Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Pertarungan Yang Mengerikan


__ADS_3

Praannggg...


Braakkk..


"Aarrgghhh!"


Terdengar suara teriakan disertai dengan pukulan keras dan bantingan bantingan barang-barang ke lantai di sebuah kamar.


"Brengsek! Kalau bukan karena mengincar kakakmu. Aku tidak akan membiarkanmu menghinaku dan mempermalukanku didepan semua kakak-kakakmu!"


"Darel Wilson! Tunggu saja pembalasanku. Jika aku tidak bisa mendapatkan dan menguasai kakakmu Ghali Wilson, maka aku bersumpah akan membuatmu pergi dari dunia ini."


Gadis yang berteriak sembari membawa-bawa nama Darel adalah Paula Rocio. Dia tampak marah besar atas perlakuan buruk Darel ketika dia mendatangi kediaman Wilson.


***


Darel bersama semua sahabat-sahabatnya saat ini di jalan raya. Mereka masing-masing mengendarai motor sport mewah dengan kecepatan sedang.


Setelah mereka mengunjungi wahana bermain setengah jam yang lalu. Kini mereka bermaksud untuk pergi mengunjungi kebun binatang. Mereka kesana karena ingin melihat bentuk kebun binatang yang sekarang karena beberapa bulan lalu kebun binatang tersebut ada perbaruan atau perbaikan. Serta penambahan arena bermain khusus untuk anak-anak Bukan itu saja, kebun binatang tersebut menambahkan beberapa hewan yang mana akan membuat menarik perhatian para pengunjung.


Ketika Darel dan sahabat-sahabatnya tengah fokus mengendarai motor sport masing-masing, tiba-tiba Kenzo dan Gavin menghentikan laju motornya.


Melihat kedua sahabatnya tiba-tiba berhenti membuat Darel, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon.


"Nzo! Vin! Ada apa?! Kenapa berhenti?" tanya Darel.


Mendengar pertanyaan dari Darel. Tanpa melihat kearah Darel, baik Kenzo maupun Gavin langsung menunjuk kearah dimana beberapa laki-laki berpakaian hitam tengah menyerang dua pengendara mobil yang mana hanya berjumlah sekitar empat orang.


Darel, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon langsung melihat kearah tunjuk Kenzo dan Gavin. Dapat mereka lihat ada perkelahian di depan mereka.


^^^


Bugh.. Bugh..


Bugh.. Duagh..


Duagh..


Bruukkk.. Bruukkk..


Sekitar enam orang laki-laki berpakaian hitam seketika jatuh akibat tendangan yang diberikan oleh dua pria paruh baya tersebut.


Namun beberapa detik kemudian, keenam laki-laki berpakaian hitam itu kembali berdiri walau merasakan sakit di bagian perutnya.


"Siapa kalian?!" bentak Mateo.


"Kenapa kalian menyerang kami?!" bentak Ferino.


"Kalian tidak perlu tahu siapa kami. Yang jelas kami dibayar untuk melenyapkan nyawa kalian dari dunia ini!" ucap sang pemimpin kelompok itu dengan suara kerasnya.


Deg..


Mateo dan Ferino seketika terkejut ketika mendengar jawaban dari salah satu laki-laki di hadapannya itu.


Mateo dan Ferino saling memberikan tatapan mata masing-masing. Setelah itu, keduanya kembali menatap laki-laki berpakaian hitam di hadapannya itu.


"Serang!"

__ADS_1


Kelompok laki-laki berpakaian hitam itu kembali menyerang Mateo, Ferino dan tangan kanannya secara bersamaan.


Bugh.. Bugh..


Bugh..


Bugh.. Duagh..


Duagh..


Baik Mateo, Ferino, tangan kanannya dan para laki-laki berpakaian hitam itu saling menyerang.


^^^


Darel, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon masih terus melihat kearah orang-orang yang sedang bertarung itu terutama kearah dua pria paruh baya tersebut.


Dan detik kemudian...


"Itu Paman Mateo dan Paman Ferino!" teriak Darel yang melihat dengan jelas wajah kedua pria paruh baya tersebut.


Darel langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menuju kearah para laki-laki berpakaian hitam itu.


Mendengar ucapan serta teriakan dari Darel sembari menyebut Mateo dan Ferino seketika membuat Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon terkejut. Yang paling terkejut dan yang paling syok adalah Evano dan Farrel.


Setelah itu, mereka semua kembali melajukan motornya dengan kecepatan tinggi dan mengarahkan motornya kearah para laki-laki berpakaian hitam itu.


^^^


Disaat pertarungan antara Mateo, Ferino dan tangan kanannya melawan sekitar empat puluh laki-laki berpakaian hitam, tiba-tiba datang sekitar lima belas motor sport dengan kecepatan tinggi bersamaan dengan sipemilik motor tersebut memberikan tendangan kepada para laki-laki berpakaian hitam yang saat ini tengah bertarung melawan Mateo, Ferino dan tangan kanannya.


Duagh.. Duagh..


Duagh..


Setelah itu, lima belas motor sport tersebut langsung berbaris menghalangi para laki-laki berpakaian hitam itu sekaligus melindungi empat pria di belakangnya.


Mateo dan Ferino memperhatikan bentuk dan mereka motor sport yang kini berjejer di hadapannya.


Seketika terukir senyuman manis di bibir keduanya ketika mengetahui pemilik motor tersebut.


Yah! Mateo dan Ferino mengetahui bahwa pemilik lima belas motor sport itu adalah putranya dan sahabat-sahabatnya.


"Evano! Farrel!" Mateo dan Ferino memanggil putranya secara bersamaan.


Evano dan Farrel langsung melihat ke belakang yang mana ayahnya berada. Keduanya melihat sang ayah tersenyum menatap dirinya.


Evano dan Farrel membuka kaca helm nya lalu kemudian keduanya memberikan senyuman kepada ayahnya itu.


"Apa Papa baik-baik saja?" tanya Evano.


"Papa tidak terlukakan?" tanya Farrel.


"Kami baik-baik saja!" Mateo dan Ferino menjawab bersamaan.


Tiba-tiba terdengar suara Darel yang terdengar dingin dan terkesan memerintah.


"Lebih baik Paman Mateo dan Paman Ferino pergi dari sini. Tinggalkan tempat ini. Untuk para manusia-manusia busuk ini, serahkan padaku dan yang lainnya!"

__ADS_1


Mendengar ucapan sekaligus perintah dari Darel, apalagi ketika mendengar nada bicara dan suaranya membuat mereka semua meyakini bahwa Darel ingin perkataannya itu dituruti.


"Baiklah sayang. Kami akan pergi dari sini." Mateo dan Ferino langsung mengiyakan ucapan dari Darel.


Mateo dan Ferino kemudian melangkah menuju mobilnya dan diikuti oleh tangan kanannya. Setelah berada di dalam mobil masing-masing. Sang asisten langsung membawa tuannya untuk meninggalkan lokasi.


Melihat kepergian Mateo dan Ferino. Darel, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon menatap nyalang kearah para laki-laki berpakaian hitam itu yang saat ini juga menatapnya dengan tatapan tak kalah nyalang.


"Siapa kalian?! Kenapa menggangu pekerjaan kami?!" bentak laki-laki itu.


"Kami malaikat mautmu!" Darel, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon langsung menjawab pertanyaan dari laki-laki itu bersamaan mereka turun dari motor besar mereka.


Mereka melangkah sebanyak tiga langkah dengan tatapan matanya tak lepas menatap tajam kearah para laki-laki berpakaian hitam itu.


"Lawan kalian adalah kami bukan orang yang kalian lawan beberapa menit yang lalu," sahut Evano dengan tatapan amarahnya.


"Ayo, maju kalian! Serang kami!" tantang Farrel yang tak kalah tajam menatap kearah para laki-laki berpakaian hitam itu.


Mendengar ucapan dari dua pemuda di hadapannya itu membuat sang pemimpin tersebut marah dengan mengepal kuat tangannya.


"Serang!"


Para laki-laki berpakaian hitam itu kemudian menyerang Darel, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon secara bersamaan. Mereka begitu bersemangat memberikan pukulan demi pukulan serta tendangan kearah pemuda-pemuda tersebut.


Bugh.. Bugh.. Bugh..


Duagh.. Duagh..


Sekitar lima belas laki-laki berpakaian hitam itu tersungkur di aspal akibat tendangan kuat mengenai perutnya bersamaan dengan darah segar keluar dari dalam mulutnya.


Bruukkk.. Bruukkk..


"Uhuukk."


Tersisa sekitar dua puluh lima laki-laki lagi termasuk sang pemimpin.


Kini Darel, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon yang memimpin penyerangan tersebut. Mereka memberikan pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan kearah wajah, perut, pinggang dan punggung sehingga membuat dua puluh lima laki-laki berpakaian hitam itu berteriak kesakitan.


Bugh.. Bugh..


Duagh..


"Aakkhhh!"


Darel, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon memberikan pukulan kuat tepat di perut musuhnya sehingga membuat musuhnya itu kesulitan bernafas. Setelah itu, mereka mencekik leher dengan pergelangan tangannya lalu memelintirnya hingga membuat musuhnya mati ditempat.


Bugh.. Bugh..


Kreekkk..


"Aakkkhhh!"


Bruuukkk..


Seketika terukir senyuman manis di bibir Darel, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon ketika berhasil melumpuhkan musuh-musuhnya.


Setelah memastikan musuh-musuhnya tak bergerak lagi alias mati, mereka semua memutuskan untuk pergi meninggalkan lokasi tersebut untuk melanjutkan acara mereka yang sempat tertunda beberapa menit.

__ADS_1


__ADS_2