
Hari ini adalah hari ketiga Darel yang masih setia memejamkan kedua matanya. Selama dua hari juga anggota keluarganya setia menemaninya dan mengajaknya berbicara.
Untuk saat ini yang menjaga Darel di rumah sakit adalah para Kakak kandungnya. Mereka semua meminta kepada anggota keluarga hanya mereka yang berada di rumah sakit sampai pukul 12 siang. Mereka ingin bersama adik manis mereka tanpa ada yang mengganggu. Dan hal itu pun dituruti oleh kedua orang tua mereka dan anggota keluarga lainnya. Walau anggota keluarga pada keberatan.
Mereka semua paham bagaimana perasaan Davian dan adik-adiknya saat melihat kelinci manis kesayangan mereka terbaring lemah di ranjang pesakitan. Mereka secara bergantian memberikan kecupan-kecupan sayang pada kedua pipi dan keningnya.
"Darel. Apakah kamu tahu Kakak sangat merindukanmu. Kakak rindu waktu kamu menghabiskan jus jeruk Kakak. Kakak rindu tawamu. Bangunlah, sayang." Davian berucap lirih.
"Darel. Kami semua merindukanmu, merindukan kata-kata lucumu, merindukan gurauanmu dan merindukan umpatan-umpatanmu. Jadi, segera bangunlah dari tidurmu." Nevan berbicara sambil mengelus rambut adiknya.
"Rumah sakit ini bukanlah tempat untuk bermain, jadi bangunlah dan bermain-main dengan Kakak di rumah atau kita pergi ke taman bermain," ucap Ghali.
"Kakak merindukan suara teriakanmu, suara tawa candamu. Kakak sangat membutuhkan senyumanmu yang bersinar seperti matahari. Semoga kamu segera bangun dan membuka kedua mata bulat itu." Elvan tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Melihatmu terbaring membuat hati Kakak terasa remuk redam. Ingin sekali Kakak menggantikan dirimu yang sedang terbaring saat ini. Semoga kamu segera membuka kedua matanya ya. Kakak merindukanmu Rel." Andre menatap sedih wajah adiknya.
"Darel, kau adalah pembawa warna dalam kehidupan sehari-hari Kakak. Terima kasih, kau sudah mau menjadi adiknya Kakak. Hari ini terasa kelabu dan warnanya pudar, karena warnanya sedang terbaring lemah. Kakak hanya ingin mengucapkan dengan hangat harapan Kakak supaya kamu cepat bangun dan bisa mewarnai hari Kakak lagi." Arga berucap lirih.
"Darel, sayang. Apakah kamu tidak lelah berbaring di atas ranjang dua hari ini? Kakak tahu kamu letih, lukamu dan rasa sakitmu mengharuskanmu seperti itu. Kakak percaya kamu sebentar lagi akan bangun dan beraktivitas kembali. Kakak berharap dan berdoa untukmu." Daffa berbicara dengan memberikan kecupan di kening adiknya.
Sedangkan Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa hanya diam dan menatap sedih wajah manis yang kini terlelap dengan damai di hadapan mereka. Mereka juga memiliki harapan dan keinginan yang sama seperti para kakaknya yaitu adik manis mereka segera bangun.
***
Saat ini Kenzo dan sahabat-sahabatnya sedang berada di kelas. Mereka tampak bahagia. Yah! Mereka bahagia karena sahabat kelinci nakal mereka telah kembali. Tapi kebahagiaan mereka belum sempurna dikarenakan sahabat kelinci nakal kesayangan mereka masih terbaring dan belum sadarkan diri selama dua hari di rumah sakit. Dan hari ini adalah hari ketiga.
"Kita jadikan ke rumah sakit?" tanya Gavin.
"Ya, jadi." mereka menjawab dengan kompak.
"Pulang sekolah kita langsung ke sana," kata Azri.
"Kakak merindukan kelinci nakal itu," sahut Brian.
"Kami juga merindukan kelinci nakal itu, Kak Brian." Farrel berucap dan diangguki oleh yang lainnya.
"Aku tidak menyangka Bibi Agatha dan suaminya tega melakukan hal keji seperti itu," ucap Gavin.
FLASBACK ON
Darel masih mengikut pelajaran di kelas. Saat Darel sedang fokus mengikuti pelajarannya, tiba-tiba datang kepala sekolah bersama dua orang pemuda. Dan hal itu sukses membuat guru dan murid-murid terkejut.
"Darel," panggil kepala sekolah itu. Darel melihat kearah kepala sekolah.
"Ya, Pak. Ada apa?"
"Ada yang mencarimu. Mereka mengaku anak buah Kakekmu."
__ADS_1
Darel yang mendengar jawaban dari kepala sekolah itu pun mengerti. Tanpa mikir dua kali, Darel keluar untuk menemui kedua anak buahnya itu.
Melihat Darel yang pergi keluar. Sahabat-sahabatnya pun ikut keluar.
"Ada apa kalian datang kemari?" tanya Darel.
"Maaf, Bos. Kami tidak bermaksud untuk mengganggu waktu belajar Bos. Tapi ini genting, Bos."
"Katakan."
"Mathew. Pria brengsek itu sudah mulai bertindak. Pria itu datang bersama dua puluh anak buahnya lengkap dengan senjatanya. Dan lebih parahnya lagi, pria berengsek itu berhasil melukai tuan muda Raffa. Tuan muda Raffa ditembak di bagian pahanya."
Baik Darel mau pun sahabat-sahabatnya terkejut mendengar ucapan dari salah satu anak buahnya Darel.
"Brengsek! Berani sekali bajingan itu menyakiti kakakku," sahut Darel penuh amarah.
"Baiklah. Kita pulang sekarang. Ini sudah waktunya untuk memulai permainan," jawab Darel.
"Rel," panggil Kenzo.
Darel melihat kearah Kenzo. Dapat dilihat wajah khawatir Kenzo.
"Rel. Katakan padaku dan kami semua. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Kenzo.
"Ya, Rel. Katakan pada kami. Jangan menyimpan apapun dari kami," mohon Brian.
"Mathew? Siapa dia, Rel?" tanya Evano.
"Mathew suaminya Bibi Agatha." Darel menjawab pertanyaan Evano.
"Bukannya Bibi Agatha itu istrinya Paman William. Kenapa...?" ucapan Kenzo terpotong.
"Memang benar perempuan itu istri Paman William. Tapi sebelum menikah dengan Paman William, perempuan murahan itu sudah berstatus istri dari Mathew. Ini semua sudah direncanakan oleh mereka berdua biar bisa masuk ke dalam keluarga Wilson Dan..."
"Dan apa, Rel?" tanya Damian.
"Tujuh dari putra Paman William, hanya dua yang putra kandungnya. Yang limanya putra dari kedua iblis itu." Darel menjawabnya.
"Apa?" mereka terkejut.
"Siapa?" tanya Farrel.
"Kak Dirga dan Kak Marcel. Mereka berdua putra kandung Paman William. Dan yang lainnya putra mereka berdua. Bibi Kayana adalah ibu kandung Kak Dirga dan Kak Marcel."
"Kenapa kau tidak pernah cerita pada kami, Rel. Pasti kau selama ini tertekan dengan masalah inikan?" ucap dan tanya Kenzo.
"Bagaimana lagi? Aku melakukan semua ini karena amanah dari Kakek. Kakek berharap sekali padaku. Dan Kakek juga percaya padaku kalau aku bisa melakukannya. Dan Kakek meminta padaku untuk membalaskan kematiannya."
__ADS_1
"Jangan bilang kalau..." ucapan Gavin terpotong.
"Iya, Vin. Kakek dibunuh oleh pria brengsek itu."
"Ya, sudah kalau begitu. Aku izin pulang sekarang. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada keluargaku. Pasti saat ini pria itu sedang berusaha untuk mengusir seluruh anggota keluargaku dari rumah itu," ucap Darel.
Darel kembali ke dalam kelas untuk mengambil tasnya. Setelah itu Darel pun izin dengan guru kelasnya dan juga kepala sekolah.
"Rel. Hati-hati ya." Gavin dan Damian berucap bersamaan.
"Jangan sampai terluka," kata Kenzo.
"Jaga dirimu. Jangan sampai pria gila itu berhasil menyakitimu," kata Brian.
"Semoga kau berhasil melawan kedua iblis itu, Rel." Azri berbicara sembari mendoakan Darel.
"Kami mendoakan keberhasilanmu," ucap Evano dan Farrel.
Darel tersenyum hangat pada ketujuh sahabatnya. "Terima kasih. Aku akan mengingat semua kata-kata kalian. Ya, sudah. Aku pulang."
Darel pun pergi meninggalkan para sahabatnya yang masih melihatnya.
"Tuhan. Lindungi sahabat kami," doa mereka dalam hati.
FLASBACK OFF
Saat Kenzo dan sahabat-sahabatnya tengah melamun memikirkan Darel. Lamunan mereka buyar saat teriakan seorang guru yang sudah berada di dalam kelas.
Guru itu berteriak untuk menyadarkan lamunan mereka karena sudah berulang kali sang guru tersebut memanggil mereka, tapi mereka tidak mendengarnya.
"Ya, Bu. Kalau pendengaran kami rusak bagaimana?" protes Gavin sambil mengusap-usap kedua telinganya. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Salah kalian sendiri. Kenapa pada melamun? Ooh.. jangan-jangan kalian lagiiii..." guru itu berbicara sambil menggoda ketujuhnya.
"Aish. Apaan sih, Bu!" seru mereka kesal akan guru tersebut.
Guru itu adalah wali kelas mereka. Guru tersebut sangat baik dan perhatian pada anak-anak didiknya, terutama pada kelompok Darel.
"Oh, iya. Bagaimana keadaan Darel? Apa Darel sudah sadar dari tidurnya selama dua hari?" tanya guru itu.
"Belum, Bu. Rencananya nanti pulang sekolah kami mau membesuknya," sahut Gavin.
Mendengar penuturan dari Gavin membuat hati guru tersebut sedih.
"Bagaimana kalau kita semua membesuk Darel, Bu guru." salah satu teman sekelas Darel memberikan usul.
"Hm. Baiklah. Nanti setelah pulang sekolah, kita semua akan ke rumah sakit membesuk Darel. Semoga saja saat kita membesuknya. Darel akan segera membuka kedua matanya," ucap guru tersebut.
__ADS_1
"Aamiin," ucap mereka semua secara bersamaan.