
"Pa, kenapa papa menjemput Alisha ke sekolah? Ada apa?" tanya Alisha.
"Dan Papa juga menghubungiku dan memintaku untuk datang kesini bersama Kevin?" tanya Rayyan.
Saat ini Andrean bersama dengan putrinya dan dua putranya Agatha di rumah. Lebih tepatnya di ruang tengah.
Baik Alisha maupun Rayyan dan Kevin menatap penuh penasaran Andrean. Mereka ingin mengetahui alasan Andrean memintanya untuk datang/menjemputnya.
Mendapatkan pertanyaan dari putri dan juga putranya membuat Andrean menatap putrinya dan kedua putranya secara bergantian.
"Papa juga tidak tahu. Dan Papa tidak tahu mau menjelaskannya seperti apa. Kita tunggu Darel datang dulu ya."
Baik Alisha, Rayyan dan Kevin saling memberikan tatapan bingung. Kemudian mereka kembali menatap sang ayah.
"Kakak Darel!'
"Darel!"
Alisha, Rayyan dan Kevin berucap bersamaan dengan memperlihatkan wajah super bingungnya.
"Iya, Darel!" jawab Andrean.
"Apa hubungannya dengan kakak Darel, Papa?" tanya Alisha.
"Ada, Sayang! Kakak Darel kamu yang meminta Papa untuk menjemput kamu di sekolah," jawab Andrean.
"Apa Darel juga yang meminta Papa untuk menyuruh kami datang kesini?" tanya Rayyan.
"Tidak. Itu keinginan Papa sendiri. Papa ingin mendiskusikan masalah ini bersama kalian karena kalian saudara tertua," jawab Andrean.
Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Andrean membuat Rayyan dan Kevin langsung paham. Mereka meyakini bahwa ada sesuatu yang terjadi sehingga ayahnya itu menyuruhnya datang.
***
Plaakkk..
Terdengar suara tamparan yang begitu keras di wajah seorang gadis. Dan pelaku yang memberikan tamparan kepada gadis tersebut adalah seorang pria paruh baya.
"Papi," lirih gadis itu sembari memegang pipinya yang bekas tamparan dari ayahnya.
"Kau anak tidak tahu diri, Mindy!" bentak pria itu.
Yah! Pria yang menampar gadis itu adalah Rehandi Fausta. Sementara gadis yang ditampar tersebut adalah Mindy Adelia Fausta atau sering dipanggil dengan Mindy Fausta.
"Sayang, kenapa kamu menampar Mindy? Apa kesalahan Mindy sehingga kamu semarah ini?" tanya Dinda Kirana Jacob atau berubah menjadi Dinda Kirana Fausta, ibu dari seorang Mindy Fausta.
Rehan menatap kearah istrinya yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan bingung.
"Apa kamu yakin ingin mengetahui apa kesalahan putrimu itu?" tanya Rehan kepada istrinya.
"Katakan. Kamu tidak perlu khawatir jika aku tidak mempercayaimu karena selama ini aku selalu mempercayai apa yang dilakukan oleh Mindy diluar rumah. Bahkan aku selalu membelanya."
Dinda mengusap lembut pipi suaminya. Dia paham jika suaminya berusaha untuk tidak menyakiti perasaannya dengan mengatakan hal buruk yang telah dilakukan putrinya. Tapi bagi Dinda, dia akan mempercayai semua perkataan, aduan dan laporan dari suaminya. Jika itu orang lain, Dinda tidak mempercayainya sama sekali.
"Katakan padaku kenapa kamu marah dan berakhir menampar Mindy?"
"Kelakuannya putri kita sudah melewati batasannya, Sayang!"
"Apa itu?"
"Dia bekerja sama dengan sebuah kelompok yang mana kelompok itu sangat berbahaya dan juga kejam kepada siapa pun."
__ADS_1
Deg..
Dinda terkejut ketika suaminya mengatakan bahwa putrinya bekerja sama dengan sebuah kelompok yang kejam. Begitu juga dengan Mindy. Dia terkejut bahwa ayahnya itu mengetahuinya.
"Apa yang diinginkan Mindy? Tidak mungkinkan Mindy tidak menginginkan seseorang kepada ketua kelompok itu?" tanya Dinda pada suaminya.
"Dia." Rehan berucap sembari menunjuk kearah putrinya. Dinda langsung melihat kearah tunjuk suaminya yang mengarah kepada putrinya. "Dia meminta ketua dari kelompok itu untuk menculik adik kelasnya yang bernama Alisha Alexander."
"Apa?!"
Seketika Dinda terkejut dan syok bahkan Dinda menutup mulutnya dengan kedua tangannya ketika mendengar ucapan serta cerita dari suaminya.
Dinda melihat kearah Mindy yang saat ini ketakutan dengan menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya disertai dengan air matanya yang mengalir membasahi pipinya.
"Kamu tahu sayang. Masalah semakin runyam. Ada orang yang tidak menyukaiku. Orang itu membawa nama keluarga Fausta untuk melakukan kejahatannya."
"Apa yang orang itu lakukan dengan membawa nama keluarga Fausta, Sayang?" tanya Dinda.
"Orang itu mengusik keluarga Alexander dengan cara orang itu membayar sebuah kelompok untuk menculik Andrean Alexander dan putrinya Alisha Alexander. Namun usaha mereka gagal karena dua putra dari Tuan Arvind Wilson datang menolong. Dan kemungkinan besar orang itu juga akan melibatkan kedua putra dari Tuan Arvind itu."
"Oh, Tuhan!" Dinda benar-benar terkejut akan cerita dari suaminya.
"Aku bersama dengan tiga tangan kananku beberapa hari ini tengah mencari orang itu. Aku tidak ingin Tuan Andrean dan Tuan Arvind salah paham padaku."
"Apa kamu dan ketiga tangan kanan kamu itu sudah mendapatkan identitas orang itu?"
"Belum, Sayang! Aku benar-benar takut sekarang ini. Nama baikku sudah jelek dimata keluarga Alexander dan keluarga Wilson. Dan sekarang Mindy justru menambah masalah baru dengan membayar kelompok kejam itu untuk menculik putri dari Tuan Andrean."
Rehan seketika menangis ketika menceritakan masalahnya kepada istrinya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu terhadap keluarganya. Dia tahu seperti apa watak dari keluarga Wilson jika berurusan dengan para musuhnya. Dia dan keluarga besarnya termasuk keluarga besar istrinya tidak ingin bernasib sama seperti musuh-musuh keluarga Wilson sebelumnya.
Ketika Rehan dan Dinda sedang bersedih akan permasalahan yang dihadapinya, tiba-tiba ponsel milik Rehan berbunyi menandakan panggilan masuk.
Ketika ponselnya sudah di tangannya, Rehan melihat nama kakak laki-laki tertuanya tertera di layar lebar.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Rehan pun segera menjawab panggilan dari kakaknya itu.
"Hallo, kak Rifan. Ada apa?"
Nama kakak tertua dari Rehan adalah Rifandi Fausta. Sering dipanggil dengan sebutan Rifan.
"Kamu datang sekarang ke kediaman utama Fausta. Ajak istrimu dan juga putrimu yang tidak tahu diri itu!"
Deg..
Rehan seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari kakaknya, apalagi ketika menyebut nama putrinya.
"Apa kak Rifan sudah tahu apa yang terjadi padaku dan apa yang telah dilakukan Mindy?" batin Rehan.
"Jangan lupa kau hubungi putramu yang saat ini ada di Amerika dan di Singapura. Suruh mereka kembali. Katakan ada masalah dengan keluarga Fausta."
"Baik, kak!"
Setelah mengatakan itu, Rifan langsung mematikan panggilannya. Sedangkan Rehan langsung menghubungi kedua putranya yang ada di Amerika dan Singapura. Rehan melakukan Video Call dengan kedua putranya itu.
Sementara Dinda hanya diam sembari memperhatikan dan mendengar ucapan suaminya. Begitu juga dengan Mindy.
"Hallo, Papi!" sapa kedua putranya secara bersamaan.
"Bagaimana kabar kalian?"
"Baik, Pi!"
__ADS_1
Rehan tersenyum. Begitu juga dengan Dinda. Dinda melambaikan tangannya ke layar ponsel suaminya.
"Kalian sedang apa, Sayang?" tanya Dinda.
"Kan sedang berbicara dengan Papi dan Mami," jawab Recky Fausta putra keduanya.
Dinda seketika tertawa keras ketika mendengar jawaban putra keduanya itu.
"Kamu ini tidak pernah berubah. Selalu seperti itu setiap menjawab pertanyaan dari Mami."
"Mami juga tidak pernah berubah setiap mendengar jawaban dariku. Mami selalu tertawa lepas tanpa beban. Itu yang aku sukai dari Mami."
Dinda tersenyum mendengar ucapan dari putra keduanya itu. Dia bersyukur putra keduanya selalu bisa membuat dirinya tersenyum bahkan tertawa.
"Aku sayang Mami," ucap Recky.
"Mami juga sayang kamu. Dan Mami juga sayang abang Rizky. Kalian malaikat kesayangannya Mami."
Rizky dan Recky tersenyum mendengar jawaban dari ibunya. Mereka ingin ibu dan ayahnya itu selalu dalam keadaan baik-baik saja.
"Oh, iya! Ada hal apa Papi menghubungi aku dan Recky? Apa ada masalah?"
Mendengar pertanyaan dari putra sulungnya membuat Rehan terdiam sejenak. Dia tidak tahu harus memulai dari mana.
Melihat keterdiaman Rehan membuat Dinda langsung mengusap lembut lengannya.
"Katakan saja, Sayang! Anak-anak harus tahu."
Mendengar ucapan dari ibunya membuat Rizky dan Recky terkejut. Mereka berpikir pasti terjadi sesuatu.
"Papi, Mami! Ada apa? Katakan padaku dan kak Rizky."
"Ada masalah dengan keluarga Fausta. Tapi Papi tidak bisa menjelaskannya di telepon. Apa kalian bisa pulang ke Jerman? Paman kalian Paman Rifan menyuruh kalian kembali."
"Apa masalah terlalu besar sehingga Paman Rifan meminta kita pulang?" tanya Recky.
"Iya, Sayang! Masalah yang kita hadapi sekarang sangat besar. Di tambah lagi adik perempuan kalian....."
Rehan seketika menghentikan ucapannya setelah dia menyebutkan kata adik perempuan kalian di hadapan kedua putranya.
Sementara Rizky dan Recky menatap wajah ayahnya yang seketika berubah sedih. Bahkan terlihat kecewa dari tatapan matanya.
"Apa yang sudah dilakukan oleh anak tidak tahu diri itu. Apa dia melakukan pekerjaan yang sama seperti yang pernah dilakukan oleh ibu....."
"Rizky!" Dinda seketika berucap bersamaan dengan dia menggelengkan kepalanya.
"Cih!" seketika Rizky berdecak ketika ibunya melarang dirinya untuk mengatakan sesuatu.
"Apa dia ada bersama kalian saat ini?" tanya Recky.
"Iya. Dia berdiri disana sembari melihat kesini. Maka dari itu Mami melarang kamu untuk mengatakan itu."
"Mau sampai kapan, Mi? Sudah cukup dia menyakiti Mami dengan sikap buruknya selama ini. Sudah cukup Mami berjuang menjadi ibu yang baik untuk dia." Rizky berucap dengan nada lembutnya kepada Ibunya.
"Mami akan berusaha untuk merubahnya menjadi gadis yang baik."
"Jika tidak berhasil, bagaimana? Jika dia makin parah kelakuannya, bagaimana?" tanya Recky.
"Jika hal itu terjadi, maka Mami serahkan pada kalian berdua."
"Deal!" jawab Rizky dan Recky bersamaan.
__ADS_1