Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Keterkejutan Darel Mendengar Jawaban Pingkan


__ADS_3

KEDIAMAN UTAMA WILSON


Waktu sudah pukul 3 sore. Seluruh anggota keluarga sudah berada di rumah. Setengah jam yang lalu mereka telah selesai dengan tugas-tugas mereka di kantor.


Kini mereka duduk santai di sofa. Evan, Raffa, Rendra, Melvin dan Aldan juga sudah pulang kerumahnya.


"Eh, tunggu dulu. Dylan dan Darel kemana? Kenapa tidak bersama kalian?" tiba-tiba Salma menyadari dua keponakannya tidak terlihat.


"Ach, benar! Kemana mereka berdua?!" tanya William.


"Rendra, Melvin, Evan, Raffa. Kenapa Dylan dan Darel tidak pulang bersama kalian?" tanya Sandy.


"Evan, Raffa. Bukankah Darel akan pulang bersama kalian?" tanya Ghali.


"Aish. Bisa satu-satu tidak kalau bertanya," kesal Raffa yang mendapatkan bertubi pertanyaan dari anggota keluarganya. Begitu juga yang lainnya.


"Mana dulu nih yang mau dijawab?" kesal Evan.


Sementara para orang tua dan para kakaknya hanya tersenyum melihat putra dan adik mereka yang sedang kesal.


"Oke.. Oke! Maafkan kami. Sekarang katakan. Kenapa Darel dan Dylan belum pulang?" tanya Arvind.


"Dylan sedang antarin Darel ke rumah sakit," jawab Melvin.


"Tadi Dylan menghubungiku, katanya Darel minta diantar ke rumah sakit setelah selesai jam kuliah," ucap Raffa.


"Ke rumah sakit," ucap para anggota keluarganya bersamaan.


"Mungkin Darel berniat ingin menjenguk Ibunya Mirza. Pemuda yang ditolongnya itu," sela Nevan.


Mereka semua pun mengangguk tanda mengerti. Mereka semua sudah tahu perihal Mirza.


"Oh, iya! Evan, Raffa. Bagaimana hari pertama Darel kuliah? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Davian.


"Semuanya berjalan lancar. Darel dengan mudah beradaptasi. Hanya saja Darel masih menutup diri untuk bergaul dengan teman-teman kampusnya," sahut Raffa.


"Awal Darel menginjakkan kakinya di halaman kampus, kami semua bisa melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah dan sorot matanya. Tiba-tiba......." ucapan Evan terhenti.


"Tiba-tiba apa, Van?" tanya Vano.


"Darel menangis saat teringat dengan ketujuh sahabatnya. Ingatan itu muncul ketika Darel melihat ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang saling tertawa dan bersenda gurau." Itu Melvin yang menjawabnya.


"Tapi kalian nggak perlu khawatir. Kami semua berhasil menghiburnya. Dan Darel kembali ceria," sela Rendra.


"Saat jam istirahat. Kami semua sudah ada di kantin, kecuali Darel. Ketika kami melihat kedatangan Darel, kami semua melihat Darel seperti kesakitan sembari memegangi pantatnya," ucap Melvin.


"Lalu apa yang terjadi?" tanya Daffa, Alvaro dan Axel bersamaan. Mereka penasaran, begitu juga yang lainnya.


Flashback On


Mereka kini telah duduk di bangku, lengkap dengan pesanan di atas meja.


"Sekarang ceritakan pada kakak. Apa yang terjadi?" tanya Evan.


"Tadi aku bertemu manusia aneh," jawab Darel asal.


"Manusia aneh," ulang mereka.


"Maksud kamu?" tanya Melvin.


"Iya, orang aneh. Dia jalan buru-buru kayak dikejar setan, pakai kaca mata hitam lagi. Lalu nyeruduk aku. Kebetulan dia belok kiri dan aku belok kanan. Jadi kita sama-sama jatuh dan pantat kita masing-masing mendarat dan mencium lantai. Sakit tahu," ucap Darel dengan bibir yang dimanyunkan.


Mereka yang mendengar cerita Darel, berusaha mati-matian untuk tidak tertawa. Bisa kacau urusannya jika sampai tertawa. Tapi sayangnya, Darel melihat hal itu.


"Tukan!! Aku sudah cerita kalian malah menertawaiku," sungut Darel dengan bibir yang makin dimanyunkan.


Mereka semua kelabakan saat mendengar ucapan dari Darel.


"Matilah kau, Raf! Si kelinci sebentar lagi ngamuk," batin Raffa.


"Mati saja kau, Van! Siap-siap kena amukan atau diabaikan," batin Evan.


"Eng... enggak, kok!Kita tidak menertawai kamu. Iyakan, Lan?" ucap dan tanya Melvin gugup.


"I.. iya, Rel. Itu benar. Kita tidak menertawai kamu, kok!" sahut Dylan.


"Iya, Rel. Kita tidak menertawai kamu. Sumpah!" kata Rendra.


"Kita tadi tuh melihat seseorang yang barusan lewat. Orang itu pakaiannya sedikit robek di belakang. Itu yang membuat kita menahan tawa biar orang itu tidak dengar," kata Aldan.


"Ach, iya! Itu benar, Rel!" seru Dylan, Rendra dan Melvin bersamaan.

__ADS_1


"Aku tidak percaya. Mana ada orang lewat. Kalian bohong," sahut Darel.


"Enggak, Rel!" jawab mereka kompak, termasuk Evan dan Raffa.


"Ach, bodo!" seru Darel acuh.


Setelah mengatakan hal itu, Darel berdiri dan langsung pergi meninggalkan para kakaknya.


"Darel, kamu mau kemana??" tanya Raffa.


"Ke kelas!" jawab Darel tanpa membalikkan badannya.


"Tapi kamu belum makan!" seru Evan.


"Bodo!" teriak Darel.


"Mampus," ucap Evan.


"Habislah kita," ucap Raffa.


Flashback Off


"Hahahaha." mereka semua tertawa mendengar cerita dari Raffa, Evan, Rendra dan Melvin tentang kesayangan mereka saat di kampus.


"Jadi Darel ngambek sama kalian semua?" tanya Steven.


"Ya, begitulah!" jawab mereka kompak.


"Lalu bagaimana dengan kegiatan ekstrakurikuler Darel di Kampus?" tanya Elvan.


"Apa Darel sudah memilih ekstrakurikuler apa yang akan diambil?" tanya Andre.


"Ini nih. Pertanyaan ini yang paling-paling membuat mentalku hancur. Aish!" batin Raffa dan Evan.


Melihat kedua adiknya diam membuat Andre maupun yang lainnya mendengus kesal.


"Evan, Raffa!" seru Davian.


"Sudah, kak!" jawab keduanya secara bersamaan. Mereka yang melihat tingkah keduanya tersenyum.


"Darel milih 3 jenis kegiatan ekstrakurikuler saja kan?" tanya Arga.


"Darel tidak milih lebihkan?" tanya Vano.


"Apa saja?" tanya Davian.


"Jenis kegiatan ekstrakurikuler yang Darel pilih, semuanya hobinya Darel!" Raffa yang menjawab pertanyaan dari Davian.


Mereka semua berpikir sejenak apa saja yang menjadi hobi adik kelinci mereka itu selama ini. Lalu detik kemudian, Nevan dan Ghali membelalakkan matanya saat setelah mengetahui hobi sang adik.


"Jangan bilang kalau Darel mengikuti Klub Basket, Karate, Taekwondo, Aikido, Renang?" tanya Ghali.


Baik Evan, Raffa, Rendra dan Melvin mengangguk mantap.


"Jadi Darel benar-benar mengikut semua itu?" tanya Davian dan Nevan bersamaan.


"Iya," jawab Evan dan Raffa bersamaan.


"Bahkan Darel juga memilih Klub Bahasa, Klub Komputer dan Pecinta Alam (kemping)," ujar Raffa.


"Aku dan Raffa sudah menyarankan Darel untuk ikut Klub Komputer, Klub Bahasa dan Seni saja. Ketiga kegiatan itu tidak terlalu berat untuk Darel," ucap Evan.


"Lalu bagaimana reaksi Darel?" tanya Daffa.


"Kalian sudah tahu jawabannya tanpa kami memberitahunya," jawab Raffa.


"Hah." Davian dan adik-adiknya, kecuali Raffa dan Evan hanya bisa menghela nafas frustasinya.


***


RUMAH SAKIT


Dylan dan Darel sudah berada di rumah sakit. Kini mereka berdua tengah berada diruang rawat Ibunya Mirza.


"Bagaimana keadaan Bibi sekarang?" tanya Darel.


"Bibi sudah baikan sayang. Terima kasih karena sudah mau membantu Bibi dan Mirza," ucap Ibunya Mirza.


"Sama-sama, Bi!"


"Ibu besok sudah boleh pulang, kakak Darel!" seru Mirza.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Darel.


"Hm!" Mirza mengangguk mantap.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Darel. "Ach, iya! Aku hampir lupa. Kenalkan ini kakak Dylan. Sepupuku," sela Darel memperkenalkan Dylan.


"Hai, Bibi. Hai, Mirza. Aku Dylan!"


"Hai juga, kakak Dylan." Sementara Ibunya Mirza tersenyum sembari mengangguk.


"Bibi. Apa aku boleh bertanya sesuatu pada Bibi?" tanya Darel.


"Tentu. Nak Darel mau bertanya apa pada Bibi?"


"Maafkan sebelumnya. Mirza sudah cerita mengenai masalah Bibi dan suaminya Bibi. Sebenarnya apa yang terjadi, Bi?"


Mendengar ucapan dan pertanyaan dari Darel membuat Ibunya Mirza terdiam. Seketika wajahnya berubah sendu. Darel yang melihat hal itu menjadi merasa bersalah.


"Maaf, Bi. Kalau Bibi keberatan untuk bercerita, aku tidak masalah. Lagian itu adalah hak Bibi."


Mendengar penuturan dari Darel membuat Ibunya Mirza merasa tidak enak hati. Ibunya Mirza melihat kearah Darel, lebih tepatnya Ke manik coklat Darel. Dapat dilihat olehnya ada rasa tulus dan rasa sayang disana.


"Tidak apa-apa sayang. Bibi akan menceritakannya padamu."


Terukir senyuman manis dibibir Darel saat Ibunya Mirza bersedia untuk bercerita. Dylan, Mirza dan Ibunya yang melihat senyuman itu turut merasa kehangatan didalam hati mereka.


"Bibi telah ditipu dan dibohongi oleh suami Bibi. Pria itu menikahi Bibi hanya ingin menguasai warisan dari Bibi. Dan lebih parahnya lagi, pria itu sudah menikah dan mereka memang sudah merencanakan semua ini pada Bibi."


"Tega sekali dia. Tapi Bibi tidak perlu khawatir. Aku janji akan membantu Bibi untuk merebut apa yang sudah direbut dari Bibi."


"Terima kasih, nak. Rumah dan Perusahaan itu bukan hak Bibi saja, tapi juga haknya adiknya Bibi."


"Lalu dimana adik Bibi itu? Kenapa tidak datang menjenguk Bibi? Lalu bagaimana dengan orang tua Bibi?"


"Kedua orang tua Bibi hanya memiliki masing-masing satu saudara. Ayahnya Bibi memiliki satu adik laki-laki dan Ibunya Bibi memiliki satu adik perempuan. Marga dari pihak Ayahnya bibi adalah Robert dan Marga dari pihak Ibunya Bibi adalah Madhavi. Lalu kemudian mereka menikah."


"Ma-maksud Bibi?" tanya Darel.


"Aish, Darel. Gitu saja kamu gak ngerti sih," sela Dylan yang gemas melihat adiknya itu.


"Memangnya kakak Dylan ngerti?" tanya Darel yang kini tatapan matanya melihat Dylan.


"Ngertilah. Gini! Kan tadi Bibi bilang kalau Ayahnya Bibi memiliki satu adik laki-laki dan Ibunya Bibi memiliki satu adik perempuan," ucap Dylan menjelaskan kembali.


Sementara Darel manggut-manggut tanda mengerti. "Jadi intinya kedua Robert bersaudara menikahi dua gadis di keluarga Madhavi. Yang Kakaknya menikahi Kakaknya. Sementara yang adiknya menikahi adiknya,"


"Hm. Oke, aku mengerti!" jawab Darel. Darel pun kembali menatap Ibunya Mirza.


"Lalu dimana mereka, Bi?" tanya Darel.


"Mereka semua sudah pergi meninggalkan Bibi untuk selamanya, nak! Bahkan satu-satunya keluarga Bibi yang tersisa juga ikut pergi meninggalkan Bibi disaat Bibi sedang hamil Mirza."


"Siapa dia, Bi? Kenapa dia tega meninggalkan Bibi? Apa dia sudah tidak mempedulikan Bibi lagi?"


"Dia itu adalah adik perempuan, Bibi! Adik sepupu Bibi. Hubungan Bibi sama adik Bibi itu sama seperti nak Darel dan nak Dylan. Dia pergi bukan karena tidak menyayangi Bibi lagi. Tapi.. di-dia pergi meninggalkan Bibi untuk selamanya menyusul orang tua kami yang sudah berada di atas sana."


Mendengar penuturan dari Ibunya Mirza membuat Darel merasa bersalah. Seketika Darel langsung menangis.


"Hiks.. maafkan aku, Bi. Aku tidak tahu."


"Hei, kenapa menangis, hum! Bibi tidak menyalahkan nak Darel. Bibi juga tahu kalau nak Darel tidak mengetahuinya," ucap Ibunya Mirza lalu tangannya mengusap air mata Darel.


"Apa masih ada yang ingin ditanyakan lagi, hum?" tanya Ibunya Mirza sembari menggoda Darel.


Ibunya Mirza sangat tahu bahwa Darel masih ingin bertanya seputar dirinya dan keluarganya. Ibunya Mirza tidak mempermasalahkan hal itu. Justru dirinya senang dan bahagia melihat Darel yang cerewet.


"Apa boleh?" tanya Darel balik.


"Tentu. Bibi siap melayani dan menjawab semua pertanyaan dari nak Darel sampai malam," jawab ibunya Mirza sembari menggoda Darel.


"Tidak sampai malam juga, Bi!" Darel mempoutkan bibirnya.


"Hahahaha." mereka tertawa melihat wajah merajuk Darel.


"Ya, sudah. Nak Darel mau nanya apa lagi?"


"Hm. Kalau aku boleh tahu, nama Bibi siapa dan juga nama adiknya Bibi itu?" tanya Darel.


Ibunya Mirza tersenyum gemas melihat wajah imut Darel, apalagi saat dirinya bertanya.


"Nama Bibi adalah Pingkan. Pingkan Robert. Kalau adik Bibi namanya Kayana. Kayana Robert," sahut Pingkan.

__ADS_1


DEG


Mendengar nama Kayana disebut oleh Ibunya Mirza membuat Darel terkejut. Sementara Dylan yang memperhatikan perubahan raut wajah Darel menjadi khawatir.


__ADS_2