Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Wajah Pasrah Devon


__ADS_3

Evan, Raffa dan keempat saudara sepupunya berada di kantin. Sementara Darel, adik kesayangannya saat ini bersama dengan sahabat-sahabatnya di lobby di depan kampus. Adiknya dan sahabat-sahabatnya menghabiskan waktu istirahatnya disana.


"Van, Raf! Aku dengar dari kak Rayyan. Masalah orang yang sudah meneror Darel telah berhasil ditangkap?" tanya Aldan yang belum mengetahui perkembangan masalah orang yang menghubungi Darel telah selesai.


"Iya, Dan! Masalah sudah selesai," jawab Evan.


Mendengar jawaban dari Evan membuat Aldan tersenyum bahagia. Dirinya benar-benar bahagia masalah yang menimpa adik sepupunya itu telah selesai.


"Aku senang mendengarnya."


"Semoga tidak ada lagi masalah yang mengusik Darel. Aku nggak tega melihat Darel yang tertekan setiap mendapatkan masalah," sahut Melvin.


"Aku juga. Aku berharap tidak ada lagi yang mengusik Darel," ucap Rendra.


"Sekali pun ada masalah. Semoga masalahnya itu ringan," sela Dylan.


Ketika Evan, Raffa dan keempat sepupunya tengah menikmati makan siangnya, tiba-tiba datang kelompok perusuh yang selalu mencari masalah dengan Evan, Raffa dan keempat sepupunya.


Mereka adalah keenam mahasiswa yang selalu mencari masalah pada semua mahasiswa. Mereka adalah Agha Qamar, Ajnur Oskan, Deniz Yagmur, Eldar Yesim, Isaq Khalid dan Okan Madarik.


"Wah! Makan enak nih!" seru salah satu dari enam pemuda yang mengganggu acara makan Evan, Raffa dan keempat sepupunya.


Baik Evan, Raffa maupun Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan melirik sekilas kearah teman kampusnya sekaligus musuhnya.


Setelah itu, mereka kembali kepada posisi awal yaitu menikmati makan siangnya sembari mengobrol.


Melihat reaksi dari Evan, Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan membuat keenam pemuda itu marah.


Brak..


Salah satu keenam pemuda itu seketika menggebrak meja yang ditempati oleh Evan, Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan sehingga membuat beberapa makanan dan minuman berserakan.


"Lo apa-apaan, hah?!" bentak Raffa bersamaan dengan dirinya beranjak dari duduknya dan diikuti oleh Evan, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan.


"Jika ingin jadi preman, jangan disini. Diluar sana," ucap Dylan.


"Ini kampus. Dan gunanya kampus untuk menimba ilmu," ucap Rendra.


Mendengar ucapan dari Rendra dan Dylan membuat Agha dan kelima teman-temannya menatap keduanya marah.

__ADS_1


"Nggak usah ngatur gue!" bentak Agha.


"Mending kalian pergi dari sini. Jika kalian ingin makan. Tuh, cari tempat duduk lain. Masih banyak yang kosong," ucap Evan sembari menunjuk kearah dimana terlihat beberapa bangku yang masih kosong. Ditambah lagi, Evan berusaha untuk mencari ribut dengan Agha dan kelima teman-temannya.


"Brengsek!"


Agha langsung melayangkan pukulan kearah Evan. Dan dengan gesitnya, Evan langsung menangkap tangan Agha dan menghempasnya kuat.


"Nggak usah pake otot. Pake otak aja. Gue dan saudara-saudara gue lagi males beradu otot. Bukan takut, tapi ingin menghemat tenaga."


Mendengar ucapan dari Evan membuat Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan tersenyum sembari tatapan matanya menatap Agha dan kelima teman-temannya.


"Ngapain masih disini? Pergi sana," usir Melvin sembari mengibas-ngibaskan tangannya.


Agha dan kelima teman-temannya menatap tajam kearah Evan, Raffa dan keempat sepupunya. Kemudian Deniz membisikkan sesuatu ke telinga Agha sehingga membuat Agha tersenyum di sudut bibirnya.


Agha menatap dengan seringai di bibirnya kearah Evan dan Raffa. Dirinya saat ini benar-benar ingin bertarung melawan salah satunya.


"Gue dengar-dengar lo berdua sayang banget sama adik kalian yang bernama Darel Wilson? Bagaimana kalau gue bermain-main sebentar dengannya. Mungkin menarik kali ya jika gue bermain sama laki-laki lemah seperti adik kalian itu." Agha berbicara dengan tatapan mengejeknya dan disertai dengan kata-kata yang membuat Evan dan Raffa marah.


Sreekk..


Bukan hanya Raffa yang tampak marah ketika mendengar ucapan Agha yang menyebut adiknya laki-laki lemah. Evan saat ini menatap penuh amarah kearah Agha. Dirinya tidak terima Agha menghina adik kesayangannya.


"Gue katakan sama lo. Adik gue itu nggak lemah seperti yang lo katakan barusan. Lo belum tahu siapa adik gue yang sebenarnya. Kalau lo dan kelima manusia busuk di samping lo ini tahu tentang adik gue, maka lo bakal berpikir seribu kali menghina adik gue!" Evan berbicara sembari tangannya menunjuk kearah Agha dan kelima teman-temannya bergantian.


Raffa mendorong kuat tubuh Agha hingga membuat tubuh Agha terhuyung ke belakang. Tatapan matanya menajam menatap Agha dan kelima teman-temannya.


"Mending lo bawa kelima kacung-kacung jelek lo dari sini. Gue dan saudara-saudara gue mau makan," ucap Raffa dengan kejamnya.


"Ayo, Gha! Lebih baik kita pergi dari sini. Kita balas mereka melalui adiknya, Darel!" bisik Eldar.


Seketika Agha tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar ucapan dari Eldar. Agha seketika melihat ke samping dimana Eldar tengah menatap dirinya. Kemudian keduanya tersenyum.


Setelah itu, Agha kembali menatap Evan, Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan secara bergantian.


"Sampai bertemu beberapa hari lagi. Gue bakal kasih kejutan buat kalian, terutama untuk kalian berdua." Agha berbicara sembari menatap wajah Evan dan Raffa.


Setelah mengatakan itu, Agha dan kelima teman-temannya pergi meninggalkan Evan, Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan. Sementara untuk Evan dan Raffa seketika berubah takut. Mereka memikirkan Darel, adiknya.

__ADS_1


^^^


Di lobby Darel bersama dengan semua sahabat-sahabatnya tengah menikmati kebersamaan. Mereka bersantai ria disana untuk menghilangkan rasa lelah akan jadwal kuliahnya dan Organisasi Kampusnya.


"Oh, iya! Aku hanya mengingatkan saja. Lusa kita akan mengunjungi dua panti asuhan. Disana kita akan mengadakan makan bersama dengan anak-anak panti," sahut Devon.


Mendengar ucapan dari Devon membuat Darel serta yang lainnya bangun dari acara tidurannya. Mereka semua melihat kearah Devon.


"Kenapa baru sekarang dikasih tahunya, bodoh?!" Darel berucap dengan sadisnya.


"Hahahaha."


Mereka semuanya tertawa ketika mendengar ucapan sarkas dari Darel yang ditujukan kepada Devon. Sedangkan Devon seketika mendengus ketika mendengar ucapan indah dari sahabat kelincinya itu.


Devon bangun dari acara tidurannya lalu menatap tajam kearah Darel dan langsung dibalas tak kalah tajam dari Darel.


"Apa lo?! Mau berantem sama gue? Ayo! Mumpung mood gue sudah hancur gara-gara lo mending hancur sekalian," sungut Darel sembari memposisikan dirinya yang sudah siap bertarung.


Devon seketika mengusap wajahnya kasar melihat Darel yang tiba-tiba moodnya berubah buruk.


Melihat wajah frustasi Devon membuat Kenzo langsung menepuk pelan bahu sepupunya itu.


"Lo harus banyak sabar jika berhadapan dengan Darel. Gue tahu lo saat ini tertekan. Tapi lo harus menerimanya lapang dada. Mau protes, tapi justru kena semprot. Itulah yang gue dan Gavin rasakan selama ini."


Darel menggeram kesal ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Kenzo. Tatapan matanya beralih menatap kearah Kenzo.


"Tiang listrik sialan! Lo tuh sedang menghibur Devon apa sedang membuka aib gue, hah?!" teriak Darel.


Mendengar perkataan serta teriakan dari Darel seketika membuat Kenzo kicep. Kemudian Kenzo mengalihkan perhatian untuk melihat kearah Darel. Seketika Kenzo memperlihatkan senyuman termanis di hadapan Darel.


Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas Charlie tersenyum melihat kelakuan Kenzo ketika melihat kearah Darel.


"Kirimin gue data-data kunjungan ke panti asuhan itu besok!" Darel berbicara sembari menatap wajah Devon.


"Gue kirim lewat email lo," sahut Devon.


"Gue nggak mau lewat email. Gue mau angsung dari lo."


"Ach, baiklah!" Devon menjawab dengan wajah pasrahnya

__ADS_1


Lagi-lagi Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas dan Charlie tersenyum. Kali mereka tersenyum karena Devon.


__ADS_2