Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Rasa Bersalah Davian Dan Adik-Adiknya


__ADS_3

Darel saat ini bersama dengan semua sahabat-sahabatnya. Baik sahabat-sahabat lamanya maupun sahabat-sahabat barunya. Semuanya hadir hanya demi dirinya. Kini kamar Darel penuh dengan pemuda-pemuda manis dan tampan.


"Aku bahagia bisa berkumpul lagi dengan kalian!" seru Darel.


Mendengar seruan Darel. Semuanya menatap kearah Darel yang mana saat ini terlihat binar kebahagiaan di raut wajah dan tatapan mata Darel.


Melihat kebahagiaan di raut dan di tatapan mata Darel membuat mereka juga ikut merasakan kebahagiaan yang sama terutama Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo dan Gavin.


Ketujuh pemuda tampan itu juga merasakan kebahagiaan karena Tuhan telah mempertemukan mereka kembali. Bahkan Tuhan menambahkan tujuh pemuda tampan lain di tengah-tengah mereka.


Tujuh pemuda tampan itu adalah Samuel, Razig, Juan, Zelig dan Lucas yang tak lain adik sepupunya Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel. Serta Charlie dan Devon yang tak lain adalah sepupu Kenzo dan Gavin.


"Kamu juga bahagia, Rel!" seru Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel bersamaan.


"Apalagi kami berdua!" seru Kenzo dan Gavin.


"Kami juga. Kamu bahagia bisa menjadi sahabat anak kelinci yang imut satu ini," pungkas Lucas.


Bugh..


"Aish!"


Darel langsung melempari wajah Lucas dengan menggunakan bantal sofa sehingga mengenai wajah Lucas.


"Hitam sialan," umpat Darel.


"Hahahaha." mereka semua tertawa keras ketika mendengar ucapan manis dari Darel untuk Lucas.


"Rasain lo. Makanya jangan nyari masalah mulu hidup lo," eje Gavin.


"Nyamber aja tuh mulut," ucap Lucas kesal.


"Yah! Marah dianya," ledek Gavin.


"Rel," panggil Azri.


"Ya, kak Azri. Ada apa?"


"Kenzo dan Gavin sudah cerita kepada kakak dan kita semua bahwa kamu sudah mendapatkan izin untuk pergi kemana-mana sendirian tanpa diantar atau dijemput lagi. Apa itu benar?" ucap dan tanya Azri.


Brian, Damian, Evano, Farrel menatap wajah Darel. Mereka ingin jawaban langsung dari Darel, walau mereka sudah mengetahuinya dari Kenzo dan Gavin.


Mendengar pertanyaan dari Azri seketika Darel tersenyum manis. Tatapan matanya menatap lekat manik hitam Azri dan beralih menatap manik hitam dan coklat Brian, Damian, Evano dan Farrel. Dapat Darel lihat bahwa terlihat keinginan tahuan jawaban dirinya.

__ADS_1


"Menurut kakak Azri bagaimana setelah melihat senyumanku?"


Bukannya langsung memberikan jawaban. Justru Darel memberikan pertanyaan sehingga membuat kelima sahabatnya itu berdecak kesal.


"Kebiasaan," ucap kesal Farrel.


"Nggak pernah berubah," ucap Damian menatap dengan tatapan kesalnya. Apalagi ketika melihat senyuman Darel. Senyuman tak bersalah.


"Ditanya bukannya dijawab. Ini malah balik memberikan pertanyaan," ujar Evano.


Sementara Brian dan Azri hanya bisa menghela nafas pasrahnya. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Kan memang seperti itu perangai dari sahabat kakak Evano itu," ledek Zelig dengan menatap wajah Darel.


"Kalau tidak seperti itu perangai dari sahabat kakak Farrel. Bukan Darel namanya. Dunia akan berduka." Lucas juga ikut meledak Darel.


"Hanya si kelinci buluk ini yang bisa seperti itu kepada kakak Damian. Bahkan kak Damian dibuat nggak berkutik. Coba sama aku. Langsung berkoar-koar tuh mulut mengeluarkan seribu makian untukku," ucap Razig yang ikut meledek Darel namun tanpa sadar membuka aib kakak sepupunya.


Bugh..


Damian langsung melempari wajah Razig dengan menggunakan bantal sofa. Dan lemparan tersebut tepat sasaran sehingga membuat Razig merenggut kesal.


"Hahahahaha."


Sementara yang lainnya langsung menatap kearah Darel yang tertawa puas ketika melihat Razig yang dibully oleh kakaknya.


Melihat tawa lepas dari Darel membuat mereka semua tersenyum hangat. Mereka bahagia melihat wajah bahagia Darel. Apalagi mendengar suara tawa Darel yang begitu lepas dan tanpa beban sama sekali.


Bagaimana dengan Razig? Sudah jelas Razig kesal akan ulah kakaknya itu. Seenaknya saja kakaknya itu melempari wajahnya dengan bantal sofa.


Tapi Razig tidak kesal atau pun marah akan sikap kakak sepupunya itu. Justru sebaliknya, dirinya bahagia kalau kakak sepupunya itu begitu menyayangi dirinya dengan tulus. Walau sikapnya cuek, jarang terbuka dengan dirinya, jarang berkomunikasi dan jarang ngobrol. Kakak sepupunya itu tidak marah ketika dirinya meledek atau bergurau dengannya. Itulah yang membuat Razig bahagia memiliki kakak sepupu seperti Damian.


"Kakak bahagia akan hal itu Darel," sahut Brian.


Seketika tawa Darel berhenti. Darel langsung melihat kearah Brian yang juga melihat dirinya.


"Kakak senang kamu bisa membawa kendaraan sendiri dan tanpa antar jemput lagi," ucap Evano.


"Dan semua itu adalah hadiah terindah yang diberikan oleh Tuhan untukmu karena kamu anak yang baik, sopan, penyayang, penurut dan peduli terhadap orang-orang di sekitarmu," ucap Farrel


"Kamu berhak mendapatkan itu," sahut Azri.


"Selamat buat kamu Rel! Akhirnya apa yang kamu inginkan selama ini berhasil kamu dapatkan," ucap Damian.

__ADS_1


Mendengar ucapan demi ucapan dari kelima sahabatnya membuat Darel seketika tersenyum.


"Aku bahagia memiliki kalian. Jangan pernah bosan menjadi sahabatku. Dan jangan pernah membenciku hanya karena aku yang selalu mengejek kalian. Dan jangan pernah pergi dari kehidupan seorang Darel Wilson!" ucap Darel dengan menatap semua sahabat-sahabatnya.l dengan senyuman.


Mendengar perkataan tulus dari Darel serta melihat tatapan matanya yang mengisyaratkan permohonan membuat Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon tersenyum. Di dalam hati mereka bersumpah dan berjanji tidak akan pernah pergi kemana-mana.


"Kakak nggak akan pernah pergi kemana-mana, Rel!"


"Kakak nggak akan ninggalin kamu lagi. Begitu juga dengan Kenzo, Gavin dan yang lainnya."


"Kakak akan tetap selalu di samping kamu, di samping Kenzo dan Gavin. Serta yang lainnya."


"Kita selalu bersama-sama sampai kita memiliki kekasih. Bahkan menikah."


"Kakak akan selalu ada untuk kamu, untuk Kenzo dan untuk yang lainnya juga."


"Gue akan selalu bersama lo, Rel! Karena gue sayang sama lo, Rel!"


"Lo sahabat gue. Dan selamanya akan menjadi sahabat gue. Gue nggak akan pernah meninggalkan lo."


"Apapun yang terjadi. Kita akan selalu bersama-sama."


"Sahabat selamanya. Lo, Kenzo, Gavin dan semuanya."


"Apapun yang terjadi kita akan selalu bersama-sama. Salah satunya adalah jika ada masalah, maka kita akan menghadapi masalah tersebut secara bersama-sama."


Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon berucap di dalam hatinya masing-masing. Semua kata-kata tersebut adalah sumpah dan janji mereka untuk Darel dan untuk semua sahabat-sahabatnya.


"Tidak akan!" Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo dan Gavin secara bersamaan.


"Kami janji!" seru Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon bersamaan.


Seketika terukir senyuman manis di bibir Darel ketika mendengar jawaban dari semua sahabat-sahabatnya. Terlihat dari tatapan mata semua sahabat-sahabatnya. Tersirat ketulusan dan kesungguhan disana.


Tanpa diketahui oleh Darel dan semua sahabat-sahabatnya. Sejak setengah yang lalu semua kakak-kakakĀ  berdiri di depan pintu kamar Darel. Mereka semua mendengar obrolan-obrolan Darel bersama dengan sahabat-sahabatnya.


Mereka mendengar ucapan demi ucapan tulus dari Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel yang mengatakan bahwa Darel berhak mendapatkan itu. Apa yang didapatkan oleh Darel itu adalah hadiah terindah yang diberikan oleh Tuhan untuk Darel.


Mereka juga mendengar sumpah dan janji Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon tidak akan pergi kemana-mana. Mereka akan selalu ada untuk Darel.


Baik Davian maupun ke 12 adik-adik seketika menangis. Segitu besarnya cinta dan kasih sayang yang diberikan oleh Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon untuk adiknya. Mereka rela melakukan apapun untuk membuat adiknya bahagia.


Sementara mereka sebagai kakak untuk Darel dengan teganya membuat adiknya menangis. Bahkan mereka juga membuat adiknya harus memendam semua perasaan dan keinginannya selama ini.

__ADS_1


"Rel," lirih Davian dan ke 12 adik-adiknya.


__ADS_2