
KEDIAMAN KELUARGA UTAMA WILSON
Di pagi hari yang cerah dimana semua anggota keluarga telah bangun dan telah dalam keadaan rapi dan wangi. Saat ini mereka semua berada di meja makan.
"Oh, iya. Darel mana?" tanya Sandy saat tidak melihat keponakan manisnya di meja makan.
"Tuan muda Darel tadi saya lihat menuju kearah gudang," jawab seorang pelayan yang kebetulan tengah meletakkan sop diatas meja.
Mereka yang mendengar ucapan dari pelayan tersebut sontak terkejut lalu melihat kearah wajah pelayan itu.
"Gudang!" seru para kakak-kakaknya.
"Iya, tuan muda."
"Apa Bibi tidak salah lihat?" tanya Evan.
"Tidak, tuan muda Evan. Justru Bibi sempat bertanya pada tuan muda Darel."
"Apa yang Bibi tanyakan pada anak nakal itu?" tanya Davian.
"Bibi hanya nanya tuan muda Darel mau kemana? Lalu tuan muda Darel jawab mau ke gudang. Lalu Bibi tanya lagi. Mau ngapain? Tuan muda Darel jawab mau nyari sesuatu. Setelah itu tuan muda langsung pergi ninggalin Bibi."
Mereka yang mendengar penjelasan dari pelayan tersebut hanya geleng-geleng kepala.
"Ya, sudah. Bibi lanjutkan pekerjaannya," ucap Salma.
"Baik, Nyonya."
Setelah mengatakan hal itu, pelayan tersebut pun pergi meninggalkan meja makan.
"Aish. Memangnya sikelinci nakal itu mau mencari apa sih di gudang?" tanya Arga.
Saat mereka sedang memikirkan sikelinci kesayangannya, tiba-tiba Dylan melihat Darel yang baru muncul dari arah samping untuk menuju kamarnya di lantai dua. Sementara kedua tangannya bersembunyi di dalam bajunya.
"Hei, itu Darel!" seru Dylan sembari menunjuk kearah Darel.
Mereka semua kompak mengalihkan pandangannya melihat kearah tunjuk Dylan. Mereka melihat Darel yang berjalan menuju kamarnya dengan menyembunyikan sesuatu.
"Darel," panggil Arvind.
Disisi lain Darel yang berjalan menuju kamarnya di lantai dua terkejut saat namanya dipanggil. Darel diam mematung sembari menyembunyikan sesuatu di balik bajunya.
Darel membalikkan badannya lalu menatap wajah anggota keluarganya yang kini tengah menatapnya.
"Papa," sapa Darel.
"Kamu ngapain, sayang. Terus itu apa yang kamu sembunyikan?"
"Ach, aku! Aku nggak ngapa-ngapain kok, Pa! Maksud Papa apa? Aku nggak nyembunyiin apa-apa. Hehehe," jawab Darel gugup.
Mereka menatap Darel aneh dan curiga.
"Lalu ngapain kamu ke gudang kalau nggak ngapa-ngapain?" tanya Nevan.
"Dan kalau memang tidak ada apa-apa, ngapain tuh tangannya disembunyikan di dalam baju," sela Elvan.
DEG..
Darel terkejut dan kedua matanya membulat sempurna saat mendengar ucapan dari Nevan dan Elvan.
"Dari mana kak Nevan tahu kalau aku dari gudang? Nih lagi kak Elvan. Ngapain sih kepo banget," batin Darel.
__ADS_1
Melihat keterdiaman adiknya, mereka geleng-geleng kepala.
"Darel!" seru mereka semua.
"Ach, iya!"
Lagi-lagi Darel terkejut saat mendengar seruan dari semua kakak-kakaknya. Darel mempoutkan bibirnya kesal akan ulah para kakaknya itu.
Mereka yang melihat wajah kesal Darel tersenyum gemas.
"Kamu belum jawab pertanyaan kakak dan Elvan tadi!" seru Nevan.
"Yang mana?" tanya Darel
"Jangan pura-pura lupa, kelinci nakal!" ucap Davian dengan kejamnya.
"Aish!" Darel mendengus kesal akan ucapan dari kakak tertuanya itu.
"Apaan sih. Udah ah. Lebih baik aku ke kamar. Males lama-lama disini liatin wajah-wajah orang yang kepo seperti kalian," sahut Darel.
Darel pun langsung melangkah menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya. Sementara orang tuanya, Paman dan Bibinya dan para kakaknya hanya bisa menghela nafas dan geleng-geleng kepala melihat kelakuannya.
"Tapi Darel, kamu harus sarapan sayang!" teriak Adelina yang melihat putra bungsunya sudah berada di tengah-tengah anak tangga.
"Antar ke kamarku saja, Ma! Aku males makan dibawah. Kalau aku makan bersama yang lainnya, yang ada nanti aku dibully oleh mereka semua!" Darel balik berteriak.
"Hah!" Lagi-lagi mereka hanya menghela nafasnya mendengar jawaban dari Darel.
"Ya, sudah. Lebih baik kita sarapan," ujar William.
"Sepertinya kelinci nakal kita sedang merajuk," ucap Daksa.
"Hahaha." mereka semua tertawa lalu kembali dengan kegiatan awal yaitu sarapan.
Adelina menyiapkan sarapan pagi untuk putra bungsunya.
"Baik, Nyonya."
^^^
Setelah selesai sarapan pagi, mereka semua bersantai di ruang tengah.
Hari ini adalah libur. Jadi mereka memutuskan untuk berkumpul di rumah saja.
"Aku masih penasaran dengan kelakuan Darel tadi!" seru Andre.
"Apa lagi aku, kak. Aku benar-benar penasaran dengan Darel," sela Daffa.
"Sebenarnya Darel ngapain ke gudang. Dan apa yang sedang Darel cari?" tanya Vano.
"Pasti Darel sudah menemukan yang dicarinya. Kalau tidak, ngapain Darel harus menyembunyikan kedua tangannya di dalam bajunya," ucap Steven.
"Hm! Aku setuju dengan Steven. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan Darel dari kita," ujar Satya.
Mereka yang mendengar ucapan dari Steven dan Satya mengangguk setuju. Mereka juga curiga dengan Darel.
"Apa ini ada hubungannya dengan Bibi Pingkan, Ibunya Mirza? Setelah aku mengenal Darel. Sedikit banyaknya aku tahu sifatnya. Salah satunya adalah rasa keingintahuannya akan sesuatu," batin Dylan.
Farraz kebetulan duduk di samping adik bungsunya menyadari bahwa adiknya sedari tadi melamun. Lalu detik kemudian, Farraz menepuk pelan bahunya.
PUK..
__ADS_1
Sontak hal itu sukses membuat Dylan terkejut dan kemudian menatap horor pada Farraz.
"Aish, kakak Farraz. Kebiasaan sekali suka ngagetin adeknya sendiri," ucap Dylan kesal.
"Hehehe. Habisnya kakak perhatikan dari tadi kami melamun aja."
"Siapa yang melamun. Sok tahu. Aku itu sedang mikirin sesuatu," jawab Dylan.
Mereka yang mendengarnya tersenyum.
"Memangnya kamu mikirin apa sayang?" tanya William.
"Eeemmm.. aku sedang mikirin kenapa aku memiliki kakak-kakak resek dan kepo. Benar apa yang dikatakan Darel. Kalau kalian semua pada kepo urusan adik-adiknya," jawab Dylan.
Mendengar penuturan dari Dylan membuat para kakaknya mendengus kesal. Mereka menatap horor Dylan. Sementara Dylan sama sekali tidak takut.
"Kalian pikir aku bakal takut dengan kalian menatapku seperti itu. Ada kalanya aku benar-benar takut dan ada kalanya aku benar-benar tidak takut sama sekali. Dan untuk kali ini aku benar-benar tidak takut." Dylan berbicara dengan bangganya.
Setelah mengatakan hal itu, Dylan langsung beranjak dari duduknya. Lalu pergi meninggalkan anggota keluarganya. Dylan ingin menemui adik manisnya. Siapa lagi kalau bukan Darel.
Sementara para kakaknya, baik kakak kandungnya maupun kakak sepupunya membelalak mata mereka saat mendengar ucapan dari Dylan. Mereka semua benar-benar kesal. Bagaimana dengan para orang tua. Yang jelas mereka tertawa melihat kelakuan para putra-putra mereka.
***
RUMAH MEWAH MILIK
KELUARGA MADHAVI
Di sebuah ruangan terlihat seorang pria paruh baya tengah duduk santai di sofa sembari memegang sebuah gelas berisi wine.
"Akhirnya aku berhasil menguasai semua kekayaan wanita bodoh itu. Sekarang bagaimana keadaannya dan putranya itu," gumam pria itu.
Saat pria tersebut sedang memikirkan mantan istri dan anaknya, tiba-tiba terdengar seseorang membuka pintu ruang kerjanya.
CKLEK
Orang itu langsung melangkah masuk. Dirinya tidak peduli jika pria tersebut akan marah padanya.
"Ada apa, Soraya?" Tanya pria itu kepada seorang wanita yang baru masuk.
Ya. Wanita itu adalah Soraya, istri dari pria tersebut.
"Gawat sayang."
"Gawat kenapa? Kalau bicara itu yang jelas."
"Di depan ada pengacaranya keluarga Robert. Pengacara itu ingin bertemu dengan Pingkan dan Mirza."
Seketika pria itu berdiri dengan wajah terkejutnya.
Pria itu adalah Leonard mantan suami dari Pingkan.
"Apa? Yang benar?"
"Iya, sayang. Sekarang bagaimana?"
"Kau tenang saja. Jangan sampai pengacara itu tahu bahwa kau adalah istriku. Di depan pengacara itu kau ada adik perempuanku."
"Aku mengerti."
"Ya, sudah. Kita temui pengacara itu sekarang."
__ADS_1
Soraya mengangguk. Lalu mereka berdua pun keluar dari ruangan kerja untuk menuju ruang tamu.