
RUMAH SAKIT
Darel dan Dylan sudah sampai di rumah sakit. Kini mereka berada diruang rawat Pingkan, Ibunya Mirza.
"Maafkan aku ya, kakak Darel. Lagi-lagi aku merepotkan mu," ucap Mirza merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Mirza. Kakak juga senang melakukannya," jawab Darel.
Baik Mirza, Ibunya Pingkan dan Dylan tersenyum bangga kepada Darel.
Saat mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba pintu ruang rawat dibuka oleh seseorang.
CKLEK
Dan ternyata pintu itu dibuka oleh Dokter yang memeriksa kondisi Pingkan.
Disaat Darel ingin membuka mulutnya hendak bertanya kepada Dokter tersebut, Dyoan telah terlebih dahulu bersuara.
"Bagaimana keadaan Bibi saya ini, Dokter?" tanya Dylan.
Darel yang melihat kelakuan kakak sepupunya itu hanya mendengus kesal. Sementara Pingkan dan Mirza tertawa pelan.
"Bisa kita bicara di ruangan saya?"
"Baiklah, Dokter!" jawab Darel.
"Bibi, Mirza. Aku keluar ke ruangan Dokter," ucap Darel. Mirza dan Ibunya mengangguk.
"Kakak Dylan disini saja. Temani Bibi Pingkan dan Mirza."
"Baiklah. Jangan lama-lama," jawab Dylan.
"Hm." Darel berdehem sembari menganggukkan kepalanya.
^^^
Kini Darel sudah berada di ruangan sang Dokter.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Dokter? Semuanya baik-baik saja kan?" tanya Darel.
"Saya ingin memberitahu kondisi terakhir pasien. Pasien harus segera di operasi. Ada pembekuan darah di otak akibat beberapa benturan yang dialaminya. Benturan tersebut bukan sekali tapi berulang kali."
"Apa?" Darel terkejut saat mendengar penjelasan dari Dokter itu. "Kapan operasi itu dilakukan, Dokter?"
"Waktu hanya satu minggu. Lebih cepat lebih baik. Jika anda setuju, saya akan merekomendasikan kepada anda untuk membawa pasien ke Amerika dan di operasi disana. Peluang sembuh disana sangat besar."
"Baiklah, Dokter. Saya terima. Kapan keberangkatannya. Jika anda ingin pasien berangkat sekarang, saya dan tim medis akan urus semua. Saya akan urus sampai pasien dirawat di rumah sakit di Amerika."
"Kalau begitu, urus sekarang juga. Saya ingin Bibi dan adik saya berangkat sekarang ke Amerika. Seperti yang Dokter bilang. Lebih cepat lebih baik. Bukan begitu?"
"Ya, anda benar. Baiklah kalau begitu. Saya akan urus keberangkatan pasien."
"Nanti ada beberapa orang yang akan ikut dengan Bibi dan adik saya. Sementara saya tidak bisa ikut karena urusan kuliah saya. Saya sudah lama cuti dan saya tidak bisa cuti lagi."
"Tidak apa-apa, tuan. Saya mengerti. Baiklah, tuan!"
^^^
__ADS_1
Di ruang rawat Pingkan. Dylan sedang berbicara dengan Mirza dan Ibunya. Kadang-kadang mereka tertawa jika ada kata-kata lucu yang tidak sengaja terlontar dari bibir Mirza dan Dylan.
"Bibi," panggil Dylan.
"Iya, Sayang. Ada apa?"
"Boleh aku menanyakan sesuatu pada Bibi?"
"Iya, boleh dong. Memangnya nak Dylan mau menanyakan apa?"
"Aku mau menanyakan tentang adiknya Bibi."
"Kayana?"
"Aish. Memangnya bibi punya adik berapa sih?"
"Hahaha." Mirza tertawa.
"Baiklah.. Baiklah. Bibi punya adik sepupu bernama Kayana. Hubungan kami sudah seperti saudara kandung. Kami masing-masing anak tunggal di dalam keluarga. Terakhir Bibi bertemu dengan Kayana di Perusahaan. Kayana datang ke Perusahaan. Kebetulan Perusahaan itu memang milik Bibi dan Kayana. Perusahaan yang diwariskan oleh kakek dari pihak ibu kepada kami berdua. Awalnya Bibi berpikir, kedatangan Kayana adalah untuk mulai bekerja lagi setelah menikah dan bersama-sama memimpin Perusahaan. Tapi dugaan Bibi salah," ucap Pingkan sedih.
"Apa yang terjadi, Bi? Apa terjadi sesuatu?" tanya Dylan.
Flashback On
Kayana saat ini tengah bersiap-siap untuk ke Perusahaan CJ GRUP. Dirinya ingin bertemu dengan suami tercintanya William Wilson yang tak lain adalah suaminya.
"Ach, selesai juga!" seru Kayana sembari tersenyum. "Tunggu aku sayang. Aku membawakan makanan kesukaanmu," batin Kayana.
Setelah dipastikan dirinya bersiap-siap, Kayana pun keluar dari kamarnya.
Saat tiba diluar, Kayana melihat ketujuh putra-putranya sedang bermain-main dengan keempat putra kakaknya dan adik iparnya yaitu Steven, Dario, Erick, Dhafin, Rendra, Naufal, Aditya, Gilang, Satya dan Melvin.
Kayana tersenyum bahagia melihat pemandangan tersebut. Kemudian Kayana menghampiri ketujuh putra-putranya dan para keponakannya itu.
"Hallo, putra-putra Mama dan keponakan-keponakan Bibi yang tampan!" seru Kayana memberikan ciuman kepada mereka semua secara bergantian.
"Oh iya! Evita dan kak Salma mana, Bi?" tanya Kayana kepada pelayan yang menjaga anak-anaknya dan keponakannya.
"Nyonya Salma di kamarnya dan Nyonya Evita ada di dapur sedang membuatkan makanan untuk si kecil tuan muda Melvin."
Lalu tiba-tiba Salma keluar dari kamarnya.
"Kayana!"
"Kakak."
"Kamu cantik sekali siang ini. Sudah rapi lagi. Mau pergi ya?" ucap dan tanya Salma.
"Iya, kak. Aku mau ke Perusahaan, sekalian nganterin makan siang untuk suamiku."
Salma tersenyum. "Baru ditinggal empat jam udah rindu aja, eemm!" Salma berbicara sambil menggoda Kayana.
"Kalau dibilang rindu sih, iya. Tapi alasan utamaku adalah hanya untuk mengingatkan suamiku agar tidak telat makan. Kaka tahu sendiri kan bagaimana tabiat suamiku. Jika dia sudah sibuk dengan pekerjaannya, dia pasti lupa waktu!" ucap Kayana.
"Iya, juga sih! Suamimu itu sama seperti suamiku Sandy. Mereka sama-sama pemuja pekerjaan!" seru Salma.
"Hahaha." Kayana tertawa.
__ADS_1
"Termasuk kakak Arvind!"
"Pastilah. Mereka bertiga itu sama-sama pemuja pekerjaan," ucap Salma mengiyakan perkataan dari Kayana.
"Tidak masalah jika suami-suami kita pemuja pekerjaan. Asalkan suami-suami kita tidak pemuja setan," celetuk Kayana.
"Iya. Setannya itu adalah para pelakor," sahut Salma.
"Hahahaha." keduanya tertawa.
"Ya, sudah! Kalau begitu aku pergi ya kak. Aku titip anak-anak."
"Oke. Asal pulangnya bawa oleh-oleh sebagai imbalan jagain anak-anakmu," jawab Salma bercanda.
"Siap!" Kayana menjawab perkataan dari kakak iparnya itu.
Salma tersenyum mendengar jawaban dari Kayana. Padahal Salma hanya menjahilinya saja.
***
CJ GRUP
Kayana telah sampai di depan Perusahaan. Saat Kayana melangkah masuk ke dalam Perusahaan, semua karyawan langsung berdiri dan memberikan hormat pada Kayana.
"Selamat siang, Nyonya!" sapa seorang wanita. Wanita itu adalah resepsionis di Perusahaan itu.
"Siang juga. Apa suamiku sibuk hari ini? Ini sudah waktunya makan siang."
"Mungkin sebentar lagi, Nyonya! Apa Nyonya perlu dengan Bos?"
"Sebenarnya tidak ada hal penting sih. Tapi kedatangan saya kesini hanya ingin memberikan makan siang untuk suami saya. Saya tidak ingin suami saya mengabaikan waktu makan siangnya. Memangnya suami saya sedang mengerjakan apa?"
"Bos saat ini ada di ruangan rapat, Nyonya!"
"Ooh, begitu. Ya, sudah! Saya akan menunggu suami saya selesai rapat."
"Baik, Nyonya. Saya akan menghubungi asisten Bos dan mengatakan bahwa Nyonya ada disini."
"Terima kasih."
"Mari Nyonya, saya antarkan ke ruangan Bos."
"Ach, tidak usah. Biarkan saya sendiri. Kamu lanjutkan saja pekerjaannya."
"Baik, Nyonya."
^^^
Kayana sedang melangkahkan kakinya menuju ruang kerja suaminya, William Wilson. Namun baru lima belas langkah Kayana menyusuri beberapa ruangan, tiba-tiba Kayana menghentikan langkahnya. Kayana mendengar seseorang berbicara di balik sebuah ruangan. Kayana bisa pastikan suara itu adalah suara seorang perempuan.
Dengan penuh rasa penasaran, Kayana melangkah menuju ruangan tersebut. Dan kebetulan pintu tersebut sedikit terbuka. Jadi Kayana tinggal mendorongnya sedikit dan mendengarkan apa yang dibicarakan oleh orang yang ada di ruangan itu.
"Eh. Bukankah dia Agatha, sekretaris William!" seru Kayana pelan. "Kenapa dia disini? Seharusnya kan dia menemani William rapat. Wah! Nggak benar nih. Mau bermain curang ternyata ya," gumam Kayana yang terus memperhatikan Agatha.
"Sayang. Apa rencana kita berikutnya?"
"Rencana pertama kita adalah kita akan menukar lima putra-putra kita dengan lima putra-putranya William. Dan kita hanya menyisakan dua putra-putranya saja yaitu Dirga dan Marcel karena mereka yang akan menggantikan William kelak."
__ADS_1
"Apa kau yakin akan menukarkan kelima putra kita dengan kelima putranya William, sayang?"
DEG...