Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Harapan Dan Permohonan Semua Orang


__ADS_3

Masih suasana di rumah sakit. Semuanya sudah dalam keadaan menangis dimana mereka yang mendengar untaian demi untaian kata yang diucapkan oleh Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel untuk Darel yang masih setia memejamkan kedua mata bulatnya.


Anggota keluarga Wilson melihat bagaimana besarnya kasih sayang dan kerinduan Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel terhadap Darel.


Bukan hanya terhadap Darel saja. Kepada Kenzo dan Gavin, kelimanya juga sangat sayang dan begitu merindukan keduanya.


Terbukti dengan air mata mereka yang tak henti mengalir ketika mendengar cerita dari Kenzo dan Gavin ketika kejadian kecelakaan itu dimana keduanya terlempar keluar dari dalam mobil hingga berakhir diselamatkan oleh kelompok yang sangat kejam dan dijadikan sebagai seorang penjahat bahkan pembunuh.


Kini Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel, Kenzo dan Gavin mengerubuti ranjang Darel. Sedangkan Samuel, Razig, Juan, Zelig dan Lucas menjauh dari ranjang Darel dan bergabung dengan anggota keluarga Wilson guna memberikan ruang dan waktu untuk kakak-kakaknya melepaskan rasa rindu terhadap Darel. Begitu juga dengan Charlie dan Devon.


Baik Samuel, Razig maupun Juan, Zelig dan Lucas tersenyum bahagia ketika melihat pertemuan kakak-kakaknya dengan Darel. Mereka berharap dan berdoa agar takdir tidak memisahkan mereka lagi.


Jika hal itu terjadi karena mereka tahu, bagaimana pun setiap manusia pasti akan meninggalkan dunia yang fana ini dan kembali kepada sang pencipta.


Namun mereka meminta kepada Yanga Maha Kuasa untuk memberikan kebahagiaan terlebih dahulu, memberikan banyak waktu untuk kakak-kakaknya dan para sahabatnya dengan melakukan hal-hal positif di dunia ini. Begitu juga untuk mereka sendiri, untuk orang-orang terdekat Darel, Kenzo dan Gavin serta anggota keluarganya.


"Rel, bangunlah. Ini kakak. Kakak kembali untuk kamu, Kenzo dan Gavin!' Brian berucap dengan air mata yang terus mengalir.


"Kita semua kembali Darel. Sekarang kita ada di hadapan kamu. Ayo, buka mata kamu. Lihat kita," ucap Azri yang kondisinya juga sama seperti Brian.


"Rel," panggil Evano dan Damian bersamaan sembari tangan mereka bergantian mengusap lembut kepala Darel.


"Rel, kakak kangen kamu. Kakak ingin peluk kamu... Hiks. Sekarang, ayo bangun! Berikan pelukan untuk kakak," ucap Farrel disela isakannya.


Tes..


Air mata anggota keluarga Wilson tak henti-hentinya mengalir membasahi wajahnya setiap mendengar untaian kata kerinduan serta isak tangis dari Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel. Begitu juga dengan Kenzo dan Gavin.


"Rel, sekarang kamu harus bangun. Hiks... Lihatlah! Kelima sahabat kita sudah kembali. Mereka... Hiks... sekarang ada di hadapan kamu. Kita nggak perlu lagi pergi ke Amerika karena mereka telah kembali... Hiks. Mereka kembali demi kamu," ucap Kenzo sembari terisak.


Deg..


Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel terkejut ketika mendengar ucapan dari Kenzo yang mengatakan bahwa Darel akan pergi ke Amerika untuk mengunjunginya. Mereka seketika langsung melihat kearah Kenzo.


"Kenzo!"


Kenzo langsung melihat kearah Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel. Setelah itu kembali menatap wajah Darel.


"Tadi kamu bilang kalau kita tidak perlu pergi ke Amerika? Apa maksud kamu Kenzo?" tanya Damian.


Tanpa menatap wajah kelima sahabatnya itu, Kenzo langsung menjawab pertanyaan dari Damian.

__ADS_1


"Ini semua keinginan Darel. Sejak Darel mengetahui bahwa kalian masih hidup dan koma di rumah sakit Amerika. Darel kembali terpuruk dan bersedih. Seminggu Darel mengetahui kalau kalian masih hidup dan koma membuat Darel berniat untuk mengunjungi kalian. Darel membawaku bersamanya."


Kenzo menatap wajah Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel secara bergantian. Dan jangan lupakan air matanya yang mengalir membasahi wajahnya.


"Disatu sisi aku bahagia ketika Darel memiliki niat untuk mengunjungi kalian di rumah sakit Amerika. Namun disisi lain, aku tidak berani."


Mendengar perkataan Kenzo diakhir kata seketika Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel langsung paham. Kenzo memikirkan anggota keluarga Darel terutama keenam kakak laki-laki tertua Darel. Mereka tidak akan mengizinkan Darel pergi.


"Kami mengerti!"


"Jangan dilanjutkan!"


Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel juga sudah mengetahui alasan seluruh anggota keluarga Wilson merahasiakan tentang dirinya yang masih hidup dan koma di rumah sakit Amerika. Ayahnya telah menceritakan semuanya ketika dirinya sadar dari koma dan sudah dalam keadaan baik-baik saja.


Arvind melangkahkan kakinya menghampiri ketujuh sahabat-sahabatnya putra bungsunya dengan wajah basahnya.


"Paman minta maaf kepada kalian kalau Paman dan keluarga menyembunyikan semua ini dari Darel. Kalian pasti sudah tahu kan alasan Paman dan kami semua melakukan hal ini?"


Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel langsung melihat kearah Arvind ayah dari sahabat kelincinya. Dan mereka dapat melihat tatapan bersalah di manik hitam Arvind.


"Kami semua mengerti Paman," ucap Farrel.


"Justru kami berterima kasih karena Paman dan anggota keluarga Wilson sudah menjaga sahabat terbaik kami selama kami tidak ada," ucap Azri.


"Walau kalian adalah keluarganya. Dan kalian pasti akan selalu menjaga dan melindungi Darel. Kami tetap berterima kasih kepada kalian," ucap Brian.


"Darel bisa bertahan sampai sekarang ini. Itu juga tak lepas dari perhatian, kasih sayang, kepedulian, dukungan serta pelukan yang Paman Arvind dan seluruh anggota keluarga Wilson berikan untuk Darel!" seru Damian.


"Dan berakhir kami semua bisa berkumpul kembali!" seru Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel membuat Arvind merasakan kehangatan di hatinya. Begitu juga dengan anggota keluarga Wilson.


Arvind melangkahkan mendekati ranjang putra bungsunya. Tangannya bergerak menyentuh kepala putranya sehingga memperlihatkan kening putih sang putra. Kemudian Arvind memberikan ciuman sayang disana.


"Sayangnya Papa. Ini sudah lima hari kamu tidur, Nak! Apa kamu tidak ingin melihat Papa. Papa sedih loh lihat kamu tidurnya terlalu lama." Arvind berbicara sembari tangannya bermain-main di kepala putranya. Tatapan matanya menyenduh menatap kedua mata bulat putranya yang masih tertutup.


"Papa ada kabar bahagia buat kamu sayang. Coba lihat! Di hadapan kamu sudah berdiri lima sahabat kamu yang selama beberapa bulan ini kamu rindukan."


Bersamaan dengan perkataan Arvind. Samuel, Razig, Juan, Zelig dan Lucas melangkah mendekati ranjang Darel dan bergabung dengan kakak-kakak sepupunya dan dua sahabat barunya. Begitu juga dengan Charlie dan Devon. Keduanya juga ikut melangkah mendekati ranjang Darel. Mereka semua menatap wajah Darel dengan tatapan sendunya.


"Ayo, sayang! Bangunlah. Buka mata kamu. Lihatlah di hadapan kamu. Semua sahabat-sahabat kamu ada di hadapan kamu. Tak terkecuali tujuh sahabat baru kamu."

__ADS_1


"Rel! Bangunlah!" mohon Brian.


"Lihatlah kami," ucap Azri.


"Kami semua disini Darel!" seru Damian, Evano dan Farrel bersamaan.


"Darel Wilson. Kami semua merindukan kamu. Ayo, buka mata kamu!" seru Kenzo dan Gavin.


"Sudah tidurnya!" seru Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon.


Mereka semua mengucapkan permohonan dan keinginan di hadapan Darel agar Darel segera membuka kedua matanya.


Sudah cukup lima hari Darel menutup kedua matanya. Dan mereka semua termasuk anggota keluarga Wilson ingin hari ini juga melihat mata bulat itu terbuka sempurna.


Arvind yang saat ini berdiri di samping putra bungsunya dengan tangannya menggenggam tangan putranya yang terbebas dari infus seketika terkejut ketika merasakan genggaman tangan putranya.


Arvind langsung melihat kearah tangannya dan tangan putranya. Dan seketika Arvind kembali terkejut ketika melihat tangan putranya kembali menggenggam tangannya.


Bukan hanya Arvind saja yang terkejut. Semua sahabat-sahabatnya juga terkejut ketika melihat tangan Darel bergerak.


"Sayang!" ucap Arvind dengan disertai air matanya mengalir membasahi wajahnya.


"Darel!" seru mereka semua. Mereka menangis dengan tatapan matanya menatap kearah Darel.


Arvind menatap wajah tampan sedikit pucat putranya. Dirinya kemudian memberikan ciuman di kening putranya itu. Setelah itu, Arvind menempelkan keningnya di kening putra bungsunya lama.


"Hiks. Bangunlah sayang," isak Arvind.


Berlahan Darel membuka kedua matanya yang sudah lima hari ditutup. Dan hal itu dilihat dan disaksikan oleh semua sahabat-sahabatnya.


"Darel!" mereka semua memanggil nama Darel.


Arvind langsung menjauhkan kepalanya dari kening putranya ketika mendengar seruan dari para sahabat putra bungsunya.


Seketika terukir senyuman manis di bibir Arvind ketika melihat kedua mata bulat putranya sudah terbuka.


"Sa-sayang," ucap Arvind terisak.


"Pa-papa," ucap Darel untuk pertama kalinya ketika sadar.


Arvind seketika tersenyum bahagia ketika mendengar sapaan dari putra bungsunya setelah lima hari tidak mendengar sapaan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2