
Darel saat ini berada di kamarnya bersama kesembilan sahabatnya. Saat ini mereka tengah membahas sesuatu. Ya, bisa dikatakan masalah tentang mereka bersama dan tentang kegiatan mereka.
"Rel," panggil Gavin yang saat ini sedang berkutat dengan laptop milik Darel.
"Hm." Darel menjawab sembari fokus menatap layar ponselnya.
"Ketika pulang dari rumah sakit tiga hari yang lalu. Kamu kenapa? Please, Rel! Ceritakan padaku dan kami semua."
Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Lucas, Zelig, Charlie dan Devon melihat ke arah Darel. Mereka semua kompak menghentikan kegiatan mereka masing-masing.
Melihat ketujuh sahabatnya melihat ke arah Darel. Gavin pun menghentikan kegiatannya dan ikut melihat ke arah Darel.
Sementara Darel yang merasa ditatap langsung membalas menatap balik kesembilan sahabatnya itu.
"Apa yang ingin kalian ketahui?" tanya Darel dan kembali menatap ponselnya.
"Semuanya," jawab mereka secara bersamaan.
Darel membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban kompak dari kesembilan sahabatnya itu.
"Ayolah, Rel!" mohon Kenzo.
"Intinya, aku sudah mengetahui semuanya," jawab Darel.
"Maksud kamu?" tanya Gavin.
"Mengetahui alasan seluruh keluargaku yang over padaku, yang selalu mengkhawatirkan aku, yang selalu menomorsatukan aku, yang selalu dikawal kemana pun aku pergi, yang selalu ketakutan setiap terjadi sesuatu padaku." Darel menjawab dengan menatap satu persatu wajah sahabat-sahabatnya.
"Jadi kamu sudah tahu alasan keluarga kamu bersikap seperti itu padamu selama ini?" tanya Kenzo.
"Hm." Darel menjawab dengan anggukan kepala.
"Kalau kami boleh tahu. Kau tahu dari mana, Rel?" tanya Samuel.
"Di rumah sakit. Ketika itu kondisiku benar-benar buruk. Kenzo dan Gavin bawa aku ke rumah sakit. Sementara kalian berusaha untuk merahasiakan hal itu dari kakak-kakakku ketika nanti mereka mencariku untuk ngajak aku makan di kantin."
"Nah, setelah aku sadar dan setelah selesai diperiksa. Dan ketika kita ingin pulang, aku pamit mau ke toilet. Setelah selesai dari toilet. Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan dua Dokter. Kedua Dokter itu berdiri di depan ruangan Dokter penyakit dalam."
"Dokter itu bicara apa, Rel?" tanya Zelig.
"Banyak. Aku bisa mendengar semua pembicaraan mereka. Apalagi ketika menyebut namaku."
Seketika Darel menghentikan ucapannya ketika mengingat pembicaraan kedua Dokter tersebut.
Seketika air matanya mengalir begitu saja membasahi wajah tampannya kala mengingat bagaimana perjuangan ibunya melahirkannya ke dunia ini, bagaimana perjuangan ke 12 kakaknya yang selalu merawat dan menjaganya ketika dirinya masih kecil dulu hingga sekarang.
__ADS_1
Melihat Darel yang tiba-tiba menangis membuat Kenzo, Gavin dan yang lainnya ikut sedih. Mereka tahu bahwa saat ini sahabatnya itu tengah mengingat bagaimana perjuangan dan kasih sayang semua anggota keluarganya, terutama kedua orang tuanya dan ke 12 kakak-kakakny.
PUK!
Kenzo menepuk pelan bahu Darel sehingga membuat Darel terkejut. Darel menatap ke arah Kenzo yang memang duduk di sampingnya. Kenzo tersenyum ketika sahabat kelincinya itu menatapnya.
"Sekarang kau sudah tahukan alasan kedua orang tuamu, ke 12 kakak-kakak kamu dan semua anggota keluargamu memperlakukanmu special?" tanya Kenzo.
Darel mengalihkan perhatiannya menatap ke depan. "Iya. Aku sudah tahu. Tapi tetap saja tidak enak. Seakan-akan aku ini beban untuk mereka semua."
"Sampai kapan aku harus bergantungan kepada mereka. Sampai kapan aku akan selalu membuat mereka sedih dan juga khawatir. Aku ini laki-laki. Tapi aku laki-laki yang lemah. Laki-laki yang hanya bisa menyusahkan orang lain. Seandainya saja aku tidak terlahir ditengah-tengah mereka. Mungkin mereka akan hidup bahagia."
Mendengar perkataan dari Darel membuat mereka semua ikut merasakan kesedihan. Mereka sangat paham ketika mendengar nada bicara Darel.
Tanpa Darel dan kesembilan sahabat-sahabatnya sadari bahwa dua kakaknya saat ini berada di depan pintu kamarnya. Mereka adalah Evan dan Raffa.
Niat awalnya Evan dan Raffa ingin memanggil Darel beserta sahabat-sahabatnya untuk makan siang bersama.
Namun niat mereka terhenti ketika mendengar apa yang dibicarakan oleh Darel dengan sahabat-sahabatnya.
Mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut adiknya itu membuat hati Evan dan Raffa sesak. Bagi mereka berdua, adiknya itu bukanlah beban, melainkan adiknya itu adalah sumber kebahagiaan untuknya dan keluarganya. Dan adiknya itu bukanlah laki-laki lemah. Justru adiknya itu laki-laki yang sangat kuat. Adiknya itu bisa membunuh orang-orang yang sudah mengusik keluarganya dan orang-orang terdekatnya.
Setelah puas mendengar pembicaraan adiknya bersama kesembilan sahabatnya. Evan dan Raffa memutuskan untuk turun ke bawah. Mereka tidak sanggup jika terlalu lama berada di depan pintu kamar adiknya dan tidak ingin terlalu lama mendengar ucapan demi ucapan adiknya itu.
^^^
"Evan, Raffa. Ada apa? Kenapa wajah kalian sedih gitu?" tanya Nevan.
Mendengar pertanyaan dari Nevan. Semua anggota keluarga melihat ke arah Evan dan Raffa, termasuk kedua orang tuanya dan para kakak-kakaknya yang lainnya.
"Ada apa, sayang?" tanya Arvind dengan menatap lembut kedua putranya itu.
"Darel," jawab Evan dan Raffa lirih.
"Kenapa Darel? Apa Darel sakit di kamarnya?" tanya Davian yang hendak berdiri.
"Tidak," jawab Evan.
"Darel baik-baik saja," jawab Raffa.
Davian kembali menduduki pantatnya ketika mendengar jawaban dari Evan dan Raffa.
"Kenapa sayang? Ceritakan pada kami," ucap William sang Paman.
"Aku dan Evan saat ini sedang sedih. Hati kami sesak dan juga sakit saat mendengar perkataan Darel." Raffa berucap lirih.
__ADS_1
"Memangnya Darel bicara apa, hum?" tanya Arvind.
"Darel sudah tahu alasan kita selama ini overprotektif padanya. Dari apa yang aku dan Raffa dengar. Darel sudah tahu semuanya," ucap Evan.
DEG!
Arvind, Adelina, putra-putranya dan semua anggota keluarganya terkejut ketika mendengar jawaban dari Evan.
"Sayang," lirih Adelina menatap wajah suaminya.
"Evan, Raffa. Apa kalian yakin jika Darel tahu semuanya?" tanya Andre.
"Sangat yakin, kak Andre." Evan dan Raffa menjawab bersamaan.
"Kalian masih ingat tidak ketika Darel pulang yang diantar sama Kenzo dan Gavin?" tanya Raffa.
"Iya. Kami masih ingat," jawab mereka semua.
"Bukankah saat itu Darel sedang marah besar pada kita semua. Bahkan Darel dalam keadaan marah ketika berangkat ke kampus," ujar Evan.
"Iya, terus?" tanya Elvan.
"Besoknya tiba-tiba sikap Darel kembali melembut. Tidak ada kemarahan apapun setelah Darel pulang yang diantar Kenzo dan Gavin. Darel kembali lagi pada kita dan sikap manjanya juga kembali," sahut Raffa.
"Di kamar, Kenzo dan Gavin menanyakan tentang sikap Darel yang hanya diam saat dalam perjalanan pulang. Bahkan ketiganya habis dari rumah sakit saat itu," ucap Evan.
"Apa? Rumah sakit?" tanya Arvind dan Adelina yang terkejut.
"Pantes saja ketika pulang Darel diantar oleh Kenzo dan Gavin. Bahkan keluar mobil saja dipapah oleh Gavin. Dan mobilnya dikendarai oleh Kenzo. Jadi mereka baru pulang dari rumah sakit." Ghali berbicara sembari mengingat ketika adik bungsunya pulang bersama Kenzo dan Gavin.
"Ya, Tuhan. Lagi-lagi kita kecolongan," ucap Salma.
"Gavin bertanya kepada Darel tentang sikap diam Darel setelah dari rumah sakit itu. Lalu Darel jawab kalau dia sudah tahu semuanya. Darel tahu alasan kita bersikap overprotektif padanya selama ini," ucap Raffa.
"Darel mengaku kepada Kenzo dan Gavin bahwa Darel tahu dari dua Dokter yang tak sengaja berbicara di depan ruang Dokter yang berstatus sebagai Dokter penyakit dalam. Ditambah lagi salah satu Dokter itu menyebut nama Darel," ucap Evan.
DEG!
Mereka kembali terkejut ketika mendengar perkataan dari Evan. Mereka semua saling menatap satu sama lainnya. Mereka saat ini benar-benar takut. Apakah kesayangan mereka benar-benar mengetahui semuanya atau hanya sebagian saja.
"Kakak Arvind," panggil Sandy.
"Iya, Sandy. Ada apa?"
"Apa Darel juga tahu masalah gin..."
__ADS_1
"Tahu apa Paman Sandy?" tanya Darel tiba-tiba.
DEG!