Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Cerita Dari Rayyan


__ADS_3

Evan dan Raffa dalam perjalanan menuju kampus. Mereka mengendarai mobil masing-masing. Jika Evan menggunakan mobil Bugatti La Voiture Noire warna silver, sedangkan Raffa berwarna merah. Untuk Darel adik kesayangannya berwarna kuning.


Mobil Evan berada di delan. Sedangkan mobil Raffa berada di belakang mobil Eban. Baik Evan maupun Raffa mengendarai mobilnya dalam kecepatan sedang.


Ketika keduanya fokus mengendarai mobilnya, tiba-tiba Evan yang berada di depan seketika menginjak rem mobilnya secara mendadak sehingga membuat Raffa di belakang juga refleks menginjakkan rem mobilnya sehingga mobilnya tidak menabrak mobil Evan.


"Itu... Itukan Paman Andrean. Paman Andrean tidak sendirian, melainkan bersama putrinya Alisha!"


Yah! Evan melihat sosok Andrean dan Alisha tengah di hadang beberapa pengendara sepeda motor. Sekitar 8 motor dengan jumlah orang sekitar 16 orang.


Melihat para pengendara motor tersebut hendak menyakiti Andrean dan putrinya, Evan seketika keluar dari dalam mobilnya.


Raffa yang melihat Evan yang keluar dari dalam mobilnya mengerenyitkan keningnya lalu memutuskan untuk keluar dari dalam mobilnya juga.


"Van, ada apa? Kenapa kamu keluar?" tanya Raffa setelah dirinya berada di dekat Evan.


"Tuh!" Evan menunjuk kearah dimana Andrean dan Alisha dicegat 8 pengendara motor.


Raffa langsung melihat kearah tunjuk Evan. Dan dapat Raffa lihat seorang pria paruh baya bersama seorang gadis remaja.


"Van, itu bukannya Paman Andrean sahabatnya Paman William bersama putrinya?" tanya Raffa.


"Iya," jawab Evan singkat.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita akan membicarakan Paman Andrean disakiti. Terus kalau kita bantu Paman Andrean dan putrinya, bisa-bisa kita terluka. Coba lihat mereka. Mereka membawa senjata tajam."


Raffa berbicara sembari memperhatikan orang-orang berkendara motor itu dengan memegang senjata tajam di tangan masing-masing.


Evan mengambil ponselnya di saku celananya. Setelah dia mendapatkan ponselnya, Evan kemudian mencari nama Arzan salah satu tangan kanan adik bungsunya.


Semua anggota keluarga Wilson sudah memiliki semua nomor para tangan kanan Darel. Jadi dengan begitu, jika ada kejadian tak terduga seperti saat sekarang ini. Anggota keluarga Wilson bisa menghubungi salah satu tangan kanan Darel.


"Hallo Arzan! Ini saya Evan, kakaknya Darel!"


"Ach, iya tuan! Ada apa?"


"Jangan panggil tuan. Panggil nama saja. Kita seusia."


"Ach, baiklah! Katakan ada apa?"


"Bisa kau kirimkan sekitar 25 anggotamu untuk datang ke lokasi Sternschanze lengkap dengan senjata api."


"Apa yang terjadi?"


"Ada sekitar 18 orang yang saat ini sedang menghadang Paman Andrean dan putrinya. Bahkan mereka membawa senjata tajam."


"Aku mengerti. Sepuluh menit anggotaku akan datang. Usahakan kau bisa melakukan hal yang bisa menghindar perkelahian."


"Baiklah."


Setelah itu, Evan langsung mematikan panggilannya. Begitu juga dengan Arzan. Arzan langsung memerintahkan sekitar 25 anggotanya (sesuai keinginan Evan) untuk datang ke lokasi Sternschanze.


***


Rayyan saat ini berada di ruang tengah. Dirinya sedang mengecek satu persatu data-data yang dikirim oleh asistennya. Bukan hanya data-data saja yang dicek oleh Rayyan. Berkas-berkas yang akan dirinya tanda tangani juga akan dirinya cek terlebih dahulu.

__ADS_1


Ketika Rayyan tengah fokus sama pekerjaannya, tiba-tiba adik-adiknya datang.


"Kakak Rayyan"! sapa Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan bersamaan.


Rayyan yang tadinya menatap kertas-kertas di hadapannya, kini mengalihkan perhatiannya menatap wajah keempat adiknya. Seketika Rayyan tersenyum melihat wajah tampan adik-adiknya itu.


"Kakak belum berangkat ke kantor?" tanya Aldan.


"Seperti yang kamu lihat. Kakak masih disini," jawab Rayyan.


"Tumben masih di rumah! Biasanya jam 7 sudah siap berangkat ke kantor," ucap Dzaky.


"Ini kakak Kevin juga. Kenapa masih di rumah? Kenapa nggak ke kantor?" tanya dan sindir Aldan.


"Eh, anak kecil! Enak aja ngatur-ngatur kakaknya," kesal Kevin.


"Bukan ngatur kakak. Tapi negur. Kakak sama kakak Rayyan itu seorang pemimpin. Dan seorang pemimpin yang baik itu harus menunjukkan kedisiplinan kepada karyawannya, terutama tentang kehadiran." Aldan berucap sembari menjelaskan maksud perkataannya barusan.


Seketika Kevin membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dan penjelasan dari Aldan yang berstatus bungsunya. Begitu juga dengan Rayyan. Mereka tidak menyangka jika Aldan akan mengatakan seperti itu kepada mereka berdua.


Namun detik kemudian, Rayyan dan Kevin tersenyum ketika mendengar ucapan dari Aldan. Mereka sama sekali tidak marah terhadap Aldan.


"Kakak bukan sengaja untuk telat ke kantor sayang. Jadwal kakak hari ini adalah bertemu dengan rekan kerja perusahaan kita yang sempat tertunda kemarin. Seharusnya kemarin!"


Mendengar perkataan sekaligus jawaban dari sang kakak. Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan menatap wajah kakaknya intens. Mereka ingin penjelasan lebih lanjut.


Rayyan yang ditatap oleh keempat adiknya hanya bisa pasrah. Dirinya tahu bahwa keempat adiknya itu ingin mengetahui maksud dari perkataannya barusan.


"Baiklah kakak akan cerita. Bisa normalkan kembali tampang kalian itu? Jelek tahu," ucap Rayyan tersenyum jahil.


"Kemarin kakak ke kantor polisi."


Mendengar perkataan dari kakaknya membuat Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan terkejut.


"Ada apa?"


"Kenapa?"


"Apa yang terjadi?"


"Papa dan Mama baik-baik saja kan?"


Mendapatkan serangan pertanyaan dari keempat adiknya membuat Rayyan melongo. Dan detik kemudian, Rayyan tersenyum.


"Semuanya baik-baik saja. Tidak terjadi apa-apa," jawab Rayyan.


"Terus kenapa kakak kesana. Bukannya kita selalu bersama-sama setiap mengunjungi Papa dan Mama?" tanya Caleb.


"Kakak kesana karena Papa dan Mama yang minta. Kakak di hubungi oleh pihak polisi. Polisi itu bilang bahwa Papa dan Mama ingin bertemu."


"Terus kakak sama Papa dan Mama bicara apa saja?" tanya Dzaky.


Rayyan tersenyum sembari menatap wajah tampan adik bungsunya. Ini ada hubungannya dengan ketakutan sang adik.


"Ini ada hubungannya dengan ketakutan Aldan beberapa hari yang lalu," sahut Rayyan.

__ADS_1


"Ketakutan Aldan tentang Papa dan Mama yang masih hidup?" tanya Caleb.


"Iya," jawab Rayyan.


"Katakan kak. Papa bicara apa saja?" tanya Aldan.


Flashback On


Kini Rayyan sudah bersama dengan kedua orang tuanya. Dirinya tersenyum melihat kondisi kedua orang tuanya dalam keadaan baik-baik saja. Tampak sehat.


"Kenapa Papa menyuruhku untuk datang kesini? Seharusnya kan besok aku akan datang mengunjungi Papa dan Mama bersama Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan. Apa yang ingin Papa sampaikan padaku?


Mathew tersenyum ketika mendengar ucapan dan pertanyaan dari Rayyan. Begitu juga dengan Agatha.


"Ini masalah Paman Arvind dan seluruh anggota keluarga Wilson!"


"Ke-kenapa Pa? Apa mereka sudah tahu kalau Papa.....?"


"Iya, sayang! Paman Arvind dan semua anggota keluarga Wilson sudah mengetahui bahwa Papa dan Mama kamu masih hidup dan sedang menjalani hukuman seumur hidup di dalam penjara."


"Bagaimana bisa? Siapa yang memberitahu Paman Arvind dan anggota keluarga Wilson lainnya? Terus apa tanggapan dan reaksi mereka semua? Lalu bagaimana dengan Darel? Disini aku mikirin Darel."


Mendengar pertanyaan dari Rayyan dan juga melihat tatapan khawatir dan takut Rayyan membuat Mathew dan Agatha paham.


"Semuanya baik-baik saja sayang," sahut Agatha.


"Maksud Mama?"


"Paman Arvind kamu dan seluruh anggota keluarga Wilson sama sekali tidak marah. Apalagi sampai membenci kalian. Justru kedua Paman kamu itu yaitu Paman Arvind dan Paman Sandy datang kesini mengunjungi kami berdua."


Seketika terukir senyuman manis di bibir Rayyan ketika mendengar ucapan dari ayahnya.


"Be-benarkah? Papa tidak bohong?"


"Apa kamu melihat Papa sedang berbohong, hum?" Mathew balik memberikan pertanyaan kepada putra sulungnya.


"Papa dan kedua Paman kamu itu mengobrol banyak hal. Mereka benar-benar sudah menerima kita dan memaafkan semua kesalahan kita. Serta melupakan kejadian di masa lalu."


"Mereka orang-orang baik," sela Agatha.


Rayyan langsung menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya itu.


Flashback Off


"Paman Arvind dan seluruh anggota keluarga Wilson sama sekali tidak membenci kita dan tidak akan menjauhi kita hanya karena mereka sudah mengetahui masalah Papa dan Mama," ucap Rayyan dengan menatap wajah keempat adik-adiknya.


"Paman Arvind dan anggota keluarga Wilson lainnya tahu dari mana masalah Papa dan Mama?" tanya Aldan.


"Dari Paman Daksa. Dan Paman Daksa diberitahu oleh Paman Radika yang tak lain adalah sahabatnya," jawab Rayyan.


"Paman Daksa juga memiliki ketakutan yang sama seperti kamu. Paman Daksa juga takut akan reaksi Paman Arvind dan seluruh anggota keluarga Wilson jika mengetahui tentang Papa dan Mama. Bahkan Paman Daksa langsung memikirkan kondisi Darel."


"Dan lihatlah sekarang! Apa yang kamu takutkan dan apa yang ditakutkan oleh Paman Daksa tidak terjadi. Justru semuanya dalam keadaan baik-baik saja."


"Iya, kak! Aku senang mendengarnya. Sudah cukup Darel kesakitan selama ini. Sudah waktunya Darel merasakan kebahagiaannya," ucap Aldan.

__ADS_1


"Hm!" Rayyan, Kevin, Caleb dan Dzaky berdehem sembari menganggukkan kepalanya.


__ADS_2