Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Telepon Misterius


__ADS_3

Darel saat ini berada di ruang tengah. Dirinya saat ini tengah berkutat dengan laptop miliknya.


Darel sedang mengerjakan tugas-tugas kuliahnya dan ditambah lagi dengan tugas-tugasnya yang lain.


Darel diam-diam menerima jabatan sebagai ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Jabatan itu didapat dari pemilik kampus yang tak lain adalah ayahnya Samuel.


Ayahnya Samuel mempercayai Darel untuk menjadi ketua BEM karena melihat bakat dan prestasi yang dimiliki Darel. Bukan hanya Darel yang dipilih oleh ayahnya Samuel melainkan semua sahabat-sahabatnya Darel termasuk Samuel sendiri ke dalam kelompok BEM tersebut. Bahkan ayahnya Samuel mempercayai semua jenis kegiatan yang ada di kampus kepada Darel dan para sahabat-sahabatnya.


Disaat Darel sedang sibuk dan fokus dengan dunianya. Di sisi lain kedua orang tuanya, para kakak-kakaknya serta paman dan bibinya saat ini sedang memperhatikannya. Mereka berdiri tak jauh dari ruang tengah. Mereka semua tersenyum saat melihat Darel yang sedang fokus dengan dunianya.


"Tumben Darel ngerjain tugas kampusnya di ruang tengah! Biasanya setiap mengerjakan semua tugas-tugasnya baik saat sekolah dulu maupun sekarang sudah kuliah selalu di dalam kamar!" seru Axel.


"Mungkin Darel bosan kali setiap ngerjain tugas di dalam kamar terus," ucap Alvaro.


"Dan mungkin juga Darel ingin mengganti suasana ketika ngerjain tugas-tugasnya biar gak bosan," sela Evan.


"Hm." mereka semua bergumam sembari mengangguk setuju akan perkataan dari Evan.


"Kalau begitu Mama akan buatkan minuman dan makanan kesukaan untuk putra bungsu Mama biar putra bungsu Mama tambah semangat mengerjakan tugas-tugas kuliahnya," sahut Adelina.


"Aku akan membantu kak Adelina!" seru Salma dan Evita bersamaan.


Setelah itu, Adelina dan kedua adiknya langsung pergi menuju dapur untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk putra bungsunya.


Sementara yang lainnya masih terus memperhatikan Darel. Ketika mereka tengah memperhatikan Darel, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara teriakan Darel.


"Yak! Mingtem sialan, setan. Mau apa kau menggangguku, hah?! Apa kau tidak punya pekerjaan lain?"


Ya! Darel saat ini sedang menerima telepon dari salah satu sahabatnya yang tak lain adalah Lucas.


Mendengar teriakan dan perkataan Darel membuat ayahnya, para kakak-kakaknya serta pamannya tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"Tuh mulut memang nggak bisa dijaga. Seenaknya ngatain dan ngumpatin orang," ucap Arga.


"Adik siapa dulu," ejek Erick.


"Eeemm." Davian dan adik-adiknya menggeram kesal ketika mendengar ejekan dari Erick.


Sementara Erick hanya tersenyum mendengar geraman dan wajah kesal ke 12 saudara sepupunya. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Semua yang keluar dari mulutnya Darel itu adalah ajaran dari Vano," sahut Daffa santai.


Vano yang mendengar perkataan dari Daffa seketika membelalakkan matanya dan menatap tajam kearah Daffa.


"Yak! Kak Daffa. Kenapa kau malah menyalahkanku? Aku tidak pernah mengajarkan yang buruk kepada anak kelinci itu," ucap Vano kesal.


Sementara anggota keluarga lainnya hanya tersenyum mendengar perkataan Daffa dan melihat wajah kesal Vano.


"Kau memang tidak pernah mengajarkan anak kelinci itu hal-hal buruk. Tapi anak kelinci itu belajar dari sikapmu yang dingin dan ketus itu," jawab Daffa yang memang sengaja menjahili adiknya.


"Ach! Terserah padamu saudara Daffa Wilson."


Setelah mengatakan hal itu, Vano pergi meninggalkan mereka semua untuk menghampiri adik kelincinya yang saat ini masih berbicara dengan Lucas di telepon.


"Hei, saudara Vano itu tidak sopan namanya!" seru Daffa lalu menyusul Vano.


Melihat kepergian Vano dan Daffa. Minki dan yang lainnya pun pergi menyusul keduanya.


^^^


"Yak, Rel! Sadis bener tu ucapan. Nggak ada kata-kata yang lain ya yang lebih halus dan lembut?"


"Kalau ngomong sama orang kayak elu nggak cocok pake bahasa halus dan juga lembut."


"Sialan kau Rel!"


"Ada apa? Jika tidak ada hal penting. Aku tutup nih. Aku lagi ribet saat ini. Tugas-tugas kuliahku belum kelar semua dan kamu malah gangguin aku."


"Sorry, Sorry!"


"Tiada kata Sorry buat kamu."


"Yaelah. Baperan banget sih!"


"Buruan! Aku tutup nih."

__ADS_1


"Iya iya! Gini Rel. Aku..."


"Apaan? Jangan gantung gitu. Nggak enak tahu."


"Sebenarnya... Sebenarnya aku menelpon kamu hanya ingin merecoki kamu saja. Nggak ada hal penting apapun kok."


Setelah mengatakan itu, Lucas di seberang telepon sedang menahan tawa dan juga sedang mempersiapkan telinganya mendengar teriakan dan umpatan dari Darel.


Lucas berencana ketika Darel mengeluarkan tiga kata dari mulutnya. Lucas akan langsung mematikan teleponnya.


Sementara Darel yang mendengar jawaban dari Lucas seketika tersadar. Dan beberapa detik kemudian...


"Luc..."


TUTT!


TUTT!


Darel membelalakkan matanya ketika Lucas yang seenaknya mematikan teleponnya.


Dan detik kemudian..


"Lucas sialan, hitam, bodoh, kampret! Mati saja kau!" teriak Darel.


Mendengar teriakan dan umpatan dari Darel. Anggota keluarganya hanya tersenyum dan juga geleng-geleng kepala.


Semuanya sudah berada di ruang tengah dan sudah duduk di sana dengan antengnya. Kemudian Arvind mengusap lembut kepala belakang putra bungsunya.


Darel yang merasakan usapan di kepalanya langsung menolehkan kepalanya ke samping kiri. Dan dapat dilihat olehnya ayahnya yang tersenyum menatap dirinya.


"Papa."


"Ada apa, hun?"


"Nggak apa-apa, Pa! Aku hanya kesal saja sama Lucas," jawab Darel.


"Memangnya kenapa dengan Lucas?"


"Kesal aja. Aku pikir dia menelponku karena ada hal penting ingin disampaikan. Tahunya..."


"Memangnya apa yang dikatakan Lucas di telepon sehingga membuat kamu kesal gini?" tanya Ghali.


"Lucas bilang kalau dia nelpon aku hanya untuk ngerecokin aku doang," jawab Darel dengan mempoutkan bibirnya.


Mereka semua tersenyum ketika mendengar jawaban dari Darel. Bahkan mereka semua merasa gemas ketika melihat wajah kesal Darel. Menurut mereka semua, wajah Darel saat ini persis seperti anak kecil yang berusia 4 tahun.


"Ini Mama bawakan minuman dan makanan kesukaan kamu. Siapa tahu rasa kesalnya bisa hilang." Adelina datang bersama Salma dan Evita dengan membawa masing-masing nampan di tangannya.


Baik Darel maupun anggota keluarga lainnya melihat ke arah Adelina, Salma dan Evita.


Seketika terukir senyuman manis di bibir Darel ketika melihat minuman dan makanan kesukaannya di atas meja.


Adelina, Arvind dan yang lainnya merasakan kehangatan di hati mereka ketika melihat senyuman yang terukir di bibir Darel.


"Mama, ini untukku?" tanya Darel dengan ekspresi wajah bak anak kecil menatap minuman dan makanan kesukaannya itu.


"Iya, sayang." Adelina menjawab pertanyaan dari putra bungsunya itu sembari tersenyum hangat menatap wajah putranya.


"Terima kasih, Ma!"


"Sama-sama sayang."


Darel mengambil minuman kesukaannya itu dan langsung meneguk habis minuman tersebut tanpa sisa.


Mereka yang melihat Darel yang langsung menghabiskan minuman tersebut hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"Ma, ini enak sekali. Nanti buatkan lagi ya," ucap Darel dengan senyuman mengembang.


"Pasti sayang. Apapun akan Mama lakukan untukmu."


"Aku menyayangi Mama."


"Mama juga menyayangi kamu."


"Terus Papa bagaimana?" tanya Arvind.

__ADS_1


Darel langsung melihat ke arah ayahnya. Dan detik kemudian...


GREP!


Darel memeluk tubuh ayahnya. "Aku juga menyayangi Papa. Papa adalah kekuatanku dan semangat hidupku," ucap Darel.


Arvind tersenyum mendengar perkataan dari putra bungsunya, lalu Arvind memberikan kecupan di pucuk kepala putra bungsunya itu.


Ketika sedang berpelukan dengan ayahnya, tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi. Dan dengan terpaksa Darel melepaskan pelukannya.


Darel melihat ke arah layar ponselnya. Detik kemudian, ekspresi wajahnya berubah menyeramkan.


"Dia lagi," batin Darel ketika melihat nomor ponsel yang sama dengan nomor ponsel yang menghubunginya beberapa hari yang lalu.


Arvind, Adelina, para kakak-kakaknya dan anggota keluarga lainnya dapat melihat ekspres wajah Darel. Mereka semua dapat langsung mengerti dengan ekspresi wajah Darel yang saat ini.


"Pasti ada sesuatu yang terjadi," batin para kakak-kakaknya.


Darel mengambil ponselnya, lalu menjawab panggilan tersebut.


"Hallo." Darel menjawab dengan nada ketus.


"..."


"Apa pedulimu? Apa maumu sebenarnya?"


"..."


"Cih! Jika kau berani. Tunjukkan wajahmu. Jangan jadi pengecut."


"..."


"Brengsek!"


Setelah itu, Darel langsung mematikan teleponnya. Dirinya benar-benar marah mendengar setiap ucapan orang itu.


Darel terus memikirkan orang yang sudah dua kali menghubunginya. Setiap orang itu menghubunginya. Orang itu selalu memberikan ancaman padanya.


"Siapa dia? Kenapa dia berbicara seperti itu padaku?" batin Darel.


Seketika Darel memejamkan matanya karena merasakan pusing di kepalanya.


Melihat Darel yang memejamkan matanya membuat mereka semua menatap khawatir terhadap dirinya, terutama Adelina, Arvind dan ke 12 kakak-kakaknya.


PUK!


Arvind menepuk pelan bahu putra bungsunya. Darel yang mendapatkan tepukan di bahunya seketika membuka matanya dan langsung melihat ke arah ayahnya.


"Ada apa sayang? Katakan pada Papa. Jangan ada yang disembunyikan apapun dari Papa. Papa mohon."


Arvind berbicara dengan nada lirihnya sembari matanya menatap khawatir putra bungsunya. Arvind berharap putra bungsunya itu mau terbuka kepadanya.


Darel menatap wajah khawatir ayahnya, lalu tersenyum. Namun detik kemudian, Darel menjatuhkan kepalanya tepat di dada bidang ayahnya.


"Papa tidak perlu khawatir. Semuanya baik-baik saja," ucap Darel pelan.


"Tapi sayang..."


"Papa," lirih Darel.


"Baiklah. Tapi kamu harus berjanji kepada Papa. Jika kamu sudah tidak kuat lagi untuk menyimpannya sendiri. Papa mohon kamu mau berbagi dengan Papa dan Mama. Ceritakan semuanya kepada Papa, Mama dan kakak-kakak kamu."


"Hm! Aku janji," jawab Darel.


Setelah mengatakan itu, Darel memejamkan matanya. Dan beberapa detik kemudian, terdengar dengkuran halus dari mulut Darel. Darel tertidur di dalam dekapan ayahnya.


Mereka semua tersenyum melihat wajah damai sekaligus imut Darel ketika tertidur.


Davian berdiri dari duduknya dan menghampiri ayah dan adik bungsunya.


"Angkat Darel ke punggung kakak," pinta Davian.


Nevan dan Elvan mengangkat pelan tubuh adik bungsunya dan meletakkannya di atas punggung Davian.


Setelah dipastikan aman, Davian secara hati-hati berdiri dan membawa adiknya ke kamarnya di lantai dua. Serta diikuti oleh Nevan dan adik-adiknya yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2