Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Kedatangan Lima Pemuda Tampan


__ADS_3

Lima hari kemudian...


Semua anggota keluarga Wilson berkumpul di ruang rawat Darel termasuk Pingkan dan Mirza. Bukan hanya anggota keluarga saja, melainkan kesembilan sahabatnya juga ada disana.


Darel masih belum bangun dari komanya. Pemuda manis dan tampan itu masih setia menutup mata bulatnya. Ntah kapan mata itu akan pemuda itu buka.


Sementara untuk semua anggota keluarganya dan para sahabatnya, selama 5 hari berturut-turut selalu setia menemaninya. Tida ada yang absen untuk tidak datang. Bagi mereka semua, tidak ada alasan untuk tidak datang menjenguknya di rumah sakit karena wajahnya membuat semua rindu padanya.


Saat ini anggota keluarganya duduk di sofa yang ada di ruang rawat Darel. Sementara untuk kesembilan sahabatnya mengerubungi ranjangnya. Mereka mengajak Darel bicara sesekali tangan-tangan mereka mengurut kaki dan tangan Darel pelan-pelan.


"Akhirnya masalah selesai," sahut Evita tiba-tiba.


"Iya, kamu benar Evita. Kakak merasakan kebahagiaan luar biasa setelah masalah yang menimpa keluarga kita, terutama Darel telah selesai!" Adelina berucap dengan wajah berseri sembari tatapan matanya menatap kearah putra bungsunya.


Masalah yang dihadapi oleh keluarga Wilson telah selesai. Para musuh-musuhnya telah kalah telak dan tak bisa berbuat apa-apa lagi.


Arvind dan keenam putra tertuanya menghancurkan apa yang dimiliki oleh keluarga Afraido dan Alaois sehingga kedua keluarga itu tidak memiliki apa-apa lagi.


Leonard Afraido dan Marcoz Alaois diserahkan ke polisi setelah mendapatkan siksaan bertubi-tubi dari Arvind dan keenam putranya. Baik Leonard maupun Marcoz mendapatkan hukuman mati dari pengadilan karena kejahatan yang telah mereka perbuat. Kejahatan yang diperbuat oleh Leonardo dan Marcoz sangat banyak.


Perbuatan Leonard dan Marcoz terhadap Darel, putra bungsu Arvind Wilson adalah kejahatan untuk yang kesekian kalinya untuk keduanya.


Mengetahui banyak bukti kejahatan Leonard dan Marcoz sehingga Arvind dan keenam putranya memutuskan untuk menyerahkan keduanya ke polisi dan dijatuhi hukuman mati.


Sementara untuk perusahaan yang dimiliki oleh Marcoz dan Leonard sudah tidak ada lagi alias sudah hancur menjadi tanah. Yang melakukan semua itu adalah perbuatan Sandy Wilson, Kenzi dan Leo.


Sedangkan untuk Ciara Alaois atau berubah menjadi Ciara Jevera ibu dari Lian Jevera pulang ke rumah suaminya. Dirinya meminta maaf atas apa yang telah diperbuat olehnya bersama dengan kakak laki-lakinya.


Arvind dan keenam putranya memberikan maaf terhadap Ciara dengan syarat untuk tidak mengusik keluarganya kembali. Begitu juga dengan anggota keluarga Afraido lainnya.


Suaminya Azick Jevera dan kedua putranya Jefry Jevera dan Kirsan Jevera awalnya sangat marah atas apa yang dilakukan oleh istri dan ibunya.


Namun kemarahan Azick terhadap istrinya mereda ketika melihat penyesalan begitu besar dan tidak dibuat-buat di mata sang istri membuat Azick memberikan kesempatan kedua untuk istrinya.


"Rel, kapan lo bangun? Kangen gue sama lo!" ucap Gavin yang tatapan matanya mengisyaratkan kesedihan dan juga kerinduan lima hari ini.


"Rel. Lo masih ingat kan janji kita untuk pergi ke Amerika jenguk lima sahabat kita disana?" tanya Kenzo dengan tangannya menggenggam tangan Darel.


Flashback Om


"Rel, kamu kenapa?" tanya Kenzo yang datang membawa pesanan Darel.


Saat ini Darel dan Kenzo berada di Kantin. Sementara Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon masih berada di kelas.


Kenapa mereka semua masih di kelas. Sementara Darel dan Kenzo di kantin? Itu dikarenakan kelas yang mereka ikuti sekarang ini sedang mengadakan kuis. Waktu yang diberikan oleh Dosen selama satu setengah jam.


Ketika mereka mengikuti kuis yang diberikan oleh Dosen tersebut. Darel dan Kenzo yang terlebih dahulu selesai mengerjakan semua soal-soal yang diberikan oleh Dosen tersebut sehingga mereka berdua boleh meninggalkan kelas.


Kenzo meletakkan pesanan miliknya dan milik Darel di atas meja lalu kemudian Kenzo menduduki pantatnya di kursi di samping Darel.


"Rel," panggil Kenzo yang tidak mendapatkan jawaban apapun dari sahabat kelincinya itu.


"Aku kangen mereka," ucap Darel lirih.


Mendengar jawaban dari Darel seketika Kenzo paham. Mereka yang dimaksud Darel adalah kelima sahabatnya mereka yang ada di Amerika.


Grep..


Kenzo seketika langsung memeluk tubuh sahabatnya itu. Dirinya benar-benar tidak tega melihat sahabatnya yang saat ini.


"Aku kangen mereka, Zo! Hiks... Aku ingin bertemu dengan mereka," ucap Darel disela isakannya.

__ADS_1


Kenzo seketika menangis ketika mendengar ucapan dan isak tangis Darel. Disini bukan Darel saja yang kangen dan rindu akan lima sahabatnya. Dirinya dan Gavin juga. Kemungkinan besar lima sahabat barunya juga merindukan lima sahabatnya itu secara mereka bersaudara, walau saudara sepupu.


Darel kemudian melepaskan pelukan Kenzo. Setelah pelukan itu terlepas. Darel melihat wajah Kenzo.


"Zo, mau tidak mau temani aku pergi ke Amerika? Kita kesana yuk? Aku benar-benar merindukan mereka Kenzo. Kamu mau ya?"


"R-rel," lirih Kenzo.


"Kenapa? Kamu nggak mau?"


"Bukan aku nggak mau. Justru aku senang. Aku juga ingin kesana."


"Terus apa masalahnya?"


"Keluarga kamu? Apa mereka akan izinkan kamu pergi ke Amerika? Secara kamu tidak pernah pergi jauh sendirian. Kemana pun kamu pergi, kamu selalu dikawal oleh kakak-kakak kamu."


Mendengar perkataan dari Kenzo seketika air mata Darel jatuh membasahi wajahnya. Dirinya membenarkan apa yang dikatakan oleh Kenzo tentang keluarganya yang tidak akan mengizinkan dirinya pergi kemana-mana sendirian. Apalagi sampai pergi ke luar negeri.


"Bagaimana kalau kita perginya secara diam-diam. Dari rumah kita seakan-akan berangkat ke kampus padahal kita nggak ke kampus. Justru kita pergi ke Bandara. Bagaimana Kenzo? Kamu mau ya?"


Kenzo terdiam sejenak. Dirinya bingung harus menjawab apa. Jika menolak akan membuat Darel sedih dan salah paham. Jika menuruti ide Darel, justru akan membuat masalah baru yang bisa membuat Darel kembali dikekang dan tidak boleh pergi sendirian lagi.


Melihat keterdiaman Kenzo membuat Darel paham. Darel kemudian berdiri dari duduknya.


"Kalau kamu nggak mau aku nggak apa-apa. Aku yang akan pergi sendirian."


Setelah mengatakan itu, Darel pergi meninggalkan Kenzo sendirian di kantin.


"Darel, tunggu!" teriak Kenzo.


Mendengar panggilan dari Kenzo membuat Darel langsung berhenti tanpa membalikkan badannya.


Kenzo menghampiri Darel. "Baiklah. Kita akan pergi ke Amerika secara diam-diam."


"Benarkah?"


"Hm!"


Flashback Off


"Sekarang! Hari ini! Gue nagih janji itu, Rel! Lo bangun sekarang. Setelah itu, kita akan pergi ke Amerika untuk melihat kelima sahabat kita," ucap Kenzo yang seketika air matanya mengalir membasahi wajahnya.


Sementara anggota keluarga Wilson yang ada di ruang rawat Darel terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Kenzo yang mengatakan bahwa Darel dan Kenzo sepakat untuk pergi ke Amerika.


"Kenzo," panggil Arvind.


Mendengar namanya dipanggil oleh ayah dari sahabat kelincinya seketika Kenzo langsung melihat kearah dimana ayahnya sahabat kelincinya itu duduk.


"Iya, Paman!"


"Apa boleh Paman bertanya padamu, hum?"


"Paman mau bertanya apa padaku?"


"Soal kamu yang barusan bilang bahwa kamu nagih janji Darel untuk pergi ke Amerika. Kapan Darel bilang seperti padamu?"


"Sejak dia marah dan kecewa dengan kalian semua. Sejak dia sudah tidak ada semangat hidup lagi akibat kebohongan dari kalian."


"Apa yang dikatakan Darel padamu, nak?" tanya Adelina.


"Darel merindukan kelima sahabat kami yang ada di Amerika. Lalu kemudian Darel mengajakku untuk pergi kesana."

__ADS_1


"Apa kamu setuju ajakan dari Darel itu?" tanya Andre.


"Kalau aku boleh jujur. Aku juga ingin kesana. Aku sama seperti Darel yang menyimpan banyak kerinduan terhadap kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano dan kak Farrel. Tapi...."


"Tapi kenapa, nak?" tanya Salma.


"Aku kepikiran kalian!"


"Kami!" seru semua anggota keluarga Wilson.


"Iya. Sekali pun aku setuju akan keinginan Darel untuk pergi ke Amerika. Keinginan Darel itu pasti akan gagal karena kalian tidak akan pernah mengizinkan Darel pergi ke Amerika."


"Apa kamu mengatakan hal itu kepada Darel?" tanya Evita.


"Iya. Ketika aku menyebut kalian seketika ekspresi wajah Darel berubah sedih. Namun detik kemudian Darel memberikan ide yang ntah dari mana datangnya."


"Apa?" tanya para kakak-kakak kandung Darel.


"Darel mengajakku ke Amerika secara diam-diam tanpa sepengetahuan kalian."


Deg..


Arvind, Adelina dan semua putra-putranya terkejut. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua tak menyangka jika Darel memiliki ide seperti itu.


"Mendengar ide dari Darel aku kepikiran hal buruk yang akan terjadi."


"Apa itu?" tanya Vano.


"Yang pasti kalian akan kembali mengekang Darel. Dan mencabut hak Darel pergi sendirian kemana pun. Dengan kata lain, kalian tidak akan memberikan kebebasan untuk Darel.


"Mendapatkan ancaman dari Darel yang mengatakan bahwa dia akan pergi sendirian. Pada akhirnya aku pun mengiyakan keinginannya itu."


Mendengar penuturan sekaligus penjelasan dari Kenzo tentang Darel yang begitu niat untuk pergi ke Amerika membuat hati Fathir dan Adelina sakit dan juga sesak.


Kenzo menatap secara bergantian kearah kedua orang tua dan ke 12 kakak kandung Darel, terutama enam kakak Darel yang tertua.


"Paman, Bibi, Kakak! Apa kalian tidak kasihan dengan Darel? Apa kalian tega melihat wajah memohon Darel ketika menginginkan sesuatu dari kalian. Aku mohon sama kalian. Jangan terlalu menahan apa yang ingin Darel lakukan. Biarkan Darel melepaskan semua keinginannya selama ini. Aku tahu kalian memiliki rasa takut dan juga rasa trauma akan kehilangan Darel. Tapi tidak seperti ini. Itu sama saja kalian secara tidak langsung menyakiti Darel."


Kenzo berbicara dengan berlinang air mata dengan tatapan matanya menatap satu persatu anggota keluarga Darel.


"Apa yang dikatakan Kenzo benar. Aku juga mohon sama Paman dan Bibi. Terutama kepada kak Davian, kak Nevan, kak Ghali, kak Elvan, kak Andre, kak Arga! Jangan terlalu melarang apapun keinginan Darel. Selama Darel bahagia. Apa salahnya kita memberikan hal itu kepadanya. Darel juga tidak minta yang berat-berat. Yang Darel inginkan dari kalian adalah kepercayaan dan doa."


"Darel pernah bilang padaku dan Kenzo bahwa dia tidak mempermasalahkan ketiga kakak tertuanya mengutus beberapa anggotanya untuk mengawasinya selama diluar rumah. Justru Darel bahagia akan hal itu. Yang membuat Darel kecewa adalah setiap keinginannya tidak pernah mendapatkan izin dari anggota keluarganya, terutama dari keenam kakak tertuanya."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Kenzo dan Gavin membuat hati Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga sakit dan sesak.


"Kak Davian," panggil Kenzo.


"Iya, Kenzo!"


"Kalau Darel sadar dari komanya. Lalu misalnya Darel ingat akan keinginannya itu. Apa kak Davian tetap tidak memberikan izin Darel?"


Baik Kenzo maupun Davian saling memberikan tatapan. Jika Davian memberikan tatapan memohon dan berharap. Sedangkan Davian memberikan tatapan kasihan dan juga iba


Ketika Davian ingin membuka mulutnya hendak memberikan jawaban kepada Kenzo. Semua yang ada di dalam ruang rawat Darel terkejut ketika mendengar suara pintu dibuka oleh seseorang.


Setelah pintu terbuka, masuklah sekitar lima pemuda tampan ke dalam ruang rawat Darel.


Deg..


Semua yang ada di dalam ruang rawat Darel seketika terkejut ketika melihat lima pemuda tampan yang sudah berdiri tak jauh dari mereka semua.

__ADS_1


Tes..


Seketika air mata Kenzo dan Gavin jatuh membasahi wajahnya ketika melihat lima pemuda yang begitu mereka rindukan. Begitu juga dengan Samuel, Razig, Juan, Zelig dan Lucas.


__ADS_2