Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Kebahagiaan Neylan


__ADS_3

"Maaf kalau kedatangan kami mengganggu tuan Arvind sekeluarga," ucap Kenzi.


Arvind tersenyum mendengar ucapan lembut dan sikap sopan Kenzi. Begitu juga dengan anggota keluarga Wilson yang lainnya.


"Tidak apa-apa. Santai saja. Anggap rumah sendiri," ucap Arvind sembari tersenyum.


"Maaf Kenzi," sela Davian.


"Ya, tuan!"


"Siapa gadis yang di samping kamu itu?" tanya Davian yang melihat gadis yang duduk di samping Kenzi.


Kenzi melihat sekilas kearah Neylan, lalu kembali menatap Davian dan anggota keluarga Wilson lainnya.


"Ini nona Neylan, tuan! Nona Neylan ini temannya Bos Darel."


Deg..


Mereka seketika terkejut ketika mendengar jawaban dari Kenzi yang mengatakan bahwa gadis yang di sampingnya itu bernama Neylan, gadis yang diceritakan oleh Darel sekaligus gadis pemilik kucing yang pernah masuk ke kamar Darel.


"Oh, jadi kamu gadis pemilik kucing itu ya?" tanya Nevan.


"I-iya, kak. Aku... Aku pemilik kucing itu. Ma-maafkan aku waktu itu berteriak-teriak sambil menyebut Darel yang sudah ambil kucing aku," ucap Neylan gugup.


Mendengar perkataan dari Neylan. Ditambah lagi ketika mendengar nada gugupnya membuat mereka semua paham dan mengerti bahwa Neylan saat ini ketakutan, merasa tak enak dan juga merasa bersalah.


"Tidak apa-apa sayang. Kamu tidak perlu takut, oke! Kita nggak marah masalah itu. Lagian kan kejadiannya sudah lama juga kan," ucap Adelina.


Mendengar perkataan lembut dari wanita yang ada di hadapannya yang tak lain adalah ibu dari pemuda yang dulu pernah dia teriaki sebagai maling kucingnya dan pemuda yang sudah membantunya merasakan kebahagiaan di hatinya.


Menurut Neylan, cara ibunya Darel berbicara sama seperti cara bicara ibunya. Begitu lembut dan penuh sayang. Seketika Neylan merinding ibunya yang telah pergi meninggalkan dirinya.


"Tuan, Nyonya. Maksud kedatangan saya dengan nona Neylan kesini itu karena permintaan Bos Darel. Nona Neylan sudah tidak aman lagi tinggal di rumahnya. Perempuan itu sudah melewati batasannya."


"Apa yang dilakukan oleh perempuan itu terhadap Neylan?" tanya Davian.


"Perempuan itu sudah berani main tangan terhadap nona Neylan, tuan!"


Deg..


Davian dan anggota keluarga Wilson terkejut ketika mendengar jawaban dari Kenzi.


Adelina berdiri dari duduknya lalu berpindah duduk di samping Neylan. Dan tanpa pikir panjang lagi, Adelina menarik tubuh Neylan dan membawanya ke dalam pelukannya.


Mendapatkan pelukan tiba-tiba dari ibunya Darel. Seketika isak tangis Neylan pecah.


"Hiks... Bibi. Izinkan Neylan tinggal disini untuk sementara waktu. Neylan... Hiks... Pulang lagi ke rumah jika Papi sudah kembali lalu Neylan akan ceritakan semuanya sama Papi tentang perlakuan buruk istrinya itu."


Mendengar isak tangis serta ucapan yang menurut mereka begitu menyayat hati. Mereka seketika menangis.


"Kalau bibi izinkan aku tinggal disini. Aku akan bayar dengan aku bekerja disini," ucap Neylan terisak.


Adelina makin mengeratkan pelukannya. Hatinya benar-benar sesak ketika mendengar ucapan serta permohonan dari Neylan.


"Kamu boleh tinggal disini. Kamu mau tinggal selamanya atau hanya sementara. Bibi dan keluarga lainnya tak masalah."


Mendengar perkataan dari ibunya Darel. Neylan langsung melepaskan pelukannya. Lalu tatapan matanya menatap wajah cantik ibunya Darel.


"Be-benarkah Bi?"


"Iya. Kamu adalah tamu putra bungsunya Bibi. Putra bungsu bibi yang meminta Kenzi untuk membawa kamu kemari. Jadi, bibi dan semua anggota keluarga Wilson menerima kamu disini sayang."


"Bahkan Darel berniat mau membelikan rumah untuk kamu. Rumah itu untuk kamu tinggali sampai Papi kamu pulang dan mengetahui semuanya. Kemudian Papi kamu itu datang menjemput kamu," ucap Davian menatap wajah cantik Neylan.


"Ja-jadi Darel..."


"Iya. Darel memang benar-benar ingin membantu kamu terlepas dari ibu tiri kamu itu," sahut Davian.


Neylan kembali meneteskan air matanya ketika mendengar ucapan dari salah satu anggota keluarga Darel. Dirinya tidak menyangka jika Darel membantunya sejauh ini.


"Paman, Bibi! Sekarang Darel nya mana? Kenapa aku tidak melihatnya?"


Mereka semua tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Neylan. Apalagi ketika melihat wajah penasaran Neylan.

__ADS_1


"Darel di rumah sakit," jawab Nevan.


Seketika mata Neylan membelalak sempurna ketika mendengar salah satu anggota keluarga Wilson yang mengatakan bahwa Darel berada di rumah sakit.


"Maaf tuan Nevan. Memangnya kenapa dengan Bos? Kenapa Bos bisa masuk rumah sakit?" tanya Kenzi khawatir.


"Menurut cerita dari kedua putraku Evan dan Raffa serta cerita dari sahabat-sahabatnya putra bungsuku kalau ada seorang wanita yang tak lain adalah ibu dari salah satu teman kampusnya datang menemui putra bungsuku. Wanita itu marah karena putra bungsuku sudah menyakiti putranya sehingga putranya itu masuk rumah sakit."


"Terus apa yang dilakukan oleh wanita itu tuan?"


"Wanita itu memukul kepala putraku dari belakang ketika putraku dan yang lainnya sedang bertarung melawan para anak buahnya."


"Jadi maksud tuan bahwa wanita itu datang dengan membawa beberapa anak buahnya, begitu?"


"Ya, Kenzi! Seperti itulah yang diceritakan oleh Evan, Raffa dan sahabatnya Darel."


"Bagaimana keadaan Bos sekarang tuan?"


"Darel sudah baik-baik saja. Dokter yang menangani Darel mengatakan tidak ada luka serius. Hanya luka lecet saja."


Mendengar jawaban dari ayah sang Bos nya membuat Kenzi tersenyum lega.


"Ach, syukurlah tuan. Saya senang mendengarnya."


"Paman, Bibi!"


"Iya, sayang!" Arvind dan Adelina menjawab bersamaan.


"Boleh aku ke rumah sakit menjenguk Darel?" tanya Neylan.


Mendengar pertanyaan dan permintaan dari Neylan membuat Arvind, Adelina dan anggota keluarga Wilson lainnya langsung menganggukkan kepalanya.


Melihat anggukan kepala dari semua anggota keluarga Darel seketika terukir senyuman manis di bibir Neylan sehingga membuat semua anggota keluarga Wilson memuji senyuman Neylan tersebut.


"Senyuman yang manis," batin mereka semua.


"Tapi...."


"Tapi kenapa sayang?" tanya Adelina.


"Nona pasti memikirkan soal pakaian kan?" tanya Kenzi.


"Iya, tuan! Neylan nggak bawa baju," jawab Neylan.


"Nona tidak perlu khawatir. Saya sudah meminta salah satu anggota saya untuk mencari beberapa pakaian untuk nona," sahut Kenzi.


"Be-benarkah tuan?"


"Iya, nona! Tunggu sebentar. Saya akan menghubungi anggota saya untuk membawa masuk pakaian yang sudah dibeli untuk nona."


Setelah mengatakan itu, Kenzi menghubungi salah satu anggotanya dan meminta anggotanya itu untuk membawa masuk pakaian yang sudah dibeli untuk Neylan.


Tak butuh waktu lama, anggota Kenzi masuk dengan membawa tiga paper bag di tangannya.


"Bos, ini!"


"Terima kasih," ucap Kenzi lalu mengambil tiga paper bag itu.


Setelah itu, anggotanya itu pergi meninggalkan Kenzi untuk kembali keluar dan berjaga diluar.


"Ini nona." Kenzi memberikan tiga paper bag itu kepada Neylan.


"Terima kasih tuan," ucap Neylan.


Kenzi menatap satu persatu wajah anggota keluarga Wilson sembari berpamitan.


"Tugas saya sudah selesai dengan mengantar nona Neylan ke kediaman keluarga Wilson sesuai yang diperintahkan oleh Bos Darel. Sekarang saya dan anggota saya akan kembali ke kediaman keluarga Lunara. Lebih tepatnya mengawasi gerak-gerik wanita itu. Saya dan anggota saya menyewa sebuah rumah yang tak jauh dari kediaman Lunara."


"Baiklah. Hati-hati dijalan," ucap Arvind.


"Baik, tuan!"


Setelah itu, Kenzi pun pergi meninggalkan kediaman Wilson untuk kembali dengan tugasnya yaitu mengawasi pergerakan dari ibu tiri Neylan.

__ADS_1


"Ayo ikut Bibi. Bibi akan antar kamu ke kamar," ajak Adelina dengan menggandeng tangan Neylan.


Di dalam hatinya Adelina, dia langsung menyukai sifat Neylan. Ntah mengapa Adelina ingin menjadikan Neylan pasangan putra bungsunya dan menantu perempuannya. Begitu juga dengan Arvind dan semua putra-putranya.


***


Di rumah sakit dimana Evan, Raffa, Dhafin, Rendra, Tristan, Dylan, Satya, Melvin Dzaky dan Aldan masih setia menemani Darel. Beberapa menit yang lalu Darel selesai diperiksa oleh Fayyadh.


Dan saat ini Darel sedang tertidur setelah makan siang dan meminum obatnya.


"Senang ketika dengan Paman Fayyadh mengatakan bahwa kondisi Darel sudah baik-baik saja," ucap Dzaky.


"Apalagi aku. Aku yang paling bahagia mendengar kondisi Darel baik-baik saja," sela Satya.


"Lo salah Satya," sahut Evan seketika.


Mendengar perkataan dari Evan. Satya langsung melihat kearah Evan. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Salah kenapa?" tanya Satya bingung.


"Kan lo bilang barusan yang paling bahagia lihat Darel baik-baik saja adalah lo," ucap Evan.


"Iya. Kenapa?" tanya Satya lagi.


"Nah, itu letak kesalahan lo! Yang paling bahagia disini akan kondisi Darel yang baik-baik saja adalah gue dan Raffa. Kita berdua berstatus kakak kandung Darel. Jadi kita berdua yang paling bahagia," sahut Evan.


Mendengar perkataan sekaligus penjelasan dari Evan membuat Satya seketika mendengus kesal.


"Iya, deh! Lo dan saudara lo yang paling bahagia akan kondisi Darel," ucap Satya lalu kakinya melangkah menuju sofa.


Sementara Evan tersenyum ketika berhasil membuat seorang Satya kesal.


Ketika mereka sedang tersenyum melihat wajah kesal Satya, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka.


Cklek..


Semua yang ada di dalam ruang rawat Darel langsung melihat keasal suara. Dan mereka melihat semua anggota keluarganya melangkah masuk ke dalam ruang rawat Darel dan diikuti oleh satu gadis cantik di belakang punggung Adelina.


"Siapa gadis itu?" tanya Evan, Raffa, Dhafin, Rendra, Tristan, Dylan, Satya, Melvin Dzaky dan Aldan di dalam hatinya masing-masing dengan tatapan matanya menatap gadis cantik itu.


"Bagaimana Darel?" tanya Arvind yang saat ini sudah berdiri di samping ranjang putra bungsunya.


"Sudah jauh lebih baik Pa. Paman Fayyadh mengatakan bahwa kondisi Darel sudah baik-baik saja. Kemungkinan besok Darel sudah boleh pulang," jawa Raffa.


Mendengar jawaban dari Raffa membuat Arvind tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Adelina dan anggota keluarganya yang lain.


"Mama," panggil Evan.


"Iya, sayang!"


"Gadis itu siapa?" tanya Evan.


Adelina melihat kearah Neylan lalu kembali menatap wajah Evan putra bungsu ketiganya.


"Gadis ini adalah yang pemilik kucing itu," jawab Adelina.


Mendengar jawaban dari ibunya seketika membuat Evan dan Raffa membelalakkan matanya.


"Jadi dia gadis yang bernama Neylan itu?" tanya Evan.


"Iya," jawab Adelina.


"Dan dia gadis yang ditolong oleh Darel?" tanya Raffa.


"Iya," jawab Adelina lagi.


Evan dan Raffa menatap lekat wajah Neylan. Seketika terukir senyuman manis di keduanya.


"Cantik," ucap Evan.


"Cocok jadi kekasih Darel," sela Raffa.


Mendengar perkataan dari Evan dan Raffa membuat Neylan seketika menundukkan kepalanya karena malu.

__ADS_1


Sementara Arvind, Adelina, putra-putranya yang lain serta anggota keluarga Wilson tersenyum ketika melihat Neylan yang malu akibat ulah Evan dan Raffa.


__ADS_2