Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Ketakutan Daksa


__ADS_3

"Kenapa kamu mau melakukan semua ini demi mereka? Bukannya mereka sudah berbuat jahat padamu. Bahkan kamu sempat dinyatakan meninggal dunia akibat luka tembak yang diberikan oleh Mathew?"


"Seperti yang sudah aku katakan barusan. Orang jahat pasti akan berubah, termasuk Paman Mathew! Paman Mathew berubah ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Papa, Paman Sandy dan Paman William ketika di pengadilan itu. Bahkan ketika mendengar panggilan pertama dari kelima putranya yang tidak pernah dia nafkahi dan tidak pernah dia jaga. Karena itulah Paman Mathew berubah."


"Paman Mathew berubah demi kelima putra-putranya. Apakah kita sebagai manusia tidak memiliki rasa empati sedikit pun dan memberikan kesempatan untuk orang-orang yang benar-benar berubah? Tuhan saja mau memberikan kesempatan kepada umatnya. Kenapa kita manusia tidak?"


Lagi-lagi Radika merasakan kebanggaan luar biasa akan sifat dewasa dan tutur kata dari Darel. Dirinya benar-benar bangga akan sikap pemaaf Darel.


"Baiklah. Paman akan mencoba membicarakan masalah ini kepada pihak majelis hakim. Jadwal eksekusi lima hari lagi. Paman akan usahakan untuk bisa membuat para majelis hakim mau merubahnya," ucap Radika bersungguh-sungguh.


"Maaf, Paman!"


"Iya, ada apa?"


"Bo-boleh aku ikut dengan Paman untuk menemui majelis hakim itu. Dengan aku ikut, mereka akan percaya bahwa aku sendiri yang membuat keputusan itu."


Radika berpikir sejenak lalu kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Baiklah. Kau ikut dengan Paman. Kita akan pergi besok."


Seketika terukir senyuman manis di bibir Darel ketika Jendral polisi di hadapannya itu langsung mengiyakan keinginannya tersebut.


Flashback Off


"Setelah Darel mengutarakan niatnya yang begitu mulia itu. Aku dan Darel pun pergi menemui sang hakim. Di sana Darel menceritakan semuanya. Dan hasilnya, ketika hukuman mati itu akan dijalankan. Mathew dan Agatha dibawa kembali ke ruangan dimana ruangan itu berisi para majelis hakim."


"Setibanya disana, Mathew dan Agatha terkejut ketika melihat keberadaan Darel. Keduanya menatap Darel dengan tatapan menyesal. Aku bisa melihatnya. Mereka benar-benar menyesal. Sementara Darel! Darel menatap Mathew dan Agatha dengan tatapan iba dan kasihan. Kondisi keduanya saat itu tak baik-baik saja."


"Di ruangan itu, hakim pun mulai menyampaikan apa yang diinginkan oleh Darel."

__ADS_1


"Seketika Mathew dan Agatha terkejut ketika mendengar vonis dari hakim akan perubahan hukuman untuk mereka. Bahkan yang lebih membuat mereka terkejut adalah keputusan tersebut dirubah atas permintaan dari Darel."


"Dan kau pasti mau tahu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Radika.


"Apa? Apa yang terjadi Radika?" tanya Daksa.


"Mathew dan Agatha melangkahkan kakinya mendekati Darel yang saat itu sudah berdiri dari duduknya. Setelah berdiri di hadapan Darel, Mathew dan Agatha langsung bersimpuh di hadapan Darel sembari menangis mengumandangkan kata maaf."


Flashback On


Bruk..


Mathew dan Agatha menjatuhkan dirinya bersimpuh di hadapan Darel. Mereka menangis menatap wajah Darel.


"Hiks... Hiks... Hiks." Mathew dan Agatha menangis terisak.


"Hiks... Maafkan kesalahan Paman selama ini terhadap keluargamu dan juga padamu, nak! Maafkan Paman... Hiks," ucap Mathew.


"Hiks... Maafkan Bibi juga Darel. Bibi banyak salah padamu selama ini. Bibi selalu menghinamu, memakimu dan membentakmu. Bahkan bibi membayar orang untuk membunuhmu," ucap Agatha tulus.


"Maafkan... Hiks... Bibi yang juga ikut memaki ibumu. Maafkan Bibi yang tidak pernah hormat pada ibumu. Hiks... Darel. Terima kasih atas apa yang kamu lakukan hari ini. Berkat kamu Bibi masih bisa melihat dunia, walau tidak seperti dulu lagi. Tapi itu tidak masalah. Setidaknya Bibi masih bisa bertemu dengan kelima kakak-kakak sepupu kamu yaitu tak lain adalah putra-putranya bibi."


"Iya, nak! Apa yang dikatakan oleh Bibimu benar. Terima kasih atas hukuman ini. Ini adalah hukuman yang terbaik dan juga adil. Dengan hukuman ini, Paman masih bisa bertemu setiap hari dengan Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan."


Mathew berdiri dari duduknya lalu kemudian tangannya menyentuh pipi putih Darel. Dan detik kemudian, air mata Darel mengalir membasahi wajahnya.


"Maafkan kesalahan Paman Paman benar menyesal atas apa yang telah Paman lakukan. Jika Paman tahu dari awal penyebab ayahnya Paman meninggal. Mungkin hal ini tidak akan terjadi. Baik kamu, keluarga kamu dan Paman sendiri akan merasakan kebahagiaan di dunia ini." Mathew berbicara dengan tulus dan tanpa dibuat-buat.


Grep..

__ADS_1


Darel seketika memberikan pelukan kepada Mathew sehingga membuat Mathew terkejut akan tindakan Darel.


Dan detik kemudian, isak tangis keduanya pecah. Baik Darel maupun Mathew sama-sama menangis.


"Aku sudah memaafkan kesalahan Paman. Semuanya! Baik dulu maupun sekarang. Jadi aku minta pada Paman. Jadilah orang baik. Jangan berbuat jahat lagi. Lakukan semua itu untuk kelima putra-putranya Paman."


"Jika suatu saat nanti Tuhan memberikan hadiah terindah kepada Paman dan Bibi. Salah satunya adalah kebebasan untuk Paman dan Bibi. Aku mohon pada Paman dan Bibi untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Jangan lakukan hal-hal bodoh yang bisa merugikan diri sendiri."


Mendengar perkataan bijak dari Darel membuat Mathew makin meneteskan air matanya. Begitu juga dengan Agatha. Sejak tadi Agatha tak henti-hentinya menangis sambil tangannya terus mengusap-usap lembut kepala belakang Darel.


Mendengar perkataan bijak dari Darel dan mendengar isak tangis Mathew dan Agatha. Bahkan ucapan-ucapan janji keduanya membuat orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut ikut menangis.


"Setelah puas memeluk Darel. Mathew melepaskan pelukannya lalu menatap wajah tampan keponakannya itu. Kemudian Mathew memberikan ciuman di kening dan di kedua pipi Darel sebagai tanda sayang dirinya terhadap keponakannya itu. Begitu juga dengan Agatha. Apa yang dilakukan oleh suaminya, itu juga yang dilakukan oleh Agatha.


Sementara Darel yang mendapatkan pelukan serta ciuman dari Mathew dan Agatha meneteskan air matanya.


Flashback Off


"Seperti itulah kejadian yang sebenarnya. Dan itulah alasannya kenapa Darel merubah hukuman tersebut," ucap Radika.


"Aku mendengar semuanya. Aku adalah saksi akan perubahan Mathew dan Agatha. Apalagi ketika Mathew dan Agatha yang memeluk tubuh Darel dan memberikan ciuman di kening serta pipi Darel. Mereka melakukannya dengan tulus tanpa dibuat-buat."


Daksa yang mendengar cerita dari Radika sudah sejak tadi menangis. Dirinya benar-benar bangga akan jiwa besar keponakannya itu. Dirinya saja yang sudah tua, belum tentu bisa melakukan apa yang dilakukan oleh Darel.


"Apa yang harus aku katakan kepada kak Arvind dan keluarga Wilson lain tentang masalah ini? Apa mereka akan menerima tentang kabar ini? Aku takut jika mereka tidak menerima akan keputusan Darel sehingga membuat Darel kembali tersakiti. Disini aku memikirkan Darel."


Mendengar perkataan dari Daksa membuat Radika paham. Radika sedikit banyaknya sudah tahu pasal Darel dari Daksa. Jadi Radika paham akan ketakutan Daksa.


"Kau jangan langsung berpikiran negatif. Aku sangat yakin, seandainya kak Arvind dan anggota keluarga Wilson mengetahui hal ini. Mereka tidak akan marah. Karena aku tahu siapa mereka dan bagaimana sifat mereka. Bukan sifat mereka yang akan langsung marah-marah dan emosional ketika mendengar penjelasan dan informasi dari seseorang. Mereka akan terlebih dahulu menyaringnya dan memahaminya apa yang mereka dengar. Apalagi kak Arvind! Kak Arvind itu orang yang memiliki stok sabar yang banyak."

__ADS_1


"Percayalah! Semuanya akan baik-baik saja jika dibicarakan secara baik-baik," hibur Radika.


__ADS_2