Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Kemarahan Darel


__ADS_3

Keesokan harinya Darel sudah bersiap-siap akan pergi ke kampus. Dirinya hari ini bersama para sahabatnya akan membahas masalah dana yang tiba-tiba habis. Dan dirinya juga akan mencari tahu siapa dalang pencurian uang tersebut.


Setelah selesai dengan urusannya, Darel pun langsung pergi meninggalkan kamarnya untuk menuju lantai bawah.


Sementara anggota keluarganya sudah berkumpul di meja makan sembari menunggu kehadiran kesayangannya.


Tap... Tap... Tap...


Mereka semua mendengar suara derap langkah kaki melangkah menuju ruang makan. Dengan kompak mereka semua melihat keasal suara. Seketika mereka semua tersenyum ketika melihat kesayangannya sudah rapi dengan pakaian kampus. Terlihat begitu tampan dan manis.


Darel yang ditatap oleh semua anggota keluarganya hanya bisa membola matanya malas sembari terus melangkah menuju kursinya.


Kini Darel sudah duduk di kursinya di samping ibunya. Sedangkan Nashita langsung mengambilkan piring lalu mengisinya dengan nasi serta lauk pauk kesukaan putra bungsunya.


"Ini, makanlah!" Nashita meletakkan piring tersebut di hadapan putra bungsunya.


Darel tersenyum. "Terima kasih, Ma!"


"Sama-sama sayangnya Mama!"


Setelah itu, Darel dan yang lainnya mulai sarapan paginya dengan penuh kebahagiaan.


Ketika semua anggota keluarga tengah menikmati sarapan paginya, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara bunyi ponsel yang menandakan panggilan masuk.


Darel yang mendengar suara ponselnya langsung mengambil ponselnya itu di saku Almamaternya. Setelah ponselnya di tangannya, Darel melihat 'Paman Arkan' di layar ponselnya.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Darel langsung menjawab panggilan dari orang kepercayaan sang kakek. Sementara anggota keluarganya menyimak dan memasang telinganya mendengar apa yang dibicarakan oleh Darel dengan seseorang di telepon.


"Hallo, Paman Arkan!"


"Hallo, tuan. Tuan dimana?"


"Saya di rumah. Sebentar lagi saya mau ke kampus. Kenapa Paman?"


"Oh iya, tuan! Boleh saya bertanya?"


"Silahkan! Paman mau nanya apa?"


"Begini, tuan! Apa benar kalau tuan Daffa, tuan Dario dan tuan Aditya hari ini akan menemui calon rekan kerja untuk masing-masing perusahaan?"


"Aku tidak tahu Paman. Tapi tunggu sebentar. Aku akan tanyakan."


"Baik, tuan!"


Setelah itu, Darel menatap wajah anggota keluarganya satu persatu sehingga tatapan matanya berhenti kakak ketujuhnya Daffa, kakak sepupunya Dario dan kakak sepupunya Aditya.


"Kak Daffa, Kak Dario, Kak Aditya!" panggil Darel.


"Iya, Rel!" jawab Daffa, Dario dan Aditya bersamaan.


"Apa kalian hari ini ada pertemuan dengan calon rekan kerja kalian?" tanya Darel.


"Iya, Rel!" jawab Daffa, Dario dan Aditya bersamaan.


Setelah mendapatkan jawaban dari ketiga kakaknya, Darel kembali berbicara dengan Arkan, kepercayaannya.


"Hallo, Paman."


"Iya, tuan! Bagaimana?"


"Benar, Paman! Kakak Daffa, kakak Dario dan kakak Aditya hari ini ada pertemuan dengan calon rekan kerjanya."

__ADS_1


"Suruh mereka membatalkannya, tuan!"


"Membatalkan? Maksud Paman, apa?"


"Ini hanya jebakan tuan. Calon rekan kerja yang akan menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan ARV CORP, SDY CORP dan EVT CORP akan membuat tuan Daffa, tuan Dario dan tuan Aditya tak sadar dengan minuman yang akan mereka minum. Efek dari minuman yang mereka minum adalah akan membuat mereka mengikuti apa yang mereka inginkan."


Darel seketika membelalakkan matanya ketika mendengar penjelasan dari Arkan mengenai tujuan dari calon kerja kakak-kakaknya.


Sementara anggota keluarganya menatap khawatir Darel yang saat ini terlihat terkejut. Mereka meyakini bahwa ada sesuatu kabar buruk yang disampaikan oleh orang yang bernama Arkan.


"Apa rencana mereka sampai melakukan hal menjijikan itu?"


"Mereka mengincar perusahaan ARV CORP, SDY CORP dan EVT CORP. Dengan keadaan tuan Daffa, tuan Dario dan tuan Aditya dalam keadaan tak sadar. Mereka akan meminta tuan Daffa, tuan Dario dan tuan Aditya untuk menandatangani berkas yang akan mereka berikan. Berkas-berkas itu berkas pemindahan hal milik perusahaan."


"Brengsek!" teriak Darel dengan kerasnya ketika mengetahui rencana busuk dari tiga calon rekan kerjanya sama kakak-kakaknya.


"Sayang," ucap Adelina sembari mengusap lembut kepala belakang putra bungsunya.


"Baiklah, Paman. Aku akan sampaikan kepada ketiga kakak-kakakku itu. Rencana Paman apa sekarang?"


"Saya saat ini sedang mencari tahu latar belakang keluarga dari tiga calon rekan kerja tuan Daffa, tuan Dario dan tuan Aditya. Saya juga mencari tahu usaha-usaha apa saja yang dipegang atau yang dikelola oleh keluarga mereka. Setelah saya mendapatkannya, saya akan memindahkan semua kepemilikan usaha mereka atas nama tuan yaitu Darel Wilson."


Seketika Darel tersenyum lebar ketika mendengar rencana yang akan dijalankan oleh sang kepercayaan kakeknya. Dirinya benar-benar suka rencana tersebut.


"Eeemmm... Aku suka sekali Paman. Mereka sudah mencoba untuk merebut perusahaan orang lain. Jadi, sebagai balasannya. Mereka akan kehilangan apa yang mereka punya dan berimbas kepada keluarganya."


"Syukurlah kalau tuan suka. Kalau begitu saya tutup teleponnya, tuan!"


"Baik, Paman!"


Tutt.. Tutt..


Setelah panggilan terputus, Darel memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Kemudian Darel menatap wajah ketiga kakaknya yaitu Daffa, Dario dan Aditya.


Mendengar penuturan dari Darel yang memintanya untuk tidak pergi menemui calon rekan kerjanya membuat Daffa, Dario dan Aditya terkejut. Begitu dengan anggota keluarga yang lain.


"Kenapa begitu, Rel?" tanya Aditya.


"Paman Arkan mengatakan bahwa calon rekan kerja kalian itu tidak bersungguh-sungguh untuk menjalin hubungan kerjasama. Melainkan mereka mengincar perusahaan keluarga kita."


Deg..


Mereka semua terkejut ketika mendengar jawaban dari Darel yang menyebut calon rekan tersebut mengincar perusahaan keluarga.


"Tapi, Rel! Tidak mungkin mereka akan melakukan hal itu. Apalagi kakak sudah cukup lama kenal dengan calon kerja sama kakak itu." Dario sedikit tak setujui akan permintaan Darel


Brak..


Darel seketika menggebrak meja dengan bersamaan dirinya beranjak dari duduknya. Dan jangan lupakan tatapan matanya yang tajam menatap kearah Dario.


Melihat apa yang dilakukan oleh Darel membuat semuanya terkejut. Mereka tidak menyangka jika Darel akan semarah ini.


"Jadi maksud kakak Dario kalau kakak Dario meragukan dan tidak mempercayai semua yang dikatakan Paman Arkan?! Bagaimana pun Paman Arkan itu adalah kepercayaan kakek. Paman Arkan bekerja bersama kakek sejak kita kecil-kecil dulu. Sekarang aku tanya sama kakak, siapa hubungannya lebih lama? Kakek dan Paman Arkan atau kakak dengan orang itu?!"


Darel berucap dengan penuh amarah dengan tatapan matanya yang menatap tajam Dario.


"Sayang," ucap Adelina yang mengusap-usap punggung putra bungsunya.


"Cukup satu kali aku mengatakan ini kepada kalian bertiga. Lakukan apa yang ingin kalian lakukan. Jika kalian ingin tetap pergi menemui calon rekan kerja kalian itu, pergi sana! Tapi ingat satu hal! Perusahaan ARV CORP, SDY CORP dan EVT CORP bukan milik kalian pribadi. Di dalam perusahaan itu ada namaku dan nama saudara-saudara kalian. Dan perusahaan itu adalah warisan dari kakek untuk kita cucu-cucunya. Jika sampai kalian melakukan kesalahan sehingga mengakibatkan kalian kehilangan perusahaan itu, maka aku Darel Wilson akan buat perhitungan dengan kalian!"


Deg..

__ADS_1


Mereka semua terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darel yang mengatakan akan membuat perhitungan jika terjadi sesuatu terhadap perusahaan.


"Kakek sudah mati-matian mendirikan perusahaan tersebut hingga berkembang pesat, lalu mewarisinya kepada cucu-cucunya. Tapi justru cucu-cucunya malah membuat perusahaan diberikan kepada orang lain!"


Setelah mengatakan itu, Darel langsung pergi meninggalkan keluarganya untuk menuju kampus. Jika dia berlama-lama di meja makan, bisa-bisa emosi tak terkendali dan berakhir akan ada perkelahian antar saudara.


Melihat kepergian Darel yang dalam keadaan marah membuat Arvind, Adelina dan putra-putranya khawatir. Sementara anggota keluarga lainnya hanya diam mencerna setiap perkataan dari Darel barusan.


"Papa, Mama, Kakak! Aku dan Raffa pamit pergi ke kampus. Kita harus nyusul Darel."


"Iya, sayang! Pergilah dan susul adik kalian," ucap Arvind.


Setelah itu, Evan dan Raffa langsung pergi meninggalkan anggota keluarganya.


"Daffa," panggil Arvind.


"Papa tidak perlu khawatir. Aku akan mendengarkan perkataan Darel. Aku percaya dengan Darel, apalagi ketika Darel mengatakan bahwa Paman Arkan dan Kakek sudah saling mengenal dan bekerja sama sejak kita masih kecil. Bukan itu saja, semua tangan kanannya kakek yang saat ini sudah menjadi bawahan Darel bekerja sangat baik. Setiap informasi yang mereka berikan kepada Darel tidak pernah salah. Dari usaha kerja keras para tangan Darel, keluarga kita selamat dan berhasil membalas orang-orang yang mengusik keluarga kita."


Mendengar perkataan serta penjelasan dari Daffa membuat mereka semua membenarkan apa yang dikatakan oleh Daffa.


"Kakak Daffa benar. Terbukti ketika Paman Arkan menghubungi Darel yang saat itu Kenzo yang menjawabnya. Paman Arkan mengatakan bahwa perusahaan milik ayahnya Brian dan perusahaan milik ayahnya Damian akan direbut oleh rekan kerjanya disaat penandatanganan kontrak kerjasama. Dengan informasi dari Paman Arkan, perusahaan milik ayahnya Brian dan perusahaan milik ayahnya Damian berhasil tersematkan."


Melvin berbicara sembari mengingat tentang pembicaraan Kenzo dengan Arkan ketika di rumah sakit dengan tatapan matanya menatap wajah kakaknya dan kakak sepupunya Dario.


"Kakak Dario," panggil Rendra.


Dario langsung melihat kearah adik bungsunya itu. Dan dapat dilihat oleh Dario tatapan mata adiknya tersirat tatapan penuh harap.


"Kak, kita ini keluarga. Jangan hanya karena kakak lebih mempercayai calon rekan kerja kakak yang tak lain adalah temannya kakak. Kakak menghancurkan semuanya. Disini yang akan tersakiti adalah Darel, kak! Darel adalah pewaris utama kakek. Dengan kata lain, Darel punya tanggung jawab besar terhadap kita semua, termasuk semua perusahaan peninggalan kakek. Jika terjadi sesuatu terhadap salah satu atau dua perusahaan yang kakek warisan untuk kita. Darel pasti akan sedih dan juga hancur. Darel akan menyalahkan dirinya sendiri karena gagal melindungi perusahaan-perusahaan itu."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Rendra ditambah lagi dengan wajah sedih Rendra membuat hati Dario terpukul. Dirinya seketika tersadar akan apa yang telah dilakukan beberapa menit yang lalu terhadap adik sepupu kesayangannya itu.


"Ma-maafkan aku," lirih Dario dengan disertai air matanya.


Mendengar ucapan maaf dari Dario membuat mereka semua tersenyum. Mereka sama sekali tidak marah atas apa yang dikatakan oleh Dario ketika berbicara dengan Darel.


Puk..


Sandy yang kebetulan duduk didekat putra keduanya itu seketika menepuk pelan bahunya. Dirinya tahu bahwa putranya itu merasa bersalah telah membuat hati adik sepupu kesayangannya itu terluka sehingga berakhir adik sepupunya itu marah besar.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa yang dikatakan oleh Darel. Darel berbicara seperti hanya untuk membuat kamu dan kita semua sadar agar tidak melakukan kesalahan. Baik disengaja maupun tidak disengaja."


"Sekarang apa keputusan kamu, sayang?" tanya Salma kepada putra keduanya itu.


"Aku... Aku akan mengikuti apa yang diinginkan oleh Darel, Ma! Sama seperti yang dikatakan oleh Daffa yang tidak ingin menyesal dikemudian hari. Aku tidak ingin menyesal nantinya seandainya aku tetap memilih untuk pergi menemui calon rekan kerja aku itu," jawab Dario.


Sandy, Salma dan semuanya seketika tersenyum ketika mendengar ucapan tulus dari Dario.


"Lalu kamu bagaimana Aditya?" tanya Evita.


Aditya tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari ibunya. "Aku sejak Darel mengatakan bahwa calon rekan kerja aku itu ingin merebut perusahaan. Seketika rencana itu hilang. Aku memutuskan untuk tidak pergi," jawab Aditya.


"Sekarang masalahnya sudah selesai. Jadi kalian bertiga tidak perlu lagi memikirkannya," sahut Arvind.


"Lalu bagaimana dengan Darel, Paman Arvind?" tanya Dario yang dirinya tidak ingin dibenci oleh Darel.


Arvind tersenyum. "Kamu bicaralah baik-baik sama Darel ketika Darel pulang kuliah nanti. Kalau perlu kamu kasih tahu Darel alasan kamu mempercayai calon rekan kerja kamu itu yang tak lain teman kamu. Paman yakin Darel akan mendengarnya. Dan Paman yakin Darel tidak benar-benar marah. Darel seperti itu hanya takut terjadi sesuatu sama perusahaan dan juga kamu," sahut Arvind sembari tersenyum tulus kepada keponakannya itu.


"Itu benar sayang. Papa setuju apa yang dikatakan oleh Paman kamu itu. Bicaralah baik-baik dengan Darel," hibur Sandy.


"Baik, Papa!"

__ADS_1


"Tapi ingat! Jika Darel tetap melarang kamu dan meminta kamu untuk membatalkan kerja sama itu. Kamu harus menuruti kemauannya. Tindakan dan keputusan Darel itu untuk kepentingan kita bersama bukan untuk Darel pribadi,," ucap Salma.


"Iya, Ma! Aku mengerti!"


__ADS_2