
Di kediaman Rocio dimana terlihat ramai. Semua anggota keluarga tengah berkumpul di ruang tengah. Bukan hanya di dalam rumah saja yang tampak ramai. Diluar pun juga tampak ramai dimana terlihat beberapa laki-laki berpakaian hitam sedang berjaga-jaga lengkap dengan senjata di tangan masing-masing.
Anggota keluarga Rocio saat ini tengah membicarakan rencana mereka yang berhasil menyingkirkan Darel kesayangan keluarga Wilson. Bahkan mereka semua saat ini tengah merencanakan rencana selanjutnya untuk bisa menguasai semua kekayaan milik keluarga Wilson.
Detik kemudian..
Dor..
Dor..
Jleb.. Jleb..
Dor..
Bruukkk..
Beberapa orang datang secara diam-diam ke kediaman Rocio dan langsung menyerang para laki-laki berpakaian hitam yang sedang berjaga-jaga di kediaman tersebut dengan menggunakan panah beracun dan senjata api yang tidak mengeluarkan suara sama sekali. Sekitar 50 laki-laki berpakaian hitam yang berjaga-jaga tersebut mati seketika.
Setelah semua musuh dalam keadaan mati. Masuklah sekitar 100 orang dari kelompok DARKNESS dengan di pimpin oleh Davian dan diikuti oleh Arvind, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga memasuki perkarangan rumah mewah keluarga Rocio.
Anggota keluarga Rocio sama sekali tidak mengetahui bahwa musuhnya datang menyerang kediamannya. Mereka saat ini masih terus membahas rencana untuk menyingkirkan orang-orang yang berniat menghalangi mereka untuk masuk dan menjalin hubungan dengan salah satu anggota keluarga Wilson.
Ucapan demi ucapan dari semua anggota keluarga Rocio sudah terdengar oleh Davian, Arvind, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga karena di dalam rumah tersebut ada tiga orang anggota dari tiga tangan kanan Darel yang sudah memasang alat penyadap. Tiga orang tersebut sudah diketahui oleh Davian dan yang lainnya.
"Brengsek!" Davian, Arvind, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga berucap dengan penuh amarah ketika mendengar rencana dari keluarga Rocio.
Prokk..
Prokk..
Prokk..
Ghali seketika bertepuk tangan bersamaan kakinya melangkah mendekati ruang tengah dimana semua anggota keluarga berkumpul disana dan diikuti oleh Arvind, Davian, Nevan, Elvan, Andre dan Arga di belakang.
Melihat suara tepuk tangan membuat semua anggota keluarga Rocio langsung melihat ke belakang. Dan mereka semua terkejut ketika melihat kedatangan Arvind dan putra-putra tertuanya.
"Gh-ghali," ucap Paula gugup.
"Kenapa, hum? Kaget melihat kedatanganku bersama dengan ayahku, kakakku dan adik-adikku?"
Paula berdiri dari duduknya. Kakinya kemudian melangkah mendekati Ghali. Dia ingin memeluk tubuh Ghali lalu mengambil hati Ghali atas permasalahan kemarin.
Kini Paula sudah berdiri di depan Ghali. Tatapan matanya menatap lembut wajah tampan Ghali. Namun tidak untuk Ghali. Dia memberikan tatapan mematikan untuk Paula.
Disaat Paula hendak memeluk tubuhnya. Ghali dengan kejamnya langsung mencekik leher Paula sehingga membuat Paula berteriak. Dan detik kemudian, Paula kesulitan bernafas akibat cekikan Ghali yang begitu kuat.
"Aakhh.. Gh-ghali. A-apa yang ka-kamu laku-kan?"
Ghali tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar pertanyaan dari Paula.
"Tentu saja aku ingin membunuh perempuan murahan sepertimu agar tidak lagi menyusahkan hidupku," ucap Ghali.
"Aakkhh!" Paula berteriak merasakan sakit di lehernya akibat cekikan dari Ghali.
Semua anggota keluarga Rocio berdiri dari duduknya. Mereka menatap penuh amarah kearah keluarga Wilson.
"Penjaga!" teriak Paman pertama Paula memanggil penjaganya.
Namun setelah menunggu beberapa detik, penjaga yang dipanggil tak kunjung datang. Sementara Davian, Arvind, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga tersenyum di sudut bibirnya.
"Penjaga mana yang sedang kau panggil, hah?!" ejek Elvan.
"Semua penjaga kalian telah mati," sahut Arga.
Ghali menatap penuh amarah kearah Paula. Dia benar-benar akan membunuh Paula atas apa yang dilakukan oleh Paula terhadap adik kesayangannya. Selesai dengan Paula, baru dia bersama ayah, kakak dan adiknya membereskan semua anggota keluarga Rocio.
Jika seandainya Arvind, Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga tidak membunuh semua anggota keluarga Rocio. Tapi mereka tidak akan melepaskan keluarga tersebut begitu saja. Mereka akan membuat semua anggota keluarga Rocio terutama untuk yang laki-laki tidak bisa berjalan lagi untuk selamanya. Sedangkan untuk yang perempuan akan mereka buat untuk tidak diterima dimasyarakat. Dengan kata lain, mereka akan dipermalukan dan dihina setiap mereka keluar rumah.
Dan untuk semua kekayaan milik keluarga Rocio seperti perusahaan utama dan empat perusahaan pribadi termasuk usaha dari istri dan anak-anaknya hancur seketika. Semua usaha itu akan hilang dalam peredaran di dunia. Mereka memboikot semua usaha milik keluarga Rocio.
"Lo benar-benar wanita busuk. Berani sekali kau membayar kelompok MUNGIKI untuk mencelakai adikku! Kau pikir kau itu siapa, hah?!" teriak Ghali dengan tangannya makin mengencangkan cekikan di leher Paula.
"Aakkhhh!" Paula berteriak kesakitan di bagian lehernya.
__ADS_1
"Paula!" teriak ayah dan kakak laki-lakinya Paula.
Kemudian kedua pria itu berlari hendak menyelamatkan putrinya/adik perempuannya, namun langsung ditahan dengan sebuah tembakan yang diberikan oleh Nevan tepat di kedua paha keduanya.
Dor.. Dor..
Dor.. Dor..
Bruukkk.. Bruukkk..
Kedua pria itu tersungkur di lantai akibat tembakan di kedua pahanya.
Sementara anggota keluarga Rocio lainnya terkejut ketika melihat dua anggota keluarganya ditembak di bagian pahanya.
"Kalian sudah salah mencari masalah dengan keluarga Wilson!" teriak Nevan.
Paula seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari Ghali. Dia tidak menyangka jika Ghali mengetahui niat jahatnya terhadap adiknya itu.
"Gh-ghali apa y-ang ka-mu katakan. A-aku benar-benar tidak mengerti!"
Ghali seketika mendorong kuat tubuh Paula kearah dimana ada sebuah lemari kaca hias.
Gedebug..
Bugh..
Bruukkk
Praannggg..
Tubuh Paula terbentur cukup keras di lemari kaca tersebut sehingga membuat tubuh Paula tersungkur ke lantai dan berujung lemari kaca tersebut jatuh dan menghimpit tubuh Paula.
"Aakkhh!" teriak Paula.
"Paula!" teriak sang ibu.
Wanita paruh baya itu berlari hendak membantu putrinya, namun sebuah tembakan menghentikannya.
Dor.. Dor..
Dor..
Bruukkk..
Yang menjadi tersangka penembakan tersebut adalah Andre. Andre tak main-main melakukan penembakan tersebut. Dia langsung menembak tepat di anggota tubuh yang penting yang kepala dan jantung.
"Tidak! Lalita!"
"Bibi!"
"Mama!"
"Kakak!"
Semua anggota keluarga Rocio berteriak hesteris ketika melihat satu anggota keluarganya meninggal di tempat akibat tembakan yang diberikan oleh salah satu putra dari Arvind Wilson.
Ghali melangkahkan kakinya menghampiri Paula yang saat ini tubuhnya terhimpit lemari kaca. Dia tersenyum penuh seringai. Tidak ada rasa iba sedikit dari tatapan matanya itu.
"Kau sudah melampaui batasanmu Paula. Dan kau sudah berani mencelakai adik kesayanganku."
Ghali mengeluarkan senjatanya dari balik bajunya. Setelah itu, Ghali mengarahkan senjatanya itu kearah kepala Paula.
"Ti-tidak. Ja-jangan lakukan itu Ghali. Ma-maafkan aku."
"Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini, Paula!"
Dor..
Dor..
Dor..
Seketika Paula tewas akibat tembakan yang dia terima di kepalanya.
__ADS_1
Arvind melangkahkan kakinya menghampiri anggota keluarga Rocio yang masih hidup, baik dalam keadaan terluka maupun yang masih dalam keadaan baik-baik saja. Dan diikuti oleh Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga sehingga membuat semua anggota keluarga Rocio ketakutan.
"Saya tidak menyangka jika keluarga Rocio seperti ini jika kehendaknya tidak terpenuhi," ucap Arvind dengan tatapan matanya yang tajam.
"Apa maksudmu, hah?!" bentak ayahnya Paula.
Arvind menatap kearah ayahnya Paula yang saat ini sedang kesakitan di kedua pahanya.
"Hahahaha. Anda sudah seperti ini, tapi cara bicara anda masih saja sombong dan arogan."
"Maksud perkataanku barusan adalah kalian memang sejak awal ingin masuk ke dalam keluargaku dengan mengincar putra ketigaku. Setelah itu, kalian akan dengan mudahnya merebut semua kekayaan keluarga Wilson. Namun karena akibat sikap putra bungsuku yang mana putraku itu yang menggagalkan niat kalian sehingga membuat kalian marah."
"Dan pada akhirnya kalian merencanakan untuk menyingkirkan adik bungsu dari dunia ini. So! Jika adikku sudah tidak ada lagi di dunia ini, maka kalian bisa leluasa keluar masuk ke dalam keluarga Wilson." Elvan berucap dengan tatapan mematikannya.
"Dan kalian juga sudah mengetahui bahwa adik bungsuku itu pewaris tunggal keluarga Wilson. Jadi dengan adik bungsuku meninggal, maka harta kekayaan Wilson bisa kalian rebut," ucap Andre.
"Kalian benar-benar menjijikan!" bentak Arga.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Arvind dan putra-putranya membuat semua anggota keluarga Rocio terkejut dan juga syok. Mereka tidak menyangka jika keluarga Wilson mengetahui niat jahatnya itu.
Ghali melihat kearah ayah dan kakak pertamanya. Dia ingin cepat-cepat menyelesaikan balas dendam ini tanpa harus mengeluarkan energi banyak.
"Pa! Kak Davian!"
"Iya, Ghali!"
"Kita selesaikan secepatnya. Kita ikat mereka semua. Setelah ikut, bakar rumah ini biar mereka semua mati hangus terbakar."
Mendengar ucapan sekaligus ide dari Ghali membuat Arvind dan Davian tersenyum. Begitu juga dengan Nevan, Elvan, Andre dan Arga.
"Itu ide yang menarik," sahut Nevan.
"Kami setuju!" seru Andre dan Arga bersamaan.
"Hm."
"Tidak!"
"Jangan lakukan itu!"
"Kami tidak ingin mati!"
Arvind, Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga tidak mempedulikan teriakan-teriakan ketakutan dari anggota keluarga Rocio.
Davian kemudian memerintahkan anggotanya untuk mengingat semua anggota keluarga Rocio dengan menggunakan tali yang sama sekali tidak bisa dipotong atau bahkan terbakar.
Setelah semua anggota keluarga Rocio dalam keadaan terikat, Davian memerintahkan anggota-anggotanya untuk menyiram dengan bensin di setiap sudut ruangan, baik bagian bawah maupun bagian atas. Bahkan barang-barang yang mudah terbakar.
"Tidak!"
"Maafkan kesalahan kami yang memiliki niat jahat terhadap keluarga Wilson!"
"Maafkan kami yang sudah mencelakai putra bungsu anda, tuan Arvind!"
"Sudah terlambat! Putraku sudah pergi. Jadi penyesalan kalian tidak ada gunanya," sahut Arvind.
Beberapa anggota Davian sudah selesai melakukan tugasnya. Kini tinggal menunggu perintah selanjutnya dari Davian.
"Bakar!"
"Baik!"
Beberapa anggota Davian tersebut langsung menyalakan api secara bersamaan. Kemudian api-api itu langsung dilempar kearah dimana barang-barang atau benda-benda yang sudah disiram dengan bensin.
Buuukkk..
(Anggap saja bunyi api ketika menyala langsung menjadi besar)
"Tidak!" teriak semua anggota keluarga Rocio.
Sementara Arvind, Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga tersenyum bak iblis.
Beberapa api sudah merambat dan mengenai beberapa anggota keluarga Rocio sehingga membuat teriakan demi teriakan dari keluarga Rocio.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian..
Arvind, Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga memutuskan untuk pergi meninggalkan kediaman keluarga Rocio. Bukan meninggalkan, melainkan mereka menunggu diluar. Mereka akan pergi jika rumah mewah milik keluarga Rocio sudah menjadi abu. Dan semua penghuninya tewas.