Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Kilas Balik Rafif, Agra, Reymon Dan Ronald


__ADS_3

MARKAS BLACK SHARK


Darel sudah berada di markasnya. Dirinya ditemani oleh Arzan dan beberapa orang-orangnya Arzan.


Darel menatap tajam kearah mantan teman satu sekolahnya dulu dan juga musuh bebuyutannya dan ketujuh sahabatnya.


"Siram mereka. Buat mereka bangun."


"Baik, Bos."


Lalu kemudian dua diantara orang-orangnya Arzan menyirami tubuh Rafif, Agra, Reymon dan Ronald dengan dua ember air.


BYUURR


Rafif, Agra, Reymon dan Ronald seketika terbangun dari pingsannya.


"Aahh.. aahh." bunyi nafas mereka


Darel tersenyum sinis menatap keempat musuh bebuyutannya di sekolah dulu.


"Hallo, apa kabar? Kita bertemu lagi!" seru Darel.


Rafif, Agra, Reymon dan Ronald langsung melihat kearah Darel. Seketika tatapan mereka berubah jadi tajam.


"Kena.........." Perkataan Rafif terhenti karena Darel sudah terlebih dahulu memotongnya.


"Kalian dilarang untuk berbicara selama berada di tempatku. Kalian boleh bicara, jika aku menyuruh kalian untuk bicara." Darel berbicara dengan tatapan mata yang tajam.


"Sekarang jawab pertanyaanku. Kenapa kalian kembali lagi ke negara ini? Bukankah kalian sudah disuruh pergi meninggalkan negara Jerman dan dilarang untuk menginjakkan kaki kalian ke negara ini lagi?" tanya Darel dengan menatap tajam Rafif, Agra, Reymon dan Ronald.


Mendengar pertanyaan dari Darel membuat Rafif, Agra, Reymon dan Ronald menatap tajam kearah Darel. Mereka benar-benar benci dan dendam dengan Darel dan ketujuh sahabatnya.


Flashback On


Darel dan ketujuh sahabatnya sedang berada di kantin. Sepuluh menit yang lalu otak mereka bekerja keras dalam berperang melawan pelajaran matematika dan bahasa inggris. Darel dan ketujuh sahabatnya sedang menghadapi ulangan dari guru matematika dan bahasa inggris.


"Ach, lega rasanya!" seru Gavin sembari menyeruput jus pokatnya.


SRLUUP...


"Ulangan kali ini benar-benar sulit," ucap Farrel.


"Apa kakak kesulitan dalam menjawab soal-soalnya?" tanya Darel.


"Awalnya, sih. Tapi kakak bisa menyelesaikan semuanya dengan baik," jawab Farrel.


"Syukurlah," jawab Darel.


"Kau sendiri bagaimana, Rel?" tanya Brian.


"Sama seperti kak Farrel. Awalnya aku menemukan kesulitan, tapi setelah itu aku berhasil menyelesaikan semua soal-soal itu tanpa ada kendala apapun," jawab Darel.


Ketika Darel dan ketujuh sahabatnya sedang menikmati makan siangnya, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara keributan dari luar kantin. Bahkan mereka juga melihat para siswa dan siswi berlari keluar meninggalkan kantin.

__ADS_1


Melihat para siswa dan siswi berlarian keluar kantin, Darel dan ketujuh sahabatnya pun memutuskan untuk ikut keluar dari kantin tersebut.


^^^


BUGH.. BUGH..


DUAGH


"Aaakkhhh!" teriak salah satu murid laki-laki yang kena pukulan dan tendangan dari Lian.


Murid laki-laki itu memuntahkan darah segar dan seketika tak sadarkan diri.


"Itu hukuman buat yang membangkang sama gue!" teriak Lian.


"CUIH!"


Lian meludahi murid laki-laki itu. Sementara murid-murid yang lainnya menatap ngeri dan juga ketakutan. Mereka ingin sekali menolong dua murid yang kini sedang dibully oleh kelompok Lian, namun mereka tidak ada keberanian sama sekali.


Sementara teman-temannya yaitu Rafif, Agra, Reymon, Ronald, Khary, Leo dan Fahri mengeroyok murid laki-laki yang satunya. Murid tersebut tak lain adalah sepupu dari murid laki-laki yang dihajar oleh Lian.


BUGH.. BUGH..


DUAGH..


GEDEBUM..


Tubuh murid laki-laki tersebut menghantam dinding dengan sangat keras.


Saat Rafif dan Agra ingin menghampiri dan memberikan tendangan pada murid laki-laki itu, tiba-tiba......


BRUUKK.. BRUUKK..


Rafif dan Agra tersungkur di tanah.


Lian, Reymon, Ronald, Khary, Leo dan Fahri melihat kearah orang yang menendang Rafif dan Agra. Begitu juga murid-murid yang lainnya.


"Darel, Kenzo!" teriak Lian.


Yang menendang Rafif dan Agra adalah Darel dan Kenzo. Darel dan ketujuh sahabatnya datang menolong dua temannya yang dibully.


"Kalian! Bwa mereka ke UKS. Pastikan keadaan mereka baik-baik saja!" teriak Damian.


"Baik," jawab beberapa murid.


"Salah satu dari kalian laporkan masalah ini ke kepala sekolah dan orang tua mereka," ucap Azri.


"Baik!"


Beberapa murid-murid tersebut langsung menjalankan apa yang diperintahkan oleh Azri dan Damian.


Darel dan ketujuh sahabatnya menatap tajam kearah Lian dan teman-teman.


"Kau benar-benar keterlaluan, Lian! Tidak seharusnya kau bersikap dan bertindak seperti itu. Apa kau berniat ingin membunuh mereka, hah?!" bentak Darel.

__ADS_1


"Jangan campuri urusanku dan juga teman-temanku!" bentak Lian.


"Kami bukannya ingin ikut campur urusanmu, bajingan! Tapi kami tidak akan diam saja melihat salah satu teman kami dibully atau disakiti!" teriak Brian.


"Tapi mereka itu bukan teman-teman kalian. Jadi apa urusan kalian, hah!" bentak Reymon.


"Mereka memang bukan bagian dari kami melainkan mereka adalah teman satu sekolah dengan kami. Bahkan mereka berdua adalah teman satu kelas dengan kami," sahut Evano.


"Kami tidak akan membiarkan siapa pun yang menyakiti teman satu kelas dengan kami," ucap Gavin.


"Jika kau dan teman-temanmu membully mereka tidak keterlaluan seperti ini. Kami juga tidak akan ikut campur," sela Farrel.


"Alah! Banyak bacot kalian semua!" bentak Lian.


"Seraaanng!"


Dan terjadilah perkelahian antara kelompok Darel dan kelompok Lian.


BUGH.. BUGH..


DUAGH..


BRUUKK.. BRUUKK..


Kenzo dan Gavin memberikan pukulan dan tendangan pada Reymon dan Ronald sehingga membuat keduanya tersungkur di tanah dengan perut yang terlebih dahulu mendarat.


BUGH.. BUGH..


DUAGH..


BRUUKK.. BRUUKK.


Brian dan Damian menghajar habis-habisan Khary dan Leo. Mereka juga bernasib sama seperti Reymon Woo dan Ronald. Tapi bedanya, punggung mereka menghantam dinding sehingga menimbulkan suara teriakan dari keduanya.


BUGH.. BUGH..


DUAGH


BRUUKK.. BRUUKK..


Darel dan Evano juga tidak mau kalah saat melihat Lian dan Fahri secara yang membabi buta memberikan serangan kepada mereka. Darel dan Evano memberikan pukulan dan tendangan kuat mereka pada Lian dan Fahri sehingga membuat kedua sama tersungkur di tanah.


Sementara Azri dan Farrel menghajar Rafif dan Agra. Mereka menghajar dengan brutal.


BUGH.. BUGH..


DUAGH..


BRUUKK.. BRUUKK..


Rafif dan Agra tersungkur di tanah. Keduanya terkapar dengan memegang perut masing-masing.


Lian dan teman-teman kalah telak dengan Darel dan ketujuh sahabatnya. Mereka semua terkapar di tanah dengan luka di wajah dan kemungkinan memar di perut dan punggung. Darel dan ketujuh sahabatnya menatap tajam Lian dan teman-temannya. Begitu juga dengan murid-murid yang lainnya. Mereka juga menatap tajam dan juga remeh Lian dan kelompoknya. Mereka semua bersyukur karena masih ada yang berani melawan Lian dan kelompoknya itu. Setidaknya dengan begini Lian tidak akan berani membully mereka lagi.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian, kepala sekolah dan para guru pun datang bersama dua murid yang melapor. Mereka menatap kearah Lian dan kelompoknya.


Kepala sekolah dan guru-guru tersebut hanya bisa pasrah dan geleng-geleng kepala saat melihat Lian dan kelompoknya. Sebenarnya kepala sekolah dan para guru juga sudah tahu perihal kelakuan Lian dan kelompoknya itu. Bahkan kepala sekolah sudah berulang kali menegur dan memberikan teguran, sanksi dan hukuman kepada mereka, namun hasilnya tetap saja sama. Mereka masih saja membully teman-teman satu sekolahnya.


__ADS_2