Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Interaksi Ibu Dan Anak


__ADS_3

Satu minggu kemudian...


Setelah satu minggu dirawat di rumah sakit. Kini Darel sudah berada di rumah, tepatnya di dalam kamarnya. Dokter Fayyadh yang tak lain adalah ayah dari sahabatnya Kenzo Robert menyatakan bahwa dirinya sudah sembuh dari racun yang disuntikkan ke tubuhnya.


Kini Darel hanya menunggu pemulihan saja. Sekali pun Dokter Fayyadh sudah menyatakan dirinya sembuh. Bukan berarti Darel bebas bergerak super ektra seperti layak orang-orang pada umumnya. Darel harus banyak istirahat.


Semua anggota keluarga Wilson tengah berkumpul di ruang tengah sembari mengobrol dan membahas banyak hal. Seperti saat ini, mereka tengah membicarakan kesayangan mereka yaitu Darel Wilson.


"Aku bahagia dan bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhan keponakan maniskku!" seru Salma.


"Aku juga kak Salma. Kita semua bisa melihat Darel kembali pulang ke rumah setelah lima hari koma ditambah satu minggu dirawat. Apalagi ketika aku mendengar Dokter Fayyadh mengatakan bahwa Darel sudah sembuh total dari racun itu. Dengan kata lain tubuh Darel sudah bersih dari racun itu." Evita berbicara dengan tersenyum tulus.


"Aku dari awal sudah sangat yakin jika Darel mampu bertahan, walau Darel sempat dinyatakan......" William seketika menghentikan ucapannya ketika mengingat kondisi terakhir keponakan manisnya itu.


"Ini untuk yang kesekian kalinya kita melihat Darel kehilangan detak jantungnya dan berakhir pergi meninggalkan kita. Walau kepergiannya hanya beberapa menit saja. Itu sudah membuat hidup kita semua hancur." Sandy berucap sembari mengingat bagaimana kondisi Darel yang tidak bernafas lagi.


Mendengar perkataan dari William dan Sandy mereka semua hanya diam. Sementara di hati masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh William dan Sandy.


Mereka semua mengingat bagaimana kondisi Darel sejak dilahirkan ke dunia ini. Dilahirkan dalam kondisi kurang bulan, dinyatakan meninggal dunia, jantung yang lemah dan memiliki daya tahan tubuh yang lemah. Serta gampang jatuh sakit.


Ketika Darel berusia 5 tahun, seluruh anggota keluarga Wilson terutama Arvind dan Adelin mendapatkan kabar dari Dokter anak, Dokter yang menangani Darel jika Darel jatuh sakit. Dokter itu mengatakan bahwa jantung Darel dalam kondisi baik-baik saja. Seperti jantung orang-orang pada umumnya. Dengan kata lain, semuanya baik-baik saja. Tidak ada masalah sama sekali.


Dokter itu juga mengatakan bahwa tubuh Darel sangat sensitif dan rentan jatuh sakit. Bukan itu saja, Darel juga sensitif akan perkataan seseorang yang ditujukan padanya.


Bukan itu saja, mereka juga mengingat kondisi Darel ketika sudah beranjak dewasa dimana usia Darel 12 tahun sampai 18 tahun. Itulah hari-hari dimana Darel yang kerap kali sering jatuh sakit, pingsan dan berakhir masuk rumah sakit.


Mengingat itu semua membuat seluruh anggota keluarga Wilson seketika menangis terutama Arvind Adelina dan ke 12 putra-putranya. Merekalah yang paling bahagia dan bersyukur kesayangannya kembali padanya.


"Disini akulah yang paling bersyukur. Putra bungsuku mampu bertahan dan tidak pergi meninggalkanku," ucap Arvind.


"Tuhan masih sayang pada putra bungsuku dengan mengembalikannya padaku dan kita semua."


"Bukan Darel, tapi kita!" seru Daksa.


Mereka semua menatap kearah Daksa ketika mendengar ucapan dari Daksa barusan. Daksa yang ditatap langsung mengerti.

__ADS_1


"Tuhan memberikan kesempatan kesekian kalinya untuk Darel semata-mata semua itu demi kita. Tuhan ingin melihat kita sejauh mana kita menjaga dan melindungi Darel, sejauh mana kita memberikan kasih sayang dan perhatian kepada Darel, sejauh mana kita sabar dalam menghadapi sikap keras Darel dalam hal apapun dan sejauh mana kita memanjakan Darel ketika bersama kita keluarganya."


"Paman Daksa benar. Tuhan begitu sayang dengan Darel itu semua untuk kita keluarganya. Tuhan memberikan kesempatan untuk kita dengan membiarkan Darel tetap berada ditengah-tengah kita," sahut Daffa.


"Kondisi Darel sekarang ini tidak lagi seperti dulu. Darel yang sekarang ibarat sebuah gelas. Jika gelas itu pecah walau kita menyatukannya kembali, namun bentuk gelas itu tidak bisa kembali utuh seperti semula. Akan terlihat retakan-retakan sana sini. Sama halnya juga seperti kertas yang ada tulisannya. Jika kita robek kertas tersebut, lalu kita kembali menyatukannya. Bentuk kertas itu tidak bisa kembali seperti semula."


"Jadi Darel yang sekarang ini adalah sebuah gelas dan kertas. Jika sedikit saja kita menyakitinya, maka akan berdampak fatal pada dirinya."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Daksa membuat mereka semua terdiam. Mereka semua membenarkan apa yang dikatakan oleh Daksa tentang Darel bahwa Darel sekarang adalah perumpamaan sebuah gelas dan kertas.


Jika sedikit saja mereka menyakiti Darel, maka akan berdampak pada kesehatannya. Apalagi mereka sudah melihat bukti nyata diman Darel yang berulang kali sakit, berulang kali masuk rumah sakit dan sekian kali merasakan kematian.


Ketika mereka semua sedang membahas Darel, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara seseorang.


"Mama," panggil orang itu.


Anggota keluarga Wilson yang berada di ruang tengah secara bersamaan langsung melihat keasal suara. Dan dapat mereka lihat bahwa Darel sudah berdiri di anak tangga nomor lima paling bawah.


Dan detik kemudian mereka semua tersenyum gemas melihat wajah Darel ketika memanggil ibunya.


Sementara anggota keluarga lainnya tersenyum melihat Darel yang manyun menunggu ibunya menghampiri dirinya. Dan mereka semua kini tengah menantikan drama apa yang akan dimainkan oleh seorang Darel Wilson.


Kini Adelina sudah berdiri di hadapan putra bungsunya. Tangannya kemudian terangkat dan mengusap-usap lembut pipi putih putranya itu.


"Ada apa, hum?"


"Aku lapar," jawab Darel dengan mempoutkan bibirnya.


Adelina seketika tersenyum mendengar jawaban dari putranya. Ditambah lagi dengan bibir manyun putranya itu.


"Kamu mau minta dibuatkan apa? tanya Adelina lembut.


"Eeemm!" Darel berpikir sejenak sembari membayangkan beberapa makanan enak di kepalanya.


Adelina yang melihat wajah putranya seketika tersenyum. Adelina tahu bahwa putranya saat ini tengah memikirkan jenis makanan yang diinginkannya.

__ADS_1


Bukan Adelina saja yang tersenyum melihat wajah Darel ketika sedang berpikir. Arvind, ke 12 putra-putranya dan seluruh anggota keluarga Wilson juga ikut tersenyum melihat wajah Darel.


Detik kemudian, Darel membulatkan matanya sembari tersenyum manis ketika sudah mendapatkan dua makanan yang diinginkannya.


Darel menatap wajah cantik ibunya dengan senyuman manisnya. Adelina yang melihat senyuman putra bungsunya itu merasakan kehangatan di hatinya.


"Sudah dapat makanan apa yang diinginkan, hum?"


Mendengar pertanyaan dari ibunya, Darel langsung manggut-manggut kencang.


"Apa? Katakan pada Mama."


"Aku mau dibuatkan nasi goreng seafood, spaghetti, ayam goreng, kentang goreng, nugget goreng sama sop daging."


Mendengar begitu banyak jenis makanan yang diminta oleh Darel seketika membuat Adelina melongo tak percaya. Di dalam hati Adelina berkata 'Tidak salah putraku meminta sebanyak itu? Apa putraku mampu memakan semuanya?'


Melihat ibunya mematung sembari tatapan matanya menatap dirinya membuat Darel mengerucut kesal.


"Ih, Mama! Kenapa malah bengong. Mama mau tidak memasakkan semua itu?"


"Kamu yakin akan menghabiskan semua itu sayang?" tanya Adelina.


"Mama pikir semua makanan itu untukku. Dan Mama pikir aku yang akan menghabiskan semua itu?" tanya Darel dengan wajah yang masih kesal.


Mendengar pertanyaan dari putra bungsunya, Adelina langsung menganggukkan kepalanya. Dirinya memang berpikir seperti itu.


"Ih, Mama! Bisa-bisa Mama berpikir seperti itu. Mamaku sayang! Semua makanan yang aku minta itu bukan untukku saja, melainkan untuk semua sahabat-sahabat aku. Mereka mau datang kesini."


Mendengar jawaban sekaligus penjelasan dari putra bungsunya seketika membuat Adelina tersenyum malu. Malu karena telah berpikir yang aneh-aneh tentang putranya.


Sementara anggota keluarganya yang sejak tadi mendengar dan melihat interaksi ibu dan anak hanya tersenyum di ruang tengah.


"Baiklah sayang. Mama akan membuatkan semua makanan yang kamu pesan barusan. Mama akan buatkan spesial untuk kamu dan untuk semua sahabat-sahabat kamu."


"Terima kasih, Ma! Mama yang terbiasa. Aku sayang Mama. Muach!" Darel berucap sembari memberikan satu ciuman di pipi kirinya.

__ADS_1


Mendapatkan ciuman dari putranya membuat Adelina tersenyum lebar. Dirinya benar-benar bahagia saat ini.


__ADS_2