
Kenzo membelalakkan matanya saat mendengar umpatan dari Darel.
"Kalau aku punya sihir. Sudah aku sihir jadi kelinci beneran nih bocah." Kenzo bergumam. Tanpa Kenzo sadari. Gumamannya terdengar oleh Darel.
"Tapi nyatanya kau tidak memiliki ilmu sihir sama sekali, tiang listrik. Jadi enyahkan ide jahatmu dari otak bodohmu itu. Dan aku ini bukan bocah." Darel berbicara sambil menatap tajam Kenzo.
Kenzo langsung memukul mulutnya sendiri. "Sial. Dasar mulut kurang ajar," batin Kenzo.
"Sabar, Zo. Sabar!" seru Brian yang fokus dengan ponselnya.
"Anggap aja ini ujian terberatmu, tiang listrik." Farrel berucap dengan tatapan matanya yang fokus main video game bersama Damian.
"Dasar para sahabat-sahabat laknat," kesal Kenzo.
***
Ke esokkan paginya semua anggota keluarga sudah terbangun dari tidurnya dan sudah dalam keadaan rapi. Hanya ada satu orang yang masih berperang dengan tempat tidur dan juga selimut. Siapa lagi kalau bukan kesayangan Papa dan Mamanya serta kesayangan para kakaknya.
"Raffa, sayang. Jangan banyak bergerak dulu. Tuh lukanya kan belum sembuh seratus persen, Nak!" Adelina menegur putra bungsu keduanya ketika melihat putra bungsu keduanya itu tidak bisa diam.
"Aish, Mama. Aku sudah tidak apa-apa. Mama tidak perlu khawatir. Lagian aku mau ke kamarnya Darel."
Raffa melangkahkan kakinya menuju kamar adik kesayangan yang ada di lantai dua. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti karena merasakan sakit di telinganya.
"Yak! Kakak, sakiitt." Raffa meringis karena telinganya ditarik.
"Makanya jadi anak itu jangan ngeyel. Kamu pikir dengan kamu menaiki anak tangga ini, kamu tidak merasakan sakit di bagian pahamu itu, hah?" ucap Davian yang menatap horor adiknya.
Davian menjewer telinga Raffa karena Raffa ingin menemui adik bungsunya di kamarnya yang berada di lantai dua.
Sedangkan anggota keluarganya yang melihatnya hanya tersenyum. Mereka juga tidak ada yang berniat untuk ikut campur atau hanya sekedar membantu Raffa.
Akhirnya Raffa pun pasrah tubuhnya di bawah kembali ke ruang tengah oleh kakaknya dan didudukkan di sana. Jangan lupa bibir yang manyun serta berkomat-kamit menyumpahi sang kakak.
"Dasar psikopat tua tidak berperiperasaan. Akukan kangen ama Darel ingin bermain dan berbicara dengannya. Dari kemarin sore aku tidak bertemu Darel. Kemarin Darel menghabiskan waktunya bersama ketujuh sahabatnya, dari sore hingga berakhir pukul delapan malam. Setelah itu Darel langsung disuruh istirahat," gerutu Raffa.
Mereka yang mendengar gerutuan Raffa hanya tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala. Tak terkecuali Davian. Sebenarnya Davian tidak tega melakukan hal itu pada Raffa. Davian sangat tahu bagaimana kedekatan Raffa, kasih sayang Raffa dan perhatian Raffa pada adiknya. Raffa adalah orang yang paling panik dan juga takut kalau terjadi sesuatu pada kesayangannya itu. Dan Raffa juga gampang menangis kalau melihat adik kesayangannya itu kesakitan.
Adelina yang kebetulan duduk di sampingnya mengelus lembut rambutnya. Dan mengecup pucuk kepalanya.
"Maafkan kakakmu ya. Kakakmu seperti itu karena dia sayang padamu. Kamu dan Darel sama-sama terkena luka tembak dan kalian berdua harus banyak istirahat. Tujuan kami memindahkan kamu di kamar bawah agar kamu tidak naik turun tangga. Apalagi kamu itu orang pembosan dan gak betah lama-lama di kamar." Adelina berbicara lembut kepada putra bungsu keduanya itu.
Raffa hanya diam mendengar ucapan dari ibunya. Lalu tiba-tiba tanpa diminta air matanya pun mengalir membasahi wajah tampannya. Hal itu sukses membuat mereka merasa bersalah. Terutama Davian.
Adelina menarik tubuh putranya ke dalam pelukannya. "Hiks.. maafkan aku, Ma. Aku tidak bermaksud membuat semuanya khawatir.. hiks.. Aku hanya ingin ketemu Darel. Aku hanya ingin bermain dengan Darel. Dari kemarin sore aku tidak melihatnya dan berbicara dengannya."
"Iya. Mama mengerti, sayang. Kalau kamu gak sakit saat ini. Mama dan yang lainnya juga gak akan ngelarang kamu untuk pergi ke kamar Darel. Dan kamu bisa bebas ngelakuinnya." Adelina berusahan menenangkan putranya.
"Sudahlah, Raffa. Jangan menangis lagi ya." Evan membujuk Raffa. Evan yang duduk di sampingnya mengelus-elus lengan kiri Raffa.
"Sebentar lagi Darel juga akan turun. Dan kamu bisa sepuasnya bersama Darel dan kami tidak akan mengganggunya." Vano ikut menenangkan Raffa.
Raffa melepaskan pelukannya dari sang ibu. Dan menghapus air matanya. Lalu Raffa menatap wajah-wajah para kakaknya.
"Benarkah?"
__ADS_1
Dengan kompaknya mereka semua mengangguk mantap. "Benar."
Terukir senyuman manis di bibir Raffa. "Baiklah. Aku akan pegang kata-kata kalian. Awas kalau ada yang melanggar."
"Hah!" Mereka hanya bisa menghela nafas. Dan mau tidak mau mereka harus menuruti keinginan adik alien kesayangan mereka.
***
Andrean dan putrinya Alisha sudah berada di Hamburg. Saat ini mereka sedang sarapan.
"Pa. Kita jadikan ke pengadilan untuk melihat Mama?"
"Iya, jadi sayang. Sekarang habiskan sarapanmu."
"Baik, Pa."
Andrean sudah mengetahui perihal apa yang dilakukan oleh Agatha sebelum dan sesudah bertemu dengannya. Andrean menyuruh dua orang kaki tangannya untuk mencari informasi mengenai Agatha dan Mathew suaminya. Tapi Andrean tidak memberitahu putrinya tentang kejahatan yang dilakukan oleh ibunya. Andream tidak mau kalau putrinya membenci ibunya sendiri.
Setelah selesai sarapan Alisha menuju kamarnya untuk bersiap-siap. Sedangkan Andrean memutuskan menuju ruang kerjanya.
FLASBACK ON
Setelah menghibur dan membujuk putrinya yang menangis. Andrean pergi ke ruang kerjanya untuk menghubungi anak buahnya.
"Hallo, tuan."
"Hallo, Jordan. Aku ada tugas untukmu."
"Tugas apa, tuan.?"
"Baik, tuan."
"Kau ajaklah Diego. Ingat aku ingin semua informasi mengenai mereka berdua. Jangan sampai ada yang tertinggal."
"Siap, tuan."
"Aku tidak tahu apa yang sudah kau lakukan selama ini, Agatha. Dan sebentar lagi aku akan mengetahuinya. Tapi kau tidak perlu khawatir, Agatha. Apapun yang sudah kau lakukan. Aku tetap mencintaimu. Kau adalah perempuan pertama yang sudah mencuri hatiku. Kau adalah perempuan pertama yang sudah membuatku jatuh cinta padamu, walau kenyataannya kau sudah memiliki suami dan lima orang putra. Dan kau sudah memberikanku seorang putri cantik dalam hidupku."
Keesokkan harinya dimana Andrean dan Alisha sedang sarapan, tiba-tiba ponsel milik Andrean berbunyi. Andrean pun segera menjawabnya.
"Hallo."
"Hallo, tuan. Aku dan Diego sudah berhasil mendapatkan apa yang dilakukan oleh Nyonya Agatha dan Mathew."
"Baiklah. Kita bertemu tempat biasa."
"Baik, tuan."
PIP!
"Alisha, sayang. Setelah sarapan Alisha pergi sekolah diantar sopir ya. Papa ada urusan sebentar. Tidak apakan, sayang?"
"Tidak apa-apa, Pa. Baik, Pa."
"Terima kasih, sayang. Kau putri Papa yang terbaik."
__ADS_1
"Papa juga. Papa adalah Papa terbaikku."
Andrean tersenyum hangat pada Alisha, putrinya. Andrean pun beranjak dari duduknya. Kemudian menghampiri putrinya. Andrean memberikan kecupan di pucuk kepala putrinya itu dengan sayang.
"Papa pergi dulu, oke! Jangan lupa dihabiskan sarapannya dan jangan ada sisa. Papa tidak suka itu. Papa tidak mau Alisha sakit."
"Baik, Pa."
"Anak pintar."
Setelah itu, Andrea pun pergi meninggalkan Alisha sendirian di meja makan ditemani dua pelayan.
***
Andrean sudah berada di tempat yang sudah dijanjikan olehnya bersama dua anak buahnya.
"Informasi apa yang kalian dapatkan?"
"Begini, tuan. Sebelum bertemu dengan tuan. Nyonya dan suaminya Mathew sudah banyak melakukan kejahatan. Lebih tepatnya suaminya yang menjadi dalang, sedangkan Nyonya hanya menjalankan tugasnya. Rencana mereka selama ini adalah ingin menghancurkan KELUARGA WILSON. Mathew ingin membalaskan kematian Ayahnya Ziggy Wilson. Menurutnya, Ayahnya meninggal karena perbuatan dari Antony Wilson yang tak lain adalah pamannya sendiri." Jordan menceritakannya.
"KELUARGA WILSON. Seperti nama marga itu tak asing di telingaku," batin Andrean.
"Apa yang mereka lakukan pada keluarga itu?"
"Pertama Mathew menyuruh Nyonya untuk bekerja di Perusahaan CJ GRUP sebagai sekretaris. Dan rencana mereka berhasil. Nyonya berhasil menjadi sekretaris di sana. Lalu setelah Nyonya berhasil masuk ke Perusahaan itu, Nyonya disuruh untuk mendekati salah satu putra dari Tuan Antony yaitu William Wilson." kini Diego yang menceritakannya.
"Apa? William Wilson?"
Andrean terkejut saat mendengar nama tersebut disebut. Andrean pun akhirnya mengingat siapa itu keluarga Wilson dan siapa itu William Wilson? Keluarga Wilson itu adalah nama keluarga dari sahabatnya dan William Wilson itu adalah sahabat masa SMP dan SMA nya.
"Apa yang terjadi?"
"Nyonya berhasil mendekati tuan William. Walau saat itu masih hubungan antara atasan dan sekretaris. Karena tuan William sudah menikah dan memiliki tujuh putra. Nama istri dari tuan William Wilson adalah Kayana Wilson," ucap Jordan.
"Untuk bisa lebih dekat lagi dengan anak pemilik Perusahaan. Mereka harus menyingkirkan penghalangnya. Jadi mereka membunuh Nyonya Kayana. Dan kebetulan saat itu, Nyonya Kayana mendatangi Perusahaan CJ GRUP untuk menemui suaminya. Sebelum bertemu dengan suaminya. Nyonya Kayana tidak sengaja mendengar Nyonya berbicara dengan seseorang. Dalam pembicaraan itu Nyonya mengatakan akan menghancurkan hubungan rumah tangga dari atasannya yaitu William Wilson dan juga akan menghancurkan seluruh anggota keluarga Wilson. Mendengar hal itu, Nyonya Kayana panik dan khawatir. Lalu Nyonya Kayana langsung pergi meninggalkan Nyonya agar tidak ketahuan kalau Nyonya Kayana habis menguping. Tapi sayang..." ucapan Diego terhenti.
"Apa? Jangan bilang..." Andrean menggantung ucapannya.
"Iya, tuan. Nyonya Kayana ketahuan telah menguping pembicaraan Nyonya. Jadi Nyonya memutuskan untuk mengejar Nyonya Kayana. Sebelumnya Nyonya juga sudah menghubungi beberapa anak buah suaminya, Mathew untuk mengejar mobil yang dikendarai oleh Nyonya Kayana." Jordan meneruskannya apa yang disampaikan oleh Diego.
"Lalu apa yang terjadi?"
"Mobil yang dikendarai oleh Nyonya Kayana menabrak pohon besar setelah ditabrak oleh tiga mobil anak buahnya Mathew. Nyonya Kayana meninggal di tempat sebelum dibawa ke rumah sakit. Mendengar kabar meninggalnya Nyonya Kayana, tuan William syok dan seperti orang kesetanan saat melihat jasad istrinya. Semua anggota keluarga William berduka." Diego menambahkan.
"Dari situlah Nyonya masuk dalam kehidupan pribadi tuan William sehingga membuat tuan William jatuh hati atas kebaikan Nyonya. Nyonya menunjukkan sisi baiknya selama berada didekat tuan William. Bahkan Nyonya juga memperlihatkan sisi keibuannya pada ketujuh putra tuan William. Dan akhirnya mereka berdua menikah. Tanpa diketahui oleh tuan William, ternyata Nyonya dan suaminya Mathew telah menukar kelima putra tuan William dengan kelima putranya dengan Mathew. Jadi selama ini yang hidup dengan tuan William bukanlah putra-putra kandungnya. Nyonya dan Mathew hanya menyisakan dua putra kandung tuan William yaitu putra pertama dan putra kedua tuan William. Karena mereka yang akan memegang Perusahaan CJ GRUP." Jordan menceritakan kelanjutannya.
Andream benar-benar sangat terkejut dan juga syok mendengar apa yang disampaikan oleh kedua anak buahnya. Dirinya tak menyangka Agatha dan suaminya tega melakukan hal itu semua.
"Mathew suaminya Nyonya juga berhasil membunuh tuan Antony Wilson. Dan itu disaksikan oleh cucu bungsu kesayangannya yaitu Darel Wilson. Darel Wilson itu putra bungsu dari tuan Arvind Wilson," ucap Diego.
"Baiklah. Kalian boleh pergi."
"Baik, tuan."
FLASBACK OFF
__ADS_1
"Agatha, kenapa kau melakukan semua itu? Aku pikir saat aku bertemu denganmu kau adalah wanita yang baik. Wanita yang tersakiti akan ulah suamimu. Kau mengatakan padaku bahwa suamimu mengkhianatimu. Lalu kau pergi meninggalkan suamimu dalam keadaan marah. Lalu berakhir ditempat yang tak semestinya kau datangi malam-malam. Kau mabuk sehingga kau tak menyadari ada dua laki-laki hidung belang yang sedang mengincar tubuhmu. Salah satunya telah memasukkan sesuatu ke dalam minumanmu. Aku yang melihatnya tak tega melihatmu dan aku pun membantumu. Dan.. dan terjadilah sesuatu yang seharusnya tidak harus terjadi." monolog Andrean.