
Bugh.. Duagh..
Bruukkk..
"Aakkhhh!" teriak beberapa orang di ruang kerja seseorang.
"Bodoh! Melakukan tugas itu saja kalian tidak becus. Mereka hanya bertiga, sementara kalian ada banyak. Seharusnya kalian bisa menghabisi mereka!"
"Maafkan kami Bos! Memang mereka bertiga, sementara kami banyak. Tapi ilmu bela diri mereka cukup tinggi. Mereka dengan mudahnya mengalahkan semua anggota kami," ucap laki-laki yang berstatus sebagai pimpinan.
"Sekarang lakukan rencana kedua. Cari tiga orang wanita, lalu perintahkan ketiga wanita itu untuk masuk ke dalam keluarga Wilson. Terserah kalian mau jadikan apa mereka di dalam keluarga Wilson." Pria itu memberikan perintah baru kepada tangan kanannya dan para anggotanya.
"Baik, Bos."
"Ya, sudah! Kalian boleh pergi."
Setelah itu, tangan kanannya dan para anggotanya pun pergi meninggalkan ruang kerjanya.
"Arvind Wilson, tunggu kejutan dariku. Aku akan bermain-main dengan tiga putra terakhirmu," ucap Pria itu.
***
Di kediaman utama keluarga Wilson terlihat semua anggota keluarga sedang menikmati sarapan paginya disertai celoteh-celoteh para kakak-kakaknya Darel, baik kakak-kakak kandungnya maupun kakak-kakak sepupunya.
Sementara kesayangan keluarga Wilson yaitu Darel Wilson tidak ikut dalam celoteh-celoteh tersebut. Dirinya saat ini tengah melamun. Ntah apa yang sedang dipikirkan olehnya.
Davian dan Nevan yang menyadari bahwa adik bungsunya sejak tadi melamun tanpa menyentuh makanannya.
"Darel," panggil Davian.
Sedangkan yang dipanggil tidak mendengar sama sekali. Pikirannya masih melayang jauh. Hanya tubuhnya berada didekat keluarganya.
Mendengar Davian yang memanggil Darel, semuanya melihat kearah Darel yang mana Darel tengah berada di tempat lain. Hanya tubuhnya saja bersama mereka.
"Sayang," panggil Adelina sembari menepuk pundak putranya dengan pelan.
Seketika Darel terkejut ketika mendapatkan tepukan di pundaknya. Darel kemudian melihat kearah dimana ibunya duduk. Dan dapat dirinya lihat bahwa ibunya tersenyum hangat padanya.
"Mama.
"Ada apa, hum? Kenapa tidak dimakan sarapannya? Tuh coba lihat. Sarapan kamu masih utuh. Kamu belum menyentuhnya sama sekali," ucap Adelina lembut.
Darel langsung menatap kearah makanannya yang ada di hadapannya. Dan benar, makanannya masih banyak dan belum dia sentuh sama sekali.
Darel menatap satu persatu wajah anggota keluarganya dan terakhir menatap wajah kedua orang tuanya.
Setelah itu, Darel berdiri dari duduknya sehingga membuat anggota keluarganya menatap dirinya khawatir. Adelina dan Arvind ikut berdiri. Dan disusul oleh yang lainnya.
"Sayang, kenapa? Itu makanannya belum habis. Dihabiskan dulu ya. Kamu beberapa hari ini tidak teratur makannya. Bahkan makan kamu juga sedikit," ucap Arvind yang berusaha membujuk putra bungsunya.
"Aku sudah kenyang, Pa! Kalau begitu aku pamit ke kampus."
Setelah itu, Darel pun langsung pergi meninggalkan anggota keluarganya di meja makan.
__ADS_1
Melihat kepergian Darel tanpa menyentuh makanannya membuat Arvind, Adelina, putra-putranya dan anggota keluarga lainnya menatap khawatir Darel.
Adelina melihat kearah putra bungsu kedua dan ketiganya yaitu Evan dan Raffa.
"Evan! Raffa!"
"Iya, Ma!"
"Darel, adik kesayangan kalian itu belum sarapan. Pastikan nanti di kampus adik kalian mengisi perutnya ya. Mama khawatir sama adik kalian itu. Seharian kemarin adik kalian tidak ada makan. Hanya susu pisang dan susu coklat yang masuk ke dalam perutnya. Dan pagi ini adik kalian juga tidak memakan sarapannya. Mama benar-benar mengkhawatirkan adik kalian itu."
Mendengar ucapan demi ucapan dari ibunya, ditambah lagi melihat gurat kekhawatiran di wajah ibunya membuat Evan dan Raffa menjadi tidak tega.
"Baik, Ma! Mama tidak perlu khawatir masalah Darel. Selama Darel di kampus aku akan mengawasi Darel," ucap Evan.
"Iya, Ma. Aku dan Evan akan mengawasi Darel. Dan aku janji sama Mama akan buat Darel mau makan," ucap Raffa.
"Bibi Adelina jangan khawatir. Ada aku, Melvin, Dylan dan Aldan yang juga ikut menjaga dan mengawasi Darel selama di kampus," ucap Rendra.
"Dan jangan lupakan para sahabat-sahabatnya Darel. Aku yakin mereka pasti akan membujuk Darrel makan," sahut Dylan.
Mendengar ucapan dari kedua putranya dan keponakan-keponakannya membuat Adelina tersenyum. Begitu juga dengan Arvind dan putra-putranya yang lain.
"Baiklah kalau begitu. kami berangkat ke kampus sekarang!" seru Evan.
Setelah itu mengatakan itu kepada anggota keluarganya. Evan, Raffa, Rendra, Melvin dan Dylan pun pergi meninggalkan ruang makan untuk menuju kampus.
***
"Anak kelinci itu mana sih? Kenapa jam segini belum nongol juga batang hidungnya?" ucap sarkas Lucas.
"Alah. Sok lo, Vin! Diantara kita, lo yang paling berbahaya kalau ngomongin anak kelinci itu," sembur Lucas.
"Ya, itu benar!" seru Razig, Zelig, Juan, Samuel, Charlie dan Devon bersamaan.
"Gavin ini musuh dalam selimut," ejek Samuel.
"Iya. Buktinya sekarang. Beberapa menit yang lalu dia baru saja ngatain Darel anak kelinci. Barusan dia belain Darel. Nanti sebentar lagi dia berubah menjadi penjilat di hadapan Darel!"
"Oh ya! Kok tumben Darel belum datang juga jam segini. Nggak biasanya!" seru Samuel.
"Kan itu yang aku tanyakan tadi sehingga aku diserang sama si kurus itu!" seru Lucas sembari menyindir Gavin dengan melirik sekilas kearah Gavin.
"Dasar anak setan lo!" umpat Gavin
"Hahahahahaha."
Seketika semuanya tertawa keras ketika mendengar ucapan indah dari Gavin untuk Lucas.
"Kalau begitu kita cari Darel. Siapa tahu ada di kantin atau di lapangan. Hanya dua tempat itu yang dikunjungi pertama kalinya jika Darel tiba di kampus," ucap Juan.
Mendengar ucapan dan usulan dari Juan membuat mereka semua menganggukkan kepalanya. Setelah itu, mereka semua pun memutuskan untuk pergi mencari Darel.
^^^
__ADS_1
Darel sudah berada di kampusnya. Kini Darel duduk di lapangan kampus sendirian. Saat ini pikiran Darel tertuju pada satu hal, tapi dia tidak tahu.
"Ada apa denganku? Dan kenapa perasaanku tidak enak begini? Perasaan ini sejak di rumah ketika sedang sarapan," ucap Darel.
"Tuhan, aku berharap padamu. Semoga tidak terjadi sesuatu. Baik kepadaku, keluargaku dan sahabat-sahabatku."
Ketika Darel sedang sendirian yang mana sibuk dengan pikirannya. Evan, Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan datang menghampirinya.
Baik Evan dan Raffa maupun Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan mendengar apa yang dikatakan oleh Darel. Mereka menangis ketika mendengar ucapan dari Darel.
Keinginan dan harapan mereka juga sama seperti Darel. Tidak ingin terjadi sesuatu terhadap dirinya, keluarganya dan orang-orang terdekatnya.
Evan dan Raffa sudah duduk masing-masing di samping kiri dan kanannya Darel. Kemudian keduanya mengusap lembut kepala belakangnya dan punggungnya.
Merasakan sentuhan di kepala dan punggungnya membuat Darel tersadar. Kemudian Darel mengalihkan pandangannya menatap Evan dan Raffa bergantian.
"Kakak Evan, Kakak Raffa!"
Evan dan Raffa seketika tersenyum ketika mendengar sapaan dari adik kesayangannya itu.
"Ada apa, hum?" tanya Evan lembut dan tangannya kembali mengusap kepalanya.
"Maksud kakak Evan, apa?" tanya Darel yang belum menyadarinya.
Evan dan Raffa tersenyum melihat wajah bingung adiknya. Begitu juga dengan Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan.
"Kamu itu sejak di rumah sampai disini di kampus. Kamu banyak melamun. Apa yang sedang kamu pikirkan?"ucap dia tanya Evan.
"Aku juga nggak tahu kak. Tapi perasaan aku nggak enak. Sepertinya akan terjadi sesuatu," jawab Darel.
Mendengar ucapan dari Darel membuat Evan dan Raffa menatap sedih adiknya. Begitu juga dengan Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan.
"Kita berdoa saja kepada Tuhan dan meminta padanya, semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk menimpa kita dan keluarga kita. Begitu juga dengan sahabat-sahabat kita," ucap Raffa yang berusaha menenangkan hati adiknya.
"Aku pun berharap begitu kak Raffa," sahut Darel.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Positif thinking aja. Sekarang lebih baik kita ke kantin. Kakak lapar banget. Tadi di rumah kakak nggak jadi sarapannya karena ngejar kamu," ucap Raffa.
"Jadi kakak Raffa sarapan?"
"Nggak."
"Terus kakak Evan, bagaimana?"
"Sama seperti Raffa. Kakak juga nggak jadi sarapannya karena melihat kamu pergi tanpa menghabiskan sarapannya," jawab Evan.
"Maaf."
"Kita maafkan tapi dengan satu syarat!"
"Apa?"
"Kita sarapan di kantin sekarang!"
__ADS_1
"Baiklah."
Mendapatkan jawaban yang memuaskan dari adik kesayangannya membuat Evan dan Raffa tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan. Mereka bahagia karena berhasil membujuk Darel untuk sarapan.