
Mereka semua terdiam saat mendengar cerita dari Sandy. Mereka berpikir, masalah apa yang telah disembunyikan oleh Kakek mereka selama ini. Mereka belum mengetahui masalah dan rahasia yang disembunyikan oleh Kakek mereka, tapi sang Kakek telah pergi untuk selamanya.
Tapi tidak untuk Darel dan Evan. Mereka berdua telah mengetahui masalah apa dan rahasia apa yang disembunyikan oleh Kakek mereka. Darel mengetahuinya langsung dari sang Kakek. Sedangkan Evan mengetahuinya saat tidak sengaja menguping pembicaraan Agatha di telepon.
"Jadi, sudah jelas semuanya kan? Tolong tetap rahasiakan identitas kalian sebagai pemilik Perusahaan tersebut. Kalian fokus saja di dalam Perusahaan. Untuk diluar Perusahaan, orang-orangnya Kakek yang akan melakukan tugas-tugas itu seperti biasa," ucap Darel.
"Baiklah. Kami mengerti," jawab para kakaknya kompak.
***
Keesokkan harinya, Farraz dan keempat adik-adik sedang berada di ruang tengah Apartemen mewah milik mereka. Saat ini mereka tengah sarapan pagi bersama.
"Kak Farraz," panggil Dylan.
"Ada apa, hum?" jawab Farraz lembut.
"Kita jadikan ke rumah sakit untuk menjenguk Paman itu?" tanya Dylan semangat.
"Kenapa? Apa Dylan sudah tidak sabaran lagi untuk bertemu dengan Paman itu?" tanya Tristan.
"Iya, Kak. Aku memang sudah tidak sabaran lagi untuk melihat Paman itu. Semenjak kita menolong Paman itu, aku baru satu kali menjenguknya di rumah sakit," jawab Dylan.
Keempatnya tersenyum gemas mendengar penuturan dari Dylan.
"Baiklah. Sekarang cepat habiskan sarapanmu. Setelah ini kita akan ke rumah sakit untuk menjenguk Paman itu," ujar Farraz.
"Yeeeaayyyy!" teriak Dylan sambil mengangkat kedua tangannya keatas.
Farraz, Deon, Keenan dan Tristan tersenyum bahagia melihat adik bungsu mereka yang ceria dan semangat.
***
Saat ini Farraz dan keempat adiknya sudah berada diruang rawat seorang pria yang telah mereka tolong. Mereka menatap wajah tampan pria itu.
"Hei, Paman. Aku datang lagi. Kali ini aku datang bersama keempat adik-adikku," ucap Farraz sembari menggenggam tangan pria itu.
"Hai, Paman. Ini aku, Dylan. Kapan Paman akan bangun?"
Tiba-tiba saja Farraz merasakan tangannya di genggam. Terukir senyuman manis di bibir Farraz.
"Paman," panggil Farraz.
Berlahan pria itu membuka kedua matanya yang selama satu minggu terpejam.
Farraz dan keempat adik-adik begitu sangat bahagia karena penantian mereka membuahkan hasil.
"Paman!" seru mereka semua.
"Sa-saya di-mana?"
"Paman ada di rumah sakit. Paman tidak sadarkan diri selama satu minggu," kata Farraz.
Keenan langsung menekan tombol merah yang ada di ruangan tersebut.
FLASBACK ON
"Papa. Sepertinya ada yang mengikuti kita di belakang."
Antony melihat kearah belakang dan Arvind melihat dari kaca spionnya. Dan benar saja. Ada dua mobil yang mengikuti mereka di belakang.
"Arvind."
"Papa tidak usah khawatir. Semuanya akan baik-baik saja."
Arvind duduk di depan alias mengemudi. Sedangkan Antony dan Darel duduk di belakang.
"Papa, Darel. Berpegangan." Arvind menambahkan kecepatan laju mobilnya agar bisa menghindari kejaran dua mobil di belakang.
DOR!
DOR!
__ADS_1
Orang-orang yang ada di mobil belakang memberikan dua tembakan. Dan tembakan itu mengenai dua ban mobil yang dikendarai oleh Arvind, Antony dan Darel sehingga mobil tersebut oleng.
"Papa. Darel! Sekarang kalian melompatlah keluar."
"Tidak. Aku tidak mau. Kalau aku melompat keluar, lalu Papa bagaimana?" Darel sudah menangis
"Iya, sayang. Apa yang dikatakan Darel benar. Kalau kami melompat keluar, lalu bagaimana denganmu?"
"Aku akan baik-baik saja, Pa!" jawab Arvind. "Darel, sayang. Dengarkan Papa. Melompatlah keluar, Nak! Kamu dan Kakek harus tetap hidup. Apa kamu akan membiarkan mereka menyakiti keluarga kita? Apa kamu akan membiarkan mereka menang? Buktinya sekarang ini mereka sudah berani menyakiti kita dengan membayar orang untuk membunuh kita bertiga." Arvind berusaha meyakinkan putra bungsunya.
"Baiklah... hiks... aku akan melompat keluar. Tapi... tapi Papa harus janji padaku. Papa tidak boleh pergi meninggalkanku. Papa harus selamat dan kembali padaku."
"Papa janji! Sekarang kalian berdua melompatlah."
Dan akhirnya dengan keberanian yang dimiliki oleh Antony dan Darel, mereka pun melompat keluar dari dalam mobil.
Arvind terus membawa mobil dan berakhir.
BRAAKK!
Mobil yang di kendarainya menabrak pembatas jalan.
FLASBACK OFF
"Terima kasih kalian sudah menyelamatkan saya."
"Sama-sama, Paman." Farraz menjawabnya "Oh, iya. Kenalkan saya Farraz. Dan ini adik-adik saya." Farraz memperkenalkan dirinya dan keempat adiknya.
"Aku Keenan."
"Aku Tristan."
"Aku Deon, Paman."
"Dan aku Dylan. Aku adik kesayangan keempat kakak-kakakku yang tampan ini," ucap Dylan sembari menunjuk keempat kakaknya.
"Kalau Paman, namanya siapa?" tanya Dylan.
"Panggil saja Arvind. Paman Arvind."
"Apa Paman punya keluarga?" tanya Tristan.
"Iya. Paman punya keluarga. Punya istri yang cantik dan putra-putra yang tampan. Sama seperti kalian."
"Kalau kami boleh tahu, Paman memiliki berapa orang putra?" tanya Keenan.
Arvind tersenyum hangat mendengar pertanyaan-pertanyaan dari adik-adiknya Farraz. Sedangkan Farraz hanya membiarkan saja adik-adik berinteraksi dengan Arvind.
"Banyak," jawab Arvind.
"Banyak." ulang Deon, Keenan, Tristan dan Dylan.
"Banyak itu ada berapa, Paman?" tanya Dylan.
"13."
"Hah! 13!"
Mereka semua terkejut saat mendengar jawaban dari Arvind, begitu juga dengan Farraz.
"Apa semuanya itu manusia, Paman?" tanya Deon.
TAK!
"Awww." Deon meringis saat mendapatkan jitakkan dari Farraz.
"Yak! Kak Farraz. Kenapa menjitakku?" Deon mempoutkan bibirnya.
"Pertanyaanmu barusan tidak bermutu sama sekali, Deon! Itu sama saja kau menghina putra-putranya Paman Arvind."
"Maksud aku itu, bisa jadikan sebagiannya anak ayam... hehehehe." Deon berucap sembari terkekeh.
__ADS_1
Arvind hanya tersenyum melihat Farraz dan adik-adiknya. Arvind sama sekali tak marah akan ucapan dari Deon.
"Maafkan adikku, Paman." Farraz meminta maaf kepada Arvind.
"Tak apa. Paman tidak marah. Justru Paman bahagia. Kalian itu tidak jauh beda dengan putra-putra Paman. Sifat kalian itu sama persis dengan mereka. Apalagi Dylan. Dylan mengingatkan Paman dengan putra bungsu Paman."
"Jadi benaran Paman memiliki 13 orang putra?" tanya Tristan.
"Iya. Kenapa? Kalian tidak percaya, hum?"
CKLEK!
Pintu di buka. Dan dapat dilihat oleh mereka seorang dokter dan perawat masuk. Lalu dokter tersebut memeriksa Arvind.
"Apa yang anda rasakan?" tanya Dokter itu.
"Yang saya rasakan saat ini hanya kaki saya Dokter. Kaki sebelah kiri sedikit nyilu dan susah untuk digerakkan," jawab Arvind.
"Anda tidak perlu khawatir. Anda hanya butuh istirahat untuk satu minggu. Setelah satu minggu, anda akan bisa berjalan dengan baik."
"Baiklah, Dok."
"Kalau begitu saya pamit dulu." dan Dokter tersebut pun pergi meninggalkan ruang rawat Arvind.
"Paman, bagaimana untuk sementara ini. Paman tinggal bersama kami? Kami akan merawat Paman," ucap Dylan.
"Lalu bagaimana dengan orang tua kalian?" tanya Arvind.
Saat mendengar ucapan dari Arvind, Farraz dan keempat adik-adik mematung. Dan wajah mereka berubah sedih. Hal itu sukses membuat Arvind merasa bersalah.
"Ada apa? Apa perkataan Paman ada yang salah?"
"Tidak, Paman. Perkataan Paman tidak salah," jawab Farraz.
"Lalu apa? Katakan pada Paman. Jangan membuat Paman menjadi makin bersalah."
"Kami... Hiks... Kami tidak memiliki orang tua lagi, Paman! Orang tua kami sudah meninggal sejak kami masih sangat kecil," jawab Dylan.
GREP!
Dylan langsung memeluk Farraz dan menangis disana. "Hiks... Hiks... Kak Farraz... Hiks."
Arvind yang mendengar penuturan dari Dylan menjadi tidak enak hati. Dirinya makin merasa bersalah.
"Kenapa hatiku begitu sesak saat mendengar penuturan dari Dylan? Saat Dylan berbicara dan saat wajahnya berubah jadi sedih, raut wajahnya mirip seseorang. Siapa?"
Arvind berusaha berpikir keras, lalu detik kemudian muncul wajah adiknya William di pikirannya.
"William," gumam Arvind.
"Apa... Apa mereka putra-putra William yang asli?" batin Arvind.
Arvind menatap lekat keempatnya, sedangkan Dylan masih setia memeluk Farraz.
"Anak-anak," panggil Arvind.
Farraz dan adik-adiknya melihat kearah Arvind "Iya, Paman."
Arvind tersenyum. "Nanti setelah Paman sembuh dan bisa berjalan dengan baik. Maukah kalian ikut dengan Paman?"
"Kemana, Paman?" tanya mereka bersamaan.
"Pulang ke rumah Paman. Dan tinggal bersama Paman beserta anggota keluarga Paman yang lainnya."
Mereka saling melirik satu sama lainnya. Lalu kembali melihat kearah Arvind.
"Apa boleh, Paman?" tanya Dylan.
"Apa keluarga Paman akan menerima kami?" tanya Keenan.
"Tentu. Mereka akan menerima kalian dengan baik. Apalagi putra bungsu Paman. Putra bungsu Paman itu anaknya ceria sama seperti Dylan. Mudah berbaur. Jadi, bagaimana?"
__ADS_1
"Baiklah. Kami mau ikut dengan Paman," jawab mereka kompak.
Arvind tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Farraz dan adik-adiknya.