
"Mama. Ini Alisha datang lagi. Mama kapan bangun," ucap Alisha dengan tangannya mengusap lembut pipi ibunya yang tirus.
Saat ini Alisha berada di ruang rawat ibunya. Dirinya datang bersama ayahnya.
Di ruang rawat tersebut juga ada kelima putra Mathew dan Agatha. Kelimanya duduk di sofa bersama kedua ayahnya.
Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan memutuskan memanggil Andrean dengan sebutan Papa. Begitu juga dengan Alisha yang yang juga memanggil Mathew dengan sebutan Papa.
"Kemarin dokter masuk memeriksa keadaan Agatha. Apa ada perkembangannya?" tanya Andrean kepada Mathew.
Mendapatkan pertanyaan dari Andrean mengenai kondisi istrinya membuat Mathew langsung menggelengkan kepalanya.
"Papa Mathew!" panggil Alisha.
Mathew Langsung melihat kearah Alisha yang saat ini masih mengajak istrinya bicara. Begitu juga dengan Andrean, Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky dan Aldan.
"Iya, sayang!" Mathew menjawab panggilan dari Alisha.
"Bagaimana dengan orang-orang yang sudah nyakitin Mama? Apa mereka diberikan hukuman tambahan atas kelakuan menjijikan mereka itu?" tanya Alisha.
"Papa tidak tahu hal itu. Kemungkinan kelima kakak kamu tahu. Coba tanya sama mereka," sahut Mathew dengan menatap kearah kelima putranya secara bergantian.
Alisha langsung melihat kearah kakak sulungnya yaitu Rayyan.
"Apa kakak Rayyan tahu?"
Rayyan tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari adik perempuannya itu.
"Kakak tidak tahu bagaimana nasib orang-orang yang sudah nyakitin Mama. Tapi terakhir kakak dengar bahwa adik sepupu kakak yaitu Darel telah menuntut orang-orang yang sudah nyakitin Mama untuk mendapatkan hukuman berat. Kakak juga dengar jika mereka akan mendapatkan hukuman mati jika Mama sampai meninggal."
Mendengar jawaban sekaligus penjelasan dari kakak tertuanya itu membuat Alisha merasakan kelegaan dan juga bahagia. Setidaknya orang-orang yang sudah menyakiti ibunya mendapatkan hukuman berat.
***
Di kediaman utama Wilson tampak ramai dimana Nevan, Steven dan Marcel kedatangan gadis cantik yang mana ketiga gadis itu mencintai incarannya.
__ADS_1
Kini semua sedang berkumpul di ruang tengah. Hanya para anak-anak saja. Sementara para orang tua sedang berada diluar sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Ketiga gadis itu adalah Mika, Marnella dan Laudya. Ketiganya begitu antusiasnya ketika sedang berbicara dengan Nevan, Steven dan Marcel. Bahkan ketiga tidak memiliki rasa malu sama sekali dengan orang-orang di sekitarnya. Mereka dengan beraninya memeluk Nevan, Steven dan Marcel.
"Jaga jarak. Nggak usah pake peluk-peluk segala. Kalian belum sah. Jadi jangan buat malu," sindir Darel dengan tatapan jijiknya.
Mendengar ucapan sekaligus sindiran dari Darel membuat Mika, Marnella dan Laudya langsung melepaskan pelukannya. Setelah itu, ketiganya menatap dengan tatapan tak suka kearah Darel.
Darel yang ditatap tajam oleh tiga gadis tersebut hanya bersikap acuh dan tak peduli. Justru dirinya semakin mengeluarkan kata-kata indahnya untuk ketiga gadis tersebut.
"Jangan tatap aku seperti itu. Apa kalian pikir aku akan takut dengan tatapan kalian tersebut. Jawabannya sama sekali aku tidak takut. Bagiku tatapan mata kalian itu tidak menakutkan sama sekali."
Mendengar ucapan dari Darel membuat Mika, Marnella dan Laudya mengepal kuat tangannya. Sementara para kakaknya tersenyum dengan tatapan matanya menatap jijik kearah ketiganya.
"Nevan, apa kamu tidak bisa menegur adik kamu itu?' tanya Laudya.
"Memangnya kenapa dengan adikku?" tanya Nevan balik.
"Apa kamu tidak melihat bagaimana cara dia berbicara dan menatapku. Adikmu itu terlihat tidak menyukaiku."
"Setidaknya kamu tegur adikmu. Katakan padanya jangan ikut campur dalam urusan kita berdua."
"Oh, maaf! Jika masalah tersebut aku tidak bisa. Jika adikku atau adikku yang lainnya tidak menyukai seseorang. Mereka pantas untuk menegur orang itu jika orang itu bersikap tak sopan," jawab Nevan.
Mendengar jawaban demi jawaban dari Nevan membuat Laudya terkejut. Dia tidak menyangka jika Nevan akan menolak keinginannya tersebut.
"Lalu bagaimana dengan kamu, Marcel?" tanya Marnella.
"Jawabanku juga sama dengan kak Nevan. Baik kakakku, adik-adikku maupun saudara-saudara sepupuku. Mereka memiliki hal untuk menegur seseorang jika orang itu bersikap tidak sopan," sahut Marcel.
"Hm!" Steven seketika langsung berdehem dengan disertai anggukan kepala ketika mendengar jawaban dari Marcel adik sepupunya.
"Jadi, jika kamu ingin tetap memiliki hubungan denganku, maka kamu harus tahan setiap mendengar kata-kata yang kurang mengenakkan dari Darel. Karena memang seperti itulah cara Darel berkomunikasi dengan orang-orang yang tidak dia sukai. Apalagi orang-orang itu berusaha mendekati kakak-kakaknya," sahut Steven.
Mendengar Marcel dan Steven membuat Mika dan Marnella menatap syok kearah Marcel dan Steven. Mereka berdua tidak menyangka jika Marcel dan Steven akan berbicara seperti itu.
__ADS_1
Darel serta para kakak-kakaknya yang lain tersenyum penuh kebahagiaan ketika melihat wajah syok Mika, Marnella dan Laudya. Hari pertama kunjungan sudah berhasil membuat ketiganya syok.
"Sudahlah. Lebih baik kalian pulang. Kalian sudah cukup lama disini. Jika tidak salah, kalian disini sudah dua jam. Itu adalah waktu yang terlama. Kami semua ingin istirahat," sindir Darel dengan menatap datar kearah Mika, Marnella dan Laudya bergantian.
Mendengar ucapan sekaligus pengusiran dari Darel membuat Mika, Marnella dan Laudya menatap tak percaya kearah Darel.
"Kalian tidak lupakan letak pintu keluarnya? Pintu keluarnya masih sama seperti saat kalian masuk ke rumah ini. Silahkan tinggalkan rumah ini. Jika kalian ingin berkunjung lagi, kalian boleh datang lagi. Tapi ingat! Waktu kunjungannya hanya satu jam. Lewat dari itu kami akan mengusir kalian. Paham!"
Setelah mengatakan itu, Darel langsung berdiri dari duduknya. Dirinya memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dirinya baru ingat bahwa ada beberapa tugas kampus yang belum dia selesaikan.
"Mau kemana?" tanya Ghali.
"Ke kamar. Aku mau menyelesaikan tugas Kampusku," jawab Darel.
"Mau kakak buatkan makanan dan minuman kesukaan kamu," tawar Daffa.
"Eeemmm... Nggak keburu kalau kakak Daffa memasaknya. Bagaimana kalau delivery saja?"
Daffa seketika langsung tersenyum ketika mendengar ucapan sekaligus permintaan dari adik bungsunya itu.
"Oke! Kakak akan delivery makanan dan minuman kesukaan kamu," jawab Daffa.
Darel tersenyum ketika mendapatkan jawaban yang memuaskan dari kakak ketujuhnya itu.
"Terima kasih kakakku sayang."
"Sama-sama adikku sayang."
Darel melirik sekilas kearah Nevan, Steven dan Marcel.
"Ingatkan mereka untuk pulang. Nggak baik anak perempuan orang berlama-lama di rumah laki-laki yang bukan suaminya."
"Siap!" Nevan, Steven dan Marcel menjawab secara bersamaan.
Mika, Marnella dan Laudya seketika mengumpat di dalam hatinya ketika mendengar ucapan dari Darel dan sikap patuh Nevan, Steven dan Marcel.
__ADS_1
Setelah itu, Darel pun benar-benar pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya di lantai dua.