
Evan, Raffa dan keempat sepupunya saat ini berada di tengah-tengah lapangan. Mereka seharian berada di kelas mengikuti tiga materi kuliah. Setelah selesai mengikuti semua materi kuliahnya, Evan dan Raffa serta keempat sepupunya memilih duduk di lapangan.
"Van, Raf! Jadi benar Papa Andrean dan Alisha dijegat oleh beberapa orang di jalan?" tanya Aldan.
"Iya, Aldan! Bahkan mereka membawa senjata tajam," jawab Evan.
"Bagaimana keadaan mereka? Mereka baik-baik saja kan?" tanya Aldan.
"Kau tidak perlu khawatir. Mereka baik-baik saja," jawab Raffa.
"Terima kasih ya kalian sudah membantu Papa Andrean dan Alisha," ucap Aldan tulus.
"Apaan sih kamu. Kayak sama siapa aja. Santai aja kali," sahut Raffa.
"Aku tahu maksud kamu itu. Tapi bagaimana pun aku tetap berterima kasih kepada kalian berdua. Ditambah lagi wajah kamu yang jelek malah makin jelek kena pukulan mereka," ucap Aldan sembari melirik kearah Raffa.
"Sialan kamu. Kamu niat sih ngucapin terima kasihnya, hah!" sahut Raffa kesal.
"Niat kok! Niaaaaattt banget!" Aldan menjawab pertanyaan dari Raffa sembari merentangkan kedua tangannya ke samping hingga mengenai wajah Raffa.
Raffa seketika menggigit pergelangan Aldan sehingga membuat Aldan berteriak.
"Aakkhh!"
"Sialan lo, Raff!"
"Apa? Mau lagi? Makanya jangan cari ribut sama gue. Ini masih pukul 10 pagi tahu," ucap Raffa kesal.
Mendengar perkataan dan melihat wajah Raffa yang super duper tak mengenakkan membuat Aldan langsung kicep disertai bibirnya yang tertutup rapat dan pandangan menghadap ke depan.
Sementara Evan, Melvin, Rendra dan Dylan tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan saudaranya/kedua saudara sepupunya.
Ketika mereka sedang mengobrol, bersenda gurau bahkan saling mengumpat karena kesal. Tatapan mata Rendra tak sengaja melihat sosok adik kelincinya bersama dengan semua sahabat-sahabatnya.
"Hei, itu Darel dan para sahabat-sahabatnya. Sepertinya mereka mau pergi!" seru Rendra.
Mendengar seruan Rendra membuat Evan, Raffa, Aldan, Melvin dan Dylan langsung melihat kearah tunjuk Rendra. Mereka melihat Darel dan para sahabat-sahabatnya hendak pergi.
"Eh, itu Darel sama sahabat-sahabatnya mau kemana?" tanya Evan.
"Ini kan masih jam kuliah! Jadwal kuliah Darel hari ini ada 4 materi." sahut Raffa.
"Jangan-jangan mereka membolos lagi," sela Melvin.
"Wah! Ini nggak bisa dibiarkan. Masih semester 1. Berstatus mahasiswa baru. Tapi sudah berani membolos," ucap Evan.
__ADS_1
Evan berdiri dari duduknya dan diikuti oleh Raffa serta keempat sepupunya. Kemudian mereka pergi menyusul Darel dan para sahabat-sahabatnya itu.
^^^
Darel dan sahabat-sahabatnya kini sudah berada di halaman Kampus dan hendak keluar meninggalkan Kampus.
Namun seketika langkah mereka terhenti karena ada seorang wanita yang menurut Darel dan sahabat-sahabatnya seumuran dengan ibunya berdiri menghadang jalannya dan jalan para sahabat-sahabatnya. Bahkan wanita itu tidak sendirian, melainkan membawa sekitar 25 laki-laki berpakaian hitam.
"Maaf, nyonya siapa? Kenapa menghalangi jalan kami?" tanya Damian yang kebetulan berdiri di samping kiri Darel.
Wanita melihat kearah Damian dengan tatapan matanya yang tajam. Setelah itu, wanita itu kembali menatap kearah Darel. Wanita itu menatap tajam kearah Darel.
Detik kemudian..
Plak..
Wanita seketika menampar keras pipi putih Darel sehingga menimbulkan bekas disana.
"Apa-apaan anda nyonya! Berani sekali anda menampar sahabat saya!" Kenzo yang menatap marah wanita itu. Kenzo berdiri di samping kanan Darel.
Wanita itu melihat kearah Kenzo dengan tatapan amarahnya. "Diam kau. Jangan ikut campur!" bentak wanita itu.
Setelah mengatakan itu, wanita itu kembali menatap kearah Darel. Tatapan matanya mengisyaratkan kemarahan disana.
"Aakkhh!"
Baik Darel, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel maupun Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas Charlie dan Devon bersamaan melihat ke samping. Dan mereka melihat Evan, Raffa, Dylan, Rendra, Melvin dan Aldan. Yang menjadi tersangka yang menahan tangan wanita itu adalah Evan.
Evan dan Raffa menatap marah kearah wanita itu. Begitu juga dengan Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan.
Evan menghempaskan kuat tangan wanita itu sehingga membuat wanita kesakitan bagian pergelangan tangannya.
Raffa menatap adiknya yang saat ini menatap nyalang kearah wanita tersebut. Terlihat Darel sorot matanya.
Raffa mengusap lembut pipi adiknya yang terkena tamparan dari wanita itu. Apalagi ketika melihat bekas tamparannya tersebut. Hati Raffa benar-benar sakit.
"Apa hakmu menampar adikku, hah?! Aku dan keluargaku tidak pernah menyakiti adikku. Dan kau....!" bentak Evan sembari menunjuk kearah wanita itu.
"Tanyakan saja pada adikmu yang brengsek itu!" bentak wanita itu dengan menunjuk kearah Darel.
Raffa langsung menepis kuat tangan wanita itu dari hadapan adiknya. "Nggak usah pake nunjuk-nunjuk segala! Dan satu lagi, adikku laki-laki yang baik. Bukan laki-laki brengsek!" bentak Raffa.
"Alah! Jangan terlalu membela adik seperti ini. Di depan kalian berwajah polos. Di belakang kalian, kelakuannya benar-benar menjijikkan!" bentak wanita itu.
Mendengar perkataan pedas dari wanita yang ada di hadapannya membuat Evan, Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan menggeram marah. Begitu juga dengan para sahabat-sahabatnya Darel. Mereka semua menatap kearah wanita itu dengan tatapan matanya menajam.
__ADS_1
"Sudah selesai ngomongnya? Apa masih ada yang ingin kau sampaikan kepadaku?" Darel seketika berbicara dengan penuh penekanan dan dengan tatapan matanya yang tajam.
Mendengar perkataan dari Darel membuat wanita itu menatap marah kearah Darel.
"Berani kau padaku, hah?!" bentak wanita itu.
"Siapa kau sehingga aku harus takut dengan perempuan sepertimu," jawab Darel menantang.
"Tidak ada yang aku takutkan di dunia ini. Selama aku benar dan selama aku tidak mencari masalah, maka aku akan lawan siapa pun yang mencari masalah denganku. Tidak peduli kalau aku menjadi seorang pembunuh sekali pun."
Mendengar perkataan dari Darel membuat wanita seketika ketakutan. Apalagi ketika mendengar ucapan dari Darel dengan menyebut kata pembunuh.
Namun seketika rasa takutnya hilang. Hanya beberapa saat saja rasa takut itu muncul. Wanita itu kembali menatap tajam kearah Darel.
"Lebih baik kau pergi dari sini. Dan jangan mencari masalah denganku. Aku tidak punya urusan denganmu apalagi dengan para manusia-manusia busuk di belakangmu itu," ucap Darel.
Wanita itu mengepalkan kuat tangannya ketika mendengar ucapan kejam dari Darel. Begitu juga para laki-laki yang berdiri di belakang wanita itu. Mereka menatap tajam kearah Darel.
"Berani kau mengusirku, hah?! Dan apa kau bilang barusan? Kau tidak punya urusan denganku? Apa kau tidak salah berbicara seperti itu, hah?!" bentak wanita itu.
"Aku tidak salah bicara. Bagaimana bisa aku memiliki urusan dengan perempuan sepertimu. Secara aku tidak mengenalmu." Darel menatap remeh perempuan itu.
"Kau memang tidak mengenalku. Dan kau memang tidak punya urusan denganku. Tapi kau berurusan dengan anakku yang juga berkuliah disini!" bentak wanita itu.
Mendengar perkataan dari perempuan tersebut membuat Darel menatap wajah perempuan itu. Begitu juga dengan para sahabat-sahabatnya dan juga para kakak-kakaknya.
"Memangnya siapa anakmu itu. Dan seperti apa dia?" tanya Darel dengan tatapan dinginnya.
"Yagar," jawab wanita itu.
Mendengar jawaban dari perempuan tersebut membuat Darel seketika paham. Darel akhirnya tahu tujuan kedatangan perempuan yang ada di hadapannya ini ke Kampus menemuinya.
"Oh! Jadi kau ibu dari laki-laki yang sok berkuasa di kampus ini ya? Laki-laki yang ingin membuat semua mahasiswa dan mahasiswi tunduk padanya," ucap Darel dengan tersenyum di sudut bibirnya.
"Menjijikkan," ucap Darel lagi.
"Jangan sembarangan menuduh putraku! Putraku itu anak yang baik-baik!" bentak wanita itu.
"Hahahaha." Raffa seketika tertawa keras ketika mendengar ucapan dari wanita yang ada di hadapannya.
Mendengar tawa keras dari Raffa membuat wanita itu menatap marah kearah Raffa.
"Anda lucu sekali nyonya. Ketika saya mengatakan bahwa adik saya adalah laki-laki yang baik, anda marah dan tak terima. Bahkan anda mengatakan jangan terlalu percaya akan sifat polosnya. Sekarang anda terang-terangan memuji anak anda dengan menyebut anak anda laki-laki yang baik. Memalukan!"
Mendengar perkataan sekaligus sindiran dari Raffa membuat Darel serta yang lainnya tersenyum di sudut bibirnya.
__ADS_1