
[Kampus]
Darel saat sudah berada di kampus. Darel ke kampus menggunakan mobil mewah bermerek Toyota GR Supra warna Hitam.
Sesampainya Darel di kampus, semua sahabat-sahabatnya menyambut kedatangannya dengan tersenyum tulus padanya.
Lima sahabatnya yang telah kembali menatap dirinya dengan senyuman tak lepas dari bibir masing-masing ketika tatapan matanya menatap kearah Darel yang keluar dari dalam mobil mewah miliknya.
Mereka semua menangis bahagia ketika melihat bukti nyata bahwa sahabat kelincinya sudah benar-benar bebas. Bebas dalam artian tidak diantar dan juga tidak dijemput.
Setelah Darel memarkirkan mobilnya di parkiran, Darel dengan senyuman manis melangkahkan kakinya menghampiri semua sahabat-sahabatnya yang sedang menunggunya.
"Hebat!" puji Evano sembari mengacungkan dua jempolnya di hadapan Darel.
"Kakak benar-benar bahagia melihat kamu membawa mobil sendiri," ucap Azri.
"Senang melihatnya seorang Darel Wilson mendapatkan keinginannya," ucap Damian.
"Selamat atas hadiahnya. Ini adalah hasil dari buah kesabaran kamu selama ini," ucap Farrel.
"Selamat menikmati hasil kesabaran kamu, Darel Wilson!" ucap Brian.
Mendengar pujian dan ucapan selamat dari kelima sahabatnya membuat Darel tersenyum bahagia.
"Terima kasih, kak!"
"Sama-sama!"
Mereka semua tersenyum menatap wajah bahagia Darel. Terlihat jelas dari manik coklat Darel.
"Yuk, ke kelas!" ajak Juan.
"Eh, tunggu dulu!" seru Adam.
Mereka semua melihat kearah Adam yang terlihat bingung. Terlihat jelas di wajahnya.
"Ada apa, Rel?" tanya Devon.
"Itu... Itu... Aish! Kenapa susah sekali ngomongnya," ucap Darel kesal akan dirinya sendiri.
Mereka semua tersenyum ketika melihat wajah kesal Darel akan ulahnya sendiri karena bingung mau bicara apa.
"Kamu mau bilang kita ini kelasnya dimana? Begitu, hum?" tanya Brian yang langsung mengerti makna dari perkataan Darel dan wajah bingungnya.
"Hehehehe. Iya," jawab Darel disertai kekehannya.
"Kita mengambil jurusan yang sama. Dan kelas kita ada di sebelah kelas kamu," sahut Damian.
__ADS_1
"Jadi maksudnya kak Damian hanya ada dua kelas saja? Kelas anak-anak muda dan kelas para orang tua, begitukah?" tanya Darel sembari menjahili kelima sahabatnya itu.
Mendengar perkataan dari Darel yang mengatakan kelas para orang tua membuat mereka mendengus kesal.
"Siapa yang tua, hah?!" tanya Evano dengan memperlihatkan wajah sangarnya.
"Ya, kalian lah! Kan diantara kita, kalian yang paling tua. Sementara aku dan yang lainnya umurnya dibawa kalian," jawab Darel dengan santainya.
Mendengar jawaban yang seenaknya dari Darel membuat Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel menatap horor kearah Darel.
Sementara Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon tertawa keras ketika mendengar ucapan dari Darel.
"Hahahahaha."
Mendengar tawa keras dari adik-adik sepupunya dan sahabat-sahabatnya seketika Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel bersamaan menatap tajam mereka semua.
Mendapatkan tatapan tajam dari Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel seketika nyali mereka menciut sembari mengatub bibir masing-masing.
Darel yang melihat kesembilan sahabatnya menciut akibat tatapan tajam yang diberikan oleh lima sahabatnya yang lain berdecih.
"Yaelah! Cemen banget sih kalian. Baru ditatap seperti itu sudah ciut."
Mendengar perkataan dari Darel membuat kelimanya langsung memberikan tatapan tajam seperti mereka yang menatap kearah adik-adik sepupunya dan sahabat-sahabatnya beberapa detik yang lalu.
"Ya, aku tahu kalau aku ini tampan. Jadi jangan menatapku seperti itu. Tatapnya biasa saja," ucap Darel dengan tersenyum manis menatap wajah kelima sahabatnya itu.
Setelah mengatakan itu, Darel langsung pergi begitu saja tanpa memperdulikan wajah melongo dan wajah super kesal kelima sahabatnya itu akan perkataannya.
"Belajar dari mana tuh anak? Kok bisa berbicara seperti itu. Bangga lagi ketika mengatakan itu," ucap Brian.
"Nggak pernah berubah. Makin kesini cara ngomongnya nggak pake disaring lagi. Asal nyerocos tuh mulut," ucap Azri.
"Nggak nyangka gue. Satu tahun pergi meninggalkan dia. Perubahan anak kelinci itu sungguh luar biasa. Terutama cara ngomongnya itu," sahut Damian.
"Salut gue. Dia beneran Darel kan?" ucap Farrel.
Mendengar ucapan demi ucapan dari kelima sahabatnya/kakak-kakak sepupunya membuat Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon tersenyum tertahan. Ingin tertawa, tapi takut dimakan hidup-hidup oleh kelimanya.
"Harap dimaklumi wahai para orang tua akan perubahan si anak kelinci itu," ucap Kenzo.
Setelah itu, Kenzo langsung berlari kencang menuju kelasnya. Dirinya tidak ingin diamuk sama kelima sahabatnya itu.
"Wajarlah jika si anak kelinci itu seperti itu. Otaknya berubah sengklek sejak kepergian kalian para orang tua. Hahahaha!" Gavin langsung berlari kencang setelah mengatakan itu di hadapan kelima sahabatnya.
Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel mendengus kesal akan perkataan kejam dari Kenzo dan Gavin. Mereka menatap tajam punggung Kenzo dan Gavin yang berlari menuju kelasnya.
Setelah itu, mereka melihat tujuh pemuda tampan yang masih berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Kalian ngapain masih disini?" tanya Brian.
"Apa kalian ingin mengatakan sesuatu, hah?!" tanya Azri.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon.
"Apa boleh?" tanya mereka bersamaan.
"Tidak!"
"Pergi!"
"Ach, baiklah!"
Seketika Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon langsung berlari kencang meninggalkan Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel menuju kelasnya.
Sementara kelimanya seketika mendengus kesal akan ulah sahabat-sahabatnya dan adik-adik sepupunya.
"Dasar!" seru mereka bersamaan.
Setelah itu, Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel meninggalkan halaman Kampus untuk pergi menuju kelasnya.
Tanpa diketahui oleh Darel dan semua sahabat-sahabatnya, kedua kakaknya yaitu Evan dan Raffa serta empat sepupunya yaitu Dylan, Melvin, Rendra dan Aldan tersenyum ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon yang ditujukan untuk Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel.
"Benar-benar ya mereka. Niat banget menjahili Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel!" ucap Melvin.
"Mereka mungkin sudah pada kompak kali untuk ngerjain kelima sahabatnya itu," pungkas Rendra.
"Mungkin juga. Buktinya ketika melihat Kenzo dan Gavin ketika mengatakan hal itu untuk kelima sahabatnya. Mereka berdua langsung lari terbirit-birit takut diamuk sama lima sahabatnya itu," celetuk Aldan.
"Ya, kau benar sekali Aldan," sela Dylan.
"Yang mulai duluan disini Darel, makanya kenapa Kenzo dan Gavin jadi ikut-ikutan!" seru Raffa.
"Dan malangnya ketika Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon ingin seperti ketiga sahabatnya itu. Namun sayangnya mereka kurang Gercep," ucap Evan.
"Hahahaha!"
Mereka semua tertawa ketika melihat tingkah lucu kesembilan sahabat dari adiknya itu.
"Iya. Kau benar, Van!" seru Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan bersamaan.
Evan dan Raffa begitu bahagia ketika melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah dan di tatapan mata adik manisnya itu. Mereka benar-benar bersyukur akan kembalinya Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel dalam kehidupan adiknya.
Sejak adiknya dipertemukan kembali dengan Kenzo dan Gavin, kebahagiaan adiknya berlahan-lahan kembali.
Kebahagiaan adiknya itu makin bertambah berkali lipat ketika kedatangan kelima sahabatnya yang telah lama berpisah pasca kecelakaan satu tahun yang lalu ke rumah sakit sehingga membuat adiknya sadar dari koma selama lima hari.
__ADS_1
"Tuhan, terima kasih sudah memberikan kebahagiaan untuk adikku. Aku mohon, Tuhan! Jangan rebut kebahagiaan adikku. Biarkan dia merasakan kebahagiaan seutuhnya di dunia ini," doa Daffa.
"Aku mengucapkan beribu terima kasih padamu, Tuhan! Kau telah memberikan keceriaan dan kebahagiaan untuk adikku yang paling aku sayangi. Biarkan seperti ini, selamanya! Jangan lagi kau memberikan kesedihan untuk adikku. Sudah cukup air mata terbuang selama ini." Evan berucap sembari berdoa kepada Tuhan untuk adik kesayangannya itu.