
Arvind begitu gelisah di ruang rapat. Sejak tadi hati dan pikirannya hanya putra bungsunya.
"Semoga tidak terjadi sesuatu terhadap putra bungsuku," batin Arvind.
Davian yang sejak tadi melihat ayahnya yang tak konsentrasi. Bahkan berulang kali menghela nafas bahkan menghembuskan nafas kasarnya.
"Kenapa dengan Papa?" batin Davian.
"Papa," panggil Davian yang tidak tahan melihat ayahnya.
Mendengar panggilan dari putra sulungnya, Arvind langsung melihat kearah putranya itu.
"Papa kenapa? Sejak tadi aku perhatikan, Papa tidak konsentrasi ikuti rapat ini. Ada apa, Pa?"
Para rekan kerjanya yang memang sebagian memperhatikan Arvind juga merasa heran dengan Arvind. Tapi mereka tidak berani menegur Arvind atau sekedar untuk bertanya.
"Papa kepikiran adik bungsumu Davian. Sejak tadi bayangan-bayangan wajah adikmu itu berputar-putar di pikiran Papa seakan-akan adikmu itu dalam masalah," jawab Arvind.
Mendengar jawaban dari ayahnya membuat Davian seketika terkejut. Davian dapat melihat dari tatapan mata ayahnya itu ada ketakutan disana.
"Pa! Kita berdoa saja. Semoga Darel baik-baik saja. Darel ada di kampus. Dan Darel tidak sendirian," hibur Davian.
Davian berusaha kuat dan berusaha tenang, walau hatinya tiba-tiba dirundung kekhawatiran yang sama seperti ayahnya.
"Rel," batin Davian.
Ketika Arvind dan Davian yang berusaha menenangkan hatinya akan ketakutannya terhadap Darel, tiba-tiba ponsel milik Arvind berbunyi menandakan panggilan masuk.
Arvind yang mendengar bunyi ponselnya, langsung mengambil ponselnya di saku celananya.
Setelah ponselnya di tangannya, Arvind melihat nama 'Sandy' di layar ponselnya.
"Sandy," batin Arvind.
Setelah itu, Arvind menjawab panggilan dari adik laki-lakinya itu dengan pikiran yang masih tertuju pada putra bungsunya.
"Hallo, Sandy!"
"Hallo, kak! Apa kakak sedang sibuk?"
"Kakak sedang rapat. Ada apa Sandy?"
"Aku hanya ingin memberitahu kakak bahwa Darel... Darel...."
Arvind langsung berdiri dari duduknya ketika mendengar suara lirih adik laki-lakinya menyebut nama putra bungsunya.
Melihat ayahnya yang tiba-tiba berdiri membuat Davian juga ikut berdiri. Dirinya benar-benar khawatir saat ini.
"Kenapa Sandy? Kenapa dengan Darel?"
"Paman Sandy? Darel?" batin Davian.
"Beberapa menit yang lalu Rendra menghubungiku. Rendra bilang padaku bahwa Darel dilarikan ke rumah sakit akibat kena pukulan bagian kepala belakangnya oleh seseorang kak!"
Deg..
Tubuh Arvind seketika terhuyung ke belakang ketika mendengar ucapan dari Sandy mengenai putra bungsunya.
__ADS_1
"Papa!"
Davian langsung berdiri dan menghampiri ayahnya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua menatap khawatir Arvind.
"Tuan Arvind!"
"Pa," ucap Davian.
"Jika kakak masih rapat. Suruh Davian yang menggantikan. Atau kakak yang teruskan, biarkan Davian yang ke rumah sakit."
"Kakak yang akan ke rumah sakit."
"Apa kakak yakin jika kakak akan ke rumah sakit sendirian? Aku justru khawatir. Yang ada kakak yang kecelakaan karena tidak fokus nyetir. Pikiran kakak tertuju sama Darel saat ini."
"Ada baiknya kakak dan Davian selesaikan dulu rapatnya. Setelah selesai, baru kakak dan Davian ke rumah sakit. Masalah Darel dan yang lainnya, serahkan padaku. Aku seperti ini karena tidak ingin terjadi sesuatu terhadap kakak."
Mendengar perkataan dari adiknya membuat Arvind langsung menyetujui perkataan dari adiknya itu. Dirinya juga tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak buruk terhadap dirinya. Saat ini pikirannya tak tenang dan selalu kepikiran putranya.
"Baiklah, Sandy. Segeralah kamu ke rumah sakit. Urusan disana kakak serahkan kepadamu."
"Baiklah kak. Ya, sudah! Aku tutup teleponnya. Kakak kembalilah lanjutkan rapatnya."
"Baiklah."
Tutt..
Tutt..
Sandy seketika langsung mematikan panggilannya setelah memberitahu tentang kondisi Darel kepada kakaknya. Begitu juga dengan Arvind.
"Davian kita lanjutkan rapatnya. Setelah ini kita ke rumah sakit. Adik bungsumu masuk rumah sakit. Kalau kau ingin bertanya, nanti saja ya sayang."
Davian langsung menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Dirinya tahu bahwa ayahnya itu berusaha untuk konsentrasi melanjutkan rapatnya.
Setelah itu, Arvind dan Davian kembali melanjutkan rapatnya yang sempat tertunda beberapa menit.
***
"Hiks... Rel, kakak mohon bertahan ya sayang. Jangan tinggalkan kakak... Hiks," isak Raffa di pelukan Evan.
Sementara Evan berusaha menahan tangisannya ketika membayangkan kondisi terakhir adik bungsunya. Terlihat dari manik hitam Evan, memerah karena menahan tangisannya.
Alasan Evan menahan rasa sedihnya dan air matanya karena dia tidak ingin terlihat lemah. Dan dia juga harus berusaha kuat. Bagaimana pun Evan lebih tua dari Raffa.
"Van... Hiks... Darel," adu Raffa kepada Evan.
"Percayalah! Darel pasti akan baik-baik saja. Dia adik kita yang paling kuat Raffa." Evan berucap sembari memberikan ketenangan kepada Raffa, walau jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam. Evan benar-benar mengkhawatirkan adik bungsunya itu.
"Rel, kakak mohon jangan pergi. Jangan tinggalkan kakak. Kamu biasanya seperti itu setiap mengalami hal-hal buruk dalam hidup kamu. Tetaplah bersama kakak, sayang!" batin Evan menangis.
Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan berusaha sekuat tenaga untuk memberikan kekuatan dan semangat kepada Evan dan Raffa. Mereka tahu bahwa saat ini yang ada di pikiran Evan dan Raffa hanya Darel.
Bagaimana dengan semua sahabat-sahabatnya Darel? Sudah pasti semua sahabat-sahabatnya Darel dalam keadaan kacau. Mereka semua menangis. Mereka menangis karena harus kembali menyaksikan sahabat terbaik mereka merasakan kesakitan lagi dan masuk rumah sakit lagi.
"Rel, jangan tinggalkan kita. Tetaplah bersama kami!"
Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon berucap dengan suara lirih.
__ADS_1
Ketika Evan, Raffa, keempat sepupunya dan para sahabat-sahabatnya Darel sedang bersedih memikirkan Darel yang saat ini berada di ruang operasi. Seketika mereka semua dikejutkan dengan suara beberapa langkah kaki disertai dengan suara panggilan.
"Evan! Raffa!"
Baik Evan dan Raffa maupun keempat sepupunya dan para sahabat-sahabatnya Darel langsung melihat keasal suara. Dapat mereka lihat anggota keluarga Wilson berlari menghampiri mereka semua.
"Mama... Hiks," seketika tangis Evan dan Raffa pecah di hadapan ibunya.
Adelina yang melihat kedua putranya yang sudah menangis langsung memberikan pelukan hangatnya. Adelina tahu bahwa saat ini kedua putranya begitu ketakutan.
"Semuanya akan baik-baik saja, oke! Kita berdoa saja agar Darel tidak apa-apa," ucap Adelina yang berusaha menenangkan kedua putranya itu.
Cklek..
Terdengar suara pintu ruang operasi dibuka. Semua orang yang menunggu di depan ruang operasi langsung melihat kearah pintu tersebut.
Sandy, William dan dua putra tertua Arvind dan Adelina yaitu Nevan dan Ghali melangkah menghampiri sang dokter.
"Bagaimana keadaan keponakku kak Fayyadh?" tanya Sandy.
Yah! Dokter tersebut adalah Dokter Fayyadh yang tak lain sahabat dari Arvind Wilson dan ayah dari Kenzo sahabatnya Darel Wilson.
"Papa, Darel baik-baik saja kan?" tanya Kenzo dengan tatapan matanya menatap berharap pada ayahnya itu.
Fayyadh tersenyum menatap wajah putra bungsunya. Setelah itu, Fayyadh kembali menatap semua anggota keluarga Wilson yang berdiri di hadapannya.
"Kondisi Darel baik-baik saja. Luka di kepalanya tidak terlalu serius. Tadi di dalam aku melakukan operasi kecil karena kulit kepalanya robek memanjang. Untuk hasil keseluruhan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Mendengar perkataan sekaligus penjelasan dari Fayyadh membuat semuanya tersenyum bahagia dan berucap syukur akan kondisi kesayangannya.
"Papa," panggil Kenzo.
"Iya, sayang!"
"Papa nggak bohongkan? Papa mengatakan itu bukan untuk sekedar membuat kami tenang kan? Darel benar-benar baik-baik saja kan Papa!"
Mendengar pertanyaan demi pertanyaan serta melihat wajah sedih serta wajah berharap putra bungsunya itu membuat hati Fayyadh sakit. Dia sangat tahu bagaimana besarnya rasa sayang putranya itu terhadap Darel yang tak lain putra dari sahabatnya sendiri.
"Papa tidak bohong sayang. Darel baik-baik saja. Tidak ada luka serius yang dialami oleh Darel akibat pukulan itu. Hanya luka lecet saja di bagian kepalanya. Sahabat kamu itu hanya butuh istirahat selama satu minggu di rumah. Setelah satu minggu istirahat, sahabat kamu itu aka sehat seperti sedia kala."
Mendengar perkataan dari Fayyadh membuat Kenzo benar-benar bahagia. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya yang lain dan anggota keluarga Wilson.
"Darel hanya butuh dirawat selama tiga hari saja di rumah sakit. Setelah tiga hari dirawat, usahakan di rumah Darel jangan terlalu memforsir tenaga dan pikirannya. Darel harus istirahat total," ucap Fayyadh.
"Kami mengerti!" jawab semua anggota keluarga Wilson.
"Dan satu lagi!"
"Apa itu Paman?" tanya Nevan.
"Sebisa mungkin jangan buat Darel tertekan ketika di rumah. Aku menyarankan Darel istirahat selama seminggu, bukan berarti Darel tidak boleh melakukan apa yang dia inginkan selama di rumah. Setidaknya jangan buat Darel merasa bosan dan tak nyaman."
"Kami mengerti Paman!" seru Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa bersamaan.
"Kalian boleh melihatnya setelah Darel dipindahkan ke ruang rawat," ucap Fayyadh.
Setelah mengatakan itu, Fayyadh kembali masuk ke ruang operasi untuk memindahkan Darel ke ruang rawatnya.
__ADS_1