
Evan, Raffa dan ketiga sepupunya sudah berada di rumah. Ketika mereka sampai di rumah. Seluruh anggota keluarga yang kebetulan sudah berada di rumah menyerang mereka dengan banyak pertanyaan. Kenapa sudah pulang? Ini baru pukul berapa? Bolos ya? Adik kalian mana? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Kini mereka semua sudah duduk di sofa ruang tengah. Semuanya menatap Evan, Raffa, Rendra, Melvin dan Dylan.
Sementara Evan, Raffa, Rendra, Melvin dan Dylan hanya bisa pasrah.
"Evan, Raffa. Jelaskan pada Papa. Kenapa jam segini kalian sudah pulang?"
"Pa. Kalau mau marahnya nanti aja. Nggak ada waktu buat marah-marahnya," jawab Raffa.
"Papa tidak marah sayang. Papa hanya bertanya," sahut Arvind.
"Kenapa dengan wajah Evan dan Raffa?" batin Arvind dan Adelina.
"Kenapa wajahnya Evan dan Raffa sedih gitu? Kan Papa nanya nya baik-baik," batin Davian.
"Evan, Raffa. Ada apa, sayang? Kenapa dengan kalian? Papa beneran tidak marah sama kalian." Arvind berusaha meyakinkan kedua putranya itu.
"Darel sudah mengetahui masalah itu," ucap Raffa.
"Mengetahui apa sayang?" tanya Adelina.
"Darel sudah mengetahui masalah tentang kelima sahabat yang ternyata masih hidup," jawab Evan.
"Apa?!"
Arvind, Adelina dan seluruh anggota keluarga Wilson terkejut ketika mendengar penuturan dari Evan.
"Darel tahu kalau kelima sahabatnya masih hidup?" tanya Arvind.
"Iya, Pa! Bukan itu saja. Darel juga tahu jika kelima sahabatnya sedang koma di rumah sakit Amerika," ujar Raffa.
"Ya, Tuhan. Apa yang harus kita lakukan sekarang kak Arvind? Darel sudah mengetahuinya. Pasti saat ini hatinya benar-benar hancur dan kembali terluka. Dan kali ini ulah kita," ucap Evita.
"Selama dua bulan lebih kita membohongi Darel mengenai kelima sahabatnya," sahut Sandy.
"Saat Darel terpuruk atas kehilangan sahabat-sahabatnya. Darel berhasil melewati semuanya. Dan sekarang..." Salma menangis kala mengingat bagaimana hancurnya keponakan manisnya itu.
"Aku akan menghubungi Darel!" seru Davian.
"Percuma saja kakak menghubungi Darel. Berulang kali pun kalian menghubungi Darel. Darel tidak akan menjawabnya. Darel telah mematikan ponselnya," ucap Raffa.
"Darel pergi meninggalkan Kampus. Bahkan Darel tidak mengikuti kelasnya sama sekali. Setelah Darel marah-marah dan menuduh Juan, Razig, Lucas, Samuel dan Zelig sebagai pembohong. Darel pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya. Darel bilang kalau dia mau pulang." Evan menjelaskannya.
"Dan benar kata Gavin. Darel tidak benar-benar pulang ke rumah," sela Raffa.
"Sayang," lirih Adelina sembari menatap wajah suaminya.
Arvind memeluk tubuh istrinya. "Putra bungsu kita akan baik-baik saja. Percayalah!"
"Aku akan mengirimkan pesan kepada Arjuna untuk membantu mencari Darel," ucap Davian.
Davian pun langsung mencari kontak WhatsApp Arjuna. Setelah mendapatkannya, Davian langsung mengirimkan foto adik bungsunya dan meminta untuk mencarinya.
"Darel. Maafkan Papa, Nak!" Arvind benar-benar sedih ketika membayangkan wajah terluka putra bungsunya.
"Darel, sayang. Mama mohon pulanglah, Nak!"
__ADS_1
***
Darel berada di sebuah kamar hotel yang terkenal di Hamburg, Jerman. Dirinya memutuskan untuk menginap di hotel dan menenangkan dirinya di sana. Darel akan disana beberapa hari. Bahkan Darel menonaktifkan ponselnya agar tidak bisa dihubungi atau pun dilacak. Darel saat ini benar-benar tidak ingin diganggu oleh siapa pun bahkan keluarganya sekaligus.
Darel saat ini sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Pikiran tertuju ketika mendengar pembicaraan ayahnya Kenzo dengan ayahnya Azri.
"Hiks... Kenapa kalian membohongiku? Kenapa? Kalian selama ini mengajariku untuk jujur dan selalu terbuka. Tapi sekarang justru kalian lah yang tega melakukan hal itu kepadaku." Darel benar-benar kecewa kepada kedua orang tuanya dan kepada kakak-kakaknya.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Seluruh anggota keluarga kini berada di ruang tengah. Mereka saat ini tengah memikirkan kesayangan mereka yaitu Darel. Sampai detik ini kesayangan mereka belum kembali. Bahkan mereka semua secara bergantian menghubungi ponselnya.
Namun hasilnya tetap sama, ponselnya tidak aktif. Kesayangan mereka pergi sejak berangkat kuliah sekitar pukul setengah delapan dan sekarang sudah pukul delapan malam. Mereka semua benar-benar mengkhawatirkan kesayangannya itu.
"Darel. Kamu dimana sih?" batin Davian dan Nevan.
"Sayang. Kamu dimana, Nak?" Davian benar-benar mengkhawatirkan putra bungsunya itu.
Ketika mereka semua sedang memikirkan dan mengkhawatirkan kesayangannya, tiba-tiba ponsel milik Davian berbunyi.
Davian yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambilnya dan menjawabnya.
"Hallo, Davian. Aku sudah mendapatkan lokasi adik bungsumu saat ini."
Mendengar perkataan dari sahabatnya, Davian tersenyum bahagia. "Akhirnya kakak menemukanmu, Darel!" batin Davian.
"Benarkah Juna?"
"Benar Davian. Aku sudah tahu dimana adikmu sekarang. Tapi ingat Davian. Bukankah ini yang pertama kalinya adikmu pergi tanpa memberikan kabar apapun padamu dan juga anggota keluargamu?"
"Baiklah. Aku mengerti. Jika nanti kau atau yang lainnya bertemu dengannya. Ajaklah dia bicara baik-baik. Dengarkan apa yang ingin disampaikannya. Jika adikmu marah. Biarkan saja. Jangan dilarang."
"Aku mengerti Juna."
"Aku bukannya mau ikut campur urusanmu dalam menjaga adik-adikmu. Kau tahu sendirikan hubunganku dengan adikku saat dia masih hidup dulu. Aku harap kau tidak sepertiku Davian. Penyesalan akan selalu datang belakangan."
"Iya, Juna! Terima kasih kau selalu mengingatkanku. Aku bersyukur memiliki sahabat sepertimu."
"Apalagi aku. Aku beruntung memiliki sahabat sepertimu. Adikmu ada di Hotel Adlon Kempinski. Kamar nomor 15."
"Terima kasih Juna."
"Sama-sama."
Setelah selesai berbicara dengan Arjuna. Baik Arjuna maupun Davian sama-sama mematikan teleponnya.
"Davian. Bagaimana, Nak?"tanya Arvind.
"Darel ada di Hotel Adlon Kempinski. Kamar nomor 15," jawab Davian.
Mereka semua tersenyum bahagia ketika mendengar kabar keberadaan kesayangan mereka.
"Biar aku, Nevan dan Ghali saja yang menjemput Darel. Kalian di rumah saja," ucap Davian.
"Baiklah," jawab Arvind dan Adelina.
Setelah mengatakan hal itu. Davian, Nevan dan Ghali pun pergi ke Hotel tempat adiknya menginap.
__ADS_1
"Darel. Kakak harap kamu tidak kabur lagi. Maafkan kakak," batin Davian.
***
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam. Davian, Nevan dan Ghali akhirnya sampai di depan Hotel Adlon Kempinski.
Sesampainya di Hotel, mereka langsung memasuki area hotel tersebut. Ketika berada di dalam mereka disambut dengan ramah oleh para karyawan hotel.
"Ada yang bisa kami bantu, tuan?"
"Saya ingin ke kamar adik saya," jawab Davian.
"Kalau saya boleh tahu. Siapa nama adik tuan itu?"
"Darel Wilson," jawab Davian.
"Tunggu sebentar tuan saya cek dulu."
Beberapa detik kemudian, wanita itu kembali menatap kearah Davian.
"Tuan Darel nya berada di kamar nomor 15, Pak!"
" Terima kasih," jawab Davian.
"Mari tua," ucap salah satu karyawan Hotel, lalu membawa Davian, Nevan dan Ghali untuk menuju kamar nomor 15.
"Ini tuan kamarnya."
Nevan kemudian memberikan tips kepada karyawan itu.
"Terima kasih, tuan!"
Davian kemudian membuka pintu kamar Hotel itu secara pelan. Setelah pintu itu terbuka. Davian, Nevan dan Ghali melangkah masuk.
Setelah berada di dalam, Ghali yang paling belakangan tak lupa menutup kembali pintu itu.
Mereka tersenyum lega kala melihat adik bungsunya dalam keadaan baik-baik saja dan tengah tertidur lelap sembari memeluk guling.
Mereka berlahan mendekati ranjang Darel dan duduk di sana. Tangan-tangan kekar mereka secara bergantian mengusap lembut rambut adiknya sayang. Dan tak lupa memberikan kecupan sayang di keningnya.
"Maafkan kakak, Rel!" lirih Nevan dan Ghali bersamaan.
"Sepertinya Darel habis nangis, kak!" ucap Nevan.
"Iya. Kau benar Nevan. Terlihat dari matanya yang sembab," sahut Davian.
"Kita yang sudah membuatnya menangis, kak!" Ghali membelai lembut rambut adiknya.
"Terus bagaimana, kak? Apa kita pulang malam ini atau besok pagi saja?" tanya Nevan.
"Lebih baik besok pagi saja. Jika kita pulang malam ini. Kasihan Darel nya. Coba lihat. Darel begitu lelap tidurnya," sahut Ghali.
"Baiklah. Kita pulang besok pagi saja," putus Davian.
"Kalau begitu aku akan Papa dan Mama!" seru Nevan.
Nevan pun menghubungi kedua orang tuanya dan mengatakan bahwa mereka akan pulang besok pagi. Malam ini mereka akan menginap di Hotel menemani Darel.
__ADS_1