Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Tidak Mendapatkan Izin


__ADS_3

Anggota keluarga Wilson kini sedang makan malam bersama termasuk Darel. Makan malam kali sangat berbeda dimana Darel terlihat begitu bersemangat dan jangan lupa senyuman yang tak pernah luntur di bibirnya.


Davian dan Vano yang sedari tadi memperhatikan adik bungsunya itu tersenyum bahagia. Baik Davian maupun Vano merasakan kebahagiaan di hatinya saat melihat kebahagiaan di wajah adik bungsunya itu.


Seketika terlintas ide jahil di otak Vano untuk merusak hari baik adik bungsunya pagi ini.


"Eheemm. Sudah senyam senyumnya. Ntar kesambet tuyul," goda Vano disertai dehemannya.


Mereka semua melihat kearah Vano dan Darel. Namun detik kemudian, mereka semua menatap wajah Darel. Mereka semua melihat Darel yang terlihat tampak berbeda hari ini.


"Ada yang lagi bahagia nih!" seru Naufal.


"Bagi-bagi dong," ucap Steven.


"Apaan sih," jawab Darel kesal. Mereka hanya tersenyum melihat kekesalan Darel.


"Papa bahagia melihat kamu yang sekarang ini, sayang!" seru Arvind ketika melihat wajah putra bungsunya terlihat cerah dan segar.


"Mama juga, sayang!" Adelina tersenyum.


"Bagaimana dengan kabar Kenzo, Gavin dan sahabat-sahabat kamu yang lainnya, hum?" tanya Andre.


"Baik, Kak!" Darel menjawab sembari mengunyah makanannya.


Ketika semuanya tengah menikmati sarapan pagi, tiba-tiba terdengar klason mobil yang bertubi-tubi dari luar dan disertai teriakan.


TIN! TIN!


TIN! TIN!


TIN! TIN!


"DAREEELLL!" teriak Juan, Razig, Lucas, Samuel dan Zelig bersamaan.


"WILSON!" teriak Charlie dan Devon.


"KELINCI KUPREETT!" teriak Kenzo.


"KELINCI BONGSOR!" teriak Gavin.


Para sahabat-sahabat Darel datang dengan membawa tiga mobil. Juan, Razig, Lucas, Samuel dan Zelig menggunakan mobil Renault TRIBER, Gavin dan Charlie menggunakan mobil Honda Oddysey. Sementara Kenzo dan Devon menggunakan mobil Datsun GO+


Mendengar teriakan dari sahabat-sahabatnya membuat Darel mendengus kesal.


"Dasar tiang listrik, kurus, jangkung sialan." Darel berucap kesal.


Anggota keluarganya tersenyum gemas ketika mendengar umpatan kekesalan dari Darel.


Darel beranjak dari duduknya, lalu melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dengan wajah yang ditekuk.


CKLEK!


Pintu dibuka. Setelah itu, Darel berdiri bersandar di tepi pintu dengan tangan di lipat di dada.


"Mau sampai kapan kalian berteriak seperti orang gila di depan gerbang rumahku, hah!" teriak Darel.


Mendengar teriakan Darel. Mereka semua hanya cengengesan.

__ADS_1


"Hehehehe."


"Dan kau kurus, tiang listrik. Jangan berlagak seperti orang baru di dalam kehidupanku. Kenapa kalian berdua tidak ajak mereka langsung masuk, hah?!" teriak Darel.


Mendapatkan ceramah agama dari sahabat kelincinya. Kenzo dan Gavin hanya menunjukkan cengiran khas mereka.


Melihat kedua sahabatnya hanya menunjukkan cengirannya. Darel langsung masuk ke dalam.


"Yah, sikelinci merajuk!" seru Gavin.


"Ya, sudah! Lebih baik kita masuk. Jangan sampai anak kelinci itu berteriak untuk yang kedua kalinya!" seru Kenzo.


Mereka pun akhirnya memutuskan memasuki perkarangan rumah keluarga Darel.


Setelah sampai di dalam perkarangan rumah keluarga Darel. Mereka memarkirkan mobilnya.


^^^


Semuanya sudah berada di ruang tengah termasuk sahabat-sahabat Darel.


"Bagaimana kabar kalian Kenzo, Gavin?" tanya Adelina.


"Kabar kami baik Bibi" jawab Kenzo dan Gavin bersamaan.


"Paman senang melihat kalian kembali," ucap Arvind. Kenzo dan Gavin tersenyum.


"Asal kalian tahu. Anak kelinci kalian ini seperti orang gila di rumah selama belum mendapat kabar tentang kalian," sahut Vano sembari melirik kearah adik bungsunya.


Mendengar perkataan dari kakak pucatnya itu membuat Darel mendengus kesal. Dan jangan lupa bibir yang dimanyun-manyunkan.


Arvind melihat kearah Juan, Razig, Lucas, Samuel dan Zelig.


"Sama-sama, Paman!" seru Juan, Razig, Lucas, Samuel dan Zelig bersamaan.


"Kami ingin menjadi sahabatnya Darel bukan karena kami adalah adik sepupunya dari sahabat-sahabatnya Darel. Tapi kami ingin bersahabat dengan Darel karena kami ingin lebih dekat lagi dengan Darel di dunia nyata." Lucas berucap.


"Maksudnya?" tanya para kakak-kakaknya Darel.


"Kami berteman dengan Darel di dunia Game, kak!" Samuel menjawabnya.


"Oh. Jadi Kalian juga hobi bermain game juga ya?" tanya Erick.


"Iya, kak!" jawab Juan.


"Yak! Kenapa kalian semuanya pada disini sih? Pergi sana. Jangan ganggu acaranya anak muda!" seru Darel dengan wajah kesalnya.


"Yah, gitu amat sih!" ucap Satya.


"Bodo," sahut Darel dengan wajah merengut.


"Oke, oke! Kita pergi!" seru Arvind sembari mengacak-ngacak rambut putra bungsunya gemas.


Arvind berdiri dari duduknya dan disusul oleh yang lainnya. Mereka memilih untuk mengalah dengan kelinci kesayangan mereka dari pada mereka melihat kesayangannya menangis karena acaranya bersama dengan sahabat-sahabatnya diganggu.


Di dalam hatinya mereka masing-masing merasakan kebahagiaan melihat kesayangan mereka saat ini.


"Rel. Bagaimana dengan acara Camping besok? Jadikan?" tanya Samuel.

__ADS_1


"Jadilah," jawab Darel mantap.


Apa kamu sudah dapat izin?" tanya Gavin.


"Aku belum bilang," jawab Darel.


"Yak, dodol! Kenapa kamu belum kasih tahu keluarga kamu terutama para pawang-pawang kamu itu," ucap Kenzo.


Darel melotot kearah Kenzo ketika kakak-kakak kesayangannya disebut pawang. Darel gak terima.


BUGH!


Darel melemparkan bantal sofa kearah Kenzo. Alhasilnya, lemparan tidak mengenai sasaran. Kenzo langsung menjulurkan lidahnya kearah Darel. Hal itu sukses membuat Darel mempoutkan bibirnya.


Sementara Juan, Razig, Lucas, Samuel dan Zelig, Charlie dan Devon tertawa melihat wajah kesal Darel.


***


Ke esokkan harinya seluruh anggota keluarga Wilson telah dalam keadaan rapi dan akan bersiap-siap pergi untuk menuju tempat tujuan mereka masing-masing.


Setelah selesai sarapan pagi. Mereka semua pun pergi meninggalkan meja makan untuk memulai aktifitas mereka di luar rumah.


Ketika Arvind, Adelina dan para kakak-kakaknya hendak pergi. Darel berteriak memanggilnya.


"Papa, Mama, Kakak!"


Arvind, Adelina dan para putra-putranya langsung berhenti dan dengan kompak menatap kearah Darel.


"Ada apa, sayang?" tanya Arvind dan Adelina.


"Ada apa, Rel?" tanya para kakak-kakaknya bersamaan.


"Eeemm. Begini. Aku ingin kalian mengizinkanku camping besok," sahut Darel.


Mendengar kata Camping dari mulut Darel membuat Arvind, Adelina dan putra-putranya saling lirik.


Darel yang melihatnya sudah bisa mengerti. Kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya tidak akan bakal mengizinkan dirinya ikut Camping.


"Sayang," ucap Adelina.


"Tidak boleh ya?" tanya Darel.


"Bukan be..." perkataan Adelina terpotong karena putranya sudah terlebih dahulu bersuara.


"Aku tahu kalian mengkhawatirkanku. Aku tahu kalian peduli padaku dan tidak ingin terjadi sesuatu terhadapku. Tapi mau sampai kapan kalian bersikap seperti ini padaku. Aku sudah dewasa dan aku juga sudah kuliah. Kalian memberikan perhatian lebih padaku. Kalian selalu terlihat khawatir terhadap seakan aku ini anak yang lemah."


Mendengar perkataan Darel membuat Arvind, Adelina dan putra-putranya merasakan sesak di dadanya.


"Setidaknya berikan kepercayaan kepadaku untuk aku melakukan apapun yang aku mau. Aku juga tidak akan melakukan hal-hal buruk. Aku juga tidak akan melakukan hal yang akan merugikan diriku sendiri. Dan aku juga tidak akan membuat kalian kecewa padaku. Aku hanya ingin melakukan apapun yang aku suka. Hanya itu... Hiks... Hiks," ucap Darel terisak.


"Kakak seperti ini karena kakak tidak ingin kehilanganmu, Rel! Kakak sayang kamu. Kakak ingin kamu selalu baik-baik saja," batin Davian.


"Rasa takut kakak saat kamu tidak bernafas lagi akibat luka tembak masih membekas di pikiran kakak, Rel!" batin Nevan.


Sementara yang lainnya menatap iba dan juga takut. Takut jika mereka mengizinkan Darel akan terjadi sesuatu padanya.


Ketika Nevan ingin berbicara. Darel terlebih dahulu bersuara. "Tidak apa. Aku sangat-sangat paham. Maaf karena sudah menyita waktu kalian. Kalau begitu aku pergi kuliah dulu."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Darel langsung pergi meninggalkan anggota keluarganya untuk pergi ke Kampus.


Melihat kepergian Darel membuat mereka menangis.


__ADS_2