Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Kata-Kata Kejam Darel


__ADS_3

Keesokan paginya dimana semua anggota keluarga sudah dalam keadaan rapi dengan pakaian santai masing-masing. Dikarenakan hari ini adalah hari libur, semua anggota keluarga memutuskan untuk di rumah saja kecuali para anak-anak mereka. Jika anak-anak mereka ingin pergi keluar untuk jalan-jalan, mereka tidak keberatan terutama di bungsu kesayangannya keluarga Wilson yang memang sudah ada rencana hari ini bersama sahabat-sahabatnya.


Mereka semua telah berkumpul di ruang tengah setelah selesai melaksanakan sarapan pagi bersama. Mereka semua mengobrol kecil sembari bersenda gurau. Yang memulai kejahilan tersebut adalah Dylan, bungsunya William dan ditambah dengan celoteh-celoteh Evan, Raffa, Rendra dan Melvin sehingga membuat mereka semua tertawa.


"Eh, Darel kenapa belum turun? Ngapain tuh anak di kamarnya?!" seru Erick.


"Iya, iya! Kenapa Darel belum turun juga," sela Gilang.


Setelah Erick dan Gilang mengatakan itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Mereka semua dengan kompak langsung melihat keasal suara. Seketika terukir senyuman manis di bibir mereka masing-masing ketika melihat kedatangan orang yang mereka bicarakan.


"Panjang umur tuh anak," celetuk Deon.


"Baru aja diomongin langsung nongol batang hidungnya," pungkas Satya.


"Kenapa tuh mata? Ada ya salah sama wajah dan penampilan aku pagi ini sehingga kalian liatnya sampai segitunya," ucap dan tanya Darel bersamaan dengan dirinya menduduki pantatnya di sebelah ibunya.


"Kita liatin kamu karena kamu terlihat tampan pagi ini," sahut Steven.


"Terima kasih pujiannya. Tapi maaf aku tidak punya uang receh buat bayar pujian kakak itu."


Seketika Steven mendengus ketika mendengar jawaban dari adik sepupunya itu. Sementara yang lainnya tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala mendengar ucapan dari Darel.


Ketika mereka semua sedang berkumpul bersama sembari mengobrol, tiba-tiba datang seorang pelayan ingin mengatakan jika ada tamu.


"Maaf tuan, nyonya!"


"Iya, Bi!" Salma yang bertanya kepada pelayan tersebut.


"Di depan ada perempuan yang ingin bertemu dengan tuan muda Ghali."


Mendengar jawaban dari pelayan tersebut membuat semua anggota keluarga langsung melihat kearah Ghali termasuk Darel. Tatapan Darel seketika tak mengenakkan.


"Dimana dia sekarang?" tanya Ghali.


"Di ruang tamu, tuan muda!"


Seketika Darel berdiri dari duduknya dengan tatapan matanya menatap sang pelayan wanita itu.


"Yak! Kenapa bibi mempersilahkan perempuan itu masuk?! Jika ada barang-barang yang hilang, bagaimana?!' Darel seketika bersuara.


"Maafkan Bibi, tuan muda Darel!"


"CK!"


Setelah itu Darel pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju ruang tamu dalam keadaan muka kusutnya.


Melihat kepergian Darel yang tiba-tiba membuat Ghali langsung mengejar adiknya itu. Dan disusul oleh kakak-kakaknya yang lain dan kakak-kakak sepupunya.


Sementara para orang tua tetap di ruang tengah. Mereka tidak ikut campur permasalahan anak muda.


"Ya, sudah. Bibi kembalilah ke dapur. Buatkan minuman untuk tamunya. Masalah perkataan Darel barusan. Bibi jangan masukkan ke dalam hati. Darel memang seperti kalau bicara," ucap Adelina lembut.


"Bibi sudah tahukan bagaimana sifat Darel selama ini? Bibi harap maklum akan hal itu," tanya Arvind.


"Saya mengerti tuan, nyonya! Sungguh! Saya tidak tersinggung sama sekali. Saya tahu seperti apa tuan muda Darel."

__ADS_1


"Terima kasih ya karena Bibi sudah mengerti akan Darel."


"Sama-sama nyonya. Nyonya tidak perlu berterima kasih sama saya."


Setelah mengatakan itu, pelayan wanita itu kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.


^^^


"Ngapain lo datang ke rumah gue?!" teriak Darel setelah dia berada di ruang tengah.


Darel melihat perempuan yang menjadi tamunya itu sedang duduk di sofa sembari tatapan matanya menatap sekelilingnya.


Perempuan yang datang ke kediaman Utama Wilson adalah Paula Rocio.


"Terus tuh tatapan mata lo, biasa aja kalau ngelihat isi rumah gue. Nggak usah membesar gitu. Apa lo mau bola mata lo lepas lalu menggelinding di lantai?"


Darel berucap dengan penuh kekejaman disertai tatapan matanya yang benar-benar menusuk sampai ke jantung.


Para kakak-kakaknya yang sudah berdiri di belakangnya hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar ucapan kejamnya yang ditujukan untuk Paula.


Sementara Paula yang mendengar ucapan tak manusiawi dari Darel seketika mengepal kuat tangannya. Dirinya tidak menyangka bahwa adik dari laki-laki yang dia kejar memiliki lidah tajam.


Ghali berjalan menuju sofa. Sampai disana, Ghali langsung menduduki pantatnya disana. Beberapa detik kemudian, diikuti oleh para saudara-saudaranya yang lain kecuali Darel.


Kini mereka semua telah duduk di sofa dengan tatapan matanya menatap kearah Paula, sesekali mereka melihat kearah Darel yang tatapan matanya tak lepas menatap kearah Paula. Baik Davian, Nevan maupun saudara-saudaranya yang lain mengartikan kalau tatapan Darel tersebut mengandung tatapan penuh dendam.


"Rel, duduk sini!" seru Arga.


"Males. Lebih enak berdiri disini. Jadi jika perempuan itu melakukan hal yang tak terduga, maka aku bisa langsung bertindak dengan menyeret dia keluar dari rumah ini!"


Ketika Ghali hendak membuka mulutnya bertujuan ingin bertanya maksud dan tujuan kedatangan Paula, namun langsung dihentikan oleh adiknya.


"Woi! Jawab pertanyaan gue tadi. Lo mau ngapain datang kesini?! Kalau mau minta sumbangan bukan disini tempatnya. Cari saja rumah yang lain!"" teriak Darel.


Mendengar teriakan melengking Darel seketika membuat Davian serta yang lainnya langsung menutup telinganya masing-masing.


"Yak, Rel! Kenapa berteriak sih?!" tanya Vano kesal akan kelakuan adik bungsunya itu.


Darel langsung menatap wajah kakak pucatnya itu dengan tatapan horornya. "Apa?! Mau marah? Ayo, marah sekarang! Setelah itu, kita musuhan lagi!"


Seketika Vano membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan sekaligus tantangan dan ancaman dari Darel. Dia tidak menyangka jika Darel akan berbicara seperti itu.


Sementara untuk kakak-kakaknya yang lain hanya bisa diam dan tidak ada yang bersuara. Jika mereka salah bicara bisa runyam nantinya. Bisa-bisa adiknya kembali merajuk dan ujung-ujungnya mereka juga yang akan kerepotan untuk membujuknya.


Darel kembali menatap kearah Paula dengan tatapan mematikannya. Sementara Paula langsung mengalihkan pandangannya menatap kearah Ghali.


"Ghali, maksud kedatanganku kesini karena ingin meminta maaf pada adikmu tentang permasalahan di toko laptop beberapa hari yang lalu." Paula berbicara sembari menatap wajah Ghali dan sesekali melirik kearah Darel.


"Aneh! Lo berbuat salah sama gue. Justru lo minta maafnya sama kakak gue. Hei, dengar ya! Gue Darel Wilson nggak akan pernah sudi memaafkan kesalahan lo. Mau lo nangis, lo sujud di kaki gue bahkan sampai guling-guling di lantai. Gue tetep tidak akan memberikan maaf untuk perempuan kayak lo. Ini kesalahan lo yang kedua. Kesalahan pertama lo aja, lo belum minta maaf."


"Dimana-mana jika ingin melakukan sesuatu harus mulai dari yang pertama. Nggak asal lompat gitu aja. Lo ngerti kan?!"


"Nah, sekarang lo udah tahu jawaban gue kan. Sekarang silahkan pulang," usir Darel.


Paula menatap Darel dengan tatapan matanya yang tajam dan juga marah. Dia tidak terima Darel bersikap semena-mena pada dirinya.

__ADS_1


"Lo benar-benar kurang ajar banget ya. Gue datang baik-baik kesini gunanya untuk minta maaf sama lo karena sikap buruk gue sama lo. Tapi apa yang gue dapatkan!" bentak Paula.


"Hei, nona! Jangan beraninya anda membentak adik saya! Anda bukan siapa-siapa adik saya!" bentak Davian.


"Jika anda tidak ingin saya membentak adik anda. Tolong katakan kepada adik anda itu untuk menghormati saya. Saya disini tamu." Paula menjawab perkataan dari Davian.


"Adik saya tahu bagaimana cara menghormati tamu. Dan adik saya juga tahu seperti apa sifat tamunya. Kenapa adik saya tidak menghormati anda karena anda yang telah membuat adik saya seperti sekarang ini. Adik saya sudah mengetahui kelakuan buruk anda," sahut Nevan.


Paula tersenyum sinis menatap kearah Davian dan Nevan selaku kakak tertua Darel.


"Terbukti sekarang ini dimana anda berbicara dengan dua kakak tertua kami. Cara berbicara anda saja tidak mencerminkan sebagai wanita baik-baik di hadapan saudara tertua kami." Dirga ikut bersuara membela adik sepupunya dari wanita busuk tersebut.


Ketika Paula ingin membuka mulutnya hendak menjawab perkataan dari Dirga seketika Darel sudah terlebih dulu bersuara.


"Sudah cukup! Lebih baik lo pergi dari sini. Kedatangan lo sangat menggangu. Dan juga kedatangan lo tidak diundang sama sekali!" bentak Darel.


"Lo nggak berhak ngusir gue karena rumah ini bukan hanya milik lo. Rumah ini milik bersama!" bentak Paula geram.


"Hahahahahaha." Darel seketika tertawa keras ketika mendengar ucapan dari Paula. "Siapa bilang gue nggak punya hak buat ngusir lo dari rumah ini. Justru gue punya hak penuh mengusir siapa pun yang tidak gue sukai dari rumah ini termasuk perempuan busuk seperti lo!" bentak Darel yang tak kalah dari bentakan Paula.


Darel mengalihkan perhatiannya menatap kearah Ghali kakak ketiganya itu.


"Aku mau bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan bersama semua sahabat-sahabat aku. Aku mau perempuan itu sudah pergi dari rumah ini ketika aku selesai bersiap-siap. Ketika aku turun, perempuan ini sudah tidak ada lagi di rumah ini."


Setelah mengatakan itu, Darel langsung pergi meninggalkan ruang tamu untuk menuju kamarnya di lantai dua.


Ghali melihat kearah Paula yang juga tengah menatap dirinya.


"Maafkan aku, Paula. Sepertinya kamu harus pergi dari sini. Aku tidak mau membuat adikku kembali marah-marah dan teriak-teriak."


Seketika Paula terkejut dan syok ketika mendengar ucapan dari Ghali yang meminta dirinya untuk segera pergi.


"Ghali, bagaimana bisa kamu begitu menuruti perintah dan kemauan adik kamu itu. Disini kamu yang kakaknya. Seharusnya dia yang dengarin kata-kata kamu dan juga perintah kamu."


"Yaelah! Ribet amat hidup lo," batin Raffa.


"Asal lo tahu. Adikku itu adalah adik yang super penurut. Dia tidak pernah membangkang sedikit pun. Dia seperti ini itu karena lo," batin Elvan.


"Memang benar apa yang kamu katakan barusan bahwa seharusnya adikku yang patuh padaku. Tapi disini lain ceritanya. Adikku itu marah padamu. Dia tidak ingin melihatmu berlama-lama disini. Maka dari itulah kenapa adikku memintaku untuk mengusir kamu dari sini. Dan aku sebagai kakaknya dengan senang hati melakukannya karena dia adalah adik kesayanganku." Ghali berucap dengan santainya.


Deg..


Paula seketika terkejut mendengar ucapan kejam dari Ghali. Dia tidak menyangka jika Ghali akan berbicara seperti itu padanya.


"Dan satu lagi. Adikku itu punya hak penuh atas rumah ini karena dia ahli waris tunggal kekayaan keluarga Antoni Wilson!" seru Evan dengan menatap jijik kearah Paula.


Deg..


Paula kembali terkejut ketika mendengar ucapan dari Evan yang mengatakan bahwa Darel adik bungsunya dari laki-laki yang dia sukai adalah Pewaris Tunggal kekayaan keluarga Wilson.


Melihat keterkejutan di wajah Paula membuat Davian serta adik-adiknya termasuk adik-adik sepupunya tersenyum menyeringai.


"Sekarang kamu mengerti kan? Lebih baik sekarang kamu pulang sebelum adikku turun dan melihatmu masih disini. Kamu tidak inginkan mendengar kata-kata buruk lebih banyak lagi dari mulut adikku itu?"


Mendengar ucapan dari Ghali membuat Paula menatap tajam kearah Ghali. Setelah itu, Paula beranjak dari duduknya dan langsung pergi meninggalkan kediaman keluarga Wilson.

__ADS_1


__ADS_2