Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Rem Motor Tak Berfungsi


__ADS_3

Darel diantar oleh kakak keempatnya yaitu Elvan Wilson karena memang itu adalah keinginan Darel. Alasan Darel minta diantar adalah dia merindukan momen-momen dimana ketika kakak-kakaknya secara bergantian antar jemput dia sekolah.


Darel turun dari mobil sang kakak hendak segera memasuki kampusnya, namun seketika Elvan menahan tangan adiknya itu.


"Iya, kak. Kenapa?"


"Kakak sayang kamu. Selamanya! Jangan pernah pergi ninggalin kakak. Apapun yang terjadi."


Darel tersenyum ketika mendengar ucapan tulus dari kakak laki-lakinya itu.


"Aku nggak akan pergi kemana-mana."


"Janji."


"Aku janji.


Elvan tersenyum lalu tangannya mengusap-usap lembut pipi putih adiknya itu.


"Kakak juga jangan pernah ninggalin aku, sekali pun nanti kakak sudah punya kekasih."


"Kakak janji. Kakak tidak akan pernah ninggalin kamu, kakak nggak akan melupakan tugas kakak sebagai kakak untuk kamu sekali pun nanti kakak sudah punya istri dan anak. Kamu akan selamanya akan menjadi tanggung jawab kakak."


"Janji."


"Kakak janji."


"Eh."


"Kenapa?"


"Itukan kata-katanya kakak."


"Memangnya kenapa?"


"Ya, nggak bolehlah! Itu namanya pelanggaran hak bicara."


"Hak cipta kali." Darel mempoutkan bibirnya.


"Kan saat ini kita lagi ngobrol. Bukan menciptakan sesuatu," goda Elvan.


"Terserah kakak aja deh."


"Hahahaha."


"Ya, sudah. Masuklah! Tuh, para kacung-kacung kamu sudah berdiri seperti bodyguard nungguin kamu," ledek Elvan sembari melihat para sahabatnya Darel telah berdiri di depan gerbang kampus.


"Aish! Ngapain sih mereka. Kurang kerjaan," ucap Darel kesal.


Seketika Elvan tersenyum ketika mendengar ucapan dan wajah kesal adiknya itu.


"Kak, aku masuk ya!"


"Iya. Semangat ngampusnya!"


"Kakak juga. Semangat kerjanya."

__ADS_1


"Siap."


Setelah itu, Darel pun keluar dari dalam mobil Elvan lalu melangkah memasuki gerbang kampusnya.


Melihat adik kesayangannya telah menghilangkan masuk ke dalam kampus, Elvan pun pergi meninggalkan kampus adiknya itu.


^^^


"Tumben diantar?" tanya Brian.


"Lagi pengen aja," jawab Darel.


"Tuh tangan lo kenapa?" tanya Kenzo yang sejak tadi memperhatikan pergelangan tangan kiri Darel diperban.


Mendengar pertanyaan dari Kenzo membuat semuanya melihat kearah pergelangan kiri Darel.


Darel melirik sekilas kearah tangannya lalu menatap wajah sahabat-sahabatnya.


"Gue jatuh kemarin pas pulang dari kampus."


"Kok bisa?" tanya kompak semua sahabat-sahabatnya.


"Aku bawa motornya dalam kecepatan tinggi. Aku benar-benar lelah saat itu. Ditambah lagi aku memikirkan sesuatu. Ketika aku sedang fokus, aku melihat ada seorang anak kecil yang melintas di depan. Aku berulang kali membunyikan klakson bahkan berteriak. Anak kecil itu nggak dengar. Justru dia malah berdiri mematung di tengah jalan."


"Terus apa yang terjadi?" tanya Evano.


"Aku pun nginjak rem motorku. Tapi seketika aku terkejut karena rem motorku nggak berfungsi sama sekali."


Deg..


Baik Brian, Azri, Damian, Evano, dan Farrel maupun Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon seketika terkejut ketika Darel mengatakan bahwa rem motornya tidak berfungsi.


"Bahkan motor lo dalam keadaan baik-baik saja ketika lo datang ke kampus," sela Samuel.


"Nah, itu yang aku pikirkan ketika aku injak rem tersebut yang tidak berfungsi sama sekali."


"Lalu apa yang terjadi." tanya Devon.


"Terpaksa aku melukai diri aku sendiri dengan aku menabrakkan motorku ke tiang listrik. Motor mental dan aku terlempar."


Seketika mereka menangis ketika mendengar cerita dari Darel. Mereka tidak menyangka sahabatnya akan mengalami kecelakaan tersebut.


"Lo baik-baik saja kan?" tanya Gavin.


"Badan lo atau yang lainnya nggak ada yang luka parahkan?" tanya Kenzo menatap sedih sahabatnya itu.


Darel seketika tersenyum melihat wajah sedih dan mendengar pertanyaan dari Kenzo dan Gavin.


"Aku nggak apa-apa. Hanya lengan aja yang luka," jawab Darel.


"Lo yakin, Rel?" tanya Juan.


"Iya, Juan. Bahkan gue juga udah dibawa ke rumah sakit oleh keluarga gue untuk cek. Mereka takut kalau gue kenapa-kenapa. Dan hasilnya negatif. Gue baik-baik saja kecuali tangan gue ini."


Mendengar jawaban sekaligus penjelasan dari Darel membuat mereka tersenyum lega.

__ADS_1


"Oh iya, Rel! Tadi lo bilang kalau rem motor lo nggak berfungsi?" tanya Razig.


"Iya," jawab Darel.


"Dan lo bilang rem nya nggak berfungsi ketika lo meninggalkan kampus?" tanya Lucas.


"Iya," jawab Darel lagi.


"Atau jangan-jangan ada yang sengaja merusak rem motor lo lagi," sahut Charlie


"Gue juga sependapat dengan Charlie," sela Zelig.


Mendengar perkataan dari Charlie membuat Brian dan semua sahabat-sahabatnya memikirkan siapa yang tega merusak rem motornya Darel.


Sementara Darel tengah memikirkan dua hal saat ini. Si penelpon misterius dan orang yang sudah merusak rem motornya.


"Rel," panggil Damian.


Darel langsung melihat kearah Damian. "Iya, kak!"


"Apa kau mencurigai seseorang?" tanya Damian.


"Kalau soal curiga... Eemm... Nggak ada. Tapi ini ntah benar atau nggak. Aku tiba-tiba kepikiran tentang Yagar dan keempat teman-temannya. Masalahnya terakhir aku bertengkar dengan mereka di kantin sehingga membuat mata Yagar kesakitan akibat aku siram dengan kuah sop ku yang merah. Dan berakhir ibunya datang lalu memukulku."


Mendengar perkataan dari Darel. Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon berpikir jika ini ada hubungannya dengan Yagar dan keempat teman-temannya dengan rem motornya Darel yang tidak berfungsi.


"Aku rasa mereka yang sudah merusak rem motornya Darel," sahut Lucas.


"Kita jangan mengambil kesimpulan dulu. Kita cari tahu dulu kebenarannya. Takutnya nanti akan jadi bumerang untuk kita semua jika kita salah menuduh orang," pungkas Azri.


Mendengar perkataan dari Azri, mereka semua langsung mengangguk. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Azri.


"Oh iya! Kak Brian, Kaka Damian. Bagaimana kerja sama perusahaan Paman Rainart dan Paman Lucio?" tanya Darel.


Mendengar pertanyaan dari Darel. Seketika Brian dan Damian tersenyum.


"Semuanya berjalan sesuai dengan rencana ayah kami, Rel!" seru Brian dan Damian bersamaan.


"Jadi benar jika salah satu rekan kerja Paman Rainart dan Paman Lucio memberikan berkas palsu?"


"Iya, Rel!" Brian dan Damian kembali menjawab secara bersamaan.


"Lalu?" tanya Darel penasaran.


Brian dan Damian tersenyum geli ketika melihat wajah penasaran Darel. Begitu juga dengan Azri, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon.


"Menurut kamu. Apa yang akan kamu lakukan terhadap orang-orang yang sudah bermain curang?" tanya Damian dengan menatap wajah Darel. Begitu juga dengan Damian dan yang lainnya.


"Eeemm... Kalau aku ada diposisi Paman Rainart dan Paman Lucio. Aku akan membalas kelicikan mereka dengan kelicikan yang sama," jawab Darel.


"Itulah yang dilakukan oleh Papa!" seru Brian dan Damian bersamaan.


"Benarkah?"


"Hm."

__ADS_1


"Aku senang mendengarnya. Semoga mereka hancur setelah ini."


"Hm."


__ADS_2