Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Calon Adik Ipar


__ADS_3

Darel sudah berada di depan kampus. Dirinya tidak sendirian, melainkan bersama kakak tertuanya yaitu Davian.


Setelah melakukan peperangan mulut dengan kakaknya itu, Darel meminta kakaknya itu untuk mengantarnya ke kampus dengan alasan dirinya tidak semangat membawa mobil atau motor sendiri karena telinganya masih sakit dan mulutnya yang lelah mengocek berjam-jam di meja makan sehingga membuat nafsu berkendaranya hilang.


Mendengar alasan Darel yang tak masuk akal membuat semua anggota keluarganya hanya bisa menghela nafas pasrahnya dan juga geleng-geleng kepala.


Sebelum Darel keluar dari mobil kakaknya. Darel terlebih dahulu melakukan sesuatu kepada kakaknya itu.


"Mana dompetnya kakak. Berikan padaku."


Seketika Davian menatap adiknya dengan tatapan matanya yang membesar. Di dalam hatinya kenapa adiknya itu meminta dompetnya.


"Kakak," panggil Darel dengan menatap wajah kakaknya itu dengan tatapan mata bulatnya.


"Aish!"


Davian berucap kesal, namun tetap menuruti kemauan adiknya itu. Tangannya kemudian merogoh saku celananya yang bagian belakang untuk mengambil dompet.


Setelah dompetnya sudah berada di tangannya, Davian memberikan kepada adiknya yang menyebalkan menurutnya itu.


"Ini." Davian memberikan dompetnya kepada adiknya.


Darel langsung mengambil dompet sang kakak dengan tersenyum manis


"Mau ngapain?" tanya Davian ketika melihat adiknya yang telah membuka dompetnya dan melihat isinya.


"Kakak," panggil Darel.


"Ada apa?"


"Kartu ini berapa jumlah uangnya?" tanya Darel dengan menunjuk kartu kredit warna hitam yang berlogo CIMB.


"Mau ngapain nanya-nanya?" tanya Davian ketus.


"Ih, sensitif amat sih. Biasa aja kali jawabnya. Nggak usah ngegas gitu."


"Yeayy! Tesresah kakak. Kenapa kamu yang sewot."


Seketika Darel membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari kakaknya itu. Kemudian Darel menatap wajah kakaknya yang juga menatap dirinya.


"Tesresah? Kata dari mana tuh? Yang benar itu terserah. Ih, malu-maluin. Seorang CEO, tapi ngomongnya kayak anak kecil usia 2 tahun. Anak kecil aja ngomongnya aja udah lancar. Malu kali."

__ADS_1


"Kenapa situ yang sewot."


Darel seketika cemberut, sedangkan Davian tersenyum.


"Kakak, aku serius. Berapa jumlah yang ada di kartu ini?" tanya Darel dengan menunjuk kembali kartu kredit yang sama.


"Saldo yang ada di dalam kartu itu cukup buat kamu nikah, punya anak dan punya cucu!"


"Saldonya cuma cukup buat aku doang? Terus bagaimana dengan adik-adiknya kakak yang lainnya?"


"Sebenarnya kamu ngapain dengan kartu kakak itu Darel?"


"Ih, jawab dulu pertanyaanku yang tadi."


"Hah!"


Davian seketika menghela nafas pasrahnya akan kelakuan adiknya itu. Mulai tadi malam, sarapan pagi hingga sekarang. Adiknya itu masih terus buat dirinya kesal.


"Kalau untuk kakak-kakak kamu yang lainnya, tuh ada kartu-kartu kredit yang lainnya. Kamu bisa lihat sendiri kan ada berapa jumlah kartu kredit kakak disana."


Darel mengangguk-anggukkan kepalanya ketika mendengar jawaban dari kakak tertuanya itu.


"Kak, aku pinjam yang ini ya?" tanya Darel dengan menarik keluar kartu kredit warna hitam yang berlogo CIMB itu.


Mendengar pertanyaan dari kakaknya. Seketika wajah Darel berubah sedih.


Melihat perubahan wajah adiknya membuat Davian menjadi sedih. Dirinya paling tidak suka jika adiknya memperlihatkan wajah sedih seperti saat ini. Kalau boleh jujur. Dia rela menjadi bahan bullyan dari adik bungsunya itu asal adiknya bahagia.


Berlahan Davian mengangkat tangannya hendak mengusap kepala belakang adiknya itu.


"Ada apa?"


"Aku... Aku mau beli rumah buat Neylan, kak!" Darel berucap dengan suara lirih.


"Aku kasihan sama Neylan. Dia tertekan tinggal di rumahnya. Ibu tirinya selalu saja melontarkan kata-kata kasa untuknya. Bahkan Neylan nggak tahu bahwa ibu tirinya akan mengirim dia ke luar negeri dan dijadikan sebagai wanita penghibur."


Darel menangis ketika menceritakan tentang kehidupan Neylan kepada kakaknya.


Davian seketika terkejut ketika mendengar cerita dari adiknya tentang gadis si pemilik kucing itu. Dirinya tidak menyangka akan kehidupan gadis tersebut.


"Aku mau bawa Neylan pergi dari rumahnya itu kak agar ibu tirinya itu tidak bisa membawa Neylan keluar negeri."

__ADS_1


"Bagaimana dengan sanak saudaranya? Apa Neylan tidak memiliki saudara?" tanya Davian.


"Ada. Tapi mereka semuanya jauh. Butuh beberapa hari untuk sampai disana. Aku sudah meminta tiga tangan kananku untuk mencari tahu tentang saudara Neylan dari kedua orang tuanya Neylan. Dan informasi yang aku terima, baik saudara dari pihak ayahnya maupun dari pihak ibunya semuanya berada diluar kota dan juga luar negeri. Dan aku juga dapat kabar, semua saudara-saudara Neylan sayang dan peduli dengan Neylan. Mereka tidak tahu kondisi Neylan sekarang ini karena ayahnya Neylan tidak pernah berkomunikasi dengan semua saudara-saudaranya, termasuk dengan saudara-saudara dari istri pertamanya sejak dia menikah lagi."


Davian ikut merasakan kesedihan ketika mendengar cerita tentang kehidupan Neylan. Apalagi ketika melihat wajah sedih adiknya. Hatinya benar-benar sakit.


"Apa akan baik-baik saja jika Neylan tinggal sendiri di rumah yang nantinya akan Neylan tempati? Takutnya justru ibu tirinya makin marah kepada Neylan."


"Kalau masalah itu, aku dan orang-orangku sudah mengaturnya, termasuk keselamatan Neylan. Selama ayahnya Neylan masih berada diluar negeri. Dan selama ayahnya Neylan belum mengetahui sifat buruk istri keduanya terhadap putrinya. Neylan dalam penjagaan orang-orangku. Jika ibu tirinya itu berani main tangan, maka orang-orangku akan membalasnya langsung."


"Bagaimana kalau kamu bawa Neylan ke rumah pribadi kakak saja. Nggak usah beli rumah. Ditambah lagi di rumah pribadi kakak itu sudah lengkap dengan banyak kamera pengintai dan alat penyadap."


Mendengar perkataan dari kakaknya itu membuat Darel langsung menatap wajah tampan kakaknya itu.


"Boleh?"


"Tentu."


"Tapi itu kan rumah itu nggak pernah dikunjungi oleh orang lain selain anggota keluarga Wilson."


Davian tersenyum ketika mendengar ucapan dari adiknya itu. Tangannya kemudian mengusap lembut pipi putih adiknya.


"Sekarang masalahnya beda. Kamu tengah berjuang menyelamatkan calon adik iparnya kakak agar bisa selamat dari terkaman singa betina," goda Davian sembari memperlihatkan senyuman manisnya di hadapan adiknya.


"Aish! Apaan sih kak. Dia bukan kekasih aku. Aku nolongin dia karena kemanusiaan saja. Nggak lebih. Lagian aku masih dendam sama dia yang sampai detik ini dia masih nyebut aku yang udah nyulik kucingnya dia."


Davian tersenyum gemas ketika mendengar ucapan dan melihat wajah manyun adiknya itu. Wajah adik itu benar-benar lucu kayak anak kecil berusia 4 tahun.


"Iyain aja deh!"


"Ih, kakak! Beneran! Aku dan Neylan nggak pacaran," ucap Darel kesal.


"Yang bilang kamu sama Neylan pacaran siapa, hum?"


Deg..


Seketika wajah Darel berubah merah karena malu. Dia membenarkan apa yang dikatakan kakaknya bahwa kakaknya itu tidak menyebut dirinya pacaran sama Neylan.


"Ach, bodo!"


Darel tetap mengambil satu kartu kredit milik kakaknya itu. Setelah itu, Darel mengembalikan dompet itu kepada kakaknya.

__ADS_1


Setelah mengambil kartu kredit milik kakaknya, Darel pun langsung keluar dari dalam mobil. Jika berlama-lama di dalam mobil, bisa-bisa dirinya akan mengeluarkan kata-kata indahnya untuk kakaknya itu. Bahkan dirinya akan mengabsen semua penghuni kebun binatang.


Sementara Davian hanya tersenyum melihat wajah merajuk adiknya itu. Dirinya bahagia jika melihat wajah adiknya yang merengut karena kesal dari pada melihat wajah sedihnya.


__ADS_2