Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Ketakutan Aldan Dan Kebahagiaan Darel


__ADS_3

Kediaman Utama Wilson


Di sebuah kamar dengan bercat biru dan kuning. Bahkan ada yang menggunakan wallpaper terlihat seorang pemuda manis dan tampan masih terlelap dalam tidurnya. Dirinya seakan-akan enggan untuk bangun.


Kringgg.. Kringgg..


Kringgg..


Sudah berapa kali jam wekernya berbunyi, namun Darel tidak kunjung bangun juga. Sebelumnya Darel tidak pernah susah kalau bangun pagi.


Beberapa detik kemudian, jam wekernya kembali berbunyi sehingga mengganggu Darel yang sedang tidur.


Kringgg.. Kringgg..


Di bunyi yang kedua, Darel bangun dari tidurnya lalu meraih jam wekernya itu kemudian melemparkan jam weker itu tanpa mempedulikan kerusakan akibat ulahnya sendiri.


Setelah itu melakukan pembullyan terhadap jam wekernya, Darel kembali membaringkan tubuhnya dan melanjutkan tidurnya.


^^^


Sementara di lantai bawah dimana semua anggota keluarga Wilson sudah berkumpul dengan keadaan yang sudah rapi dengan pakaian dinas masing-masing.


Mereka semua saat ini sudah berada di meja makan. Hanya satu orang yang bergabung dengan mereka. Siapa lagi kalau bukan Darel Wilson, kesayangannya Papa, Mama dan ke 12 kakak-kakaknya.


"Kalian makanlah dulu. Aku akan ke kamar Darel untuk membangunnya. Jangan sampai Darel marah ke kita kalau sampai dia tidak kuliah hari ini. Ini adalah kuliah pertamanya dengan kelima sahabatnya dan sahabat-sahabatnya yang lain." Adelina berbicara sembari meletakkan teh hangat untuk suami dan untuk ke 12 putra-putranya. Begitu juga dengan Salma dan Evita.


"Dan ini untuk adik ipar kakak yang paling tampan," ucap Salma sembari meletakkan satu gelas teh hangat di hadapannya.


William tersenyum bahagia ketika kakak iparnya yang cantik memberikan segelas teh hangat untuknya.


"Terima kasih kakak ipar yang cantik," jawab William.


Walau pun William tidak memiliki istri. Adelina, Salma dan Evita sang adik perempuannya tidak pernah melupakan kewajiban mereka sebagai kakak dan adik terhadap William. Mereka tetap melayani William layaknya melayani suami dan anak-anak mereka ketika di meja makan. Bagaimana pun mereka bertiga adalah nyonya rumah dan sudah seharusnya mereka memperhatikan semua anggota keluarganya. Tak terkecuali!


"Mama," panggil Evan.


Adelina langsung menatap wajah putranya itu. "Iya, sayang! Ada apa?"


"Biarkan aku saja yang ke kamar Darel untuk membangunnya."


Adelina tersenyum. "Ach, baiklah! Sekarang pergilah. Bangunkan adikmu itu."


"Hm!" Evan berdehem sebagai jawabannya lalu Evan langsung berdiri dan melangkahkan kakinya menuju lantai dua.

__ADS_1


***


Kediaman Mathew Wilson


Rayyan dan keempat adiknya sudah berada di meja makan. Saat ini mereka tengah menikmati sarapan paginya dengan penuh kebahagiaan. Mereka semua bersyukur akan kehidupan mereka sekarang ini. Jauh berbeda dari yang sebelumnya.


"Kakak," panggil Aldan.


Mendengar panggilan dari Aldan seketika Rayyan, Kevin, Caleb dan Dzaky langsung melihat kearah adiknya yang juga menatap mereka satu persatu.


"Ada apa, hum?" tanya Rayyan lembut.


"Aku takut," cicit Aldan.


"Takut apa, Aldan?" tanya Kevin.


"Takut jika keluarga Wilson marah kepada kita," jawab Aldan.


"Kakak masih nggak ngerti. Kamu takut kenapa? Dan kenapa kamu sampai ngomong gitu?"


"Ini masalah Papa dan Mama. Kakak nggak lupakan status mereka sekarang? Dua yang aku takutkan kak."


Mendengar jawaban dan perkataan adiknya seketika rasa takut melanda diri Rayyan, Kevin, Caleb dan Dzaky.


Aldan menatap wajah kelima kakak-kakaknya dengan air matanya mengalir membasahi wajahnya.


"Aku nggak mau Darel kenapa-kenapa. Aku nggak mau keluarga Wilson menyalahkan Darel. Darel sudah memberikan kita kebahagiaan dengan kita setiap hari mengunjungi Papa dan Mama di dalam penjara. Yang parahnya, semua orang tidak ada yang tahu. Yang tahu hanya kita dan Darel. Termasuk pihak kepolisian."


Mereka semua terdiam. Di dalam hati Rayyan, Kevin, Caleb dan Dzaky membenarkan apa yang dikatakan oleh Aldan.


"Kamu tenang, oke! Selama kita berhati-hati. Selama kita tidak membahas itu. Selama kita tutup mulut sesuai apa yang dikatakan oleh Darel kepada kita. Masalah Papa dan Mama yang masih hidup keluarga Wilson tidak akan tahu."


Rayyan berbicara lembut kepada adiknya sembari berusaha menghibur adiknya itu, walau di dalam hatinya merasakan ketakutan yang sama seperti adiknya. Begitu juga dengan Kevin, Caleb dan Dzaky.


"Bagaimana dengan Paman Daksa?" tanya Aldan tiba-tiba.


"Paman Daksa?!" tanya Rayyan, Kevin, Caleb dan Dzaky bersamaan.


"Kenapa dengan Paman Daksa?" tanya Caleb.


"Kan Paman Daksa itu bersahabat dengan kepala kepolisian. Nah! Bisa saja kepala kepolisian itu memberitahu Paman Daksa," jawab Aldan.


Deg..

__ADS_1


Rayyan, Kevin, Caleb dan Dzaky seketika terkejut ketika mengingat fakta tersebut. Mereka sampai melupakan hal itu.


"Sudah-sudah. Kita tidak perlu memikirkan itu. Positif thinking saja. Semoga apa yang kita takutkan tidak benar-benar terjadi," hibur Kevin.


"Jika pun nanti itu benar-benar terjadi. Dan mereka memarahi Darel karena telah merahasiakan tentang Papa dan Mama. Mereka juga yang akan menyesal," sahut Kevin.


"Menyesal? Maksudnya?" tanya Dzaky dan Aldan yang tidak mengerti.


"Kalian tidak melupakan fakta tentang Darel kan?" tanya Kevin.


"Kalian tidak lupakan bagaimana kondisi tubuh Darel. Dan bagaimana perjuangan Darel selama ini sehingga dia masih bersama kita, bersama keluarganya?" tanya Caleb.


"Dan sudah berapa kali Darel keluar masuk rumah sakit? Berapa kali Darel yang dinyatakan meninggal. Dan berapa kali semuanya anggota keluarga menangis ketika Darel dinyatakan meninggal? Darel itu adalah ibarat sebuah gelas dan kertas. Jika sedikit saja gelas dan kertas itu pecah dan robek. Sekali pun disatukan kembali. Hasilnya tidak akan bisa kembali utuh seperti semula. Dia akan terlihat bekas pecahan di bagian gelas dan bekas sobekan di kertas itu." Rayyan berucap sembari menjelaskan tentang kondisi Darel saat ini.


"Jadi intinya, jika mereka tidak ingin kehilangan Darel lagi. Mereka harus benar-benar menjaga, melindungi, peduli dan menyayangi Darel sepenuhnya. Tidak peduli apa yang Darel lakukan. Sekali pun Darel menyembunyikan sesuatu dari mereka," ucap Kevin menambahkan.


"Sama seperti anggota keluarga Wilson yang menyembunyikan semua rahasia mereka dari Darel. Alasan mereka adalah demi Darel. Mereka tidak ingin Darel kenapa-kenapa. Lalu apa bedanya dengan Darel yang menyembunyikan masalah Papa dan Mama? Darel melakukan hal itu juga demi kita dan demi anggota keluarga Wilson. Darel tidak ingin ada pertengkaran dan Kebencian di dalamnya. Darel ingin semuanya baik-baik saja sesama anggota keluarga Wilson, terutama dengan kita." Caleb juga ikut menjelaskan alasan Darel merahasiakan tentang kedua orang tuanya.


Mendengar penuturan dari ketiga kakaknya membuat Dzaky dan Aldan seketika langsung paham.


***


Kediaman Utama Wilson


Semua anggota keluarga Wilson sudah berkumpul di meja makan termasuk Darel. Semuanya tampak senang dan bahagia.


"Hari ini adalah hari dimana putra Mama Darel Wilson masuk kuliah lagi setelah sembuh dari pasca diracuni oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu!"


Mendengar seruan dari ibunya seketika terukir senyuman manis di bibir Darel. Dirinya saat ini tengah bahagia karena di kampus nanti semua sahabat-sahabatnya akan menyambutnya. Terutama kelima sahabatnya yang telah berpisah lama dengan dirinya.


Melihat senyuman kebahagiaan di wajah Darel membuat mereka semua ikut merasakan kebahagiaan yang sama. Bahkan mereka yang paling bahagia disini.


"Apa kamu bahagia, hum?" tanya Arvind.


"Jangan ditanyakan lagi, Pa! Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku benar-benar bahagia. Ini kuliah pertamaku bersama kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano dan kak Farrel! Lengkap dengan semua sahabat-sahabat aku. Dan yang buat aku bahagia lagi adalah aku bisa memperlihatkan kepada mereka disaat aku bawa mobil sendiri ke Kampus."


Darren tersenyum ketika mengatakan itu di hadapan semua anggota keluarganya. Ketika dia mengatakan itu semua tersirat kebahagiaan di wajahnya. Semua beban lepas.


Arvind, Adelina dan ke 12 putra-putranya ikut tersenyum ketika melihat senyuman kebahagiaan di wajah Darel. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Mereka juga ikut bahagia. Inilah yang mereka harapkan.


Mereka ingin melihat Darel terus bahagia dari pada mereka yang melihat Darel selalu bersedih hingga berakhir mengurung diri di dalam kamar.


Jika sudah seperti itu, mereka sulit untuk menggapainya. Butuh kesabaran, butuh tenaga dan butuh kerja keras lebih untuk bisa menggapai kesayangannya itu kembali.

__ADS_1


__ADS_2