Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Terungkapnya Masalah Sang Adik


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di ruang makan, kecuali Darel. Darel masih terlelap di kamar kesayangannya.


"Siapa yang akan membangunkan adik kelinci kalian itu?" tanya Adelina sembari tersenyum menatap ke 12 putra-putranya.


Evan dan Raffa dengan kompaknya langsung berdiri dari duduknya, kemudian keduanya langsung berlari menuju kamar adik bungsunya yang ada di lantai dua.


Mereka yang melihat Evan dan Raffa sudah lari terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban hanya tersenyum. Tapi tidak dengan para kakak-kakaknya. Mereka menatap Evan dan Raffa dengan tatapan kesal.


Baik Davian, Nevan, Ghali dan adiknya yang lain langsung berlari mengejar kedua adiknya. Mereka tidak terima jika kedua adiknya itu berlama-lama di kamar kesayangannya.


Arvind, Adelina dan anggota keluarga lainnya hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan Davian dan adik-adiknya.


^^^


Davian dan adik-adiknya sudah berada di dalam kamar Darel. Ketika mereka memasuki Darel. Mereka semua tersenyum menatap wajah damai Darel yang begitu lelap dalam tidurnya.


Baik Davian, Nevan, Ghali maupun adik-adiknya secara bergantian membelai lembut rambut Darel dan disertai dengan kecupan sayang di keningnya.


"Kakak menyayangimu. Kakak berjanji dan bersumpah selama kakak bernafas. Selama itulah kakak akan selalu ada untukmu. Kakak tidak akan membiarkanmu terluka dan tersakiti. Kakak juga tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu, sekali pun kekasih atau istri kakak kelak."


Davian, Nevan dan Ghali berbicara di dalam hatinya sembari kedua matanya menatap lekat wajah tampan adik bungsunya.


Ketika Davian dan adik-adiknya fokus menatap wajah damai Darel, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara ponsel Darel yang berdering.


Ghali yang kebetulan berdiri di dekat meja samping tempat tidur Darel langsung melihat ke arah ponsel Darel. Ghali melihat nomor tak dikenal tertera di layar ponsel milik adik bungsunya.


"Apa itu nomor seseorang yang menghubungi Darel kemarin?" batin Ghali.


Dengan rasa penasaran dan rasa curiganya. Ghali pun langsung mengangkat panggilan itu.


Namun Ghali tidak langsung menjawabnya. Ghali ingin mendengar suara dan ucapan dari orang itu.


Ghali mengangkat panggilan tersebut bersamaan dengan Ghali memberikan kode kepada saudara-saudaranya dengan meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya.


Davian dan yang lainnya yang mendapatkan kode dari Ghali langsung mengerti.

__ADS_1


Ghali menloadspeaker panggilan tersebut agar saudara-saudaranya yang lainnya ikut mendengarnya juga.


Beberapa detik kemudian, terdengar suara seorang pria di seberang telepon. Pria itu tidak tahu bahwa yang menjawab panggilan darinya adalah salah satu kakaknya Darel. Orang yang sangat kejam kepada orang yang berani menyentuh anggota keluarganya. Dan pria itu tidak menyadari bahwa nyawanya sedang terancam karena telah berani mengusik kesayangan dari orang itu.


"Hallo, Darel Wilson. Ini adalah ketiga kali aku menghubungimu. Dan aku harap kali ini kau memberikan jawabannya padaku. Jika kau masih saja berusaha untuk terus menolakku. Maka jangan salahkan aku jika aku akan berbuat buruk kepadamu."


Mendengar perkataan dari pria itu membuat Davian dan adik-adik menggeram marah. Tangan mereka mengepal kuat.


"Brengsek! Siapa dia?" batin Davian, Nevan dan Ghali.


"Darel Wilson. Aku sudah tahu semua tentangmu. Kau adalah pewaris kekayaan dari Antoni Wilson. Kau diberikan kepercayaan oleh mendiang kakekmu untuk menggantikan posisinya. Semua yang dipimpin oleh kakekmu, beralih kepadamu. Bukan itu saja. Aku juga tahu bahwa kau adalah putra bungsu sekaligus putra kesayangan dari Arvind Wilson. Kau juga adik bungsu dari ke 12 kakak-kakakmu."


"Oh iya, Darek. Kau masih ingatkan ketika aku menghubungimu untuk pertama kalinya? Aku mengatakan padamu kalau aku berencana membuat putriku masuk ke dalam keluarga Wilson dengan mendekatkan putriku dengan salah satu kakakmu. Kau mau tahu siapa? Dia adalah Davian Wilson, salah satu kakak kesayanganmu. Kakak yang paling kau sayangi dan kau hormati. Apa jadinya jika semua kasih sayang, perhatian dan kepedulian dari kakakmu itu hilang dan beralih memberikan semuanya itu kepada putriku. Aku sangat yakin kau pasti akan sangat syok dan juga tertekan. Jika hal itu terjadi. Aku orang yang sangat bahagia di dunia ini, karena memang itulah rencanaku. Aku ingin semua kakak-kakakmu menjauhimu dan mengabaikanmu."


Davian dan adik-adiknya benar-benar marah ketika mendengar ucapan demi ucapan pria itu. Mereka tidak akan membiarkan pria itu untuk menyakiti kesayangannya.


"Jangan bermimpi. Apapun yang terjadi. Aku tidak akan pernah menjauhi apalagi mengabaikan adik-adikku sendiri hanya demi perempuan lain. Sekali pun perempuan itu adalah kekasihku atau istriku sendiri," batin Davian.


"Hal itu tidak akan pernah terjadi sialan. Adik bungsuku dan juga adik-adikku yang lainnya lebih berharga dibandingkan putrimu atau perempuan-perempuan lain yang ada diluar sana, kecuali perempuan yang memiliki hati yang bersih, hati yang baik dan hati yang tulus," batin Nevan.


"Jangan terlalu menghayal terlalu tinggi sialan. Kau dan putrimu itu tidak akan pernah bisa untuk menghancurkan persaudaraan kami. Sampai kapan pun aku dan saudara-saudaraku akan selalu bersama. Kami akan terus ada untuk adik bungsu kami. Jangan harap jika kami akan meninggalkannya," batin Ghali.


"Bukan itu saja Dar. Aku juga saat ini sedang mengincar perusahaan milik ayahmu Arvind Wilson. Aku ingin merebut perusahaan itu dari ayahmu. Jika ayahmu masih terus di dunia bisnis, maka aku akan selalu kalah dalam bersaing dengan perusahaan ayahmu itu. Sudah waktunya ayahmu itu pensiun dan berhenti dari dunia bisnis. Jadi aku minta padamu untuk membujuk ayahmu agar ayahmu mau menjual semua sahamnya dengan harga murah padaku."


Mendengar perkataan tersebut membuat Davian dan adik-adiknya marah. Mereka semua tidak menyangka jika pria itu juga menargetkan ayahnya melalui perusahaan milik ayahnya.


"Oh iya, Darel. Satu hal lagi. Apa kau masih ingat ketika kau menginap di hotel? Ketika kau dalam perjalanan menuju hotel tersebut ada beberapa orang menyerangmu. Kau masih ingatkan? Dan salah satu orang itu berhasil menyuntikkan sesuatu tepat di lehermu. Aku beritahu padamu Darel. Kemungkinan waktumu hanya tinggal 20 hari lagi. Jika dalam 20 hari itu kau tidak juga mendapatkan penawarnya, maka bersiap-siaplah untuk mengucapkan selamat tinggal kepada keluargamu. Jika kau sudah memikirkan jawabannya. Silahkan menghubungiku ke nomor ini. Dan tentukan tempatnya. Kita bisa membahasnya bersama."


Setelah mengatakan itu, pria itu pun langsung mematikan panggilannya. Lima menit setelah mendengar perkataan dari pria itu di telepon. Seketika ekspresi wajah Davian dan adik-adiknya berubah menjadi dingin dan datar. Mereka semua tampak marah ketika pria itu dengan beraninya mengusik ayah dan adik bungsunya.


"Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti adikku dan merebut perusahaan ayahku. Tunggu saja apa yang akan terjadi padamu dan keluargamu setelah ini," batin Davian.


Ketika mereka semua tengah memikirkan perkataan pria itu, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara lenguhan dari bibir Darel, adik kesayangannya.


"Eeuugghh!"

__ADS_1


Mereka semua tersenyum menatap wajah tampan adik bungsunya yang kini tengah membuka matanya.


"Selamat pagi, Rel!" seru Davian dan adik-adiknya bersamaan.


Darel sontak terkejut ketika mendengar suara sapaan dari semua kakak-kakaknya. Sementara para kakak-kakaknya tersenyum gemas melihatnya.


Darel melihat ke arah kakak-kakaknya dengan wajah bantalnya. "Kakak," sapa Darel.


Darel menduduki tubuhnya dan menghadap ke arah para kakak-kakaknya. Darel menatap satu persatu wajah para kakak-kakaknya itu.


"Kalian kenapa ada di kamarku?"


"Kita kesini ingin bangunin kamu buat sarapan," jawab Elvan.


"Nggak harus semuanya. Kan bisa salah satu dari kalian," jawab Darel.


"Iya, itu benar. Tapi kitanya pengen bersama-sama bangunin kamu," sahut Andre.


Mendengar ucapan dari Andre. Mereka semua menganggukkan kepalanya.


"Alasan," jawab Darel.


Mendengar jawaban dari Darel. Mereka lagi-lagi tersenyum.


Davian kemudian menarik pelan kedua tangan adiknya, lalu tangannya mengusap lembut kepala adiknya. Dan tak lupa memberikan kecupan sayang di kening adiknya itu.


"Ya, sudah! Sekarang kamu ke kamar mandi. Basuh wajah kamu dan jangan lupa sikat giginya. Setelah itu langsung turun ke bawah."


"Baiklah, kak."


Darel pun langsung pergi menuju kamar mandi untuk melakukan apa yang disuruh oleh kakak kesayangannya itu.


Melihat Darel yang langsung mematuhi perintah Davian membuat mereka semua tersenyum bahagia. Terlebih lagi dengan Davian. Davian sangat bersyukur memiliki adik-adik yang penurut dengannya. Tidak ada satu pun adik-adiknya yang membangkang padanya.


"Ya, sudah! Darel sudah di kamar mandi. Lebih baik kita ke bawah sekarang. Kita tunggu Darel di bawah saja!" seru Nevan.

__ADS_1


"Hm." mereka semua mengangguk.


Setelah itu, mereka semua pergi meninggalkan kamar Darel untuk menuju lantai bawah.


__ADS_2