Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Telepon Dari Lian


__ADS_3

KEDIAMAN UTAMA WILSON


Darel berada di dalam kamarnya. Sejak Darel pulang pukul 6 sore, Darel langsung pergi menuju kamarnya. Bahkan Darel mengabaikan panggilan dari anggota keluarganya.


Darel kini duduk di sofa yang ada di kamarnya. Pikiran melayang jauh. Darel saat ini tengah memikirkan ucapan demi ucapan dari musuh SMA nya.


Flashback On


"Alasanku menculik kalian adalah karena kalian sudah berani mencelakai ketujuh sahabat-sahabatku sehingga membuat kelima sahabatku meninggal dan duanya menghilang!" teriak Darel dengan suara kerasnya dan jangan lupa air matanya mengalir membasahi wajahnya.


DEG..


Rafif, Agra, Reymon dan Ronald terkejut atas apa yang dikatakan oleh Darel.


"Apa? Sahabat-sahabatnya Darel meninggal dan duanya hilang?" batin Rafif, Agra, Reymon dan Ronald bersamaan.


"Kau jangan bercanda, Darel!" bentak Reymon.


"Kami........." perkataan Rafif terhenti seketika.


Darel langsung mengeluarkan sebuah kalung yang memang disimpan oleh Darel di Markas nya.


Melihat kalung tersebut membuat Rafif, Agra, Reymon dan Ronald membulatkan matanya.


"Kalian pasti kenalkan dengan kalung ini kan?" tanya Darel.


"Lian Jevera!" Rafif, Agra, Reymon dan Ronald bersamaan.


Darel tersenyum penuh kemenangan saat keempatnya mengetahui pemilik dari kalung tersebut.


"Kalian pasti bingung kenapa kalung milik Lian ini ada padaku?" tanya Darel.


"Iya. Bagaimana bisa kalung itu bisa berada di tanganmu!" tanya Agra.


"Yang kami tahu selama kami berteman dengan Lian, kalung itu selalu menempel dilehernya!" ucap Ronald.


"Kalung ini aku temukan ditangan kak Azri, lebih tepatnya Dokter yang menangani kelima sahabatku saat kecelakaan tersebut yang menemukan kalung itu ditangan kak Azei. Sebelum kecelakaan tersebut terjadi, kemungkinan besar ketujuh sahabat-sahabatku bertemu dengan kalian!" teriak Darel.


"Tidak!" jawab Rafif, Agra, Reymon dan Ronald bersamaan.


"Kami tidak bertemu dengan sahabat-sahabatmu itu, Darel!" seru Reymon.


"Iya, Rel! Kami tidak pernah bertemu dengan mereka," tutur Agra.


"Kami berani bersumpah, Darel! Kami tidak pernah bertemu dengan sahabat-sahabatmu itu," ucap Ronald.


"Kami baru satu minggu berada di Jerman ini. Aku kembali ke Jerman tanggal 18 September 2019," sahut Rafif.


"Kalau aku tanggal 20," ucap Agra.

__ADS_1


"Dan kebetulan aku dan RonaldĀ  sama-sama tiba di bandara tanggal 22 dengan pesawat yang beda," kata Reymon.


Ronald menganggukkan kepalanya. "Itu benar, Rel!Jadi kami tidak terlibat dalam kecelakaan yang menimpa ketujuh sahabat-sahabatmu."


Flashback Off


"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus percaya dengan perkataan mereka kalau mereka tidak terlibat atas kematian kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano dan kak Farrel. Serta hilangnya Kenzo dan Gavin," ucap Darel lirih.


"Bagaimana dengan Zayan? Apa Zayan sudah berhasil menemukan Kenzo dan Gavin?" tanya Darel pada dirinya sendiri.


^^^


Di ruang tengah telah berkumpul seluruh anggota keluarga Wilson, termasuk Rayyan dan keempat adiknya. Begitu juga dengan Pingkan dan Mirza.


"Pa, Ma. Apa kita akan membiarkan Darel di kamar terus? Aku tidak mau Darel jatuh sakit lagi karena terlalu banyak yang dipikirkannya. Ditambah lagi Darel tidak ikut makan malam bersama kita," ucap Raffa.


"Pa, Ma. Kita tidak bisa membiarkan Darel mengurung dirinya di kamar tanpa pengawasan kita. Bahkan Darel mengunci pintu kamarnya. Kita harus ajak Darel bicara. Jangan sampai Darel kayak kemarin dimana saat-saat Darel kehilangan sahabat-sahabatnya," pungkas Evan


Pingkan dan Mirza mendengar percakapan anggota keluarga Wilson menjadi bingung. Mereka berdua tidak mengetahui perihal Darel yang sebenarnya.


"Maaf, kak Adelina. Kalau boleh aku tahu. Apa yang terjadi pada Darel? Kenapa Evan dan Raffa berbicara seperti itu tentang Darel?"


Mereka semua melihat kearah Pingkan. Mereka baru menyadari jika Pingkan dan Mirza berada ditengah-tengah mereka semua.


"Begini, Pingkan. Putra bungsuku itu beda dengan putra-putraku yang lainnya. Putra bungsuku itu terlahir dengan kondisi lemah, salah satunya adalah kesehatannya. Putra bungsuku itu gampang sekali jatuh sakit. Dia memiliki satu kelemahan, yaitu tidak bisa dibentak dan dikerasi. Jika hal itu terjadi, maka dia akan langsung down. Setiap ada masalah yang menimpanya, putraku akan memikirkannya terus sehingga membuatnya tertekan dan berakhir dirinya ambruk." Adelina berucap sembari menjelaskan tentang kondisi putra bungsunya kepada Pingkan.


Pingkan dan Mirza yang mendengar penjelasan dari Adelina menjadi sedih.


DEG..


Pingkan dan Mirza terkejut saat mendengar penuturan dari Alvaro. Pingkan menatap wajah Adelina. Adelina yang mengerti langsung mengangguk.


"Apa yang terjadi, kak Adelina?"


"Mathew," lirih Adelina.


"Mat-mathew. Jadi Mathew yang........." Perkataan Pingkan terpotong.


"Iya, Pingkan. Mathew menebak putraku saat semuanya lengah," sahut Adelina.


"Sekarang Bibi sudah tahu kondisi Darel, adikku! Jadi aku mohon pada Bibi dan kau juga Mirza. Tolong rahasiakan masalah ini dari Darel. Darel belum mengetahui masalah ginjalnya yang tinggal satu. Jika Darel tahu, pasti Darel akan semakin tertekan dengan kondisinya." Nevan berbicara sembari memikirkan kesehatan adik bungsunya.


"Alasan kami menyembunyikan hal ini dari Darel agar kami bisa terus melihat senyuman manisnya, keceriaan dan kejahilannya. Jadi dengan begini, Darel tidak terlalu terbebani dengan kesehatannya!" ucap Ghali.


"Kalian tidak perlu khawatir. Bibi tidak akan mengatakan apapun pada Darel. Bagaimana pun Darel keponakan Bibi juga. Dan Bibi juga menyayangi Darel seperti kalian menyayangi Darel," sahut Pingkan.


"Ya, kak. Aku tidak akan mengatakan apapun pada kakak Darel. Aku juga sangat menyayangi kakak Darel. Saat pertama kali aku bertemu dengan kakak Darel, hatiku nyaman sekali. Saat pertemuan itu, aku sudah menganggap kakak Darel sebagai kakakku sendiri." Mirza berucap dengan tulus.


Mereka semua tersenyum bahagia saat mendengar ucapan dari Mirza.

__ADS_1


"Boleh saja kau menyayangi Darel, kakakmu itu. Tapi jangan coba-coba kau merebut perhatiannya dariku. Aku adalah kakak kesayangan dari Darel, kakakmu itu. Sudah cukup satu orang yang bersaing denganku untuk merebut status kakak kesayangan dari Darel, kakakmu. Kau jangan ikut-ikutan untuk membuat status baru untuk menjadi adik kesayangan dari Darel, kakakmu." Raffa berbicara sembari menyindir Dylan.


Mereka yang mendengar ucapan dari Raffa hanya tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala. Mirza juga ikut tersenyum mendengar ucapan dari kakaknya itu. Tapi tidak dengan Dylan.


Dylan mendengus kesal atas perkataan Raffa. Dirinya tidak terima disebut sebagai pesaing oleh Raffa. Dylan kemudian menatap horor Raffa.


"Siapa juga yang mau bersaing dengan orang aneh sepertimu, hah?!"


"Siapa yang kau bilang aneh, hah?!" Raffa balik menatap horor Dylan.


Sementara anggota keluarganya menepuk jidat masing-masing saat melihat keduanya kembali berdebat.


"Mulai lagi," ucap pelan para kakak-kakaknya dan para saudara-saudara sepupunya.


^^^


Darel yang berada di kamarnya terus memikirkan masalahnya. Banyak hal yang mungkin pikirkan.


Ketika Darel masih berperang dengan pikirannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Darel mengambil ponselnya, lalu melihat nomor yang tidak dikenal tertera dilayar ponselnya.


Darel mengerutkan keningnya saat melihat nomor yang tidak dikenalnya tanpa ada niat untuk menjawabnya sehingga panggilan itu terputus.


Namun si penelpon itu tak berhenti sampai disitu saja. Ponsel Darel kembali berbunyi dengan nomor yang sama. Akhir mau tidak mau, Darel pun menjawab panggilan tersebut.


"Hallo."


"Hallo, Darel Wilson. Apa kabar, hum? Lama tidak bertemu."


"Siapa kau?!"


"Hahaha. Apa kau benar-benar telah melupakanku, Darel?"


Seketika Darel teringat akan suara orang yang menghubunginya itu. Hal itu sukses membuat Darel marah.


"Lian Jevera!"


"Hahahah. Akhirnya kau mengingatku."


"Mau apa kau menghubungiku, bajingan?!" bentak Darel.


"Santai, Bung! Jangan-jangan marah-marah. Aku menghubungimu hanya ingin mengetahui kabarmu saat ini. Bagaimana kabarmu dan ketujuh sahabat-sahabat yang super bodoh itu, hum?"


"Jaga ucapanmu, Lian! Jangan beraninya kau menghina mereka."


"Oooppss, sorry! Salahkan mulutku ini yang tidak dijaga. Oh, iya! Aku lupa. Bukankah kau sudah tidak memiliki sahabat lagi. Bukankah mereka itu sudah........"


"Lian Jevera!" teriak Darel. "Kau dengarkan aku baik-baik. Kau tidak akan bisa selamanya bersembunyi dariku. Kemana pun kau pergi, kemana pun kau bersembunyi. Aku pasti bisa menemukanmu. Aku pastikan kau akan mati di tanganku. Kau akan merasakan apa yang aku rasakan. Kehilangan! Kau akan merasakan hal itu. Tunggu saja!"


Setelah mengatakan hal itu, Darel langsung mematikan teleponnya. Lalu.......

__ADS_1


PRAANNGGG..


__ADS_2