
Darel terkejut saat mendengar ucapan dari Dylan.
"Dari mana kak Dylan tahu kalau aku memang sedang nyari foto Bibi Kayana bersama saudarinya," batin Darel.
Darel kemudian melepaskan Headset Gamingnya, kebetulan Darel hanya memakai satu di telinga. Lalu membalikkan badannya untuk melihat kakak sepupunya itu yang sedang tiduran di tempat tidurnya.
"Kenapa kakak bisa berpikiran seperti itu? Dan kenapa kakak juga bisa tahu jika aku memang sedang mencari sesuatu yang berhubungan dengan Bibi Pingkan dan adiknya?" tanya Darel.
Mendengar ucapan dari Darel. Dylan langsung menduduki pantatnya dan menatap wajah Darel.
"Jadi benar kalau kamu sedang mencari sesuatu yang berhubungan dengan Bibi Pingkan?" tanya Dylan.
"Hm." Darel mengangguk. "Aku sedikit curiga dengan nama dari adiknya Bibi Pingkan. Namanya sama dengan nama Bibi Kayana, ibu kandungnya kak Dyoan."
"Kakak juga berpikiran seperti itu awalnya. Namun kakak berpikir lagi, mungkin banyak orang yang memiliki nama Kayana, bukan Mama kakak saja."
"Aku ke gudang ingin mencari foto Bibi Kayana. Awalnya aku ingin mencari foto Bibi Kayana bersama saudarinya. Namun tidak ada. Aku hanya menemukan foto Bibi Kayana saja."
"Lalu apa yang akan kami lakukan dengan foto Mamanya kakak. Oh iya! Kakak boleh lihat nggak, fotonya. Kakak belum pernah melihat wajahnya seperti apa."
Tanpa pikir panjang lagi, Darel mengeluarkan sebuah bingkai foto kecil, lalu memberikannya pada Dyaln.
"Ini, kak."
Dylan mengambil bingkai foto itu. Seketika air mata Dylan jatuh membasahi wajah tampannya saat melihat wajah cantik Ibunya.
"Hiks.. Mama.. ini Dylan. Dylan rindu Mama."
Darel yang melihat Kakaknya itu menangis menjadi tidak tega. Darel beranjak dari tempat duduknya, lalu berpindah duduk di samping Dylan.
PUK
Darel merangkul bahu Dylan. "Kak Dylan jangan sedih. Ada aku disini. Kak Dylan boleh kok ambil foto Bibi Kayana dan membawanya ke kamar kakak."
"Benarkah, El?"
"Hm." Darel menjawab dengan anggukan kepala. "Tapi sebelumnya, aku pinjam dulu untuk menyelidiki rasa penasaranku pada Bibi Pingkan."
"Oke. Apa kakak boleh ikut dalam penyelidikan ini?"
"Tentu saja boleh."
"Kita sudah seperti seorang detektif saja ya," celetuk Dylan.
Darel dan Dylan saling lirik lalu kemudian....
"Hahahahaha." mereka tertawa.
Tanpa diketahui oleh keduanya. Di luar pintu kamar Darel, para kakak-kakaknya tengah menguping dan juga mendengarkan apa yang dibicarakan oleh kedua adik-adik mereka. Mereka semua tersenyum bahagia saat melihat interaksi keduanya. Beberapa hari ini, selama di rumah kedua si bungsu keluarga Wilson tampak kompak dan selalu bersama.
"Aish! Dylan sudah berani menyalip posisiku sebagai kakak kesayangan dari kelinci nakal itu!" seru Raffa dengan bibir yang dimanyunkan.
Mereka yang mendengar ucapan dari Raffa tersenyum gemas.
__ADS_1
"Hehe. Tenang aja. Siapa pun yang akan menjadi kakak kesayangan si kelinci nakal itu, tergantung dari si kelinci itu sendiri," ucap Nevan sambil merangkul bahu adiknya itu.
"Darel itu tidak pernah membedakan kita kakak-kakaknya. Darel itu sayang sama kita semua. Darel itu gampang cepat berbaur disaat dirinya merasa nyaman. Tidak dengan Dylan saja Darel seperti itu. Jika Darel sedang berbicara dengan kakak, jika Darel nyaman dan moodnya nggak buruk. Darel bakal manja dengan kakak. Jika Darel kesal dengan kakak, maka Darel bakal jutek dengan kakak!" Dario berucap menjelaskan tentang sifat Darel.
"Iya, benar tuh. Kan kalian sendiri tahu bagaimana watak dan kelakuan Darel yang sebenarnya," sahut Daffa.
"Menyebalkan," jawab mereka kompak.
"Hahahahaha." mereka tertawa.
Mereka semua tidak menyadari, jika ucapan dan tawa mereka terdengar oleh Dylan dan Darel.
"Ooh.. jadi begini ya. Di depan aku, memuji! Di belakang aku bilang kalau aku ini nyebelin!" seru Darel.
DEG..
Seketika mereka menghentikan tawanya lalu mengatup bibir mereka masing-masing. Mereka dengan kompak melihat kearah Darel dan Dylan. Dapat mereka lihat jika Darel sedang menatap horor dengan bibir yang dimanyunkan. Serta tangan yang dilipat di dada. Keduanya sudah berdiri di depan pintu kamar.
Mereka semua kelabakan. Mereka semua merutuki kebodohannya karena sudah membuat kelinci nakal mereka marah. Bahkan mereka baru menyadari bahwa mereka berada di depan pintu kamar Darel.
"Hehe... Darel!" seru Evan dengan kekehannya.
"Adik laki-lakinya kakak tampan deh," rayu Ghali.
"Oh iya! Mumpung kita libur. Bagaimana kalau kita jalan-jalan. Adik laki-lakinya kakak mau kemana? Katakan pada kakak," rayu Vano.
"Kamu kan suka ke taman hiburan. Bagaimana nanti siang kita kesana," sela Steven.
Disaat Farraz ingin bersuara. Dylan sudah terlebih dahulu menimpali.
"Aish, sialan nih bocah!" batin para kakak-kakaknya.
"Benarkan, Rek?" tanya Dylan sambil mengedipkan matanya.
"Iya," jawab Darel singkat. "Aku bu......." ucapan Darel terhenti dikarenakan ponsel berbunyi.
Darel berlari kearah ponsel yang terletak di atas meja di samping laptopnya.
Darel mengambil ponselnya itu dan melihat nama Mirza di layar ponselnya. Setelah itu, Darel pun langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Mirza."
"Hallo, kakak Darel. Maaf kalau aku mengganggu."
"Tidak. Ada apa?"
"Kakak. Bisa tidak kakak datang ke rumah sakit. Dokter yang menangani Mama ingin membicarakan sesuatu pada kakak. Aku sebenarnya tidak ingin mengganggu atau merepotkan kakak. Tapi Dokter itu memaksa ingin bertemu dengan kakak."
"Baiklah. Kakak akan kesana sekarang."
"Benarkah, kak. Apa tidak apa-apa?"
"Iya, tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir."
__ADS_1
"Baiklah, kak. Terima kasih."
"Sama-sama."
PIP
Darel pun langsung mematikan panggilan tersebut.
Darel mengambil kunci mobilnya dan tak lupa mengambil jaketnya. Setelah itu, Darel langsung keluar meninggalkan kamarnya dan disusul oleh Dylan
Para kakaknya yang melihat Darel yang pergi begitu saja menjadi panik. Mereka mengikuti Darel dari belakang.
"Yak, Rel! kamu mau kemana?" tanya Davian.
"Aku mau ke rumah sakit, kak!" jawab Darel.
"Ke rumah sakit!" teriak mereka semua.
Kini mereka telah berada di ruang tengah.
"Ada apa ini?" tanya Arvind.
"Ini, Pa. Darel mau pergi," sela Raffa.
"Darel sayang. Kamu mau kemana, nak?" tanya Arvind lembut.
"Aku mau ke rumah sakit, Pa!" jawab Darel.
"Mau ngapain, sayang?" tanya Adelina.
"Aku mau bertemu dengan Dokter yang menangani Ibunya Mirza, Ma, Pa! Mirza bilang padaku kalau Dokter itu ingin bertemu denganku. Menurut Dokter itu mungkin aku adalah keluarganya Mirza karena aku memang sering mengunjungi Ibunya Mirza di rumah sakit," jawab Darel menjelaskan tentang alasannya ke rumah sakit.
"Baiklah, Papa izinkan. Tapi kamu harus janji pada Papa. Kamu harus baik-baik. Mengerti!"
"Aku janji," jawab Darel.
Mereka yang mendengarnya ikut senang.
"Aku ikut denganmu, Rel!" seru Dylan.
Saat Darel ingin membuka mulutnya. Dylan sudah terlebih dahulu bersuara.
"Aku tidak suka ditolak," jawab Dylan.
Darel mendengus kesal akan jawaban dari Dylan. Sementara anggota keluarganya tersenyum gemas saat melihat wajah kesal Darel.
"Tunggu disini dan jangan pergi!"
Dylan pergi menuju kamar Darel untuk mengambil bingkai foto Ibunya. Setelah mendapatkan bingkai foto itu, Dylan pun kembali turun ke bawah.
Setelah tiba di bawah, Dylan masuk ke dalam kamarnya. Tak butuh waktu lama, Dylan sudah keluar dari kamarnya dengan jaket menutupi tubuhnya dan sebuah tas yang sudah ada di punggungnya.
"Repot amat sih kayak mau kemana aja. Kita mau ke rumah sakit bukan pergi shopping," ucap Darel yang kesal akan kelakuan Dylan.
__ADS_1
"Sudah, jangan bawel. Ayo, buruan!" Dylan langsung menarik tangan Darel.
Anggota keluarganya yang melihat adegan itu tersenyum dan geleng-geleng kepala.