Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Ancaman Darel


__ADS_3

Di hari minggu paginya semua anggota keluarga berada di ruang tengah kecuali Darel. Mereka semua berkumpul disana tengah membahas masalah Darel. Mereka tengah memikirkan kata-kata apa yang akan mereka berikan untuk meyakinkan Darel bahwa mereka semua terpaksa merahasiakan tentang kelima sahabatnya. Bahkan Davian dan adik-adiknya masih gagal untuk meyakinkan Darel. Darel sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasan apapun dari kakak-kakaknya.


Mereka semua hanya bisa menghembuskan nafas frustasinya akan sikap penolakan dari Darel. Mereka semua berusaha untuk membuat Darel mau mendengarkan alasan mereka menyembunyikan semua ini darinya tanpa menyakiti Darel. Dan mereka juga harus tahan emosi, tahan amarah ketika berhadapan dengan Darel jika mereka tidak ingin Darel melakukan hal yang lebih nekat lagi dari yang kemarin.


"Aku mau ke kamar. Aku ingin istirahat." Adelina beranjak dari duduknya.


"Tapi Mama belum sarapan. Kita sarapan dulu ya, Ma! Sebentar lagi pelayan selesai menyiapkan sarapan paginya," ucap Daffa.


"Bagaimana Mama akan sarapan dengan baik. Adik kalian masih mengurung diri di kamar. Dan adik kalian juga masih belum mau bicara dengan kita. Bahkan adik kalian sama sekali tidak menyentuh makanannya setiap kita membawakan makanan ke kamarnya. Mama akan makan jika Darel juga ikut makan."


Setelah mengatakan itu, Adelina pun dari ruang tengah untuk menuju kamarnya. Namun beberapa langkah, tiba-tiba saja Adelina jatuh tak sadarkan diri.


BRUUKK!


"Mama!"


"Adelina!"


"Kak Adelina."


"Bibi."


Mereka semua terkejut saat melihat Adelina yang tiba-tiba jatuh pingsan. Mereka semua khawatir.


"Sayang," lirih Arvind, lalu menggendong tubuh istrinya.


Kini Adelina sudah di kamarnya. Mereka menatap panik wajah sedikit pucat Adelina, terutama Arvind dan putra-putranya.


"Mama," lirih Davian dan adik-adiknya.


"Bibi akan ke bawah untuk mengambil sarapan untuk Mama kalian!" seru Salma.


Salma langsung pergi meninggalkan kamar Adelina dan Arvind untuk menuju dapur.


^^^


Ketika Salma melangkahkan kakinya menuju dapur. Matanya tak sengaja melihat keponakan manisnya tengah menuruni anak tangga.


Salma memperhatikan gerak gerik dari keponakan manisnya itu. Salma membelalakkan matanya. Salma menyadari bahwa keponakan manisnya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Berulang kali Salma melihat keponakan manisnya itu hampir mau tumbang.


Salma langsung berlari menghampiri keponakan itu. Dirinya benar-benar khawatir.


Setelah tiba di hadapan keponakannya, Salma langsung memapah tubuh keponakannya itu.


"Sayang. Kita kembali ke kamar ya. Wajah kamu pucat dan badan kamu panas. Kamu demam." Salma benar-benar khawatir akan keponakannya.


"Ma-mama... Hiks," isak Darel tiba-tiba.


Salma tersenyum kala mendengar Darel yang menyebut kakaknya. "Kamu anak yang baik sayang. Mulut kamu boleh mengatakan benci. Tapi hati kamu berkata lain. Kamu menolak untuk dipeluk. Tapi kamu menginginkan pelukan dan kecupan dari kedua orang tua kamu dan kakak-kakak kamu," batin Salma.


"Hiks... Mama... Hiks."


Salma langsung menuntun Darel untuk menuju kamar Adelina dan Arvind. Dirinya sudah tidak tahan mendengar isakan dari keponakan manisnya.


CKLEK!

__ADS_1


Pintu kamar Adelina dan Arvind di buka oleh Salma. Para penghuni yang ada di dalam langsung menolehkan kepalanya untuk melihat kearah pintu.


"Darel," ucap mereka bersamaan.


"Kenapa wajah Darel pucat sekali," batin Arvind dan putra-putranya.


Salma membawa tubuh Darel menuju ranjang Adelina. Seketika air mata Darel jatuh membasahi wajahnya saat melihat ibunya yang sedang terbaring di tempat tidur dengan wajah yang pucat.


Darel langsung duduk di samping ranjang ibunya. Tangannya menggenggam erat tangan ibunya. "Mama... Hiks," isak Darel.


Darel mengecup kening dan juga kedua pipi ibunya. "Mama, aku disini. Maafkan aku... Hiks."


Darel melihat kearah ayahnya hanya sekedar untuk mengetahui keadaan ibunya.


Arvind yang melihat putranya yang menatap langsung memberikan kecupan di keningnya. Seketika Arvind terkejut kala merasakan hawa panas di kening putranya. Arvind menyentuh kening putranya. Dan benar! Putranya sedang demam!


"Astaga, sayang! Badan kamu panas sekali. Kamu demam, Nak!" seru Arvind.


Mendengar perkataan Arvind, semua yang ada di dalam kamar itu juga ikut terkejut. Yang paling terkejut adalah Davian dan adik-adiknya. Mereka menatap wajah pucat Darel.


"Aku baik-baik. Kalian tidak perlu khawatir. Lagian aku tidak akan mati hanya karena demam. Bukankah aku sudah sering seperti ini. Aku adalah anak yang tidak berguna, penyakitan dan juga lemah."


Mereka semua dibuat terkejut akan perkataan Darel barusan. Mereka tidak menyangka jika Darel akan berbicara seperti itu.


"Darel, ka..." perkataan Andre terpotong karena Darel sudah terlebih dahulu bersuara.


"Apa yang terjadi dengan Mama. Kenapa Mama tidak bangun saat aku datang?"


Mendengar pertanyaan dari Darel. Arvind dan yang lainnya tersenyum hangat menatap wajah pucat putranya. Tangannya membelai rambut putra bungsunya itu, lalu mengecupnya.


Darel kembali menatap wajah ibunya. "Pasti gara-gara aku. Aku yang sudah membuat Mama jatuh sakit. Kenapa aku harus dilahirkan ke dunia ini jika aku selalu membuat orang-orang terdekatku bersedih?" ucap Darel dengan di serta air matanya.


"Mama, maafkan aku. Maafkan aku yang selalu menjadi beban untukmu. Jika saat itu aku mati. Mama tidak akan bersedih lagi." Darel berbicara tanpa memikirkan apapun. Pikiran dan hati benar-benar buruk saat ini.


DEG!


Mereka semua benar-benar terkejut ketika mendengar penuturan dari Darel. Hati mereka semua sesak ketika Darel mengatakan soal kematian.


"Sayang," lirih Arvind.


"Darel," lirih para kakak-kakaknya.


"Darek," lirih para kakak-kakak sepupunya, paman dan bibinya.


Arvind menangis ketika mendengar perkataan dari putra bungsunya. Hatinya benar-benar hancur mendengar perkataan dan melihat wajah tak bersemangat putranya.


GREP!


Arvind langsung memeluk erat tubuh rapuh putra bungsunya. Seketika terdengar isakan pilu Arvind.


"Hiks... Tidak sayang. Ini bukan salah kamu. Jangan bicara seperti itu, Nak! Papa mohon. Hiks... Kamu adalah putra Papa dan Mama. Apapun akan kami lakukan untuk selalu membuatmu bahagia... Hiks," isak Arvind sembari mengeratkan pelukannya.


"Maafkan Papa, sayang! Maafkan Papa yang sudah menyembunyikan masalah kelima sahabat-sahabatmu darimu. Papa melakukan hal itu karena Papa tidak ingin kamu ikut mereka ke Amerika. Saat itu kondisi kelima sahabatmu itu benar-benar buruk. Dan harus di bawa ke rumah sakit Amerika agar mendapatkan perawatan yang memadai. Dan setelah sampai di sana dan setelah selesai melakukan operasi. Mereka dinyatakan koma. Jika Papa dan yang lainnya memberitahu kamu. Pasti kamu akan histeris dan meminta untuk pergi kesana. Dan berujung nanti kamu akan sedih dan down."


Darel yang mendengar penjelasan dari ayahnya hanya bisa diam dan menangis. Dugaannya memang benar jika keluarganya menyembunyikan hal itu hanya untuk kesehatannya.

__ADS_1


Darel melepaskan pelukan ayahnya. Setelah pelukannya terlepas. Darel menatap wajah ayahnya. Puas menatap wajah ayahnya. Darel menatap satu persatu wajah anggota keluarganya yang kini berada di kamar kedua orang tuanya.


Mereka semua yang melihat tatapan mata Darel dapat mengartikan akan arti dari tatapan itu. Tatapan mata Darel mengisyaratkan kekecewaan yang begitu besar.


"Aku tidak peduli dengan alasan kalian itu. Aku bahkan sudah bosan setiap kali mendengar alasan itu terus menerus keluar dari mulut kalian. Kalian seakan-akan menganggapku anak, adik dan keponakan yang lemah." Darel berbicara dengan menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. Dan jangan lupa air matanya yang menetes membasahi wajahnya.


Mendengar perkataan dari Darel membuat mereka kembali merasakan sakit di dadanya. Mereka semuanya menangis, terutama Arvind dan putra-putranya.


"Apa hanya itu saja kebohongan kalian? Apa masih ada hal lain yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Darel.


Mendengar pertanyaan dari Darel membuat mereka semua telak bungkam. Tidak ada satu pun bersuara. Mereka semua saling memberikan tatapan.


Melihat keterdiaman ayahnya, kakak-kakaknya dan anggota keluarganya membuat Darel menatap curiga.


"Jika masih ada yang kalian sembunyikan dariku. Lebih baik kalian katakan padaku sekarang juga. Jangan lagi kalian menyembunyikannya dariku. Sekali pun itu menyangkut kesehatanku. Kalian tahu bukan kalau aku paling tidak suka dibohongi." Darel berbicara dengan penuh penekanan.


Mendengar perkataan dari Darel. Lagi-lagi mereka semua diam. Mereka bingung harus menjawab apa. Lidah mereka terasa berat untuk sekedar bicara.


Tidak mendapatkan jawaban dari ayahnya, kakak-kakaknya dan anggota keluarganya membuat Darel makin menaruh rasa curiga.


"Baiklah. Jika kalian tidak ingin menjawab pertanyaanku barusan. Tidak masalah. Tapi ingat satu hal! Jika kalian mendengar sesuatu tentang rahasia yang aku sembunyikan dari kalian. Dengan kata lain kalian mengetahui rahasia yang yang selama ini aku sembunyikan dari kalian, lalu kalian menuntutku untuk bercerita. Jangan harap aku akan memberitahu kalian. Aku tidak akan memberikan alasan apapun dan penjelasan apapun kepada kalian. Jika kalian tetap memaksa, maka kalian akan kehilangan aku. Selamanya!"


Mereka semua sontak membelalakkan matanya menatap kearah Darel ketika mendengar perkataan Darel. Mereka benar-benar terkejut dan syok akan perkataan Darel.


Sementara Darel tidak mempedulikan tatapan terkejut dan juga syok anggota keluarganya.


Ketika Davian ingin berbicara, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara igauan Adelina.


"Darel."


Mereka semua melihat kearah Adelina. Begitu juga dengan Darel.


"Mama, aku disini," balas Darel sambil menggenggam tangan ibunya.


Berlahan Adelina membuka kedua matanya. Ketika matanya sudah terbuka sempurna. Adelina dapat melihat wajah putra bungsunya ada di hadapannya. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya.


"Sayang, peluk Mama sayang." Adelina berbicara dengan nada lemahnya sembari merentangkan kedua tangannya.


Melihat ibunya yang sudah merentangkan tangannya. Darel pun langsung menubruk tubuh ibunya dan memeluk ibunya dengan erat.


"Maafkan Mama, sayang! Maafkan Mama," lirih Adelina.


Darel hanya diam tanpa ada niatan untuk menjawab ucapan maaf dari ibunya.


"Sayang," ucap Adelina dengan tangannya membelai lembut kepala belakang putranya.


Darel melepaskan pelukannya. Matanya menatap wajah cantik ibunya. Sejujurnya Darel tidak ingin seperti ini. Darel ingin melupakan masalah ini. Darel ingin berdamai dengan keluarganya. Darel ingin memaafkan kesalahan keluarganya.


Namun hatinya berkata lain. Darel masih kecewa dengan sikap anggota keluarganya yang telah menutup rapat tentang kelima sahabatnya hanya karena memikirkan kesehatannya.


Darel sempat bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Segitu lemahkah dirinya sehingga seluruh anggota keluarganya overprotektif padanya, terutama para kakak-kakaknya. Bahkan keenam kakaknya tertuanya diam-diam memerintahkan beberapa orang untuk mengawasinya ketika berada di luar rumah.


"Aku sudah maafin Mama. Tapi bukan berarti aku menerima kebohongan Mama, Papa dan kalian semua."


Mendengar perkataan dari Darel membuat mereka semua hanya bisa pasrah. Mereka juga tidak berani memaksa Darel untuk langsung memaafkan kesalahannya. Mereka sadar disini mereka yang bersalah. Jadi mereka semua siap untuk menerima hukumannya.

__ADS_1


__ADS_2