku ikut!" seru Nevan.


"Aku juga!" seru Ghali dan Andre bersamaan.


"Baiklah. Dan untuk kalian. Tetap disini dan jaga Darel," ucap Davian.


"Baik, kak Davian!"


Setelah itu, Davian bersama ketiga adiknya Nevan, Ghali dan Andre pun pergi dari kamar Darel.

__ADS_1


__ADS_2