Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Terungkapnya Kabar Lima Sahabat Darel


__ADS_3

Darel masih dalam perjalanan menuju Kampus. Darel menggunakan mobil mewah Audi A8 dan mengendarainya dalam kecepatan sedang.


"Kenapa sikap kalian makin kesini makin overprotektif padaku? Melihat sikap kalian seakan-akan kalian takut kehilangan aku. Kalian memberikan batasan untuk aku mengikuti jenis kegiatan saat di Kampus. Bahkan kalian diam-diam membayar orang untuk mengawasiku walau kalian sudah memberikan aku izin membawa mobil sendiri," ucap Darel.


Ketika Darel fokus mengendarai mobilnya reflek Darel menginjakkan rem mobilnya. Dan seketika mobilnya berhenti.


"Itukan Paman Ditto dan Paman Fayyadh. Papanya kak Azri dan Papanya Kenzo. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu."


Dengan rasa penasaran dan rasa keinginan tahuannya akan sesuatu. Darel keluar dari mobilnya dan secara diam-diam Darel mencari tempat aman untuk bisa mendengar percakapan kedua Ayah dari dua sahabatnya itu.


"Bagaimana kabarmu Ditto?"


"Ach. Aku baik-baik saja. Kau bagaimana?


"Sama sepertimu. Aku baik-baik saja."


"Oh iya! Aku dengar putramu Kenzo bersama Gavin sahabatnya sudah kembali. Aku ikut senang mendengarnya."


"Iya, Ditto! Putra bungsuku sudah kembali. Dan ini juga berkat Darel. Selama putraku dan Gavin hilang. Darel menyuruh tangan kanannya untuk mencari kedua sahabatnya itu. Bahkan Darel juga menyuruh tangan kanannya untuk mencari pelakunya. Aku benar-benar bangga akan persahabatan mereka."


"Aku juga Fayyadh. Aku kagum dengan kesetiaan Darel terhadap ketujuh sahabatnya. Keponakanku Samuel sudah cerita padaku tentang bagaimana sulitnya dia dan keempat teman-temannya ketika mendekati Darel. Darel berulang kali menolaknya. Berkat kesabaran dan ketulusan mereka. Akhirnya mereka berhasil menjadikan Darel bagian dari mereka. Dan bukan itu saja. Tanpa mereka sadari kalau mereka sudah berteman di dunia Game." Ditto tersenyum kala mengingat keponakannya bercerita padanya.


"Benarkah?" tanya Fayyadh.


"Benar, Fayyadh! Samuel sendiri yang bercerita padaku."


"Oh iya. Bagaimana keadaan mereka di Amerika?" tanya Fayyadh.


Darel yang sedari tadi mendengar percakapan Ditto dan Fayyadh masih anteng dan tenang di tempat duduknya. Mata dan telinganya masih fokus pada satu titik.


"Mereka? Mereka siapa? Apa maksud dari pertanyaan Paman Fayyadh tadi?" tanya Darel pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Keadaan mereka makin membaik. Selama dua bulan mereka koma. Dokter mengatakan kondisi mereka makin berangsur-angsur membaik. Hanya menunggu mereka bangun."


"Ditto, aku benar-benar takut saat ini!"


Mendengar perkataan Fayyadh. Ditto mengerti. Bukan hanya Fayyadh saja yang ketakutan selama dua bulan ini. Dirinya juga merasakan hal yang sama seperti Fayyadh.


"Aku juga Fayyadh. Selama dua bulan ini hatiku benar-benar takut dan hatiku tak nyaman menyembunyikan masalah ini dari Darel, Kenzo dan Gavin. Aku takut kalau Darel, Kenzo dan Gavin sampai tahu bahwa Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel masih hidup. Mereka bertiga pasti sangat kecewa sekali pada kita. Dan disini aku memikirkan Darel. Darel yang tersakiti dan terluka disini."


Setelah Ditto mengatakan itu. Baik Fayyadh maupun Ditto terdiam. Mereka berdua sama diam. Mereka saat ini tengah berpikir reaksi seperti apa yang akan diberikan oleh Darel, Kenzo dan Gavin nantinya.


Sementara di sisi lain dan di tempat yang sama, Darel terkejut dan syok ketika mendengar dari mulut ayahnya Azri bahwa kelima sahabatnya masih hidup. Dan selama ini kelima sahabatnya itu koma di rumah sakit Amerika. Seketika air matanya lolos membasahi wajahnya.


"A-apa? Kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano, kak Farrel masih hidup. Tapi... tapi kenapa mereka membohongiku? Kenapa mereka tidak memberitahuku masalah ini?" ucap dan tanya Darel.


"Kemarin aku bertemu dengan Arvind dan Lucio. Arvind yang saat itu baru pulang dari kantornya. Sementara Lucio baru dua hari pulang ke Jerman untuk mengurus beberapa keperluan di sini. Itupun putra sulungnya yang memintanya pulang dan mendadak." Ditto berbicara sembari menyeruput minumannya.


"Kalian bicara apa saja?" tanya Fayyadh.


"Seperti biasa. Kita membahas tentang kondisi Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel." Ditto menjawabnya.


"Jadi Papa juga tahu hal ini. Berarti semua anggota keluargaku mengetahui hal ini dan mereka merahasiakannya dariku. Jika iya, maka aku akan benar-benar marah dan kecewa dengan mereka."


Setelah mendengar kenyataan tentang kelima sahabatnya. Darel pun memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu. Darel beranjak dari duduknya dan kembali ke mobilnya.


***


Kenzo, Gavin, Juan, Razig, Samuel, Lucas, Zelig, Charlie dan Devon sudah berada di Kampus. Mereka saat ini berada di lobi. Mereka semua sengaja berada disana hanya untuk menunggu sahabat kelinci mereka. Siapa lagi kalau bukan Darel Wilson.


"Kenapa Darel lama sekali?" tanya Lucas.


"Iya, nih! Biasanya Darel tepat waktu datang ke Kampus. Ini sudah jam delapan," sahut Juan.

__ADS_1


Mendengar perkataan Lucas dan Juan membuat Kenzo dan Gavin saling lirik. "Apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan, Vin?" tanya Kenzo.


"Iya, Kenzo!" jawab Gavin.


Juan, Razig, Samuel, Lucas, Zelig, Charlie dan Devon mengalihkan pandangannya melihat kearah Kenzo dan Gavin.


"Gyeom, Bam! Apa kalian mengetahui sesuatu? Jika iya. Katakan pada kami," ucap dan tanya Devon.


"Anggota keluarga Darel itu sangat overprotektif kepada Darel. Terutama kedua belas kakak-kakaknya. Bahkan dari dua belas kakaknya itu enam kakaknya yang paling super-super overprotektif terhadap Darel." Kenzo menjelaskan tentang anggota keluarga Darel.


"Pasti saat ini Darel tengah berusaha untuk mendapatkan izin dari keluarganya. Sekalipun kedua orang tuanya dan keenam kakaknya memberikan izin. Tapi itu tidak akan berlaku jika keenam kakaknya yang lainnya dan berstatus lebih tua tidak memberikan izin. Keenam kakaknya itu sangat sulit untuk dibujuk." Gavin juga ikut menjelaskan tentang kedua belas kakaknya Darel.


"Anggota keluarga Darel itu punya alasan kenapa terlalu menjaga Darel. Darel itu berbeda dengan semua kakak-kakaknya. Darel terlahir dengan kondisi lemah. Darel itu gampang jatuh sakit, tidak boleh terlalu capek, tidak boleh terluka. Jika tubuhnya terluka maka berakhir Darel akan demam." Kenzo berucap.


"Kami sempat kehilangan Darel. Darel dinyatakan meninggal oleh papanya Kenzo akibat luka tembak yang dialaminya. Selang beberapa menit kemudian, detak jantung Darel kembali lagi. Kami semua bahagia akan hal itu." Gavin seketika menangis kala mengingat kejadian itu. Kejadian dimana dirinya hampir kehilangan sahabat kelincinya.


"Dan Darel harus hidup dengan satu ginjal akibat luka tembak yang dialaminya. Dan Darel tidak mengetahui akan hal ini. Anggota keluarganya memang sengaja merahasiakannya dari Darel agar Darel tidak terlalu larut dalam kesedihan apalagi sampai memikirkan kondisi kesehatannya," ucap Kenzo.


Mendengar cerita dari Gavin dan Kenzo membuat Juan, Razig, Lucas, Zelig, Charlie dan Devon terkejut. Tapi tidak dengan Samuel. Samuel sudah mengetahuinya dari pamannya.


Ketika mereka sedang membahas masalah Darel. Charlie yang melihat kedatangan Darel langsung bersuara.


"Itu Darel!" seru Charlie sembari menunjuk kearah Darel.


Kenzo, Gavin, Juan, Razig, Samuel, Lucas, Zelig dan Devon langsung melihat kearah tunjuk Charlie. Mereka semua melihat darel yang melangkah menuju kelasnya.


"Darel," panggil Kenzo dan Gavin bersamaan.


Darel berhenti dan langsung melihat kearah suara yang memanggilnya. Dapat Darel lihat semua sahabatnya ada disana.


Namun detik kemudian, Darel kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju kelas.

__ADS_1


Melihat Darel yang kembali melangkah menuju kelasnya membuat Kenzo, Gavin, Juan, Razig, Samuel, Lucas, Zelig, Charlie dan Devon bingung.


Mereka kemudian saling lirik dan memberikan tatapan tanda tanya. Dan setelah itu, mereka pun memutuskan untuk menyusul Darel.


__ADS_2