Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Keterkejutan Pingkan


__ADS_3

Kayana terkejut saat mendengar ucapan dari Agatha.


"Apa? A-gatha dan suaminya merencanakan akan menukarkan kelima putranya dengan kelima putra-putraku," ucap Kayana sembari menutup mulutnya


"Iya, sayang. Hanya itu satu-satunya cara untuk kita bisa masuk ke dalam keluarga itu."


"Lalu apa rencana selanjutnya jika kita berhasil menukarkan putra-putra kita dengan putra-putranya William?"


"Pendekatan. Mulailah sekarang kau harus bisa mendekatkan diri lebih dekat lagi pada William."


"Jadi maksudmu, aku harus menggoda Bos ku sendiri dengan cara mencari perhatiannya. Dan membuatnya mencintaiku?"


"Kau tidak perlu menggodanya juga, sayang. Cukup kau memberikan perhatian lebih padanya. Seperti perhatian seorang istri pada suaminya. Jadi dengan begitu kau akan dianggap wanita yang anggun dan juga baik."


"Maksudnya aku harus bersikap baik di depan laki-laki sialan itu. Jadi seolah-olah akulah wanita yang sempurna, baik, tulus dan apa adanya. Begitu?"


"Yap. Tepat sekali!"


"Lalu bagaimana dengan istrinya?"


"Masalah istrinya, kita akan menyingkirkannya segera. Dengan begitu kau akan lebih mudah mendapatkan Bosmu itu."


"Baiklah."


"Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak akan membiarkan wanita gila itu menukar putra-putraku. Dan aku juga tidak akan membiarkan wanita itu mendekati suamiku. Aku harus segera pulang dan aku akan menceritakan semua ini pada Papa, kak Sandy, dan kak Arvind. Setelah itu aku akan meminta mereka yang memberitahukannya kepada William. Semoga dengan video ini bisa membuktikan semuanya."


Namun saat Kayana ingin membalikkan badannya karena panik, tiba-tiba keningnya ke jedot sudut dinding pintu dan mengakibatkan luka dan juga berdarah. Bahkan Kayana tanpa sadar mengeluarkan suara.


"Aakkhhh!"


Hal itu sukses membuat Agatha yang ada di dalam sempat melihat kearahnya.


"Sialan. Istrinya ada disini. Apa dia mendengar semuanya?" batin Agatha.


"Ada apa sayang?"


"Gawat sayang. Istrinya ada disini. Dan aku rasa dia mendengar semuanya."


"Apa??"


"Sekarang kejar perempuan itu. Jangan sampai rencana kita gagal."


"Baik, sayang."


PIP


Agatha mematikan teleponnya.


"Hei, kau!" teriak Agatha.


Kayana yang mendengar teriakan dari Agatha pun sadar.


"Astaga. Aku ketahuan," gumam Kayana.


Kayana pun berlari sekuat tenaganya. Dirinya sebisa mungkin menghindari Agatha.


***


Kini Kayana sudah berada didalam mobilnya. Kayana langsung menghidupkan mesin mobilnya. Setelah hidup, Kayana langsung pergi meninggalkan parkiran tersebut.


Di dalam perjalanan, Kayana menghubungi kakak perempuannya, Pingkan.


"Hallo, kak."


"Kayana. Ada apa, sayang? Kenapa dengan suaramu? Apa kau bertengkar dengan suamimu?"

__ADS_1


"Hubunganku dengan suamiku baik-baik saja. Ini masalah lain, kak. Kak ada di Perusahaan kan? Aku akan kesana."


"Ya, sudah. Kakak tunggu."


Setelah selesai berbicara dengan sang Kakak, Kayana mematikan teleponnya.


***


MDV ADVERTISING


Kayana sudah sampai di Perusahaan miliknya dan juga milik kakaknya. Kayana melangkah masuk ke dalam. Dirinya tidak mempedulikan para karyawan-karyawan nya yang memberi hormat padanya. Kayana hanya ingin segera bertemu dengan kakaknya itu dan menceritakan semuanya.


Setelah tiba didepan pintu ruang kerja kakaknya, Kayana langsung membukanya kasar.


BRAK..


Hal itu sukses membuat Pingkan yang ada di dalam terlonjak kaget.


"Kakak.. hiks."


Pingkan langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri adiknya itu.


GREP...


Pingkan memeluk tubuh bergetar Kayana. Lalu kemudian membawa tubuh adiknya itu untuk duduk di sofa.


Setelah melihat adiknya sudah tenang. Pingkan pun bertanya.


"Ada apa? Katakan pada kakak."


"Keluargaku dalam bahaya kak."


Pingkan terkejut mendengar ucapan dari Kayana.


"Dalam bahaya? Apa maksudnya Kayana?"


"Apa? Yang benar, Kayana?"


"Iya, kak. Ini kak lihat sendiri. Aku sempat merekamnya." Kayana memperlihatkan video itu pada Pingkan.


Pingkan yang melihat video tersebut langsung marah seketika.


"Gila. Ini benar-benar gila," ucap Pingkan.


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang, Kayana?"


"Aku akan pulang ke rumah. Setelah tiba di rumah, aku akan langsung memperlihatkan video ini pada Papa dan kak Sandy."


"Lalu bagaimana dengan kak Arvind?"


"Kak Arvind tidak di rumah. Kak Arvind dan Keluarganya berada di rumah mereka sendiri."


"Kirim video itu pada kakak untuk jaga-jaga."


Lalu Kayana mengirimkan video itu kepada Pingkan.


"Ya, sudah. Kalau begitu aku pulang dulu kak."


"Hati-hati di jalan, oke!" ucap Pingkan. Pingkan mencium kening Kayana dengan sayang.


Flashback Off


Mendengar cerita dari Pingkan membuat Dylan menangis. Dan jangan lupa kedua tangannya yang mengepal kuat.


Melihat Dylan yang tiba-tiba menangis, Pingkan dan Mirza terkejut dan juga merasa bersalah.

__ADS_1


"Maafkan Bibi sayang. Maafkan Bibi yang sudah membuat nak Dylan menangis," kata Pingkan. sembari mengusap air mata Dylan.


Dylan tidak menjawabnya. Lalu tiba-tiba Dylan meraih tas yang ada di punggungnya, lalu mengeluarkan sesuatu.


"Bi. Apa Bibi kenal dengan wanita yang ada di foto ini?" tanya Dylan sembari memberikan bingkai foto itu pada Pingkan.


Pingkan mengambil bingkai foto tersebut. Mirza yang penasaran juga ikut melihatnya.


Pingkan seketika menangis saat melihat foto itu. "Ka-kayana. Kayana Robert."


"Bibi kenal?" tanya Dylan lagi.


"Dia adik Bibi, Kayana Madhavi," jawab Pingkan.


Pingkan mencium foto Kayana. Lalu Pingkan melihat kearah Dylan.


"Nak, Dylan. Dari mana nak Dylan mendapatkan foto ini?" tanya Pingkan.


"Aku... aku Dylan Wilson. Aku putra bungsu dari William Wilson dan..........." Ucapan Dylan terhenti karena Pingkan langsung bersuara


"Jadi nak Dylan putra bungsunya Kayana?" tanya Pingkan.


"Iya, Bi! Aku putra bungsunya Mama Kayana. Aku salah satu dari korban anak yang ditukar oleh wanita sialan itu," jawab Dylan.


"Berarti kau adalah keponakan Bibi. Mari sayang, peluk Bibi." Pingkan merentangkan kedua tangannya.


GREP..


Dylan langsung menghambur ke dalam pelukan sang Bibi.


"Bibi.. hiks."


"Terima kasih, Tuhan. Kau telah mempertemukanku dengan salah satu keponakanku," ucap Pingkan.


Dylan melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah cantik Bibinya.


"Aku senang bertemu dengan Bibi."


"Bibi juga sayang," jawab Pingkan.


"Lalu aku bagaimana? Dari tadi aku dikacangin. Apa Mama berniat untuk melupakanku?" tanya Mirza.


Seketika Pingkan dan Dylan melihat kearah Mirza. Dan dapat mereka lihat Mirza yang saat ini sedang cemberut kesal.


"Sayang. Sini peluk Mama," ucap Pingkan.


Mirza langsung memeluk erat Ibunya. "Aku menyayangi, Mama!"


"Mama juga menyayangimu, sayang. Mama tidak akan pernah meninggalkanmu. Apapun yang terjadi."


CUP..


Pingkan mencium pipi putranya itu.


"Apa Mirza tidak ingin memberikan pelukan pada kakak!" seru Dylan.


Mendengar ucapan dari Dylan. Mirza langsung memeluk tubuh Dylan. "Aku senang bertemu dengan kakak. Aku pikir aku tidak punya saudara di dunia ini. Ternyata aku punya saudara," ucap Mirza bahagia.


Mirza melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan kakak sepupunya itu. "Kakak tampan."


"Terima kasih. Kamu juga tampan," jawab Dylan.


"Dylan. Jika kau putra bungsunya William dan Kayana. Lalu Darel?" tanya Pingkan.


"Darel adalah putra bungsunya Paman Arvind dan Bibi Adelina," jawab Dylan.

__ADS_1


"Apa? Da-darel adalah putra bungsunya kak Arvind dan kak Adelina?"


__ADS_2