Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Sebuah Peringatan


__ADS_3

Saat ini mereka melihat Darel yang kini tengah turun dari tempat tidurnya, lalu melangkah ke meja belajar. Darel mengambil bingkai foto dimana disana ada foto Ayah dan Kakeknya.


Setelah bingkai foto itu ada di tangannya, Darel duduk di lantai kamarnya yang dingin.


"Kenapa Darel duduk di lantai? Itukan dingin," kata Raffa.


Mereka terus memperhatikan Darel dari luar.


"Hiks.. hiks.. hiks.. Papa.. Kakek.. hiks. Kenapa kalian pergi meninggalkanku? Apa kalian tidak menyayangiku lagi?"


"Papa.. hiks.. Papa kembalilah. Papa sudah janji padaku akan kembali. Tapi kenapa Papa tidak kembali juga.. hiks?" isak tangis Darel di hadapan foto ayahnya sembari tangannya mengelus bingkai foto tersebut.


"Pa! Papa tahu tidak? Orang itu.. orang itu telah berhasil membunuh Kakek. Orang itu benar-benar kejam. Papa.. aku takut.. hiks."


Davian dan semua adik-adiknya geram dan marah saat mendengar ucapan Darel yang mengatakan bahwa Kakek mereka meninggal karena dibunuh.


"Brengsek. Siapa orang itu? Kenapa dia tega sekali membunuh Kakek dan juga menyebabkan Papa menghilang," ucap Ghali.


"Pa. Apa yang harus aku lakukan? Satu-satunya orang yang mengetahui masalah ini hanya aku. Sedangkan Kakek sudah meninggal. Papa yang sudah mengetahui semuanya dari Kakek, sekarang menghilang dan tidak tahu ada dimana? Papa.. kembalilah.. hiks."


"Jadi, Papa juga sudah tahu rahasia yang selama ini disembunyikan Kakek," ucap Andre.


Darel menangis terisak. Darel kemudian memeluk erat bingkai foto tersebut dan tanpa disadari olehnya, Darel menjatuhkan tubuhnya di lantai kamarnya yang dingin.


Saat mereka semua melihat Darel yang berbaring di lantai kamarnya, mereka pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Darel.


"Darel. Kenapa kamu tidur disini?" Evan mengelus lembut rambut adiknya.


Davian langsung mengangkat tubuh adiknya dan memindahkannya ke tempat tidur. Setelah Darel berada di atas tempat tidurnya, Elvan berlahan mengambil bingkai foto yang dipeluk oleh adiknya dan itu berhasil. Kemudian Davian menyelimuti tubuh adik bungsunya.


Adelina duduk di samping tempat tidur putra bungsunya itu. Tangannya mengelus rambutnya dan tak lupa memberikan ciuman sayang di kening dan kedua pipi putranya itu.


"Mama disini sayang. Mama tidak akan pernah meninggalkanmu."


"Kakak juga akan selalu bersamamu, Rel! Kakak tidak akan pernah meninggalkanmu, walau hanya secuil," ucap Raffa dan Evan bersamaan, lalu mereka memberikan kecupan sayang masing-masing di pipi putih adiknya.


Setelah itu disusul oleh Daffa, Vano, Alvaro dan Axel. "Kami menyayangimu, Darel. Tetaplah semangat seperti biasanya." Mereka mengecup secara bergantian kening dan kedua pipi adiknya.


Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga tersenyum melihat wajah tampan, manis dan imut adik bungsu mereka saat tertidur. Keimutan wajah adik mereka makin bertambah.


"Tetaplah kuat dan semangat demi kami semua, Rel!" mereka berucap secara bersamaan. Dan mereka juga memberikan kecupan sayang di kening dan di kedua pipi adik bungsu mereka itu.


Setelah selesai mereka memberikan kecupan sayang pada sibungsu. Mereka semua pun memutuskan untuk pergi meninggalkan kamarnya dan membiarkan kesayangan mereka untuk istirahat.


^^^


Keesokkan paginya seluruh anggota keluarga tengah berkumpul di ruang tengah. Mereka akan bersiap-siap untuk sarapan pagi. Lengkap dengan William.


William telah kembali dari luar negeri dan telah selesai menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Kakaknya, Arvind Wilson. Saat William kembali ke Jerman. Dirinya mendapatkan kabar yang membuatnya hancur. Kabar tentang kematian ayahnya dan kabar hilangnya Kakak kesayangannya.


William benar-benar terpukul atas kepergian dua orang yang begitu dekat dengannya dan begitu menyayanginya. Bukan berarti Sandy, kakak keduanya tidak menyayanginya, tapi bagi William, Arvind adalah Kakak yang selalu ada untuknya. Disaat yang lainnya menolak keinginannya, Arvind selalu mengabulkan keinginannya itu.

__ADS_1


"William. Kakak tahu kau sangat kehilangan Kak Arvind dan Papa. Tapi Kakak mohon kau harus tetap kuat dan semangat. Jangan sampai rasa sedihmu membuatmu sakit," hibur Sandy.


"Ini semua gara-gara anak pembawa sial itu!" seru Agatha tiba-tiba sembari menunjuk kearah Darel.


"Jaga ucapanmu, Agatha!" bentak Salma.


"Tapi itu benarkan? Kecelakaan itu terjadi saat anak sialan itu pergi bersama Papa dan Kak Arvind. Papa meninggal, Kak Arvind menghilang. Kenapa anak sialan itu selamat?!" bentak Agatha pada Salma.


Mereka yang mendengar ucapan Agatha merasa marah. Tapi mereka berusaha menahan emosi mereka, dikarenakan mereka melihat Darel yang hanya tenang dalam mendengar ocehan dari Agatha.


Lalu detik kemudian terdengar suara ponsel berbunyi. Ponsel itu milik Darel. Dikarenakan Darel sedang menatap kearah Agatha sehingga Darel tak mendengar bunyi ponselnya.


"Darel. Ponselnya Darel berbunyi!" seru Evan.


Mendengar perkataan Evan dan juga tepukan di bahunya membuat Darel terkejut, dan langsung mengambil ponselnya. Ketika ponselnya sudah berada di tangannya, Darel melihat nama 'Zayan' di layar ponselnya.


Tanpa membuang waktu lagi, Darel langsung menjawab panggilan tersebut. Darel menjawab panggilan tersebut menjauh dari anggota keluarganya.


"Hallo, Zayan. Informasi apa yang kau dapatkan?"


"Aku sudah melacak dan menyelidiki titik kelemahan dari pria brengsek itu. Pria yang sudah membunuh tuan besar besar Antony."


"Apa itu?"


"Kelemahan pria itu terletak pada ibu dan adik perempuannya. Pria itu sangat-sangat menyayangi keduanya. Bahkan pria brengsek itu mengutus beberapa orang untuk selalu menjaga mereka berdua."


"Apa kau yakin?"


"Eeemm! Ternyata kau sudah tidak sabar untuk memulai permainannya, ya?"


"Ya. kau benar Bos. Aku sudah tidak sabaran untuk segera bermain-main dengan kedua kelemahannya pria itu."


"Baiklah. Culik mereka berdua dan bawa keduanya keluar dari negara Jerman. Pastikan brengsek itu mau pun orang-orangnya tidak akan bisa menemukan keberadaan kedua wanita tersebut. Jaga mereka dan jangan sampai lepas. Kalau mereka melawan, sakiti saja mereka. Mereka adalah kunci untuk kita melawan pria brengsek itu."


"Siap, Bos. Laksanakan."


PIP!


"Mathew Wilson. Aku sudah memegang dua kelemahanmu," batin Darel.


Setelah selesai berbicara dengan Zayan. Darel kembali duduk di sofa, di samping ibunya.


"Sayang. Apa kau akan diam saja? Papamu meninggal. Kakak kesayanganmu hilang. Dan anak itu selamat. Apa kau tidak curiga padanya? Bisa sajakan kecelakaan itu memang disengaja oleh anak pembawa sial itu. Jadi seolah-olah dia korban disini," ucap Agatha yang berusaha mencuci pikiran William.


"Brengsek. Jaga ucapanmu perempuan murahan!" teriak Evan.


Evan seketika berdiri dari duduknya dan menatap nyalang sambil menunjuk kearah Agatha.


Mereka yang mendengar teriakan Evan menjadi terkejut. Ini adalah yang pertama kalinya Evan berteriak dan bersikap seperti ini.


"Evan sayang. Sabar ya, Nak! Sekarang duduklah," ucap Adelina lembut.

__ADS_1


Vano dan Alvaro yang kebetulan berada di samping Evan merangkul Evan dan membawa Evan untuk duduk kembali.


"Kau lihatlah sayang. Bagaimana liarnya putra dari kakakmu dan Kakak iparmu. Salah satu dari mereka berani mengatakan aku sebagai wanita murahan. Apa segitu hinakah aku dimata mereka?" Agatha memasang wajah sedihnya didepan William, suaminya.


Darel tersenyum sinis dan tatapan matanya menatap tajam kearah Agatha. "Waaw! Acting yang sangat memukau, Nyonya. Kenapa tidak ikut main sinetron saja? Nyonya bisa mengambil peran antagonis disana!" seru Darel.


Mereka semua melihat kearah Darel, termasuk Agatha. Mereka tersenyum saat mendengar ucapan Darel yang ditujukan untuk Agatha. Ucapan Darel seakan-akan sindiran halus untuk Agatha.


"Teruslah berbicara semaumu Nyonya. Selama kau masih punya waktu. Selama kau masih bisa berbicara. Dan selama aku masih memberikan waktu untukmu berbicara sepuasmu tentangku dan keluargaku. Maka lakukanlah! Tapi disaat waktumu telah habis. Maka saat itulah giliranku yang akan berbicara dan mengakhiri semua permainanmu." Darel berbicara sembari menunjukkan senyuman manisnya.


"Maaf Nyonya, Tuan, Tuan muda. Sarapan paginya sudah siap!" seru seorang pelayan yang datang menghampiri mereka di ruang tengah.


"Baiklah, Bi!" jawab Adelina dan Evita bersamaan.


Semuanya telah berada di meja makan. Mereka menatap dua kursi kosong yang tiada penghuninya. Tapi tidak dengan Agatha dan putra-putranya. Mereka itu masa bodo dengan suasana disekitarnya.


Yang paling terpuruk dan terpukul disini adalah Darel. Darel menatap dua kursi kosong di hadapannya dan di sampingnya. Tanpa diminta air matanya mengalir begitu saja. Hal itu sukses membuat mereka menjadi tidak tega.


Raffa dan Evan yang kebetulan duduk di sampingnya berusaha menghiburnya. Evan mengusap air matanya dan Raffa mengelus-elus punggungnya.


"Yaelah. Pakai drama lagi. Ini Kapan mau sarapannya," ucap Dazky ketus.


"Kita disini mau sarapan bukan mau melihat drama murahan kalian itu," ucap Caleb.


"Kalau kau tidak mau melihat kami. Pergi saja ke kamarmu dan bawa sekalian sarapanmu," sahut Daffa.


"Sayang. Darel mau sarapan disini atau ke kamar saja, Nak?" tanya Adelina.


Darel menatap wajah ibunya. "Aku sarapan disini saja, Ma."


"Darel yakin?" tanya Adelina lagi. Dirinya benar-benar khawatir akan putra bungsunya.


"Mama tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja. Dan kalian, Kak. Kalian tidak perlu terpancing atas ucapan para penipu itu. Biarkan saja mereka bicara semaunya. Lagian apa yang mereka katakan, semuanya itu adalah membuka aib mereka sendiri. Nanti setelah waktunya tiba, aku yakin mereka semua akan bungkam," ucap Darel.


Mereka yang mendengar penuturan Darel benar-benar bingung. Hanya ada satu orang yang paham akan ucapan Darel. Dia adalah Evan.


"Kakak setuju padamu, Rel. Mereka semua itu penipu. Jadi, untuk apa kita mendengarkan ucapan dari seorang penipu," ucap Evan tersenyum menatap wajah tampan adiknya itu.


Darel menatap wajah Evan. Evan yang melihat tatapan dari adiknya hanya bisa tersenyum, lalu Evan mendekatkan wajahnya ke telinga adiknya.


"Kakak sudah tahu kalau mereka penipu. Tujuh dari putra wanita murahan itu hanya dua yang putra kandung Paman William. Dan soal kecelakaan itu. Kakak juga tahun bahwa wanita itu salah satu dalangnya," bisik Evan.


Mendengar penuturan dari Evan, sontak hal itu membuat Darel membelalakkan matanya dan mulutnya terbuka.


"Sudahlah. Jangan perlihatkan tampang jelek seperti ini. Tambah jelek tahuu," ucap Evan sembari mengusap wajah tampan adiknya itu.


Sedangkan Darel merengut kesal. Adelina dan para kakak-kakaknya dan Raffa tersenyum gemas melihat aksi Evan dan Darel.


"Ya, sudah. Lebih baik kita mulai sarapannya. Dari tadi semua makanan yang di atas meja ini sudah bergoyang-goyang untuk minta disantap oleh kita!" seru Sandy mencairkan suasana.


Akhirnya mereka pun memutuskan untuk memulai sarapan pagi mereka dengan tenang dan hikmat.

__ADS_1


__ADS_2