Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S3. Tujuanku Meminta Pulang


__ADS_3

Darel seketika tersenyum di sudut bibirnya kala mengingat kejadian dimana dirinya hampir merenggang nyawa kala dalam perjalanan pulang ke rumah.


"Sayang," panggil Arvind sembari mengusap lembut kepala putranya.


Darel langsung melihat kearah ayahnya yang saat ini tengah menatap dirinya.


"Ada apa, hum?"


"Aku mau pulang."


Mendengar jawaban dari Darel membuat Arvind diam sesaat. Kemudian Arvind menatap kearah keenam putra-putra tertuanya.


Setelah itu, Arvind kembali menatap kearah putra bungsunya yang saat masih menatap dirinya.


"Apa kamu yakin ingin pulang? Apa sudah benar-benar tidak sakit lagi kepalanya?" tanya Arvind.


"Aku sudah baik-baik saja, Pa! Papa tidak perlu khawatir. Nanti di rumah aku akan istirahat."


Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari putra bungsunya membuat Arvind menjawab tidak tega, apalagi ketika melihat wajah memohon putranya itu.


"Baiklah. Papa izinkan pulang."


Detik kemudian...


"Yak, Paman Arvind!" Kenzo tiba-tiba berseru.


Mendengar seruan tiba-tiba dari Kenzo membuat Arvind langsung melihat kearah Kenzo. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka menatap bingung kearah Kenzo.


"Lo kenapa Kenzo?" tanya Gavin.


"Ada apa, nak?" tanya Arvind lembut.


"Yang Dokter itu adalah Papaku. Kenapa Paman yang memberikan izin anak kancil itu pulang?" jawab Kenzo dengan seenaknya.


Mendengar ucapan sarkas dari Kenzo membuat Arvind seketika tersenyum. Begitu juga dengan yang lain. Tapi tidak dengan Darel. Darel menatap tajam kearah Kenzo.


"Lo ada dendam apa sama gue, anak Jin! Udah bosan hidup lo!"


Mendengar ucapan kejam dari Darel membuat Kenzo seketika membelalakkan matanya tak percaya. Sedangkan yang lainnya tersenyum sembari geleng-geleng kepala.


"Emangnya lo bisa apa, hah?! Lo tuh lagi sakit. Jadi, istirahatkan tubuh dan otak lo. Nggak usah mikir macem-macem."


"Lo jangan lupakan satu hal, anak kingkong! Gue memang lagi sakit dan nggak bisa melakukan apa-apa termasuk bunuh lo. Tapi gue bisa nyuruh kak Arzan atau Zayan buat lenyapin lo dari dunia ini!"


Deg..


Seketika Kenzo meneguk ludahnya secara kasar ketika mendengar ucapan dari Darel. Tatapan matanya menatap tajam kearah Darel. Begitu juga dengan Darel yang tak kalah tajam menatap dirinya.


Sementara Arvind, Adelina, kakak-kakak kandung Darel, kakak-kakak sepupu Darel, Paman dan Bibi Darel serta sahabat-sahabatnya tersenyum ketika mendengar ucapan dari Darel dan melihat wajah takut Kenzo.


"Dikarenakan lo udah buat mood gue buruk hari ini, sekarang panggil Papa lo dan suruh kesini buat meriksa gue. Dan bilang juga sama Papa lo itu bahwa putra bungsunya Arvind Wilson ingin pulang."


"Siapa lo nyuruh-nyuruh gue. Kalau lo ingin Papa gue datang kesini. Tuh lo pencet aja tombol merah yang sudah berabad-abad nempel di dinding," sahut Kenzo sembari menunjuk dengan dagunya kearah dinding. Dan jangan lupa tatapan matanya yang menatap horor Darel.


Darel seketika mendengus ketika mendengar jawaban serta penolakan dari Kenzo.


"Oh. Jadi lo nggak mau mengabulkan keinginan gue?" Darel menatap Kenzo dengan menaik turunkan kedua alisnya.


Sementara anggota keluarganya dan sahabat-sahabatnya serta Aryan dan Arzan hanya tersenyum melihatnya.


"Baiklah kalau begitu. Gue bakal....."

__ADS_1


"Nggak usah pake ancaman segala, anak setan!"


Darel seketika tersenyum manis mendengar ucapan indah yang keluar dari mulut Kenzo dan juga melihat wajah kesalnya.


"Udah buruan sana! Panggil Papa lo dan suruh kesini. Jangan buat si anak kancil tambah murka!" Azri seketika itu bersuara dikarenakan dirinya sudah jengah melihat kelakuan kedua sahabatnya itu.


Darel mendengus. "Kak Azri, aku bukan anak kancil. Aku....."


"Oh, maaf! Kamu bukan anak kancil, tapi kamu anak kelinci." Azri langsung memotong ucapan Darel.


"Hahahahahaha." Kenzo seketika tertawa keras ketika mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Azri.


Darel seketika mendelik ketika mendengar tawa keras Kenzo.


Dan detik kemudian...


"Kenzo Roberto!"


"Hahahaha."


Cklek..


Blam..


Kenzo kembali tertawa bersamaan Kenzo yang pergi meninggalkan ruang rawat Darel.


Sementara Arvind, Adelina, Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa tersenyum dan geleng-geleng kepala. Begitu juga dengan anggota keluarga Darel lain dan sahabat-sahabatnya.


***


Di kediaman Fausta terlihat seorang gadis cantik tengah duduk di sofa ruang tengah. Gadis itu sedang menikmati susu coklatnya sembari memikirkan sesuatu untuk besok pagi.


Gadis itu adalah Mindy Fausta, gadis yang menaruh hati terhadap pemuda tampan yang berstatus teman satu sekolahnya yaitu Sarga Ramero.


Mindy kemudian mengambil ponselnya. Setelah itu, Mindy menekan nomor seseorang.


Beberapa detik kemudian..


"...."


"Aku mau kau melakukan sesuatu untukku."


"...."


"Seperti yang sudah pernah kau lakukan setiap kau melakukan kejahatan."


"...."


"Besok ketika dia pulang sekolah. Fotonya aku akan kirim ke nomor Wa kamu."


"...."


Setelah selesai berbicara dengan seseorang, Mindy langsung mematikan panggilannya. Dirinya tersenyum ketika membayangkan wajah cantik Alisha yang penuh dengan luka.


"Tunggu apa yang akan menantimu ketika pulang sekolah, Alisha!"


***


Darel sudah berada di rumahnya. Lebih tepatnya di dalam kamarnya. Dia tidak sendirian, melainkan bersama semua sahabat-sahabatnya.


Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel menatap wajah Darel. Begitu juga dengan Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Lucas, Zelig, Razig, Charlie dan Devon.

__ADS_1


"Rel," panggil Damian yang saat ini tengah melamun.


Seketika Darel tersadar dari lamunannya, lalu mengalihkan perhatiannya menatap Damian.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Aku memikirkan orang itu," jawab Darel langsung.


Mendengar jawaban dari Darel membuat semuanya langsung memberikan tatapannya.


"Kenapa? Apa alasan kamu sampai memikirkan orang itu?" tanya Evano.


"Apa jangan-jangan alasan kamu minta pulang dikarenakan agar orang itu gagal membunuh kamu." Devon berucap dengan tatapan matanya menatap intens manik coklat Darel.


Mereka semua saling memberikan tatapan matanya masing-masing. Baik itu Darel yang menatap semua sahabat-sahabatnya secara bergantian maupun sahabat-sahabatnya yang menatap dirinya.


"Aku nggak mau keluargku menyakitinya, apalagi sampai membunuh laki-laki itu."


"Tapi dia mau bunuh lo, Rel! Gavin berucap dengan sedikit membentak.


"Vin," tegur Kenzo dan Samuel.


Darel seketika menundukkan kepalanya. Bukan karena bentakan Gavin, melainkan masalah yang selalu datang menghampirinya. Dirinya benar-benar lelah.


Melihat Darel yang tiba-tiba menundukkan kepalanya membuat mereka khawatir. Gavin seketika menyesal karena telah membentak Darel.


"Rel, maafin gue. Gue nggak bermaksud membentak lo tadi," ucap Gavin.


Darel langsung mendongakkan kepalanya ketika mendengar ucapan dari Gavin.


"Gue nggak marah sama lo. Gue tadi nunduk bukan karena tersinggung atas bentakan lo, melainkan gue tengah memikirkan kenapa masalah selalu datang menghampiri gue. Gue benar-benar lelah. Gue ingin hidup tenang."


Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Lucas, Zelig, Razig, Charlie dan Devon menatap sedih wajah Darel yang terlihat sedih. Mereka kasihan melihat Darel.


Damian yang kebetulan duduk di samping Darel langsung menarik tubuh Darel dan membawanya ke dalam pelukannya. Dia tahu bahwa Darel saat ini benar-benar butuh sadaran dan dukungan.


"Gue benar-benar lelah, kak! Kapan semua akan berakhir? Kapan gue bisa terbebas dari yang namanya masalah? Gue mau merasakan ketenangan seperti orang pada umumnya."


"Tujuan gue minta pulang adalah untuk menghindari agar tidak terjadi pertumpahan darah lagi. Sudah cukup Papa, kakak Davian, kakak Nevan, kakak Ghali, kakak Elvan, kakak Andre, kakak Arga dan anggota keluarga gue membunuh semua anggota keluarga Rocio. Gue nggak mau hal itu terjadi lagi."


"Tapikan mereka semua melakukan itu karena ingin membalas atas apa yang sudah keluarga Rocio lakukan terhadap keluarga lo dan lo sendiri. Paula Rocio adalah dalang yang sudah menyebabkan lo kecelakaan, Rel!" Gavin berucap sambil menatap kearah Darel.


"Gue tahu, Vin! Tapi nggak harus membunuh kan? Bisa cara lain untuk membalas keluarga itu. Di tambah lagi, gue nggak mati. Gue selamat dalam kecelakaan tersebut."


Darel kemudian melepaskan pelukannya. Setelah itu, Darel menatap satu persatu wajah sahabat-sahabatnya.


"Gue nggak mau keluarga gue jadi pembunuh, apalagi alasannya adalah gue. Gue juga nggak larang mereka untuk membalas orang-orang yang sudah mengusik orang-orang yang mereka sayangi, tapi tidak membunuh."


Darel seketika menangis ketika mengatakan semua itu di hadapan sahabat-sahabatnya.


"Kalau gue boleh tahu. Lo tahu dari mana kalau keluarga lo membunuh semua anggota keluarga Rocio? Bukankah pada saat kejadian itu lo di rumah sakit dan tak sadarkan diri hingga berakhir lo koma dan Amnesia?" tanya Lucas.


"Gue dengar semua dari mulut kalian ketika sedang membahas tentang orang yang hendak bunuh gue. Saat itu gue sudah bangun dari tidur gue hanya saja gue nggak langsung bersuara. Justru gue pura-pura tidur lagi."


"Jadi lo dengar semua yang kita omongin saat itu bahkan saat bersama anggota keluarga lo dan dua tangan kanan lo?" tanya Gavin.


"Iya. Dari situlah gue tahu bahwa keluarga gue membunuh semua anggota keluarga Rocio," jawab Darel.


"Bagaimana dengan Amnesia lo?" tanya Juan.


"Kalau masalah itu, gue juga nggak tahu. Ketika gue bangun, gue seperti tidak terjadi apa-apa. Dengan kata lain, gue ingat semuanya." Darel menjawab pertanyaan dari Juan.

__ADS_1


"Kemungkinan amnesia Darel hanya sementara dan juga bersifat ringan. Jadi, ingatan itu muncul dengan sendirinya. Apalagi saat itu Darel sedang tertidur. Bukankah jika orang yang sedang tertidur atau koma akan berada ke dunia alam bawah sadarnya. Bisa saja Darel mengingat semua kejadian tersebut dari sana," ucap Samuel.


Mendengar ucapan dari Samuel membuat Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Juan, Lucas, Zelig, Razig, Charlie dan Devon membenarkan apa yang dikatakan oleh Samuel termasuk Darel.


__ADS_2