Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Keberhasilan Arzan


__ADS_3

Di sebuah rumah, tapi tidak terlalu mewah dan besar. Terlihat seorang pria yang tengah duduk santai di sofa ruang tengah dengan segelas wine di tangan. Matanya menatap sebuah foto pria tua bersama keempat anak-anaknya. Foto itu adalah foto Antony Wilson dan keempat anaknya yaitu Arvind Wilson, Sandy Wilson, William Wilson dan Evita Wilson.


Pria itu tersenyum jahat kearah foto tersebut. "Tunggu aku. Aku akan datang menemui kalian semua." monolog pria tersebut


***


Semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah, kecuali Agatha dan putra-putranya.


"Darel," panggil William.


"Hm," jawab Darel tanpa melihat wajah William.


Darel saat ini sedang bersandar pada bahu Nevan, kakak keduanya itu sembari memainkan ponselnya. Sedangkan Adelina yang duduk di samping kanannya mengelus-elus rambutnya.


"Paman minta maaf atas apa yang dilakukan oleh Bibimu padamu," ucap William.


"Ini sudah yang keberapa kalinya Paman meminta maaf padaku atas kesalahan istri kesayangan Paman itu?" tanya Darel dengan posisinya masih nyaman bersandar pada Nevan dan tatapan matanya masih fokus pada ponselnya. "Seribu kali pun Paman meminta maaf padaku atas kesalahan perempuan itu, keadaan tidak akan pernah berubah. Semuanya kembali pada Paman. Kalau Paman bisa bersikap tegas pada perempuan itu dan juga pada putra-putra Paman. Aku jamin keadaan pasti bisa berubah. Tapi kalau Paman masih menunjukkan sikap lembek dan lemah di depan mereka, aku 100% menjamin keadaan akan menjadi lebih buruk lagi dari sebelumnya. Dan jangan harap aku dan kakak-kakakku akan diam saja menerima perlakuan buruk dari perempuan itu. Kami bisa menjadi monster mematikan di rumah ini. Paman bisa lihat sendirikan buktinya. Papa yang mengamuk dan memukul meja hingga pecah. Bahkan Papa sudah memberikan tamparan kepada perempuan itu. Kak Davian yang mencekik Kak Rayyan saat aku hampir jatuh dari atas. Kak Alvaro dan Kak Axel yang hampir saja membunuh perempuan itu saat aku dilukai olehnya. Dan kemungkinan besar. Suatu saat nanti kami juga akan melawan Paman jika Paman masih membela perempuan itu." Darel berbicara dengan nada ketus.


Willian terdiam mendengar penuturan dari Darel. Saat ini William benar-benar bingung harus memilih siapa? Di dalam hatinya, dirinya membenarkan apa yang dikatakan Darel. Selama ini memang istrinya dan putra-putranyalah yang selalu mencari masalah. Mungkin karena rasa cintanya pada sang istri, membuat William buta.


Sedangkan anggota keluarga yang lainnya, terutama para kakak-kakaknya tersenyum bangga akan ucapan Darel.


"Darel, sayang." Sandy memanggil Darel dengan nada lembut.


Darel mengalihkan pandangannya melihat sang Paman. "Iya, Paman."


"Bagaimana kepalanya? Apa masih sakit? Apa rasa sakit itu sering datang?"


Darel tersenyum manis pada Sandy, Pamannya. Sandy yang melihat senyuman itu membuat hatinya menghangat karena senyuman itu mirip Arvind, sang Kakak.


"Paman tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja," jawab Darel.


"Apa kamu yakin? Kamu lagi tidak menyembunyikan sesuatu dari Paman atau yang lainnya kan?" tanya Sandy.


"Aish, Paman. Benaran. Aku baik-baik saja. Lagian pukulan dari si nenek lampir itu tidak terlalu kuat. Paman tahu sendirikan bagaimana kekuatan seorang perempuan? Kekuatan perempuan itu benar-benar lemah." Darel menjawabnya seenak jidatnya.


Mendengar jawaban dari Darel, membuat Adelina, Evita dan Salma melotot, lalu mereka dengan kompak menggeram kesal.


TAK!


Adelina menjitak kening putra bungsunya itu.


"Aakkkhhh!" Darel meringis sembari mengelus-elus keningnya.


"Mamaaaa! Kenapa Mama menjitak keningku?" protes Darel dengan wajah merengut.


"Kenapa? Mau lagi?" tanya Adelina. Darel mempoutkan bibirnya.


"Aish."


Adelina tersenyum gemas melihat wajah merengut dan bibir manyun putra bungsunya itu. Tak jauh beda dengan anggota keluarganya yang lain. Mereka tersenyum melihatnya.


Saat mereka semua tengah asyik dengan suasana santai mereka, tiba-tiba saja ponsel milik Darel berbunyi.


DRTT!


DRTT!


Darel yang melihat nomor yang sangat dihafalnya tertera di layar ponselnya pun langsung menjawabnya.

__ADS_1


"Halloo."


"Hallo, Bos."


"Informasi apa?" Darel langsung keintinya.


"Ada dua informasi yang saya dapatkan, Bos."


"Cepat katakan."


Anggota keluarganya masih terus memperhatikan dan menyimak apa yang dibicarakan Darel di telepon.


"Pertama saya mendapatkan informasi mengenai kelemahan dari Nyonya Agatha. Nyonya Agatha memiliki seorang anak perempuan dari pria lain. Dan lebih parahnya lagi, suami aslinya tidak mengetahui masalah ini. Dan usia anak itu sudah memasuki 15 tahun."


Terukir senyuman di sudut bibirnya. "Eemm. Ternyata kau benar-benar perempuan murahan, Nyonya Agatha," batin Darel


Anggota keluarganya yang sedari menatapnya menjadi bingung dan juga khawatir.


"Kirimkan foto anak itu."


"Baik, Bos."


"Lalu informasi keduanya apa?"


"Informasi ini akan membuat Bos bahagia."


"Katakan saja. Jangan membuatku penasaran."


"Maafkan saya, Bos. Informasi kedua ini mengenai kelima putra asli dari tuan William Wilson."


"Apa? Be-benarkah?!" teriak Darel.


Anggota keluarganya yang sedari tadi melihatnya menjadi makin khawatir. Mereka semua juga ikut berdiri. Adelina membelai rambut putra bungsunya dan Nevan mengelus-elus punggung adik bungsunya itu.


"Benar, Bos. Saya sudah berulang kali mengecek identitas mereka semua. Dari mereka kecil, mereka dititipkan di panti asuhan. Tapi sekarang mereka sudah tinggal di sebuah Apartemen elit yang ada di kota Hamburg. Saudara yang pertama bernama Farraz. Dia seorang karyawan di sebuah perusahaan. Dan Bos pasti akan kaget saat saya mengatakan nama perusahaan tersebut."


"Apa nama perusahaannya? Katakan padaku sekarang?"


"CJ GRUP."


"Apa? CJ GRUP?"


"Benar, Bos."


Lagi-lagi Darel terkejut dan lagi-lagi air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Darel. Kenapa, sayang?" tanya Adelina khawatir.


Darel melihat wajah ibunya. Terlihat raut khawatir di wajah ibunya. "Aku tidak apa-apa Ma! Mama tidak perlu khawatir, oke! Aku menangis karena aku bahagia. Bahagia mendapatkan informasi yang selama ini aku cari," jawab Darel sembari mengecup pipi ibunya.


"Benarkah? Darel tidak bohong sama Mamakan?"


Darel tersenyum. "Tidak Ma. Aku mengatakan apa adanya."


Adelina tersenyum mendengar ucapan dari putranya. Adelina percaya dengan ucapan putranya itu.


"Lanjutkan?


"Saudara yang kedua bernama Deon dan saudara ketiga bernama Keenan. Mereka kuliah di kampus yang sama dengan tuan muda Alvaro dan tuan muda Axel. Saudara keempat bernama Tristan dan saudara kelima bernama Dylan. Mereka satu sekolah dengan tuan muda Evan dan tuan muda Raffa."

__ADS_1


"Baiklah. Ini adalah kabar yang sangat membahagiakan untukku. Tugas selanjutnya adalah jaga mereka semua selama dua puluh empat jam. Awasi mereka. Jangan sampai terjadi sesuatu terhadap mereka."


"Siap, Bos. Laksanakan."


"Kirimkan foto mereka padaku."


"Baik, Bos."


PIP!


Darel mematikan panggilan tersebut. Terukir senyuman manis di bibir.


"Sebentar lagi. Sebentar lagi semuanya akan terbongkar. Tunggu saja," batin Darel.


Beberapa menit kemudian, ponsel milik Darel kembali berbunyi. Kali ini sebuah pesan.


TING!


TING!


To : Arzan Callilo


"Bos, ini foto anak perempuannya Nyonya Ki Tae Young."


Arzan mengirimkan foto anak perempuan Agatha.


"Dan ini foto kelima putra asli dari Tuan William Wilson."


Arzan kembali mengirim satu foto lagi pada Darel.


Terukir senyuman manis di bibir Darel. Akhirnya usahanya membuahkan hasil. Dua puluh pegawai atau lebih tepatnya orang yang sangat dipercaya oleh Antony Wilson, sang kakek dan juga sebagai kaki tangan Kakeknya memang sangat setia serta dapat diandalkan. Semua yang diperintahkan olehnya, berjalan dengan lancar.


"Sekarang saatnya aku mulai dengan rencana pertama," batin Darel


***


Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Farraz yang berada di Apartemennya kini sedang sibuk berkutat di dapur. Dirinya sedang menyiapkan makan siang untuk adik-adiknya karena sebentar lagi keempat adik-adik akan pulang dari kampus dan dari sekolah.


Farraz selalu menyempatkan dirinya untuk menyiapkan segala keperluan adik-adiknya sebelum berangkat kerja atau ke rumah sakit.


Saat Farraz tengah sibuk. Terdengar suara teriakan dari sibungsu Dylan yang memasuki Apartemen.


"Kakak. Kami pulang!" teriak Dylan. Ketiga hyungnya hanya tersenyum gemas melihatnya.


"Hei. Kenapa pake teriak-teriak segala sih?" tanya Farraz lembut.


"Hehehe. Maaf, Kak. Aku teriak begini, biar Kakak dengar kalau kami sudah pulang. Kakak kan selalu seperti itu. Kalau sudah sibuk dengan pekerjaan, telinga Kakak itu menjadi tuli," jawab Dylan.


Farraz melotot mendengar penuturan dari adik bungsunya itu. Sedangkan ketiga saudaranya yang lainnya sudah tertawa.


"Hahahahaha."


Melihat Kakak tertuanya melotot padanya, Dylan pun punya seribu cara membuat kakaknya itu luluh padanya.


"Kakak. Wajahmu jelek kalau seperti itu. Kalau wajah Kakak jelek, nanti gak ada perempuan cantik yang menyukaimu. Kakak mau menjomblo seumur hidup. Bagaimana pun aku, Dylan ingin sekali memiliki kakak ipar yang cantik dan baik hati?" Kata Dylan.


"Jadi Kakak jangan galak-galak dan jangan marah-marah. Biar wajah Kakak tampan terus," ucap Dylan lagi. Lalu detik kemudian..


GREP!

__ADS_1


Dylan memeluk erat tubuh Farraz. "Aku menyayangimu, Kakak Farraz."


__ADS_2