Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Hukuman Penjara


__ADS_3

"Berani sekali kau melawanku, hah?!" bentak seorang pria paruh baya yang anaknya menjadi korban pemukulan dari murid yang dibela oleh kepala sekolah."


"Aku dan para orang tua lain memintamu untuk mengeluarkan anak tidak tahu diri itu dari sekolah ini. Apa susahnya kau menuruti perintah kami?!" bentak pria paruh baya kedua.


Keadaan kepala sekolah saat ini sudah terluka, terutama bagian wajahnya akibat pukulan dari dua pria yang anaknya mengalami luka-luka parah dan koma di rumah sakit. Saat ini kepala sekolah itu tak berdaya di lantai


"Saya mempertahankan murid bernama Sarga karena dia tidak bersalah. Yang bersalah itu adalah anak-anak kalian. Anak-anak kalian sudah banyak melakukan kesalahan yang sangat sangat fatal di sekolah ini. Seharusnya anak-anak kalian yang dikeluarkan!" teriak kepala sekolah itu.


Mendengar perkataan sekaligus perlawanan dari kepala sekolah tersebut membuat para orang tua yang anaknya masuk rumah sakit akibat ulah Sarga menatap marah kearah kepala sekolah itu.


Ketika pria paruh baya yang anaknya koma di rumah sakit akibat kena tendangan dari Sarga ingin melayang kakinya kearah perut sang kepala sekolah, tiba-tiba Arzan masuk ke dalam ruang kepala sekolah yang kebetulan pintu ruang kepala sekolah itu tak tertutup rapat sehingga Arzan dan yang lainnya bisa masuk ke dalam.


Bugh..


Arzan langsung memukul kepala belakang pria paruh baya itu dengan senjata yang dia bawa sehingga membuat pria paruh baya itu seketika jatuh tak sadarkan diri di lantai.


"Anjas!" teriak istrinya lalu memeluk tubuh suaminya bermaksud untuk membangunkan suaminya.


Srekk..


Srekk..


Beberapa senjata api mengarah kearah para orang tua sehingga membuat mereka semua ketakutan.


"Menyingkirkan kalian semua dari laki-laki itu. Kalau tidak peluru-peluru yang ada di senjata yang dipegang oleh anggotaku menembus kepala kalian semua!" teriak Arzan.


Seketika para orang tua dan beberapa anak buahnya menyingkir dan menjauh dari kepala sekolah itu.


Para orang tua itu sekitar enam pasang orang tua. Masing-masing membawa 3 anak buah. Jadi ada sekitar 9 anak buah yang memukuli kepala sekolah termasuk para ayah tersebut.


Sarga langsung menghampiri kepala sekolahnya dan membantu kepala sekolah untuk berdiri.


"Anda baik-baik saja, pak?"


"Bapak baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir."


"Seharusnya Bapak keluarkan saja saya dari sekolah. Saya nggak apa-apa," ucap Sarga.


"Kalau Bapak keluarkan kamu dari sekolah. Lalu bagaimana dengan teman-teman kamu yang lainnya. Satu persatu teman-teman kamu itu akan mati ditangan teman-teman kamu yang kamu hajar itu hingga masuk rumah sakit. Di sekolah ini hanya kamu yang berani melawan mereka. Sementara yang lainnya, mereka tidak ada keberanian sama sekali."

__ADS_1


"Tapi Pak. Anda seperti ini...."


"Bapak sudah katakan. Bapak tidak apa-apa. Bapak rela dipukul demi mempertahankan murid seperti kamu. Bahkan ini juga permintaan dari semua teman-teman kamu yang menjadi korban bully keenam teman-teman kamu itu."


Sarga seketika terkejut ketika mendengar pengakuan dari kepala sekolah yang mengatakan bahwa semua teman-temannya yang menjadi korban bully meminta untuk mempertahankan dirinya di sekolah ini.


"Sarga," panggil Samuel.


"Iya, kak!"


"Obati luka kepala sekolah kamu itu. Urusan mereka biar kakak dan yang lainnya yang urus," ucap Samuel.


"Tetap disini. Dan jangan kemana-mana!"


"Baik kakak Azri."


"Kalian! Seret para manusia busuk ini menuju lapangan!" perintah Arzan.


"Baik!"


Setelah itu, para anggota Arzan langsung menarik paksa keenam pasangan orang tua dan kesembilan anak buahnya ke lapangan.


Brukk.. Brukk..


Brukk..


Para anggota Arzan langsung mendorong secara kasar hingga keenam pasangan orang tua beserta anak buahnya tersungkur di tanah.


Melihat kejadian heboh di lapangan membuat semua murid-murid keluar. Dan mereka semua terkejut ketika melihat enam pasang orang tua yang mereka yakini adalah para orang tua dari keenam teman-temannya yang dihajar sampai tak sadarkan diri oleh Sarga.


"Kalian benar-benar menjijikkan!" teriak Samuel dengan menatap marah kearah para orang tua dan anak buahnya.


"Jelas-jelas disini anak-anak kalian yang bersalah. Tapi justru seolah-olah anak-anak kalian yang menjadi korbannya!" teriak Samuel.


"Cih! Jangan menyalahkan anakku. Anakku terbaring di rumah sakit itu karena ulah dari anak yang tidak tahu diri itu. Kelakuannya benar-benar tak manusiawi. Sama seperti ibunya!" teriak pria paruh baya itu sembari menunjuk kearah Samuel.


Mendengar perkataan dari pria di hadapannya membuat Samuel menatap penuh amarah. Begitu juga dengan Azri.


Duagh..

__ADS_1


Samuel dan Azri secara bersamaan memberikan tendangan kuat tepat di perut pria paruh baya itu sehingga membuat pria itu tersungkur di tanah dengan menyemburkan darah segar dari mulutnya.


"Itu akibat sudah berani menghina ibuku/Bibiku!" bentak Azri dan Samuel bersamaan.


Samuel menatap tajam kearah para orang tua itu. Dia benar-benar marah dan dendam akan sikap mereka terhadap Sarga.


"Anak-anak kalian yang terlebih dahulu mengusik adikku Sarga Ramero. Anak-anak kalian yang selalu membully adikku. Dan bahkan lebih parahnya lagi, anak-anak kalian menghina ibuku seenaknya. Apa salah jika adikku membalas perlakuan keji anak-anak kalian, hah?!" teriak Samuel.


"Dan sekarang kalian tidak terima atas apa yang terjadi terhadap anak-anak kalian lalu dengan seenak kalian meminta kepada kepala sekolah untuk mengeluarkan adikku dari sekolah ini. Yang benar saja! Yang salah anak-anak kalian. Kenapa adikku yang dikeluarkan?!" teriak Samuel.


"Kalian benar-benar menjijikkan! Anak-anak kalian menyakiti teman-temannya. Ketika mendapatkan balasan dari salah satu temannya sehingga berakhir masuk rumah sakit, kalian tidak terima! Wah! Hebat sekali kalian!" ucap Azri.


Azri tak kalah tajam menatap wajah orang-orang yang sudah mengusik adik sepupunya. Ditambah lagi orang-orang itu sudah melukai kepala sekolah yang mana kepala sekolah tersebut membela adik sepupunya.


"Mau jadi jagoan kalian! Atau mau jadi penguasa biar semua orang takut dan tunduk kepada kalian. Kalian sudah salah mencari lawan," ucap Azri.


"Dikarenakan kalian hanya menyakiti kepala sekolah dan tidak menyentuh adikku apalagi sampai menyakitinya, maka hukuman yang akan aku dan kakak sepupuku berikan kepada kalian adalah penjara. Kami berdua akan mendapatkan hukuman penjara selama 25 tahun lamanya, karena kesalahan yang kalian sangatlah besar," ucap Samuel.


Mendengar perkataan dari Samuel dan Azri membuat para orang tua dari anak-anak yang dihajar oleh Sarga berteriak. Mereka menatap marah kearah Samuel dan Azri.


Namun Samuel dan Azri tidak memperdulikan akan hal itu. Yang mereka pedulikan saat ini adalah mereka semua masuk penjara dan di hukum 25 tahun penjara.


Samuel menatap kearah Arzan. "Kakak Arzan."


"Iya, tuan!"


"Tolong perintahkan anggota kakak Arzan untuk membawa para manusia busuk itu ke kantor polisi."


"Baiklah tuan!"


Setelah itu, Arzan langsung memberikan perintah kepada beberapa anggotanya untuk membawa para orang tua dan para anak buahnya ke kantor polisi.


"Tidak! Lepaskan kami!" teriak keenam wanita paruh baya itu ketika tangan mereka ditarik paksa oleh anggotanya Arzan.


Mendengar teriakkan-teriakan dari keenam wanita paruh baya itu membuat Azri dan Samuel tersenyum di sudut bibirnya. Mereka sangat bahagia ketika mendengar teriakkan-teriakan indah dari keenam wanita paruh baya tersebut.


"Kita temui Sarga sekarang!" seru Azri.


Setelah itu, Azri dan yang lainnya pergi menemui Sarga di ruang kepala sekolah. Termasuk Arzan dan dan beberapa anggota yang tersisa.

__ADS_1


Mereka menemui Sarga di ruang kepala sekolah hanya ingin memastikan keadaan Sarga dan kepala sekolah.


__ADS_2