Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Janji Para Sahabat Darel


__ADS_3

Darel saat ini bersama dengan semua sahabat-sahabatnya. Mereka berada di lobi depan kampus. Mereka disana menghabiskan waktu bersama setelah selesai mengikuti materi kuliah selama dua jam dan juga telah selesai mengisi perut di kantin.


"Kak Evano! Kak Farrel!" Darel tiba-tiba memanggil Evano dan Farrel.


Mendengar panggilan dari Darel. Evano dan Farrel langsung melihat kearah Darel yang mana Darel juga menatap dirinya. Begitu juga dengan Brian, Azri, Damian, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon. Mereka semua menatap Darel.


"Iya, Rel. Ada apa?" tanya Evano dan Farrel bersamaan.


"Aku sudah mengetahui dalang dari orang yang hendak membunuh Paman Mateo dan Paman Ferino dua hari yang lalu!"


Deg..


Seketika Evano dan Ferino terkejut ketika mendengar ucapan dari Darel. Begitu juga dengan Brian, Azri, Damian, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon terutama Zelig dan Lucas.


"Membunuh? Jadi maksud kamu kalau penyerangan kamarin bukan hanya sekedar penyerangan biasa, tapi mereka ingin membunuh Papa?" tanya Farrel.


"Iya," jawab Darel.


"Siapa pelakunya, Rel?" tanya Evano.


"Pelakunya adalah orang yang sama yang mana orang itu juga tengah mengincar kekayaan keluarga Wilson," jawab Darel.


"Jangan bilang kalau ini ada hubungannya dengan tiga gadis yang mendekati kak Nevan, kak Steven dan kak Marcel?" tanya Kenzo.


"Memang mereka!" Darel langsung mengiyakan perkataan dari Kenzo.


"Brengsek!" umpat Evano dan Farrel bersamaan.


"Kalian pasti akan lebih terkejut lagi jika aku mengatakan hal ini!" seru Darel.


"Apa? Katakan!" tanya dan seru Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon bersamaan.


"Keluarga dari tiga gadis yang mengincar kekayaan keluarga Wilson juga mengincar Paman Rainard dan Paman Miguel, Paman Lucio dan Paman Marcio, Paman Vasco, Paman Martin, Paman Diego dan Paman Carter, Paman Fayyadh dan Paman Cristian."


"Apa?!"

__ADS_1


Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon seketika terkejut dan syok ketika mendengar ucapan dari Darel. Mereka tidak menyangka jika keluarga dari tiga gadis yang mendekati ketiga kakaknya Darel juga mengincar keluarganya.


Darel menatap secara bergantian wajah para sahabatnya. Begitu juga dengan semua sahabat-sahabatnya yang juga menatap dirinya.


"Untuk masalah itu kalian tidak perlu khawatir. Aku sudah membahas masalah ini dengan tangan kananku. Aku sudah memerintahkan mereka untuk melindungi keluarga kalian terutama para ayah-ayah kalian karena mereka mengincar ayah kalian. Malam ini mereka akan datang ke kediaman kalian masing-masing untuk melindungi kalian semua. Dan malam ini juga orang-orang itu akan datang ke kediaman kalian untuk menculik ayah-ayah kalian."


"Jika nanti malam mereka datang. Mereka akan langsung memperlihatkan topeng mereka masing-masing. Di topeng itu akan ada tulisan WHITE EAGLE."


TES..


Seketika air mata Darel mengalir begitu saja membasahi pipinya sehingga membuat Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon terkejut.


"Rel!"


Mereka semua tampak khawatir akan kondisi Darel saat ini. Mereka mengetahui bahwa beberapa hari ini Darel dan keluarganya selalu saja ada masalah sehingga membuat Darel sedikit tertekan dan stress.


Dan sekarang permasalahan tersebut berimbas pada mereka. Keluarga mereka ikut menjadi sasaran orang-orang itu sehingga membuat Darel makin tertekan. Dalam pikiran dan hati mereka masing-masing meyakini bahwa Darel kini tengah menyalahkan dirinya sendiri atas permasalahan tersebut.


"Kita nggak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sekali pun kita sudah merencanakan semuanya dengan baik, namun tak dapat dipungkiri akan ada hal yang buruk akan terjadi. Jika seandainya terjadi sesuatu terhadap salah satu anggota keluarga kalian. Dengan kata lain, tangan kananku dan anggotanya gagal melindungi keluarga kalian. Kalian boleh menghukumku. Silahkan jika kalian ingin memutuskan hubungan persahabatan denganku, silahkan jika kalian ingin menjauhiku dan memusuhi, silahkan kalian memakiku, menghinaku dan menyalahkanku. Aku Darel Wilson tidak akan marah karena itu adalah hal kalian."


Mereka marah dan mereka tidak terima jika Darel berbicara seperti itu. Bagaimana bisa mereka akan melakukan hal itu semua terhadap Darel yang jelas-jelas tidak salah. Justru Darel terlebih dahulu melakukan hal tersebut untuk melindungi keluarganya yang seharusnya mereka yang lakukan.


"Rel," ucap Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel.


Sementara Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon menatap sedih kearah Darel.


Setelah mengatakan itu, Darel beranjak dari duduknya. Tatapan matanya menatap satu persatu wajah semua sahabat-sahabatnya itu dengan air matanya yang makin deras mengalir di pipinya.


Setelah itu, Darel pergi meninggalkan semua sahabat-sahabatnya. Darel memutuskan untuk pulang ke rumah.


"Darel!" panggil Kenzo dan Gavin bersamaan.


Kenzo dan Gavin seketika berdiri. Mereka hendak mengejar Darel. Namun tangan mereka berdua ditahan oleh Brian dan Damian.


"Biarkan dulu Darel sendirian. Percuma saja kalian menemui Darel yang ujung-ujungnya Darel tidak akan mendengarkan kalian," ucap Damian.

__ADS_1


"Darel saat ini pasti tengah ketakutan. Dan aku sangat yakin jika trauma Darel kambuh." Brian berucap lirih.


Deg..


Mereka semua terkejut ketika mendengar ucapan Brian yang mengatakan trauma Darel kambuh.


"Apa maksud dari perkataan kak Brian?" tanya Gavin.


Mereka semua menatap Brian. Mereka ingin penjelasan dari perkataan Brian berusan.


"Saat itu kita sedang bermain di rumah kediaman utama Wilson. Kakak pamit mau ke bawah ambil minuman. Sampai di bawah kakak tidak sengaja mendengar obrolan keluarga Darel. Dengan kata lain, kakak mendengar Paman Arvind yang mengatakan bahwa Darel memiliki trauma berat. Trauma itu adalah trauma dimana Darel yang takut akan kehilangan."


"Apa ini ada hubungannya dengan kecelakaan kita waktu itu sehingga membuat kita berpisah dengan Darel?" tanya Kenzo.


"Iya. Trauma itu terbentuk saat Darel kehilangan kita," balas Brian.


Seketika Samuel teringat tentang perkataan Darel yang pada saat itu dia dan yang lainnya hendak menjalin hubungan persahabatan dengannya.


"Darel pernah bilang padaku bahwa dia tidak ingin membuat kita celaka jika kita tetap ingin menjadi sahabatnya," sahut Samuel.


"Ach, iya! Aku juga ingat kalau Darel juga pernah bilang bahwa dia tidak mau menjadi penyebab akan hal buruk yang menimpa kita. Bahkan Darel juga bilang dia tidak ingin kehilangan lagi." Lucas ikut bersuara.


"Apa pada saat kita yang berusaha untuk mendekati Darel. Pada saat itu Darel sedang mengalami trauma?" tanya Juan.


"Bisa jadi!" seru mereka dengan kompak.


Kenzo seketika menangis ketika mendengar ucapan serta penjelasan dari sahabat-sahabatnya mengenai kondisi Darel. Apalagi saat ini ketika Brian mengatakan bahwa kemungkinan Darel tengah mengalami trauma.


"Gue nggak akan pernah ninggalin lo, Rel! Lo sahabat gue sekaligus saudara gue. Jika ketakutan lo itu benar-benar terjadi. Jika salah satu anggota keluarga gue ada yang celaka. Gue nggak akan pernah nyalahin lo. Nggak ada alasan buat gue nyalahin lo. Justru gue berterima kasih sama lo karena lo sudah bergerak cepat untuk melindungi keluarga gue."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Kenzo membuat Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon langsung menganggukkan kepalanya tanda bahwa mereka sama seperti Kenzo. Mereka tidak akan menyakiti Darel hanya karena salah satu anggota keluarganya celaka. Justru mereka berterima kasih atas apa yang telah dilakukan oleh Darel untuk keluarganya. Darel bergerak terlebih dahulu sebelum mereka.


"Rel," batin mereka menangis.


Mereka menangis ketika melihat wajah sedih Darel dan juga ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darel. Mereka semua tidak menyangka jika Darel akan berkata seperti itu dengan mereka.

__ADS_1


Disaat mereka mendengar ucapan dari Darel, hati mereka benar-benar sakit dan teriris. Mereka ingin sekali mengejar lalu memeluk Darel, namun mengurungkan niatnya karena ingin memberikan waktu untuk Darel. Mereka akan bicara lagi dengan Darel besoknya ketika Darel masuk kuliah atau mereka yang akan datang ke kediaman utama keluarga Wilson.


__ADS_2